Connect with us
  • b
  • a
  • x
A CARING AND GLOBAL UNIVERSITY
WITH COMMITMENT TO CHRISTIAN VALUES

Berita

Juara 2 Accounting Fair 2k18
June 12, 2018

Masa perkuliahan merupakan kesempatan bagi seorang mahasiswa akuntansi untuk memperkaya pengetahuan dan keahlian di bidangnya yang spesifik. Ikut serta dalam ajang kompetisi yang spesifik akuntansi adalah kesempatan baik untuk berlatih dan mendapatkan pengalaman tersebut. Dosen pengajar di Program Akuntansi Pajak UK Petra mendorong mahasiswa-mahasiswa yang berpotensi untuk mengikuti kegiatan kompetisi yang ada. Menurut Tonny Stephanus Eoh, SE., MA., Ak., “Potensi pada mahasiswa dapat dilihat selain dari prestasi akademik adalah dari sikap mau belajar dan terbuka pada kompetisi”. Ajang kompetisi yang terdekat adalah Olimpiade Akuntansi dalam gelaran Accounting Fair 2k18 Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPN Veteran) Jawa Timur. Aturan khusus di ajang ini adalah peserta merupakan mahasiswa jurusan akuntansi dan maksimal semester 4. Graciella Tanaya, Jessica Theresia, dan Brigita Evelyn adalah tiga mahasiswa berpotensi serta memenuhi syarat tersebut dan mewakili jurusan di kompetisi tersebut. Tonny menambahkan bahwa kompetisi yang diikuti mahasiswa di dua tahun pertama ini bisa menjadi tolok ukur untuk membina mahasiswa di kompetisi-kompetisi yang lebih lanjut.

Sebelum mengikuti kompetisi tersebut, para mahasiswa ini mempersiapkan diri dengan mempelajari materi akuntansi yang seharusnya dipelajari oleh mahasiswa tingkatan lebih tinggi. Lomba dimulai tanggal 2 Mei 2018 dan berakhir pada tanggal 4 Mei 2018 dan diikuti puluhan kelompok dari 8 Universitas di Surabaya. Di hari pertama para peserta mengerjakan soal pilihan ganda dan esai dalam waktu 90 menit. Soal-soal di babak ini dikerjakan bersama-sama dalam 1 tim. Dari babak penyisihan ini didapatkan 10 tim yang lolos ke babak semifinal esok harinya. Pada babak semifinal pengetahuan dan penguasaan materi masing-masing anggota tim diuji dengan soal estafet yang dikerjakan individual secara bergiliran. 4 Tim terbaik disaring untuk mengikuti babak final di hari terakhir kompetisi.

Babak final Olimpiade Akuntansi Accounting Fair 2k18 dilaksanakan dalam bentuk debat isu-isu akuntansi. Debat dilakukan 2 kali, pertama untuk menyisihkan 2 kelompok yang lolos ke debat grand final. Keempat tim peserta diundi untuk mengambil peran sebagai Tim Pemerintah serta Tim Oposisi. Debat keempat tim ini dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari akademisi akuntansi dengan anggota: Rika Puspita Sari, SE., MA., Dekan FE Universitas Dr. Soetomo; Prinintha Nanda Soemarsono, SE., MA., Dekan Vokasi Unair; dan Rida Perwita Sari, SE., M.Aks., Ak. CA, Dosen UPN “Veteran” Jawa Timur. Penilaian yang dipakai adalah parameter penilaian yang akrab dipakai di lomba debat, yaitu: masalah, cara, dan metode (matter, manner, and method). Tim UK Petra mencapai grand final dan keluar sebagai juara 2. Hasil yang cukup menggembirakan dengan melihat bahwa cukup lama mahasiswa UK Petra vakum dari kegiatan kompetisi ini. Tonny melihat ini sebagai permulaan dan melihat adanya potensi untuk dikembangkan, “Harapannya, gelar-gelar juara yang dulu sering diraih bisa dipertahankan di masa depan” katanya. (noel/padi)

Picknique: Memilih Menjadi Unik
June 11, 2018

Dalam dunia desain, bekal keilmuan dan akademik perlu dilengkapi dengan pengalaman berkarya dan berkolaborasi. Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra menyediakan wadah bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman tersebut dalam bentuk gelaran Prime Time DKV yang digelar setiap tahuni. Pada tahun 2018, Prime Time DKV dilaksanakan pada tanggal 23-25 Mei 2018 dan mengangkat tema Picknique. Dalam gelaran ini, mahasiswa dipertemukan dengan komunitas-komunitas kreatif yang ada di Surabaya, selain itu mahasiswa juga berkesempatan mengikuti workshop dan diskusi yang relevan dengan ilmu dan dunia desain, dan bertemu dengan fotografer muda unggul Leovir.

Rangkaian acara Picknique dimulai dengan pembukaan oleh Obed Bima Wicandra, S.Sn., M.A., Sekretaris Program Studi DKV. Dalam pembukaannya, beliau menghimbau mahasiswa untuk mengembangkan kolaborasi yang dimulai dari acara ini ke lingkup yang lebih luas. Obed juga mengingatkan pentingnya berkolaborasi, “Berkolaborasi adalah sangat penting, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk membangun lingkungan”, katanya. Pada kesempatan yang sama Ketua Panitia Prime Time 2018, Clarence Adiputra, menerangkan makna tema yang diambil, yaitu ajakan bagi mahasiswa untuk memilih (to pick) menjadi unik (unique).

Sepanjang tiga hari acara ini, enam komunitas hadir di selasar lantai 2 Gedung P UK Petra. Keenam komunitas ini adalah: 1) Papan Dolanan Arek Suroboyo (PADAS), komunitas boardgame (permainan dalam bentuk papan); 2) Portraitmeetsub, komunitas foto portrait; 3) Komunitas Seni Clay Indonesia, (KSCI); 4) Doodleartsurabaya, komunitas doodle (suatu genre seni menggambar modern yang populer); 5) Kolcai, komunitas watercolor (cat air); dan 6) Kreasidoarjo, komunitas lettering (tulisan hias). Mahasiswa bisa berinteraksi, bertukar pendapat serta pengalaman, serta menjalin relasi dengan komunitas-komunitas ini. Lebih istimewa lagi, setiap komunitas memberikan demo keahlian masing-masing, seperti: membuat gambar doodle ukuran 3 kertas A2 langsung di tempat; membuat kerajinan dari malam; membuat tulisan dekoratif dan kaligrafi; bermain dan diskusi boardgame; melukis dengan cat air; serta berbagai macam kegiatan kreatif lainnya. Di hari pertama dan kedua, digelar workshop Tata Rupa bersama Kreavi, situs kolaborasi kreatif desainer. Untuk memberikan inspirasi dan motivasi bagi mahasiswa calon pelaku kreatif, alumni dan mahasiswa yang sudah terlebih dahulu menjalani kegiatan tersebut memberikan sesi sharing di hari kedua.

