Connect with us
  • b
  • a
  • x
A CARING AND GLOBAL UNIVERSITY
WITH COMMITMENT TO CHRISTIAN VALUES

Acara akan datang


I-COME 2019
July 25, 2019
Urban Sketch Fair 2018
November 17, 2018
Emtek Goes To Campus 2018
November 13, 2018

Berita terakhir



Peringati Hangeul Day ke-572 , KSI Surabaya Gelar Lomba Menulis Cantik Hangeul
November 15, 2018

Belajar budaya Korea dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan Lomba Menulis Cantik Hangeul pada hari Sabtu, 20 Oktober 2018 mulai pukul 16.00-18.00 WIB di gedung T lantai 5 ruang AVT. 502, kampus UK Petra. “Sebanyak 105 peserta telah mendaftar. Kegiatan ini dalam rangka memperingati hari Hangeul (tulisan Korea) yang ke-572. Tiap tahun kami selalu memperingatinya tetapi berbeda-beda tiap kegiatannya.” ujar Dr. Liliek Soelistyo, M.A. selaku Direktur KSI Surabaya.

Kegiatan yang merupakan event budaya ini dalam rangka untuk memperkenalkan budaya Korea melalui kesenian puisi Korea. Bahan materi yang digunakan ialah puisi berjudul 꽃 (Kkot, Bunga) ciptaan Kim Chun Su yang merupakan seorang sastrawan terkemuka asal Korea Selatan pada akhir abad 20-an. Puisi ini ditulis saat perang saudara, yang menunjukkan keinginan seseorang untuk menjadi sesuatu yang berarti bagi orang lain, dengan memanggil nama orang tersebut yang diibaratkan sebagai “bunga”.

Para peserta lomba diberikan waktu selama satu jam untuk menulis puisi pada kertas yang sudah disediakan. “Ada tiga kriteria pemenang dalam lomba menulis cantik ini yaitu memiliki tulisan tangan terbaik tetapi bukan kaligrafi, melainkan tulisan tangan rapi dan hiasan atau gambar di kertas yang terlihat cantik serta menarik sesuai dengan arti puisi.” ungkap Dyah Sekarini H, A,Md., salah satu staff KSI Surabaya.

Akan dipilih 10 orang pemenang yang akan mendapatkan peralatan makan Korea yang diukir huruf Hangeul yang didatangkan langsung dari Korea. Menghadirkan lima juri yang diantaranya orang Korea langsung yaitu Hong Jong Youn (pengajar bahasa Korea), Kim Yu Jeong (pengajar dan perwakilan KSI di Korea), Cha In A (pengajar KSI Surabaya), Herlinda Yuniasti (pengajar bahasa Korea) dan LLiliek Soelistyo (Direktur KSI Surabaya).

Kompetisi yang diselenggarakan oleh King Sejong Institute (KSI) Surabaya di UK Petra ini tidak hanya terbatas murid KSI saja akan tetapi juga dari masyarakat luas. Salah satunya Yoshita Elsyanti, dari Mojokerto. “Saya sangat antusias untuk mengikuti lomba ini. Ini kali pertamanya mengikuti lomba dan menang. Saya menggunakan 30 menit pertama saya pakai untuk latihan dan 30 menit selanjutnya saya pakai untuk menulis pada kertas yang telah disediakan.” ungkap Yoshita Elsyanti salah satu pemenang.

Sembari menunggu pengumuman pemenang, para peserta dapat merasakan lima kuliner asli Korea mulai dari Bulgogi (olahan daging asal Korea bagian sirloin atau daging sapi pilihan dicampur kecap asin dan gula ditambah rempah asli daerah Korea), Japchae (sohun yang dicampur dengan berbagai jenis sayuran dan daging sapi, Kimchi (asinan sayur sawi putih atau lobak hasil fermentasi yang diberi bumbu pedas), Tteokbokki (terbuat dari tepung beras yang dimasak dengan bumbu gochujang yang pedas dan manis) dan ayam bumbu ala Korea. (elin/Aj)

