Connect with us
  • b
  • a
  • x
A CARING AND GLOBAL UNIVERSITY
WITH COMMITMENT TO CHRISTIAN VALUES

Acara akan datang


AUPF 2018
November 06, 2018
IC-AMME 2018
September 26, 2018
IC-LBI 2018
September 26, 2018

Berita terakhir



UK Petra jadi Tuan Rumah Peksimida Jawa Timur 2018, Tangkai Lomba Komik Strip
September 14, 2018

Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia Jawa Timur (BPSMI Jatim) menggandeng Universitas Kristen Petra (UK Petra) dalam penyelenggaraan Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Jawa Timur 2018 untuk tangkai lomba Komik  Strip. Pada lomba ini, peserta yang meraih juara 1 akan otomatis terpilih mewakili Jawa Timur pada Peksiminas, Oktober mendatang. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan UK Petra, R. Arja Sadjiarto, SE., M.Ak., Ak. Dalam sambutannya, Arja mengungkapkan, “kami menyambut saudara sekalian untuk terus berprestasi. Di tempat ini kita boleh bersaing, tetapi nanti saat di nasional kita adalah teman yang akan berjuang bersama membela Jawa Timur”.  

Peksimida merupakan babak seleksi tingkat provinsi untuk memperoleh kandidat yang akan mewakili provinsi pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas). Peksiminas merupakan kompetisi di bidang seni bagi mahasiswa Indonesia yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud dengan menunjuk salah satu pengurus BPSMI sebagai panitia penyelenggara kegiatan. Peksiminas terdiri dari berbagai macam tangkai lomba, salah satunya adalah komik strip.

Lomba komik strip Peksimida Jawa Timur dilaksanakan pada 28 Agustus 2018 di Gedung P kampus UK Petra yang diikuti sebanyak 26 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di Jawa Timur. UK Petra sendiri mengirimkan lima orang perwakilannya untuk berjuang di lomba komik strip ini. Tema Peksiminas 2018 adalah “Merajut Budaya Nusantara”. Untuk Peksimida tangkai lomba komik strip, peserta baru mendapatkan tema saat hari pelaksanaan lomba. Tema yang dipilih yaitu isu terkini nasional, peserta diberi waktu empat jam untuk menyelesaikan komik strip mereka. Peserta diharuskan menggambar minimal dua panel dan maksimal lima panel pada selembar kertas berukuran A3. Peserta juga dibebaskan memilih alat dan bahan yang digunakan.

Juri pada perlombaan ini merupakan praktisi dan dosen yang sudah tidak asing lagi dalam dunia komik. Mereka adalah Siswoyo, komikus dari harian Jawa Pos, Dra. indah Chrysanti Angge, M.Sn., dosen Seni Rupa di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan Hangga Gunadi, S.Sn yang merupakan seorang komikus. Aspek yang dinilai oleh tim juri mencakup kesesuaian karya dengan tema, penguasaan teknik, karya yang komunikatif, dan juga originalitas atau kebaruan karakter visual.

Pengumuman pemenang dilaksanakan pada hari yang sama. Juara 1 diraih oleh Muchammad Irsyadul Masluchi dari Unesa, juara 2 diraih oleh Regina Nathalia Elyzabeth Pandjaitan dari UK Petra, juara 3 diraih oleh Muhammad Reynald dari Unesa, juara harapan 1 diraih oleh Anisa Nada Suksmono dari UK Petra, sedangkan juara harapan 2 diraih oleh Shalsabila Nurul Lisa dari Universitas Airlangga.