Di hari terakhir, Prime Time DKV menghadirkan fotografer kreatif muda, Leovir, yang berhasil menggagas genre fotografi baru dan karyanya sudah diakui secara nasional. Genre fotografi yang diangkat adalah penggabungan antara fotografi dan lukisan tradisional Tionghoa. Sederet selebritas Indonesia, telah meminta dibuatkan karya fotografi, contohnya: Chelsea Olivia bersama bayinya; Giselle Marthen bersama Gempi anaknya; serta Raisa dan Hamish. Leovir membagikan pengalamannya berkecimpung di dunia desain sejak kuliah. Di masa awal kuliahnya, Leovir merasa fotografi bukan passion-nya. Saat itu mata kuliah fotografi dinilainya paling gampang. Hal ini berubah ketika Leovir lebih dalam mengikuti fotografi dan mengetahui lebih banyak, “(Mengetahui itu) Akhirnya membuat ingin berstatus jadi fotografer. Dan akhirnya fotografi menjadi passion” katanya. Dengan mengerjakan sesuatu yang merupakan passion ini, Leovir mengembangkan keahlian teknis, menemukan selera khas dan mempopulerkan gaya khasnya itu. (noel/padi)

Budaya yang Membuat Jatuh Hati
June 11, 2018

Bahasa Korea saat ini menjadi menjadi salah satu bahasa asing yang diminati kaum muda. King Sejong Institute (KSI) di Universitas Kristen Petra (UK Petra) Surabaya sebagai lembaga yang menyediakan pendidikan bahasa dan budaya Korea,  menyelenggarakan kompetisi tahunan Korean Speech Contest. Kompetisi yang diselenggarakan Sabtu 26 Mei 2018 di auditorium UK Petra ini mengangkat topik “Kebudayaan Korea yang Unik dan Membuat Hati Bergetar/Jatuh Cinta“.

17 Murid KSI yang berusia minimal 18 tahun mengikuti kompetisi ini. Mereka menyampaikan pidato sepanjang 5 menit dalam bahasa Korea tentang hal menarik dari negara Korea. Pidato yang dibawakan dinilai berdasarkan kemampuan berbicara (pelafalan, intonasi, kelancaran dan tata bahasa), penampilan (ekspresi, kepercayaan diri), respons (gerak tubuh dan reaksi penonton), dan sikap (tabiat panggung dan ketepatan waktu). Dewan juri yang memberikan penilaian terdiri dari: Lee Gyeong Youn, Vice President of Korean Community, Lee Sang Jae, pemilik kursus bahasa Korea ‘Jalan Korea’; dan Yoon Hwa Jeong, pendidik bahasa Korea.

Lee Gyeong Youn mengapresiasi pidato para murid KSI, “Siswa KSI mampu berbahasa Korea dengan lancar, saya berharap mereka dapat mewujudkan apa yang dicita-citakan”. Katanya. Juara dari kompetisi ini berhak mengikuti acara kebudayaan selama 1 minggu di Korea Selatan dan berkompetisi dengan pemenang kontes pidato dari KSI seluruh dunia di September 2018.

Pada kompetisi tahun ini pemerintah kota Busan di Korea Selatan, menyediakan kategori penghargaan spesial berupa beasiswa studi di Universitas Dong-A, Busan selama 10 minggu. Keluar sebagai 6 peserta terbaik adalah: Devy Wulandari Wijaya sebagai peraih Special Mentioned Award, Meilisa Dewi dan Jihan Fakhrin Rizkillah sebagai peraih Excellence Award, Stella Vianita sebagai peraih Top Excellence Award (Juara 3), Gabriella Christina Listiono sebagai peraih Special Award (Juara 2), dan Emily Abigail sebagai peraih Daesang Grand Prize (Juara 1).

Stella menyabet juara ketiga dengan membawakan pidato tentang semangat Korea. Inspirasi pidato ini muncul dari warga Korea Selatan yang mampu membangun negaranya dari keterpurukan pasca peperangan. Peraih juara kedua, Gabriella, membawakan pidato tentang musik Korea. Musik Korea baginya adalah bagian dari kegiatannya sehari-hari sebagai pengajar vokal. Emily sebagai juara kompetisi ini, membawakan pidato tentang beragam festival tradisional yang ada di Korea. “Saya ingin pergi ke semua festival tradisional di Korea. Korea memiliki ragam festival tradisional yang sangat menarik untuk pendidikan dan pariwisata”.  (Noel/dit)

Mengasah Ketrampilan PFA
June 10, 2018

Peristiwa pengeboman tiga gereja dan kantor kepolisian beberapa waktu yang lalu membuat warga kota Surabaya cemas. Pasca kejadian luar biasa ini jika dicermati suasana jalanan Surabaya menjadi lebih lengang dari biasanya, bahkan Dinas Pendidikan Kota Surabaya meliburkan anak-anak siswa jenjang Kelompok Bermain hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ada beberapa himbauan juga untuk masyarakat Surabaya menghindari keramaian. Dengan adanya kejadian ini, tidak dipungkiri jika masyarakat dapat mengalami trauma akibat aksi terorisme itu. Maka dari itu, Ikatan Psikologi Klinis (IPK) dan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) mengundang Pusat Konseling dan Pengembangan Pribadi (PKPP) Universitas Kristen Petra (UK Petra) untuk terlibat dalam pendampingan pasca Trauma. Menyadari kebutuhan ini maka PKPP menggelar seminar dan training Psychological First Aid (PFA) pada hari Senin, 21 Mei 2018 mulai pukul 09.00 di Ruang Konferensi IV gedung Radius Prawiro lantai 10 kampus UK Petra, Surabaya, yang ditujukan kepada Psikolog/ Konselor sekolah Kristen dan atau hamba Tuhan Gereja

Kegiatan ini mendatangkan pembicara Aileen P. Mamahit,Ph.D yaitu seorang dosen konseling dari Seminari Alkitab Asia Tenggara yang memiliki pengalaman menangani trauma (PFA) di Filipina. “Kami diminta oleh IPK dan HIMPSI untuk mendukung layanan pendampingan trauma pada korban, tetapi karena jumlah kami sedikit maka dirasa perlu menggandeng teman-teman lain, untuk itu kami menggelar penyegaran kembali mengenai ketrampilan pendampingan pasca trauma. Kita akan belajar bersama pendekatan dasar secara psikologi bagaimana menangani trauma”, urai Dra. Lanny Herawati selaku Kepala PKPP UK Petra. Tercatat 81 orang yang menghadiri kegiatan yang berlangsung selama dua jam ini.

Apa itu Psycological First Aid (PFA)? PFA merupakan respon yang manusiawi dan sportif kepada sesama manusia yang sedang menderita dan membutuhkan dukungan. PFA ini dirancang untuk mengurangi distress awal yang disebabkan oleh kejadian traumatis sekaligus mengembangkan ketrampilan adaptif yang bersifat jangka panjang. “Akan tetapi tidak semua musibah akan menimbulkan trauma, jadi kita harus melihat kondisinya dulu. Pelatihan PFA ini dapat digunakan untuk kejadian di masa yang akan datang, jadi PFA ini tidak sama dengan konseling krisis”, urai Aileen.

Lalu siapa yang dapat memberikan PFA ini? Relawan, guru, rohaniawan, relawan Palang Merah, organisasi kemanusiaan hingga responden lain yang terlatih. “Jadi siapa saja dapat melakukan PFA asal mempunyai hati yang tulus untuk menolong dan siap sedia membantu. Akan tetapi perlu diingat untuk seorang yang memberikan PFA selain mempunyai kemampuan komunikasi yang baik juga harus mampu mengelola metabolisme tubuh diri sendiri. Jangan sampai si PFA malah mendapatkan trauma sekunder”, urai Aileen yang asal Filipina namun fasih berbahasa Indonesia tersebut. Menjadi PFA haruslah jeli, sebab tidak semua orang yang membutuhkan PFA mau ditolong. Kuncinya, tidak boleh memaksa individu yang tidak ingin ditolong, tetapi sediakanlah diri bagi mereka yang membutuhkan dukungan. Individu yang membutuhkan bantuan diantaranya bisa dilihat dari fisik, emosi, perilaku dan respon kognitifnya. Misalnya seperti menangis, tatapan kosong, menarik diri, selalu waspada dan lain-lain. Yang paling penting saat melakukan PFA bagi individu yang membutuhkan ini adalah mengembalikan rasa aman yang terhubung dengan orang lain, memiliki akses terhadap dukungan kelompok sosial serta mengembalikan kemampuan untuk mengontrol diri.