Baca berita
Upacara Pembukaan Asian University President Forum 2018
November 08, 2018

Di hari kedua pelaksanaan Asian University President Forum (AUPF) ke-17, pada 7 November 2018, peserta menghadiri plenary session, talkshow, dan parallel session. Kegiatan ini dilaksanakan di auditorium kampus timur Universitas Kristen Petra (UK Petra). Suara musik tradisional mengalun mengiringi 30 penari yang melenggak-lenggok menyambut kedatangan para peserta AUPF 2018 di UK Petra. Tarian Etnik Mira Pote, yang merupakan tarian selamat datang dari wilayah Madura untuk menyambut tamu kehormatan, dengan diiringi alat musik khas madura yang bernama tong-tong. Tarian ini menceritakan tentang sopan santun rakyat Madura dalam mempersilakan tamu yang biasa disebut nyaleser.

Rektor UK Petra, Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng., menyambut hangat kedatangan 122 delegasi yang berasal dari 62 perguruan tinggi Asia ke kampus UK Petra. Tahun ini, tema yang dipilih adalah “Disruption at The Cross Roads : Innovative Enggagement and Future Challenges for Higher Education”. Tema ini dipilih karena saat ini dunia telah berubah sedemikian pesat, bahkan sering kali perubahan itu mengejutkan. Era perubahan ini sering kali dikenal sebagai era “Disruption”, dimana banyak sektor dan bidang yang terpengaruh, tidak terkecuali pendidikan. Isu tentang perubahan (disruption) ini menjadi tantangan tersendiri yang tepat untuk dibahas dan dipecahkan bersama, khususnya di wilayah Asia yang makin berkembang.

“Kami mengharapkan konferensi ini dapat menjadi sarana bagi para peserta, terutama pemimpin pendidikan tinggi di Asia untuk saling bertukar pikiran, mendapatkan masukan, dan membangun relasi,” ungkap Djwantoro Hardjito

Dr. Jiao Fangtai, mewakili sekretariat tetap AUPF mengungkapkan, pada awalnya, AUPF berasal dari kerjasama antara empat universitas di China dan Thailand. Saat ini AUPF telah menjadi forum dan sarana untuk meningkatkan kerja sama diantara universitas-universitas di Asia. “Salah satu hasil kerja sama antar anggota AUPF adalah Asian Summer Program (ASP) yang diajukan oleh Dongseo University pada tahun 2012. Sejak saat itu, ASP telah menjadi kegiatan tahunan, dan lebih dari 200 mahasiswa berpartisipasi dalam kegiatan ini,” ungkap Jiao Fangtai yang juga Wakil Rektor Guangdong University of Foreign Studies ini.

Dalam kesempatan ini, Prof. Ainun Na’im, Ph.D., selaku Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi hadir sebagai keynote speaker. Negara-negara di Asia sedang bertumbuh, jika berbicara mengenai pertumbuhan termasuk kualitas kehidupan, pendidikan menjadi faktor yang paling penting, tidak terkecuali pendidikan tinggi. “Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi sangat mendukung terselenggaranya Asian University President Forum, termasuk kegiatan-kegiatan lain yang serupa yang diatur oleh forum ini,” ujar  Ainun Na’im.

Pendidikan Tinggi di Indonesia memiliki hak bebas untuk membuka program-program baru yang relevan dengan komunitas dan industri. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi juga memfasilitasi dan mendukung universitas-universitas untuk memiliki cara baru dalam melakukan penelitian, mengembangkan teknologi baru dan memperbaiki kualitas pendidikan. Selain itu, pemerintah mendukung dan memfasilitasi perguruan tinggi untuk bekerja sama dengan industri, salah satu caranya adalah mahasiswa melakukan magang supaya siap memasuki dunia kerja. Kedepan pemerintah Indonesia akan terus mendukung universitas-universitas untuk memasuki globalisasi, meningkatkan kerja sama internasional dalam upaya untuk meningkatkan kualitas publikasi bagi dosen dan mahasiswa. (rut/dit)

Baca berita
Surabaya Menyambut Hangat Peserta Asian University Presidents Forum 2018
November 08, 2018