Muchammad Irsyadul Masluchi mengaku tidak menyangka akan terpilih menjadi wakil dari Provinsi Jawa Timur di Peksiminas di Yogyakarta. Ia menceritakan bahwa ia telah mempersiapkan beberapa kemungkinan cerita dengan tema berbeda, dan secara kebetulan salah satunya sama dengan tema lomba. “Isu yang saya angkat adalah tentang Asian Games, tetapi saya tidak mengambil dari segi olah raga. Saya memilih isu tentang calo tiket Asian Games yang belakangan menjadi pembicaraan hangat di masyarakat,” pungkasnya. (rut/Aj)

Baca berita
Life Long Learning untuk Melayani
September 14, 2018

Pembelajaran merupakan proses yang dilakukan seumur hidup seperti yang dilakukan oleh Serli Wijaya, S.E., M.Bus., Ph.D., seorang dosen pengajar di Fakultas Ekonomi dan Kepala Program Studi Magister Manajemen Universitas Kristen (UK) Petra. Serli berkesempatan mengikuti program pendidikan United Boards Fellows Leadership Program di Harvard University, Amerika. Program pendidikan ini diprakarsai oleh United Board for Christian Higher Education Association (UBCHEA). “Selama kurang lebih tiga minggu saya belajar mengenai menjadi pemimpin yang ideal. Ini merupakan pengalaman seumur hidup, saya berkesempatan belajar langsung dari sang ahli di universitas terbaik di dunia”, ungkap Serli Wijaya, S.E., M.Bus., Ph.D.

UK Petra telah beberapa kali bekerja sama dengan UBCHEA dalam hal program pendidikan dan penelitian, program kali ini ditujukan untuk para pimpinan di universitas anggota UBCHEA. Serli mengikuti program ini bersama dengan 19 orang pimpinan universitas lain, diantaranya enam orang rektor serta 13 orang pimpinan program atau biro. Rangkaian yang diikuti oleh Serli dalam program ini adalah: Harvard Summer Leadership Course selama 3 minggu di Harvard Graduate School for Education; Asian Placement selama 2-4 bulan di universitas yang tergabung dalam UBCHEA di Asia; dan terakhir adalah Leadership Seminar selama satu minggu yang rencananya dilakukan pada bulan Juni 2019.

Summer Leadership Course dilaksanakan pada tanggal 9-28 Juli 2018. Sebelum para peserta berada di Harvard, mereka difasilitasi dengan uji mandiri untuk mengidentifikasi tipe kepemimpinan yang mereka miliki. Dengan mengetahui sifat dan kecenderungan diri sendiri, maka masing-masing peserta mendapatkan kemampuan untuk memahami model kepemimpinan yang ideal mereka terapkan di lingkungan masing-masing. Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda, begitu pula situasi dan kondisi perguruan tinggi masing-masing berbeda maka gaya kepemimpinan yang cocok pun berbeda-beda.

Serli menuturkan bahwa dalam program ini proses mengidentifikasi diri dirancang dengan sangat baik, teliti dan mendalam. Dalam kepemimpinan terdapat permasalahan big assumption, yaitu kecenderungan untuk dihantui asumsi-asumsi yang belum tentu benar. Asumsi-asumsi ini menghambat seorang pemimpin dalam berfungsi dan mengambil keputusan. Identifikasi diri yang baik adalah salah satu metode untuk menghindari asumsi-asumsi tersebut. Seorang pemimpin yang baik perlu melakukan refleksi diri untuk mencapai pemahaman atas diri sendiri agar bisa mempraktekkan authentic leadership, kepemimpinan otentik yang selaras dengan keunikan diri dan lingkungan.

Mengenai titik berat proses ini, Serli mengatakan, “Yang penting adalah self-awareness, kemudian self-acceptance. Lalu seorang pemimpin perlu memiliki growth mindset”. Pembelajaran yang didapatkan peserta program ini dikenal sebagai transformational learning. Dimana peserta didik tidak mendapatkan pengetahuan saja, tetapi mendapatkan pembelajaran untuk mengubah diri menjadi lebih baik.

Setelah kursus di Harvard, selama 2 Sampai 4 bulan para peserta mengikuti proses Asia Placement. Masing-masing peserta mendapatkan mentoring dari pemimpin-pemimpin universitas-universitas terkemuka di Asia untuk belajar Strategic Planning (perencanaan strategis). Hasil rangkaian kegiatan sepanjang setahun ini, yaitu pembelajaran dan pengembangan diri mereka, kemudian dipaparkan dalam satu Leadership Seminar.