“Kami berharap dengan adanya pelatihan ini, maka semua orang yang terpanggil hatinya dapat turut serta membantu para korban trauma dengan pengetahuan dan ketrampilan yang tepat. Pelatihan ini juga dapat berguna untuk hal-hal lain dimasa yang akan datang”, tutup Dra. Lanny Herawati. (Aj/dit)

Dee Lestari Bagikan Teknik-teknik Menulis di UK Petra
June 10, 2018

Selama ini minat menulis di kalangan mahasiswa bisa dikatakan kurang, salah satu penyebabnya adalah adanya pemahaman bahwa kemampuan menulis hanya milik mereka yang berbakat di bidang tersebut saja. Lalu bagaimana dengan mahasiswa yang memiliki keinginan kuat untuk menjadi penulis tetapi belum memahami teknik-teknik penulisan dengan baik? Dee Lestari, seorang penulis sekaligus penyanyi terkenal di Indonesia hadir di Universitas Kristen Petra (UK Petra) untuk membagikan ilmu dan teknik menulis dalam kegiatan Creative Writing Weekend with Dee Lestari. Kegiatan yang diusung oleh Pusat Karir UK Petra ini dilaksanakan pada Sabtu, 26 Mei 2018 di Ruang Konferensi IV Gedung Radius Prawiro lantai 10 kampus UK Petra.

Workshop menulis ini diikuti oleh 37 peserta yang terdiri oleh mahasiswa UK Petra dan juga mahasiswa dari luar UK Petra. Melalui workshop ini, peserta diharapkan dapat memahami teknik-teknik menulis kreatif dalam bentuk cerita pendek, teknik-teknik melakukan riset untuk keperluan menulis, pemetaan ide dasar, pembuatan plot, serta membuat karakter yang kuat. Sebelumnya, peserta diminta membuat cerita pendek 400-500 kata, dengan memilih salah satu topik dari tiga topik yaitu korupsi di tempat kerja, diskriminasi di tempat kerja, dan kejahatan seksual di tempat kerja. Dengan bimbingan Dee Lestari pada saat workshop, peserta diminta mengembangkan ide konsep cerpen yang telah dikumpulkan sebelumnya dan membuat outline lanjutan untuk dikumpulkan dan dinilai saat workshop menulis ini.

Menurut Dee, jangkar cerita menjadi hal yang terpenting untuk diperhatikan oleh penulis sebelum memulai menulis. Jangkar cerita atau cerita adalah konflik, saat ada konflik, maka pasti ada sebuah cerita. Konflik yang dipilih lebih baik jika menggunakan hal-hal yang sangat kontras, misalnya kesendirian vs kebersamaan atau harapan vs kematian. Peserta mendapatkan kesempatan untuk mengikuti beberapa macam latihan. Latihan pertama, peserta disuguhkan gambar lima manusia yang sedang berjalan di pinggir perairan. Dari gambar tersebut, peserta diminta menemukan konsep cerita berkaitan dengan gambar tersebut.

Menentukan deadline juga menjadi unsur penting keberhasilan menulis. Latihan kedua yaitu lima menit menulis mengalir, peserta diminta menulis bebas selama lima menit. “Jika saya minta untuk menulis bebas selama lima menit, rata-rata akan menuliskan sekitar 150 kata, jadi jika kita menyisihkan waktu 30 menit saja untuk fokus menulis, sudah berapa kata yang bisa kita hasilkan. Jangan pernah memulai sesuatu jika belum menentukan deadline agar tepat waktu dalam penulisannya.” ujar penulis novel Supernova ini.

Riset merupakan bagian penting dalam menulis, karena riset dapat meningkatkan derajat keyakinan penulis atas tulisannya. Saat melakukan riset, selalu cari data yang bersifat panca indra dan akan lebih baik jika riset ini disampaikan kepada pembaca melalui dialog dari karakter atau tokoh. “Saya dikenal sebagai penulis yang selalu mengawali cerita dengan riset. Riset merupakan bagian penting dalam menulis, tetapi hati-hati, riset juga merupakan alasan paling seksi untuk menunda tulisan,” ungkap wanita bernama lengkap Dewi Lestari Simangunsong ini.

Peserta diminta melakukan evaluasi cerita yang sudah dibuat sebelumnya dan menambahkan detail seperti ciri karakter, nama karakter, serta identifikasi kekuatan dan kelemahan karakter. Di akhir acara, dipilih 10 peserta dengan konsep cerpen terbaik dan peserta diminta menandatangani surat pernyataan akan menyelesaikan cerita pendek tersebut dalam waktu empat minggu. (rut/Aj)

Himasitra Kembali Gelar Petra Civil Expo 2018
June 10, 2018

Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil (Himasitra) Universitas Kristen Petra (UK Petra) kembali menggelar Petra Civil Expo (PCE) 2018. Peserta PCE 2018 terdiri dari siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Surabaya dan mahasiswa Teknik Sipil di seluruh Indonesia. Berbagai rangkaian kegiatan digelar diantaranya pameran, seminar, Lomba Kuat Tekan Beton, Bridge Competition, dan Earthquake Resistant Design Competition. “Sebagai calon civil engineer, kita dituntut untuk mendesain sebuah bangunan yang kuat dengan beban yang akan dipikul, tetapi juga kita juga harus tetap memerhatikan efisiensi bangunan. Melalui PCE ini diharapkan para peserta dapat menyalurkan dan mempraktikan pengetahuan-pengetahuan yang selama ini sudah didapat,” ujar Dennis Wijaya, ketua Petra Civil Expo 2018.

Bridge Competition merupakan lomba mendesain maket sebuah jembatan yang kemudian akan dibebani. Tema yang diangkat adalah “Safe and Efficient” yang terdiri dari dua kategori yaitu kategori SMA dan universitas. Melalui Bridge Competition ini peserta diminta merancang desain struktur jembatan yang inovatif, kuat, dan efisien. Pada tanggal 23 Maret 2018, dilaksanakan tahap penyisihan di auditorium UK Petra. Tahap penyisihan, terkumpul sebanyak 90 tim SMA dan 140 tim universitas, yang masing-masing tim terdiri dari maksimal 3 orang. Para peserta membuat jembatan yang terbuat dari kayu balsa sejak seminggu sebelum tahap penyisihan, dan kemudian diberi beban batu. Jembatan terbaik adalah jembatan yang mampu menahan beban terberat, 15 tim SMA dan 20 tim universitas terbaik berhak maju ke tahap final di Grand City Surabaya.

Lomba Kuat Tekan Beton kembali diadakan dengan mengangkat tema “Smarter, Greener, Optimize your Green Concrete”. Melalui tema ini, Lomba Kuat Tekan Beton 2018 menantang seluruh mahasiswa Teknik Sipil di Indonesia dalam hal pembuatan beton ramah lingkungan yang mampu menjadi solusi bagi berbagai permasalahan lingkungan di dunia. Peserta membuat sampel silinder beton, yang langsung dibuat sendiri di tempat, kemudian beton diletakkan di bak curing selama 28 hari, dan pada 7 April 2018, beton diuji dengan alat tekan.

Lomba ketiga dalam rangkaian kegiatan Petra Civil Expo adalah Earthquake Resistant Design Competition (ERDC), lomba simulasi gempa bumi terhadap maket bangunan tinggi yang diberi beban dan digetarkan di atas meja getar. Peserta diminta membuat sebuah struktur bangunan dari kayu balsa yang tahan terhadap gempa namun juga efisien dan ekonomis. ERDC kali ini hadir dengan tema “One Step Ahead”. Pada tahap penyisihan, peserta telah membuat maket bangunan tinggi dengan bentuk berbeda-beda yang kemudian diuji pada 24 Maret 2018. “Untuk final bridge competition dan ERDC, peserta harus membuat jembatan dan struktur bangunan langsung pada saat final yaitu pada 4-6 Mei 2018,” ujar Dennis.