Asian University Presidents Forum (AUPF) ke-17 diselenggarakan di Surabaya, Indonesia. Kali ini Universitas Kristen Petra (UK Petra) berkesempatan menjadi tuan rumah dalam forum yang menghimpun berbagai institusi pendidikan tinggi di berbagai wilayah Asia ini. Selama tiga hari, pada 6-8 November, sebanyak 122 peserta yang terdiri atas 62 perguruan tinggi dari 14 negara Asia mengikuti serangkaian kegiatan AUPF 2018. Pemerintah Kota Surabaya mendukung penuh kegiatan AUPF, hal ini diwujudkan dengan kegiatan city tour dan welcome dinner yang dilaksanakan pada hari pertama.

Dr. (H.C.) Ir. Tri Rismaharini, M.T, selaku Walikota Surabaya secara langsung memilih lokasi-lokasi yang dikunjungi. Selama city tour, para peserta dipandu oleh tim Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya. Destinasi pertama adalah Taman Harmoni, sebelum menjadi salah satu taman terindah di Surabaya, Taman Harmoni merupakan tempat pembuangan akhir sampah. Taman kota ini dilengkapi fasilitas seperti Ruang Publik Kreatif (RPF), serta tempat olahraga dan refleksi.

Lokasi kedua yang dikunjungi yaitu House of Sampoerna. Sebagai salah satu tempat bersejarah di Surabaya, House of Sampoerna menyuguhkan memori masa lalu dari salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia. “Ini adalah kali kedua saya ke Indonesia, sebelumnya saya mengunjungi Bali dan Yogyakarta. Menurut saya, Surabaya merupakan kota yang unik, pemimpinnya juga merupakan seorang wanita yang hebat,” ungkap Fernold Guadilla Denna, President of Saint Louis College of Cebu, Filipina.

Perhentian berikutnya adalah Command Center Surabaya yang terletak di Gedung Siola. Diresmikan 26 Juli 2018 oleh Dr. (H.C.). Ir. Tri Rismaharini, M.T., Command Center merupakan ruang kendali untuk kondisi darurat kota Surabaya, yang melayani pengaduan yang bersifat darurat dengan cepat selama 24 jam dalam sehari. Saat ini terdapat 600 closed circuit television (CCTV) yang tersebar diseluruh wilayah Surabaya. “Kami ingin menunjukkan kepada peserta, bahwa Surabaya adalah kota yang aman dan diawasi penuh oleh pemerintah kota Surabaya, sehingga pengunjung yang bukan warga Surabaya tidak perlu merasa kuatir untuk berkunjung,” ujar Luqman Yusuf Ramadhan atau yang dikenal dengan nama Cak Man, salah satu pemimpin perjalanan wisata rombongan ini.

Malam harinya, peserta menghadiri undangan welcome dinner walikota Surabaya yang dilaksanakan di halaman rumah dinasnya. Tarian Reog Ponorogo lengkap dengan iringan musik tradisional menyambut kedatangan para delegasi AUPF dan seluruh jajaran kepemimpinan UK Petra. Sayangnya Walikota Surabaya berhalangan hadir dalam kesempatan ini dikarenakan menghadiri pertemuan di Spanyol. “Kami senang dapat menyambut bapak dan ibu sebagai keluarga besar di kota Surabaya. Semoga selama di Surabaya, bapak dan ibu sekalian dapat merasa aman, nyaman, dan dapat menikmati segala keramah-taman kota Surabaya,” ujar Dr. (H.C.). Ir. Tri Rismaharini, M.T.dalam sambutannya yang diwakilkan oleh  M. Taswin, S.E., M.M., selaku Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Kota Surabaya.

Rektor UK Petra, Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng., mengungkapkan rasa terima kasih kepada pemerintah kota Surabaya atas dukungan yang sangat besar kepada UK Petra. “Kami sangat berterima kasih atas segala dukungan yang diberikan oleh Ibu Tri Rismaharini dalam penyelenggaraan AUPF 2018 ini. Sungguh sebuah kehormatan bagi kami,” ungkapnya.