Serli yang sudah mendapatkan gelar doktor tetap senantiasa terus belajar. Alasannya terus belajar, menurut Serli adalah karena komitmen agar senantiasa bisa melayani dengan semakin baik. Diungkapkan bahwa salah satu nilai UK Petra, humility, adalah kompatibel dengan proses pembelajaran seumur hidup. Menurutnya dibutuhkan kerendah hatian untuk bisa benar-benar belajar. Dan dengan pola pandang rendah hati ini, Serli sampai pada pemikiran “The more we know, the more we don’t know”. Hal ini menggambarkan suatu siklus dimana pembelajaran selalu disusul dengan kebutuhan untuk selalu belajar. Sejurus dengan transformational learning yang didapatkan, Serli menyampaikan pesan dan harapan kepada mahasiswa UK Petra, katanya “Semoga transform menjadi good citizens yang menjadi berkat bagi sekelilingnya”. (noel/Aj)

Baca berita
Wadah Pelayanan dan Pembelajaran
September 13, 2018

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Kristen Petra (UK Petra) kembali menggelar Community Outreach Program (COP). "COP ini merupakan wadah pelayanan, pembelajaran, interaksi multikultural, ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni mahasiswa dari berbagai negara," ujar Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng., selaku Rektor UK Petra.

Kegiatan ini dilaksanakan di Mojokerto pada 17 Juli-9 Agustus 2018 dan di Kupang pada  26 Juli-9 Agustus 2018. Temanya adalah Keep Blessing The Nations, para peserta diharapkan dapat terus menjadi berkat bagi masyarakat bahkan Negara Indonesia melalui apa yang telah dilakukan. Sebanyak 211 mahasiswa yang berasal dari tujuh negara turut serta dalam COP 2018 di Kabupaten Mojokerto.

Mereka diantaranya 98 mahasiswa UK Petra, Surabaya-Indonesia, 10 mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang-Indonesia, 27 mahasiswa Dong Seo University-Korea Selatan, 15 mahasiswa International Christian University-Jepang, 10 mahasiswa Hong Kong Baptist University-Hong Kong, tiga mahasiswa Hong Kong Institute of Education-Hong Kong, satu mahasiswa Hong Kong University of Science and Technology-Hong Kong, 27 mahasiswa InHoland University-Belanda, satu mahasiswa Mamoyama Gakuin University-Jepang, satu mahasiswa Lignan University- Hong Kong, 11 mahasiswa Guangxi Normal University-China, tiga mahasiswa Fu Jen Chatolic University-Taiwan dan empat mahasiswa National Taiwan University of Science and Technology-Taiwan.

Pembukaan COP Mojokerto 2018 dilaksanakan pada 17 Juli 2018 lalu di Auditorium UK Petra, para peserta secara bergantian menampilkan pertunjukan untuk memperkenalkan negara mereka. Keesokan harinya, seluruh peserta ditempatkan di delapan lokasi, yaitu di delapan dusun pada tujuh desa di Mojokerto. Diantaranya adalah Dusun Lebaksari dan Dusun Siman di Desa Rejosari,  Desa Jembul, Dusun Gumeng di Desa Gumeng, Dusun Seketi di Desa Jatidukuh, Desa Dilem, Dusun Begagan di Desa Begagan Limo, serta Dusun Blentreng di Desa Ngembat. “Selamat datang di UK Petra. Selama beberapa minggu kedepan, kalian akan bekerja bersama, tinggal bersama dan akan mencoba memecahkan masalah bersama. Ini semua akan menjadi pengalaman yang berharga,” ungkap Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng. dalam sambutannya.

Para peserta COP 2018 akan mengerjakan proyek fisik dan non fisik. Pembangunan fisik seperti membangun gapura, poskamling, toilet, mural, membangun taman bermain dan sebagainya. Sedangkan pembangunan non fisik seperti mengajar Bahasa Inggris, penyuluhan, mengajarkan keterampilan, budidaya anggrek, dan sebagainya. Peserta melakukan semua proyek ini bersama dengan warga, sehingga dapat terjalin interaksi.  