Juara I Bridge Competition 2018 tingkat SMA diraih oleh tim Chrosbird dari SMA Stella Maris Surabaya. Juara I Bridge Competition 2018 tingkat universitas diraih oleh tim Abryne dari Institute Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Juara I Lomba kuat tekan beton diraih oleh tim Al-Mumtaz dari Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Sedangkan Juara I Earthquake Resistant Design Competition diraih oleh tim Achiles 59 dari ITS Surabaya. (rut/Aj)

Memasuki Era Keterbukaan Informasi dengan Berwawasan
June 10, 2018

Pajak adalah salah satu penerimaan terbesar negara, maka dari itu kondisi perpajakan adalah kepentingan semua bagian dari negara kita. Beberapa tahun belakangan ini, realisasi penerimaan pajak tidak mencapai target yang ditetapkan pemerintah, tercatat pada tahun 2017 pemasukan dari pajak adalah sebesar Rp. 1.151,1 triliun atau 89,7% dari target tahun itu. Oleh karena itu, penting sekali meningkatkan kesadaran pajak bagi masyarakat Indonesia. Sebagai upaya membekali mahasiswa jurusan akuntansi dan perpajakan mengenai peraturan-peraturan perpajakan agar nantinya dapat menjadi konsultan pajak yang andal dan profesional, maka Program Akuntansi Pajak UK Petra menyelenggarakan lomba di bidang perpajakan Petra Tax Competition (PTC). PTC pada tahun 2018 bertajuk “The Real Tax Agents” pada tanggal 11-12 Mei 2018 dan mengangkat tema Automatic Exchange of Information.

Hari pertama lomba diisi dengan seminar nasional “Embracing Changes Within Automatic Exchange of Information” yang dihadiri sekitar 300 orang. Narasumber seminar ini adalah B. Bawono Kristiaji, SE., MSE., MSc. IBT., ADIT., dari Danny Darussalam Tax Center. Bawono mengawali dengan paparan data performa pajak Indonesia yang pada tahun 2017 tercatat rasio pajak Indonesia adalah 10,64 persen. Prosentase ini cukup mengkhawatirkan karena International Monetary Fund (IMF) menetapkan titik aman performa pajak suatu negara adalah pada rasio 12,5%. Rendahnya rasio pajak Indonesia, menurut Bawono disebabkan oleh 5 faktor, yaitu: 1) rendahnya kepatuhan pajak; 2) shadow economy, yaitu kegiatan perekonomian di sektor yang sukar pajak (bisnis informal); 3) penghindaran pajak; 4) struktur perpajakan tidak imbang, yaitu Pajak Penghasilan (PPh) Badan lebih kecil dari PPh Perorangan di mana idealnya adalah sebaliknya; dan 5) lemahnya kinerja petugas perpajakan. Dari kelima faktor tersebut di atas sudah terlihat langkah dan pembaruan pemerintah untuk memperbaikinya dan hasilnya sejak 2013 sudah mulai terlihat. Tax Amnesty (TA) adalah salah satu langkah tersebut, dan TA berhasil menambahkan pelaporan harta sebesar Rp4.855 triliun. Penambahan pengakuan harta bukanlah tujuan akhir dari TA, menurut Bawono “Tax amnesty adalah jembatan ke sistem pajak baru yang berkeadilan dan memiliki kepastian hukum dengan keterbukaan informasi”. Babak baru ini adalah era Automatic Exchange of Information (AEoI) dimana semua pihak yang terkait dengan pajak di dalam dan luar negeri berbagi data informasi secara otomatis. AEoI memungkinkan pemantauan keuangan yang lebih baik karena negara-negara saling berbagi informasi keuangan secara automatis dan tidak ditutup-tutupi. Bawono menyampaikan beberapa akibat yang menyusul setelah AEoI diberlakukan, yaitu: aliran dana gelap ke luar negeri seperti yang terjadi dalam kasus Paradise Papers menjadi lebih terkontrol karena adanya transparansi keuangan di dalam negeri dan antar negara; serta kemungkinan beneficial owner(orang yang menghindari pajak dengan cara mengatasnamakan harta dengan nama orang lain) dalam mengelabuhi sistem menjadi lebih kecil.

Kegiatan kompetisi dilaksanakan di hari kedua dan diikuti oleh 102 mahasiswa dalam 34 tim dari berbagai perguruan tinggi di 5 propinsi ini. Para peserta disisihkan dengan ujian tertulis dan serangkaian rally games dengan materi yang sejurus dengan seminar di hari sebelumnya. Dalam babak final, 5 tim terunggul diberi tugas untuk mempresentasikan pandangan mereka atas pro dan kontra AEoI serta memberikan solusi atas permasalahan yang ada. Muncul sebagai juara 1 kompetisi ini adalah peserta dari Politeknik Keuangan STAN, mereka pro pada AEoI dan melihatnya sebagai titik mula yang baik untuk perpajakan Indonesia. Kelompok juara ini mengidentifikasi masalah yang ada adalah kurang adanya kepercayaan wajib pajak pada badan administrasi pajak, dan solusi yang diajukan adalah mengatasi keraguan ini dengan memberikan fakta yang melawan keraguan tersebut. Juara kedua dan ketiga adalah secara berurut kelompok dari Universitas Indonesia dan Universitas Brawijaya. (noel/padi)

Kampanye Sosial Art Therapy Bagi Anak-Anak Penderita Kanker
June 04, 2018

Kanker pada anak memiliki peluang sembuh lebih besar dibandingkan dengan kanker pada orang dewasa. Inilah yang menggugah Christopher Allen Setia Dharma, mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen Petra (UK Petra) untuk melakukan kampanye sosial bagi anak-anak penderita kanker. Kampanye KUATKU (Kisahku Lewat Tanganku) merupakan karya tugas akhir Allen berupa art therapy bagi anak-anak penderita kanker di Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) Surabaya. “Melalui kegiatan art therapy, anak penderita kanker dapat berekspresi mengisahkan kisah hidupnya serta memberi pengaruh positif untuk setiap anak kanker yang ada supaya menggunakan waktu luangnya untuk terus berkarya. Sebab kesenangan merupakan hal penting bagi kesembuhan dari setiap anak penderita kanker”, urai Allen.

Kegiatan art therapy ini bertujuan untuk membantu para anak penderita kanker dalam melatih saraf motorik sekaligus sebagai media berekspresi. Art therapy dapat dilakukan dengan berbagai media dan terbukti secara psikologis dapat mempercepat kesembuhan. Kali ini Allen memilih media keramik bagi anak-anak penderita kanker. Anak-anak penderita kanker yang menjalani pengobatan kemoterapi, membutuhkan media untuk melatih saraf motoriknya agar tidak kaku. “Dengan menggunakan tangan mereka belajar membentuk keramik maka tangan-tangan itu akan secara aktif bergerak”, ungkap Allen.

Sebelum melatih para anak kanker, Allen berlatih pembuatan keramik hingga ke Malang. Allen sudah sejak Februari 2018, secara berkala mengunjungi YKAKI untuk mengajak anak-anak melakukan art therapy. Pada 2 Mei 2018, Allen kembali mengunjungi YKAKI, kali ini sebanyak empat anak dan orang tuanya mengikuti pelatihan art therapy ini. Peserta bebas berekspresi dan bebas membuat apa saja sesuai keinginan masing-masing. Ada yang berbentuk hati, sendok, piring, kura-kura, dan lain-lain. Anak-anak terlihat antusias mengolah tanah liat bersama ibunya masing-masing. Salah satunya anak yang ikut berpartisipasi adalah Adimas Putra yang mengidap tumor mata. “Saya sangat senang dengan adanya kegiatan ini, anak-anak dapat melupakan tentang sakitnya dan dapat lebih ceria. Saya berharap kegiatan semacam ini bisa sering dilakukan”, ungkap Khomaria, ibu dari Adimas Putra.