Peserta disuguhi berbagai pertunjukan menarik, salah satunya pertunjukan tari Remo yang dibawakan oleh sanggar Putra Bima Respati. Selain itu juga  penampilan angklung dari anak-anak Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB). “Saya berharap dengan adanya kegiatan ini dapat mempererat hubungan antar anggotanya, dan terus berlanjut menghasilkan kegiatan-kegiatan yang positif dan memberdayakan institusi dan komunitas,” ujar Dr. Venus Grace Kanongkong Fagyan, Wakil Rektor Mountain Province State Polytechnic College Filipina. (rut/dit)

Baca berita
Dua Mahasiswa Sastra Tionghoa Torehkan Prestasi Cipta Puisi Bahasa Mandarin
October 31, 2018

Tanggal 8 Oktober yang lalu dua mahasiswi Program Studi Sastra Tionghoa Universitas Kristen Petra (UK Petra) menyabet dua predikat kejuaraan dalam ajang lomba Karya Puisi Berbahasa Mandarin yang diadakan oleh Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta. Temanya adalah Kontribusi Generasi Z Menuju Indonesia Emas. Bagaimana kisah mereka? Simak kisahnya berikut.

Febe Leonora Agung

Gegap gempita Asian Games 2018 yang baru saja berakhir menjadi inspirasi Febe Leonora Agung dalam membuat puisinya. “Emas Indonesia” itulah judul puisi berbahasa Mandarin karya mahasiswi angkatan 2017 ini dan berhasil menghantarkannya memperoleh prestasi juara 1. “Saya sama sekali tidak menyangka akan memenangkan perlombaan ini apalagi mendapat juara pertama, sebab saya merasa puisi ini masih banyak kekurangannya”, urai gadis yang baru pertama kali mengikuti kompetisi cipta puisi ini.

Proses yang dilakukan Febe cukup lama, sekitar 3 hari ia baru bisa menyelesaikan karyanya sejumlah enam paragraf. Melalui puisi ini, Febe ingin mengajak anak muda lebih semangat untuk membawa perubahan. Kata-kata “emas” dianalogikan oleh Febe sebagai sekumpulan generasi Z yang mempunyai segudang prestasi. Mereka bersatu mengharumkan nama Indonesia, meskipun dari suku dan agama yang berbeda-beda.

“Setelah membaca puisi ini, saya harap anak-anak muda Indonesia mampu membawa perubahan dengan bertanding di bidang akademik maupun non akademik untuk bersatu membawa nama Indonesia ke kancah internasional”, urai gadis yang hobi baca buku ini. Prestasi nasional ini semakin memacu Febe yang lahir 16 Agustus 1999 ini, untuk tidak ragu-ragu mencoba  berbagai kompetisi.

Kurniawati Adirahsetio

Lain halnya dengan gadis yang akrab dipanggil Nia ini, ia sering membuat puisi sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) meski dalam bahasa Indonesia. Hanya dalam sehari saja, puisinya berjudul “Bangunlah!” sudah jadi dalam bahasa Indonesia dan berhasil menghantarkannya menjadi pemenang juara 2.

“Meski sudah biasa membuat puisi, akan tetapi saya melakukan pencarian data terlebih dahulu. Saya menemukan fakta bahwa anak muda generasi Z ini suka sekali bermain telepon genggam dengan gaya menunduk. Dari sinilah akhirnya saya mendapat ide bahwa judulnya “Bangunlah” yang maksudnya tegakkan kepalamu dan mulailah buat sesuatu untuk Indonesia”, urai mahasiswi yang mempunyai hobi membaca buku novel.