“Saya suka mengajar anak-anak, karena jurusan saya di Belanda adalah pendidikan guru sekolah dasar. Kami mengajarkan Bahasa Inggris kepada anak-anak dengan menggunakan lagu berbahasa Inggris," ujar Daniël Prinsen, mahasiswa Inholland University Belanda. (rut/Aj)

 

Baca berita
Sejong Culture Academy, Kenal Lebih Jauh Tentang Kebudayaan Korea
September 13, 2018

King Sejong Institute (KSI) Surabaya kembali menggelar kegiatan belajar kebudayaan Korea. Rangkaian acara dikemas dalam gelaran bertajuk Sejong Culture Academy, meliputi K-beauty class, hanbok, korean food, K-pop dance, dan juga completion ceremony. “Sejong Culture Academy merupakan acara jangka pendek dari KSI Surabaya, banyak sekali yang mendaftar, tetapi hanya 30 peserta yang terpilih dan akan mendapatkan sertifikat,” ujar Dr. Liliek Soelistyo, MA., selaku Direktur KSI Surabaya.

    KSI mendatangkan pembicara asli Korea yang ahli di bidangnya. “Dalam acara ini peserta mendapatkan kesempatan untuk mempelajari berbagai kebudayaan Korea, oleh sebab itu kami mendatangkan expert dari Korea,” ungkap Dr. Liliek Soelistyo, MA. Korea Sejong Culture Academy dilaksanakan pada 3-13 Agustus 2018, salah satu kegiatan terbuka untuk umum adalah K-beauty class. Para peserta diperkenalkan dengan make up ala idol K-pop pada 6 Agustus 2018. KSI menghadirkan seorang youtuber kecantikan dari Korea, Jina Kim, untuk memberikan tips make up ala idol K-pop. Jina memberikan penjelasan mengenai trend make up di Korea saat ini dan mempraktekkan make up kepada salah satu peserta.

Tak hanya itu, pada 7 Agustus 2018, peserta diperkenalkan mengenai pakaian tradisional Korea yaitu Hanbok serta pernikahan tradisional Korea. Pembicara dari Hanbok Advancement Center Korea memimpin jalannya acara. Para peserta mengikuti sesi dengan menggunakan Hanbok lengkap. Dalam pernikahan tradisional Korea, terdapat beberapa peran yang membantu proses pernikahan, diantaranya adalah su-mo yaitu perwakilan dari kedua mempelai yang membantu selama proses pernikahan berlangsung, chong-sa-cho-rong deun sa-ram yaitu pembawa lentera, dan juga gi-reok-a-beom yaitu pembawa hiasan berbentuk angsa, yang merupakan simbol kesetiaan.

Koki dan dosen memasak dari Korean Food Promotion Institute, Lee Jin Tack dan Kim Mi Sook hadir untuk memperkenalkan dan mengajarkan cara membuat makanan dan minuman tradisional Korea yaitu dasik dan omija tea pada 11 Agustus 2018. Omija tea adalah teh yang terbuat dari buah-buahan berry yang direndam dengan madu, uniknya omija tea ini memiliki lima rasa yaitu manis, asam, pahit, pedas, dan asin. Sedangkan dasik merupakan makanan berbahan dasar tepung kacang dan madu yang ditekan dengan cetakan berpola. Pola-pola ini dianggap melambangkan kesehatan dan kemakmuran.

Pada acara penutupan, peserta menampilkan K-pop dance yang telah dipelajari sebelumnya. Dalam acara ini juga dibagikan sertifikat bagi para peserta yang telah mengikuti rangkaian acara dari Sejong Culture Academy 2018. Penampilan dari Korea National University of Arts yang menampilkan Samulnori (musik tradisional Korea) dan Bona performance menambah kemeriahan puncak acara ini. (rut/Aj)

Baca berita
Memahami Pendidikan dalam Perkembangan Jaman
September 12, 2018

Pemeran utama dalam pendidikan generasi baru adalah para orangtua. Memberdayakan orangtua agar bisa menjadi pendidik yang baik adalah penting. Diperlukan upaya untuk memberikan pada orangtua wawasan pendidikan yang relevan atas tantangan yang dihadapi generasi baru. Dalam rangka memperlengkapi dosen dan karyawan dengan wawasan pendidikan yang baik, Pusat Konseling dan Pengembangan Pribadi (PKPP) Universitas Kristen (UK) Petra menyelenggarakan Sarasehan Topik Aktual “Parenting in the Era of Disruption” pada tanggal 27 Juli 2018 di Ruang Konferensi 3 Gedung Radius Prawiro Lantai 10. Prof. Dr.(HC). Ir. Rolly Intan, M.A.Sc., Dr. Eng., sebagai narasumber tunggal seminar ini menyampaikan materi bertajuk Pendidikan Abad 21 dalam Era Digital Native.