Setelah selesai dibentuk, nantinya Allen akan karya peserta akan dibawa ke Malang untuk dibakar. Kedepannya, Allen berharap kampanye KUATKU ini dapat mendorong anak-anak dapat berkarya tidak hanya melalui media keramik, tetapi juga menggunakan media lainnya dengan tangan mereka sendiri. Total ada 20 anak yang sudah berpartisipasi melakukan art therapy sejak Februari 2018. Nantinya pada 18-19 Mei 2018, karya anak-anak penderita kanker ini akan dipamerkan di qubicle center Surabaya. Di hari pertama, dilaksanakan workshop art therapy bagi para pengunjung agar bisa mendapatkan pengalaman yang sama dengan anak-anak penderita kanker. Pada hari kedua, anak-anak penderita kanker bersama-sama bernyanyi akustik untuk saling menyemangati dan menguatkan sesama penderita kanker. (rut/padi)

Perpustakaan UK Petra Kembali Gelar Surabaya Memory 2018
June 04, 2018

Perpustakaan Universitas Kristen Petra (UK Petra) kembali menggelar kegiatan Surabaya Memory 2018. Sejak tahun 2001, Surabaya Memory hadir dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Surabaya dengan bentuk pelestarian pusaka (heritage) Kota Surabaya. Kali ini, di HUT Surabaya yang ke-725 ini, Surabaya Memory mengangkat tema “Suroboyoku Beragam”. Tema ini dipilih secara khusus menanggapi fenomena meningkatnya kecenderungan tindakan intoleransi dan kewaspadaan akan disintegrasi bangsa karena kurangnya sikap menghargai keberagaman, yang sebenarnya merupakan unsur penting yang membentuk masyarakat Indonesia. “Surabaya dikenal sebagai kota yang beragam dan kaya akan budaya. Keberagaman ini tidak menjadikan Surabaya menjadi masyarakat yang terpecah-belah, tetapi justru masyarakat Surabaya dikenal dengan toleransinya yang tinggi,” ujar Dian Wulandari, S.I.I.P. selaku Kepala Perpustakaan UK Petra Surabaya.

Surabaya Memory 2018 dilaksanakan pada 2-6 Mei 2018 di Pakuwon Mall Surabaya. Rangkaian kegiatan Surabaya Memory mencangkup pameran, lomba, workshop, dan juga talkshow yang diikuti oleh masyarakat umum, mulai dari siswa Sekolah Dasar hingga dewasa. Selain memamerkan foto-foto koleksi perpustakaan UK Petra tentang Surabaya dari masa ke masa, dalam pameran ini turut dipamerkan karya-karya Handinoto, Ir., M.T., dosen Arsitektur UK Petra yang berkecimpung dalam arsitektur kolonial Belanda dan arsitektur pecinan. Selain itu, karya-karya Anton Gautama, MBA., seorang fotografer yang telah mendapatkan banyak penghargaan tingkat internasional juga turut meramaikan pameran ini. Pada hari pertama dilaksanakan lomba Alat Peraga Edukatif (APE) bagi guru Preschool, TK dan SD yang dilakukan secara berkelompok dengan tema Harmony in Diversity. Setelah itu, acara dilankjutkan dengan opening ceremony.

Pada 4 Mei 2018 diadakan lomba presentasi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan tema Membangun Harmoni dalam Keberagaman Berbangsa. Selama 10 menit, para peserta mempresentasikan pandangan hingga pengalaman tentang pentingnya harmoni dalam keberagaman. Kemudian acara dilanjutkan dengan kompetisi Public Speaking Harmoni in Diversity bagi siswa-siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Selanjutnya dilaksanakan workshop Jurnalistik dan Fotografi bagi masyarakat umum yang bekerja sama dengan Komunitas Love Suroboyo. Dalam kegiatan ini, para peserta dibekali ilmu jurnalistik untuk menulis berita dan teknik dasar fotografi.

Pada hari selanjutnya, digelar lomba menggambar dan mewarnai siswa kelas 4-5 Sekolah Dasar (SD) yang berkolaborasi dengan orang tuanya. Dilanjutkan dengan workshop merajut oleh Komunitas My Sister’s Fingers. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan kompetisi menyanyi lagu tradisional bagi siswa SD kelas 4-5. Selanjutnya ada workshop berkain yang oleh Perkumpulan Bangga Berkain Nusantara yang mengajarkan cara berkain panjang dan sarung yang simple, modern dan cepat.

Pada Hari terakhir dimeriahkan oleh siswa TK dan SD kelas 1-3 yang melakukan fashion show bertemakan refleksi dari kampung-kampung di Surabaya diantaranya Kampung Ampel, Kapasan, Tambak Bayan, Peneleh, hingga Magersari. Berikutnya digelar workshop layang-layang dari Komunitas Perlabaya. Kemudian acara dilanjutkan dengan Talkshow Penyelamatan Pusaka Surabaya dengan pembicara DR. Ing. Pratiwo, M. Arch., IAP, IAI., seorang peneliti, penulis buku, dan pemerhati cagar budaya, serta Anton Gautama, MBA. (rut/padi)

Menjadi Wanita Sejati
June 04, 2018

Tanggal 21 April adalah hari kelahiran Raden Adjeng Kartini, seorang pionir emansipasi wanita Indonesia, dimana di jamannya Kartini menentang budaya tradisional yang menghalangi wanita mendapatkan pendidikan, pekerjaan, dan jabatan yang lebih tinggi dari pria. Hal ini menjadi titik tolak persamaan hak dan penyetaraan gender di Indonesia serta  semangat Kartini menjadi inspirasi wanita untuk memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam tanggung jawab, baik dalam hal karir, keluarga, maupun pengabdian terhadap bangsa dan negara.

Departemen seni dan kebudayaan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kristen (UK) Petra menyelenggarakan talkshow hari Kartini bertajuk “Women Empowerment” pada tanggal 27 April 2018 di Auditorium UK Petra dengan narasumber Nadine Chandrawinata dan Aniendya Christianna, S.Sn., M.Med.Kom., dosen program studi Desain Komunikasi Visual UK Petra. Acara ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran peran wanita Indonesia tanpa menghilangkan kodratnya sebagai wanita.

Nadine yang pernah menjadi wakil Indonesia dalam ajang Miss International dan saat ini menjadi duta wisata dan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) “Sea Warrior” yang bergerak di bidang kepedulian hayati lautan berkata bahwa semua wanita dilahirkan sama dan sederajat dengan pria dan memiliki peran dan tanggung jawab yang sama besarnya untuk mengusahakan kehidupan yang lebih baik dan memberikan manfaat positif untuk sekitarnya.

Aniendya menyampaikan pandangannya atas perayaan Hari Kartini zaman sekarang, katanya “Ini adalah kesempatan bagi perempuan untuk merayakan tidak hanya dengan berkebaya, tetapi sebagai manusia yang utuh dalam segala hal”. Simbolisme dengan pemakaian baju daerah adalah baik, tetapi makna luhurnya adalah women empowerment (pemberdayaan perempuan)-wanita yang berdampak positif untuk lingkungannya.