Mahasiswi angkatan 2016 ini sempat berdiskusi dengan dosennya mengenai hasil karya puisinya tersebut. Puisi yang singkat dan sarat dengan makna ini, khusus ditujukan pada generasi muda yang gemar bermain gawai. “Saya ingin agar anak muda yang membaca puisi saya menjadi sadar dengan lingkungannya sendiri sebab masa depan ini milik anak muda itu sendiri, dan generasi muda harus berbuat sesuatu”, ungkap gadis kelahiran Sidoarjo 11 April 1998 silam. (Aj/dit)

Baca berita
Profesor dari Auburn University Bahas Energi Terbarukan di UK Petra
October 31, 2018

Listrik merupakan elemen penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Hal ini menyebabkan kebutuhan akan energi listrik sangat besar. Di Indonesia, sebagian besar penyediaannya masih bergantung pada energi fosil yang jumlahnya sudah semakin menipis. Maka dari itu, energi terbarukan juga menjadi salah satu agenda penting dan mulai banyak diterapkan di Indonesia.

Program Studi Teknik Elektro Universitas Kristen Petra (UK Petra) bekerja sama dengan Auburn University, Amerika menggelar kuliah umum bertajuk Renewable Energy Generation Challenges and Opportunity. Pembicara pada kuliah umum ini merupakan Profesor yang berasal dari Auburn University bernama Prof. Eduard Muljadi, Ph.D. Kuliah umum ini dilaksanakan pada 24 Oktober 2018 di Ruang Konferensi IV, Gedung Radius Prawiro, UK Petra.

Sekitar 100 peserta mengikuti perkuliahan ini, tidak hanya diikuti oleh mahasiswa Teknik Elektro UK Petra akan tetapi juga diikuti oleh mahasiswa dan dosen dari beberapa universitas di Jawa Timur. Kegiatan kuliah umum merupakan kegiatan rutin yang diadakan oleh Program Studi Teknik Elektro UK Petra untuk lebih mengenalkan kondisi terkini dalam bidang teknologi elektro kepada dosen, mahasiswa, dan praktisi. “Kali ini tujuan dari kuliah umum ini adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang kebutuhan energi terbaharukan dalam menghadapi fenomena pemanasan global,” ujar Iwan Handoyo Putro, S.T., M.Dig.Comm., selaku Ketua Program Studi Teknik Elektro UK Petra.

Prof. Eduard Muljadi, Ph.D. memberikan wawasan tentang jenis-jenis energi terbarukan, seperti air, surya, angin, serta metode pembangkitan energi tersebut. Dosen asal Sumenep, Madura yang telah lama hidup di Amerika ini menyatakan bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar dalam segala bidang, tidak terkecuali isu energi terbarukan ini. Beliau mengungkapkan fakta bahwa internasional mengakui perkembangan Indonesia beberapa tahun terakhir ini sangat pesat sekali. Internasional juga memprediksi bahwa 30-40 tahun yang akan datang, Indonesia akan menduduki peringkat empat dunia, mengalahkan Jerman dan Perancis. Indonesia merupakan negara yang besar dan memiliki potensi tinggi, hal ini dikarenakan Indonesia memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah. “Harapan saya adalah agar teman-teman sadar bahwa the future is bright, maka dari itu kalian harus mempersiapkan diri dengan baik,” ungkapnya.

Dari gambaran total primary energy supply secara garis besar di seluruh dunia, untuk energi terbarukan hanya sebesar 14%, hal ini menunjukkan ada banyak sekali kesempatan yang dapat dikembangkan. Modal atau aspek finansial untuk mengembangkan energi terbarukan di negara-negara Asean ini sangat tinggi, tetapi pada kenyataannya belum dikembangkan. Masuknya energi terbarukan tentunya menimbulkan tantangan tersendiri, tetapi ada teknologi dan manusia yang menguasainya dapat mengatasi masalah tersebut. “Nantinya, kalian mungkin akan terjun dalam dunia ini, seorang engineer merupakan seorang problem solver, tenaga kerja yang bekerja untuk memecahkan masalah,” jelas Prof. Eduard. (rut/Aj)

Baca berita
Kampanyekan Bahaya Cyberbullying Lewat E-Poster
October 30, 2018

Kabar baik dan membanggakan kembali hadir dari mahasiswa Universitas Kristen Petra (UK Petra). Kali ini, empat mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi yang tergabung dalam dua tim meraih juara I dan III dalam kompetisi Communication in Action (COMIC) 2018 untuk cabang lomba E-Poster. Tim Faire beranggotakan Sarah Azaliah Karsa dan Lofina Junita, sedangkan tim Rinchel beranggotakan Sherin Fongana dan Natasya Rachel, keempatnya merupakan mahasiswa semester 5.