Sarasehan dimulai dengan pembahasan tentang perkembangan fisik otak anak. Rolly mengumpamakan otak sebagai hardware (perangkat keras) suatu komputer yang menentukan kerumitan program yang bisa dijalankan suatu komputer. Untuk membantu anak dalam pertumbuhan fisik otak, dipaparkan wawasan mengenai tahap-tahap perkembangan otak yaitu: tahap I, 0-10 bulan janin; tahap II, kelahiran s/d usia 6 tahun; dan tahap III, usia 7 tahun s/d 12 tahun. Saran yang penting yang bisa diterapkan adalah di tahap I, Ibu hamil sebaiknya menjauhi rokok, alkohol, obat-obatan, dan logam berat; berusaha relaks; dan merangsang pembentukan otak janin dengan berbagai sensasi sentuh dan suara. Pada tahap II, adalah penting untuk memberikan pengalaman sehari-hari yang membentuk kenyamanan emosional. Pada tahap III adalah penting bagi orangtua untuk memahami perbedaan antara otak anak perempuan dan laki-laki sehingga bisa memberikan interaksi dan pendidikan yang sesuai. Otak wanita lebih berkembang ke arah komunikasi, sedangkan otak laki-laki ke arah persepsi dan pengambilan keputusan.

Bahasan selanjutnya membuka wawasan terkait dengan perkembangan jaman, tentang balita dan komputer/gawai. Sekitar 31% anak berusia 3 tahun ke bawah sudah mulai kecanduan komputer/gawai. Hal ini mengkhawatirkan karena ditemukan bahwa penggunaan layar sentuh pada anak di bawah usia tiga tahun dapat merusak peluang tumbuh kembang anak dari keterampilan yang dibutuhkan untuk matematika dan ilmu pengetahuan. Bayi dan balita belajar lebih baik dengan materi yang bisa mereka sentuh, raba, dan genggam, dibandingkan apa yang mereka lihat di sebuah layar. Pemakaian gawai mengurangi kesempatan anak dalam interaksi tatap muka yang membangun keterampilan sosial dan membuat mereka tidak peka atas emosi orang lain. Menurut Rolly, “Yang perlu disiapkan (di masa balita) adalah Emotional Quotient (EQ). Melatih EQ tidak bisa memakai gadget”.

Bahasan terakhir dalam sarasehan ini adalah tentang pendidikan di abad 21. Era saat ini dikenal dengan era Industry 4.0. Dalam era ini, kehidupan manusia banyak dibantu oleh mesin, bahkan ada kecenderungan tenaga manusia digantikan oleh mesin. Perkembangan ini menyebabkan pesatnya perubahan di dunia pekerjaan. Sebagai ilustrasi, diperkirakan bahwa 85% pekerjaan di tahun 2030 kelak adalah pekerjaan baru yang tidak ada di tahun 2017. Pesatnya perubahan ini menuntut pekerja untuk bisa selalu belajar dan memakai teknologi baru. Permasalahan di dunia pendidikan saat ini adalah hasil utama dari pendidikan yang diberikan adalah pengetahuan (knowledge). Mengenai apa yang perlu disiapkan perguruan tinggi terkait problematika ini Rolly mengatakan, “Universitas sebaiknya memberikan meta-knowledge, yaitu knowledge behind knowledge”. Kemampuan untuk mendapatkan pengetahuan baru menjadi lebih berharga daripada pengetahuan itu sendiri. (noel/padi)