Di sesi selanjutnya Nadine membahas tentang bagaimana menjadi seorang perempuan yang berdampak positif, menurutnya perempuan harus aktif dan mampu memberikan manfaat melalui kegiatan yang dilakukannya. Kegiatannya sebagai duta wisata dan aktivis LSM “Sea Warrior” adalah contoh dimana Nadine terjun dalam kegiatan organisasi tersebut dengan pengetahuan dan kemampuan yang terbatas akan tetapi dengan passion dan semangat, apapun bisa dilakukan olehnya.

Aniendya berpendapat bahwa saat ini perempuan sudah sadar pentingnya pendidikan akan tetapi kesadaran ini tidak selalu diimbangi dengan etika dan moralitas. Adanya etika dan moralitas yang melandasi pendidikan memampukan seorang perempuan berdaya tanpa meninggalkan kodrat luhurnya sebagai perempuan.

Di bagian penutup, Nadine menyampaikan pesan, “Perempuan itu hebat kalau mau belajar hal-hal yang baru, peduli dan aktif serta memberikan manfaat positif ke sekitarnya. “Menghargai pasangan, orangtua, keluarga dan kehidupan ini adalah peran penting yang dijalankan kaum perempuan”. Aniendya mengutip penggalan puisi karya Lenang Manggala sebagai pernyataan penutupnya, “Engkau adalah betina, kalau kau cuma tahu soal makan, tidur, bersolek dan kawin, banyaklah belajar, berpikirlah besar, rancanglah masa depan dan pandai-pandailah menempatkan diri, maka engkau akan disebut perempuan sejati.” (noel/dit)

Mengenal Korea di King Sejong Institute Surabaya
June 04, 2018

Semakin populernya budaya pop Korea di dunia (K-wave), tak terkecuali di Indonesia, sudah merasuk dalam berbagai aspek. Mulai dari gaya hidup, fashion, makanan, bahkan bahasa. Hal ini memicu banyak orang terutama anak muda tertarik untuk mengetahui dan belajar lebih dalam mengenai bahasa dan kebudayaan negeri gingseng tersebut. Dalam rangka mempromosikan pendidikan bahasa dan budaya Korea bagi masyarakat, Pemerintah Korea melakukan perpanjangan tangan ke berbagai negara di dunia melalui King Sejong Institute (KSI) Foundation. Saat ini KSI Foundation memiliki lebih dari 174 institusi cabang yang tersebar di lebih dari 58 negara di dunia, termasuk di Indonesia. Di Indonesia sendiri, saat ini terdapat tiga KSI yaitu di Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

KSI Surabaya didirikan pada 10 Agustus 2015 dan terletak di Universitas Kristen Petra (UK Petra). KSI Surabaya merupakan hasil kerjasama antara UK Petra dan Dongseo University di Korea. Melalui KSI Surabaya, para pelajar mendapatkan pengajaran Bahasa Korea berkualitas tinggi karena para guru yang mengajar merupakan native speaker yang berpengalaman dan memiliki sertifikat mengajar dari KSI Foundation. Bukan hanya itu, pelajar juga berkesempatan mengalami dan belajar berbagai macam aspek kebudayaan Korea melalui kelas-kelas budaya serta berbagai kegiatan yang diadakan selama masa studi, seperti kelas masakan Korea, kaligrafi, musik tradisional Korea, kerajinan kertas khas Korea (hanji), k-pop dance, dan lain-lain. “Selain memiliki para pengajar bersertifikat mengajar dari KSI Foundation, para siswa juga akan mendapatkan sertifikat di akhir semester saat telah menyelesaikan kelas. Sertifikat ini diakui di seluruh dunia,” ujar Dr. Liliek Soelistyo, MA selaku Direktur KSI Surabaya.

Pendaftaran KSI dibuka setiap semester yaitu setiap bulan Juni-Juli serta Desember-Januari. Lama studi tiap semesternya yaitu 15 minggu dengan dua kali pertemuan setiap minggu. KSI Surabaya terbuka untuk umum,  selain itu terdapat kelas siang dan malam. KSI Surabaya menyediakan kelas Sejong atau reguler yang terdiri dari level 1-8, kelas persiapan Test of Proficiency in Korean (TOPIK), dan kelas kebudayaan Korea. Setelah mendaftar, calon siswa wajib mengikuti placement test jika mendaftarkan diri di kelas persiapan TOPIK, selain itu placement test juga digunakan untuk menentukan level di kelas Sejong.

Untuk mendukung proses belajar mengajar, KSI Surabaya juga telah dilengkapi fasilitas Smart Class yang merupakan kerjasama UK Petra dengan Korea Association of Network Industries (KANI) dan SMAKr Petra 4 Sidoarjo. Peserta di UK Petra bisa melihat gerakan, mendengar perkataan dan berbicara, melihat presentasi, melihat tulisan di papan tulis dan menulis di papan tulis yang sama dengan guru secara jarak jauh. “KSI Surabaya telah dilengkapi fasilitas yang memungkinkan pengajaran jarak jauh dengan SMAKr Petra 4 Sidoarjo,” ungkap dosen Sastra Inggris UK Petra tersebut.

Para siswa KSI Surabaya juga berkesempatan mendapatkan beasiswa S1 dan S2 ke tiga universitas di Korea yaitu Hankok University for Foreign Student, Choseon University, dan Gangnam University. KSI Surabaya juga rutin mengadakan kegiatan-kegiatan seperti Korean movie day, campus tour, Korean speech contest, kompetisi olah raga, dan lain-lain. Di setiap akhir semester, KSI selalu mengadakan Semester Completion Ceremony untuk pembagian sertifikat dan menutup rangkaian pembelajaran di semester tersebut. (rut/padi)

Memasuki Era Keterbukaan Informasi dengan Berwawasan
June 04, 2018

Pajak adalah salah satu penerimaan terbesar negara, maka dari itu kondisi perpajakan adalah kepentingan semua bagian dari negara kita. Beberapa tahun belakangan ini, realisasi penerimaan pajak tidak mencapai target yang ditetapkan pemerintah, tercatat pada tahun 2017 pemasukan dari pajak adalah sebesar Rp. 1.151,1 triliun atau 89,7% dari target tahun itu. Oleh karena itu, penting sekali meningkatkan kesadaran pajak bagi masyarakat Indonesia. Sebagai upaya membekali mahasiswa jurusan akuntansi dan perpajakan mengenai peraturan-peraturan perpajakan agar nantinya dapat menjadi konsultan pajak yang andal dan profesional, maka Program Akuntansi Pajak UK Petra menyelenggarakan lomba di bidang perpajakan Petra Tax Competition (PTC). PTC pada tahun 2018 bertajuk “The Real Tax Agents” pada tanggal 11-12 Mei 2018 dan mengangkat tema Automatic Exchange of Information.