COMIC 2018 merupakan kompetisi tahunan yang diadakan oleh universitas Binus pada 6 Oktober 2018. COMIC 2018 terdiri dari tiga cabang lomba yaitu E-Poster, Video Campaign, dan Public Speaking. Tahun ini, tema yang diangkat adalah Stop Cyberbullying, isu yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Cyberbullying yaitu suatu bentuk dari kekerasan non fisik yang dilakukan oleh orang – orang di dunia maya. Bentuk cyberbullying dapat berbagai macam, seperti ujaran kebencian di internet, unggahan foto yang mempermalukan orang lain, serta hinaan fisik, gender dan SARA di media sosial. Cyberbullying dapat menimbulkan banyak sekali akibat, mulai dari minder, depresi, bahkan bunuh diri. Dalam cabang lomba E-Poster, mereka dituntut untuk mendesain poster sebagai bentuk kepedulian dan menyebarkan bahaya tentang cyberbullying.

Sebelumnya, pada 18-30 September 2018, peserta diminta mengumpulkan karyanya. Dari 36 kelompok yang mendaftar, sebanyak lima kelompok masuk ke babak final dan mempresentasikan karya mereka di hadapan para juri. Tim Faire membuat poster bergambarkan lemari terbuka yang berisi sepatu balet berdarah yang tergantung pada sebuah telepon genggam Sepatu balet melambangkan cita-cita atau impian dari seseorang. Sepatu balet dipilih karena identik dengan perempuan. Berdasarkan hasil riset, perempuan lebih rentan menjadi korban cyberbullying. Telepon genggam dipilih karena merupakan salah satu media yang digunakan untuk mengakses dunia maya, tempat terjadinya cyberbullying. Di dalam poster juga bertuliskan kata-kata “I Finally Stopped. #cyberbullykills”. Poster ini ditujukan bagi para pelaku cyberbullying agar lebih berhati-hati dalam berucap. “Pesan yang ingin kami sampaikan adalah cyberbullying memiliki dampak yang besar, bisa menghentikan impian seseorang, bahkan nyawa seseorang bisa hilang,” ujar Lofina Junita.

Tim Rinchel terinspirasi dari beberapa teman mereka yang suka menyakiti diri dengan menyayat tangannya saat menghadapi tekanan. Pada posternya, mereka menggambarkan tangan seseorang yang penuh dengan luka sayat sedang menggenggam sebuah telepon genggam bertuliskan kata-kata cacian. Di poster juga tertulis kalimat “To you, those are just words. To them, it’s their whole life”. Poster ini ditujukan bagi anak-anak berusia 9-17 tahun yang merupakan usia sekolah, oleh sebab itu latar posternya diberi motif kayu sebagai simbol bangku sekolah. “Melalui poster ini kami ingin memperingatkan pelaku cyberbullying bahwa kata-kata yang kita ucapkan kepada orang lain itu sangat penting. Bagi kita mungkin itu hanya kata-kata biasa dan tidak berarti, tapi bagi orang lain bisa menjadi pencitraan,” jelas Natasya Rachel.

Awalnya mereka mengaku mengikuti kompetisi ini karena merupakan kewajiban dari mata kuliah advertising production, hasil karya mereka juga menjadi penilaian ujian tengah semester. Setelah mengikuti kompetisi ini, mereka berharap karya mereka dapat menumbuhkan kepedulian pada tindakan cyberbullying. “Sebelumnya saya belum pernah mengikuti kompetisi seperti ini, sehingga merasa tertantang untuk mencoba. Kami berharap melalui kompetisi ini, dapat membantu pemerintah melalui kementerian komunikasi dan informasi untuk mengkampanyekan bahaya cyberbullying,” ungkap Sarah Azaliah Karsa. (rut/dit)

Baca berita
Berita lainnya