Baca berita
Mendesain dengan Kesadaran atas Lingkungan
September 07, 2018

Kegiatan dalam lingkup internasional merupakan indikator kualitas suatu institusi pendidikan tinggi. Begitu juga dengan UK Petra yang menggelar Joint International Workshop 2018 mulai tanggal 28-29 Agustus 2018 yang diusung Program Studi (Prodi) Arsitektur Universitas Kristen (UK) Petra bekerjasama dengan The University of Hong Kong (HKU). Timoticin Kwanda, B.Sc., Mrp., Ph.D., dosen pengajar Prodi Arsitektur UK Petra sekaligus koordinator acara menyampaikan harapannya. “Semoga mahasiswa menjadi lebih sadar tentang bagaimana memelihara lingkungan alam. Agar ketika mendesain bangunan tidak berdampak negatif atau merusak atau menyebabkan polusi udara, suara pada lingkungan sekitar”.

Mengambil tema “Surabaya Sustainable Development: Architecture, Environment, and Green Open Space”, kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan program “2018 Asia Pacific Rim University (APRU) Sustainable Cities and Landscape – Design Field School” yang diselenggarakan oleh Divisi Arsitektur Lanskap, Fakultas Arsitektur, HKU. Surabaya sengaja dipilih agar memberi kesempatan bagi mahasiswa akademisi dari berbagai disiplin ilmu dan dari beberapa universitas di kawasan Asia Pasifik untuk mempelajari isu-isu lingkungan dan pembangunan keberlanjutan.

Peserta kegiatan ini tak hanya berasal dari Prodi Studi Arsitektur UK Petra saja namun juga berasal dari beberapa universitas luar negeri seperti Zhejiang University di Cina, University of Oregon di Amerika Serikat, Korea University di Seoul Korea, University of Sydney dan University of New South Wales di Australia, dan University of the Philippines Diliman di Quezon City, Filipina.

Hari pertama (28/8), para peserta mendapatkan pembelajaran mengenai “Urban Design and Landscape in Hongkong” dari Prof. Matthew Pryor, seorang dosen pengajar di HKU. Acara kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur untuk mengetahui rencana pengembangan Taman Wisata Alam Kawah Ijen. Kemudian, para peserta mendapatkan penjelasan mengenai “The Green Building P1-P2 UK Petra” oleh Ivan Priatman, dari Archimetric, studio arsitek yang mendesain gedung baru UK Petra.

Gedung P1-P2 yang unik tersebut merupakan karya dari Ir. Jimmy Priatman, M.Arch., salah seorang dosen pengajar Prodi Arsitektur UK Petra. Dalam mendesain gedung tersebut, hal pertama yang dipertimbangkan adalah meneruskan kekhasan yang dimiliki gedung-gedung UK Petra, “Lantai dasar setiap gedung di kampus ini memiliki fungsi sebagai ruang publik. Termasuk mendesain gedung yang ramah pejalan kaki”, rinci Ivan.

Ivan juga mengungkapkan mengungkapkan bahwa bentuk gedung menyerupai huruf V, digunakan untuk meminimalisir paparan matahari di sepanjang tahun dan memberikan ruang terbuka di tengah bangunan. Dengan demikian energi yang diperlukan untuk pendinginan ruangan bisa diperkecil. Hemat energi menjadi komponen utamanya. Setelah puas berkeliling di Gedung P1-P2, para peserta melanjutkan kunjungan ke Wonorejo Mangrove Ecotourism, Pasar Burung Bratang, dan ruang terbuka hijau Taman Flora.

Studi lapangan hari kedua (29/8) akan diawali dengan kunjungan ke lokasi Lumpur Lapindo, kawasan perumahan Citraland, kampung “Green and Clean” Gundih yang dikenal sebagai penghasil produk herbal dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), Kawasan Ampel yang merupakan area pemukiman yang sarat potensi wisata religi, serta Pelabuhan tradisional Tanjung Perak. Mengenai kunjungan ke hutan mangrove  Wonorejo, Timoticin menyampaikan tujuan pembelajaran peserta disana, katanya “Manfaat mangrove adalah mencegah abrasi pantai, sebagai sumber makanan ikan, dan juga sumber oksigen. Perlu pelestarian kawasan hijau seperti mangrove di kota Surabaya. Artinya pembangunan fisik kota harus terkontrol atau dibatasi sesuai kapasitasnya”.(noel/Aj)

Baca berita
Berita lainnya