Hari pertama lomba diisi dengan seminar nasional “Embracing Changes Within Automatic Exchange of Information” yang dihadiri sekitar 300 orang. Narasumber seminar ini adalah B. Bawono Kristiaji, SE., MSE., MSc. IBT., ADIT., dari Danny Darussalam Tax Center. Bawono mengawali dengan paparan data performa pajak Indonesia yang pada tahun 2017 tercatat rasio pajak Indonesia adalah 10,64 persen. Prosentase ini cukup mengkhawatirkan karena International Monetary Fund (IMF) menetapkan titik aman performa pajak suatu negara adalah pada rasio 12,5%. Rendahnya rasio pajak Indonesia, menurut Bawono disebabkan oleh 5 faktor, yaitu: 1) rendahnya kepatuhan pajak; 2) shadow economy, yaitu kegiatan perekonomian di sektor yang sukar pajak (bisnis informal); 3) penghindaran pajak; 4) struktur perpajakan tidak imbang, yaitu Pajak Penghasilan (PPh) Badan lebih kecil dari PPh Perorangan di mana idealnya adalah sebaliknya; dan 5) lemahnya kinerja petugas perpajakan. Dari kelima faktor tersebut di atas sudah terlihat langkah dan pembaruan pemerintah untuk memperbaikinya dan hasilnya sejak 2013 sudah mulai terlihat. Tax Amnesty (TA) adalah salah satu langkah tersebut, dan TA berhasil menambahkan pelaporan harta sebesar Rp4.855 triliun. Penambahan pengakuan harta bukanlah tujuan akhir dari TA, menurut Bawono “Tax amnesty adalah jembatan ke sistem pajak baru yang berkeadilan dan memiliki kepastian hukum dengan keterbukaan informasi”. Babak baru ini adalah era Automatic Exchange of Information (AEoI) dimana semua pihak yang terkait dengan pajak di dalam dan luar negeri berbagi data informasi secara otomatis. AEoI memungkinkan pemantauan keuangan yang lebih baik karena negara-negara saling berbagi informasi keuangan secara automatis dan tidak ditutup-tutupi. Bawono menyampaikan beberapa akibat yang menyusul setelah AEoI diberlakukan, yaitu: aliran dana gelap ke luar negeri seperti yang terjadi dalam kasus Paradise Papers menjadi lebih terkontrol karena adanya transparansi keuangan di dalam negeri dan antar negara; serta kemungkinan beneficial owner (orang yang menghindari pajak dengan cara mengatasnamakan harta dengan nama orang lain) dalam mengelabuhi sistem menjadi lebih kecil.

Kegiatan kompetisi dilaksanakan di hari kedua dan diikuti oleh 102 mahasiswa dalam 34 tim dari berbagai perguruan tinggi di 5 propinsi ini. Para peserta disisihkan dengan ujian tertulis dan serangkaian rally games dengan materi yang sejurus dengan seminar di hari sebelumnya. Dalam babak final, 5 tim terunggul diberi tugas untuk mempresentasikan pandangan mereka atas pro dan kontra AEoI serta memberikan solusi atas permasalahan yang ada. Muncul sebagai juara 1 kompetisi ini adalah peserta dari Politeknik Keuangan STAN, mereka pro pada AEoI dan melihatnya sebagai titik mula yang baik untuk perpajakan Indonesia. Kelompok juara ini mengidentifikasi masalah yang ada adalah kurang adanya kepercayaan wajib pajak pada badan administrasi pajak, dan solusi yang diajukan adalah mengatasi keraguan ini dengan memberikan fakta yang melawan keraguan tersebut. Juara kedua dan ketiga adalah secara berurut kelompok dari Universitas Indonesia dan Universitas Brawijaya. (noel/padi)

“Sembuhkan” Bumi Lewat Reboisasi dan Urban Farming
June 04, 2018

Seiring dengan perkembangan zaman dan semakin sedikitnya lahan karena pembangunan, jumlah tumbuhan menjadi semakin berkurang. Padahal tumbuhan sangatlah penting bagi kehidupan manusia. Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kristen Petra (UK Petra) menggelar kegiatan urban farming dan reboisasi. Sebanyak 75 mahasiswa dari berbagai program studi di UK Petra berpartisipasi dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini. Kegiatan ini merupakan agenda tahunan dari Departemen Community Service Development BEM UK Petra. Kali ini mengangkat tema “Heal the World” dan dilaksanakan pada 12 Mei 2018 di Mangrove Information Center Wonorejo Surabaya. “Tema ini sengaja dipilih agar mengingatkan mahasiswa untuk berperan aktif dalam menyembuhkan bumi yang makin lama makin kekurangan area hijaunya. Mahasiswa juga harus peduli terhadap lingkungan dan ikut membawa andil dalam membawa perubahan demi penyembuhan bumi,” ujar Velisa Yulian, selaku ketua panitia.

Tujuan dari kegiatan Urban Farming dan Reboisasi ini adalah untuk menyadarkan mahasiswa akan pentingnya penghijauan serta memperluas area hijau di Surabaya. Para mahasiswa dibagi menjadi dua kelompok, yaitu urban farming dan reboisasi. Pada kegiatan urban Farming, peserta menanam tanaman-tanaman hias dan juga sayuran dengan media botol-botol plastik bekas. Setelah menghias botol-botol tersebut dan ditanami tumbuhan, kemudian peserta menggantung tanaman tersebut secara vertikal. Konsepnya memindahkan pertanian konvensional ke pertanian perkotaan, yang berbeda terletak pada pelaku dan media tanamnya. “Kami sengaja memilih botol plastik bekas sebagai media untuk urban farming, karena sebagai wujud kepedulian kami terhadap lingkungan untuk mengurangi limbah botol yang sulit terurai dan menjadikannya sebagai sesuatu yang bermanfaat,” urai Velisa selaku mahasiswi Program Studi Arsitektur UK Petra.

Sedangkan reboisasi dilakukan pada beberapa bagian lahan hutan mangrove yang kosong dengan menanam kembali bibit mangrove. Sebelum melakukan aksi menanam bibit tanaman mangrove, peserta diberikan penyuluhan tentang tanaman mangrove, mulai dari jenis-jenis, hingga cara menanam dan merawat tanaman mangrove. Untuk kegiatan reboisasi, peserta menanam sebanyak 80 bibit tanaman mangrove. Selain untuk membina kerja sama dengan pihak pemerintah yang mengelola area hutan mangrove, kegiatan ini dilaksanakan sekaligus melanjutkan proyek reboisasi tahun lalu yang juga dilaksanakan di tempat ini.

Para mahasiswa terlihat antusias dalam melakukan kegiatan pengabdian masyarakat ini. Mereka tidak segan-segan berpanas-panasan dan masuk ke dalam lumpur untuk menanam bibit mangrove. Untuk kedepannya, BEM UK Petra rencananya akan berkunjung kembali untuk memantau perkembangan mangrove dan tanaman hias yang telah ditanam. (rut/Aj)

Inovasi untuk Memasuki Industry 4.0
May 23, 2018

Saat ini, teknologi berada pada era Industry 4.0 atau masa setelah revolusi industri keempat yang ditandai dengan pemakaian jejaring, Internet of Things (IoT), serta munculnya sistem fisik siber. Wawasan yang cukup dalam bidang ini memungkinkan kita memanfaatkan berbagai keuntungan yang dibawanya, tetapi di sisi yang lain banyak tantangan dan problematika yang muncul terutama bagi yang tidak beradaptasi pada kemajuan ini. Untuk membantu mahasiswa dan kalangan umum yang terkait agar bisa lebih mengikuti perkembangan teknologi Internet of Things di era globalisasi sebagai salah satu wawasan global serta menangkap peluang melalui IoT dalam dunia kerja di era globalisasi, Program Studi Teknik Industri UK Petra menyelenggarakan seminar Innovation Talk bertajuk “Become a Key Driver to Face Globalization Era”. Seminar ini diadakan pada tanggal 4 Mei 2018 di Ruang Konferensi IV Gedung Radius Prawiro. Seminar ini mengusung dua narasumber yaitu Dr. Markus Wachter dari Technische Universität München (TUM), dan Drs. Kresnayana Yahya, M.Sc.

Di hadapan audiens sebanyak sekitar 150 orang dari lingkungan UK Petra dan kalangan umum, Markus membuka sesi dengan paparan tentang Industry 4.0 di lingkup internasional. Menurutnya, Industry 4.0 membawa perubahan paradigma dari kegiatan manufaktur yang tersentralisasi dan besar menuju ke kegiatan manufaktur yang desentralisasi dan smart. Contohnya adalah rencana pabrik sepatu Adidas yang mulanya berlokasi di Cina untuk dipindahkan kembali ke Jerman. Ini dimungkinkan melalui terbukanya sumber data besar yang didapatkan melalui IoT. Dengan data dari IoT ini, Adidas mengidentifikasi permintaan sepatu dengan lebih akurat dan spesifik, sehingga produksi sepatu skala besar untuk meminimalisir biaya produksi tidak lagi diperlukan. Markus kemudian mengemukakan konsep smart city yang mulai dijajaki di beberapa kota besar di Uni Eropa. Contohnya adalah IoT dalam bentuk e-mobility memungkinkan tiap orang untuk bisa memakai transportasi publik sesuai dengan preferensi pribadinya, yang kemudian juga meringankan beban transportasi dan mengurangi kemacetan. Menurut Markus, ojek online di Indonesia sudah memulai merintis sistem yang searah, katanya “Gojek merupakan solusi untuk transportasi yang smart. Akan tetapi, Gojek belum bisa menjadi solusi untuk kemacetan”.

Bahasan terakhir dari Markus adalah situasi perburuhan di era yang dimana robot bisa menggantikan manusia ini. Menurutnya terjadinya penurunan kebutuhan atas buruh di level operator adalah benar terjadi, tetapi hal ini bukan sesuatu yang perlu ditakuti karena adanya peningkatan kebutuhan pekerja di bidang Teknologi Informasi (IT). Mengantisipasi kebutuhan ini, Markus memberikan beberapa saran bagi institusi pendidikan, yaitu: menyediakan perangkat keahlian yang lebih luas; mengejar ketinggalan dalam keahlian IT; dan menawarkan format pendidikan berkelanjutan baru yang membekali para profesional dengan keahlian yang dibutuhkan di era ini.

Narasumber kedua, Kresnayana, memaparkan situasi inovasi, perindustrian dan perekonomian Indonesia dan persiapan yang perlu dilakukan dalam menghadapi Industry 4.0. Menurutnya di Indonesia ada kecenderungan untuk menghambat inovasi, sebagai contoh adalah sistem pengajaran Lower Order Thinking Skills yang diterapkan di sekolah yang kemudian bermasalah ketika soal Ujian Nasional memakai Higher Order Thinking Skills (HOTS). Menurut Kresnayana, HOTS lebih memungkinkan siswa untuk berinovasi. Dalam berinovasi, Kresnayana memberikan tips untuk menjadi kreatif, katanya “Don’t think outside the box. There are no box”. Maknanya adalah ungkapan berpikir di luar batas mengimplikasikan bahwa ada batasan, sedangkan seorang inovator harus melihat bahwa segala sesuatu tidak ada batasannya. (noel/Aj)

Literasi Digital untuk Melawan Hoaks
May 23, 2018

Kegiatan profesional komunikasi erat hubungannya dengan perkembangan media informasi. Dalam era media sosial dan jurnalisme warga ini, arus informasi menjadi sangat cepat dan masif. Keadaan ini memunculkan problematika dimana media sosial memungkinkan siapa pun menyebarkan informasi yang berdampak luas tetapi keakuratan dan kebenarannya belum bisa dipertanggungjawabkan. Di dalam iklim ini hoaks dan berita palsu kerap muncul sebagai tantangan bagi profesional komunikasi. Dalam rangka mempersiapkan mahasiswa yang kelak menjadi pemain di dunia komunikasi, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Kristen (UK) Petra menyelenggarakan seminar PR’s Challenge: Handling Hoax and Fake News on Social Media di Gedung P ruang P.707 UK Petra pada tanggal 27 April 2018 yang lalu. Seminar ini dihadiri 100 mahasiswa UK Petra peminatan Public Relations dan menghadirkan dua orang narasumber, yaitu Eko Setiawan, M.Si, Kepala Seksi Sumber Daya Komunikasi Publik Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Rico Raspati Head of Communication Pertamina Surabaya.

Sesi pertama diisi oleh Rico yang memaparkan mengenai praktek kehumasan di Pertamina. Menurut Rico, saat ini media yang tersedia sangat banyak dalam bentuk online sehingga lambat laun media surat kabar cetak niscaya tergantikan. Menggambarkan potensi dan tantangan media-media baru ini, Riko mengatakan “dari sekian banyak varian media online, ada satu yang paling simpel tapi juga paling berbahaya, yaitu media sosial”. Demikian besarnya potensi baik dan berbahaya media sosial, Pertamina membentuk satu divisi khusus dengan jumlah petugas yang cukup banyak untuk menangani media sosial. Pertamina adalah perusahaan yang cukup sering terkena dampak berita palsu atau hoaks. Contoh yang cukup aktual adalah hoaks tentang harga BBM di Papua yang 10 kali lebih mahal dibandingkan dengan di Jawa. Dalam hoaks ini, motivasi yang terlihat adalah keinginan memberitakan pelaksanaan kebijakan harga BBM pemerintah dalam bingkai yang buruk.

Eko memberikan perspektif yang berbeda, yaitu dari sudut pandang Depkominfo yang merupakan regulator dan pelayan masyarakat terkait dengan komunikasi. Eko memaparkan perbedaan antara hoaks dan fake news. Menurutnya, hoaks adalah segala bentuk informasi yang tidak mempunyai rujukan yang benar, sedangkan fake news adalah berita yang tidak dapat dikonfirmasi kebenarannya. Eko mengatakan, “Kita harus skeptis menanggapi berita”. Menurutnya salah satu faktor penyebab mudahnya hoaks merajalela di Indonesia adalah karena minimnya literasi digital, yaitu etika dan budaya berkomunikasi di internet. Menurut Eko, perlu adanya gerakan untuk melawan hoaks yang bisa dilakukan dalam bentuk membangun budaya malu ketika membagikan hoaks.

Dalam sesi interaktif, kedua narasumber menanggapi pertanyaan mahasiswa mengenai metode untuk menanggulangi hoaks yang ada kalanya sangat viral sehingga lebih viral dibandingkan berita klarifikasi yang menyanggahnya. Rico menjawab dengan menyatakan akan melakukan upaya semaksimal mungkin upaya yang diperlukan dan di media mana pun hoax itu berkembang, “At whatever cost, on every media. Kita akan eksekusi lebih besar dari hoax itu”. Eko menjawab dengan tekad yang serupa dan memaparkan bahwa pimpinan di bidang yang terkena hoax tersebut bisa turun tangan dan memberikan konferensi pers resmi. (noel/Aj)

Pemanfaatan Barang Lama untuk Desain Baru
May 22, 2018

Pemakaian barang bekas menjadi barang yang berguna sebagai hiasan atau upcycling dapat menjadi solusi dan mengembangkan kreativitas. Untuk memberikan pemahaman dan pengalaman mendesain dengan metode upcycling untuk mahasiswa dan calon desainer, program studi Desain Interior Universitas Kristen (UK) Petra menyelenggarakan talkshow interaktif “Style It Yourself” dan lomba desain “Intuition” di dalam ajang Surabaya Young Designer Spectacles (SYDS) yang digelar di atrium mall Ciputra World Surabaya pada tanggal 25-28 April 2018.

Talkshow “Style It Yourself” menghadirkan narasumber Luthfi Hasan, desainer dan pendiri Jakarta Vintage. Luthfi memberikan pemahaman tentang desain dan konsep upcycling dalam karyanya, menurutnya, “Desain adalah menyelesaikan permasalahan dengan style”. Dipaparkan bahwa desain karyanya tentang membangkitkan dan menggunakan kembali material, objek, serta karakter lama dan membuat suatu cerita baru. Luthfi menawarkan ide dan memberi inspirasi bahwa upcycling dapat memakai bukan hanya barang lama, tetapi juga ide, pola, serta teknik lama sebagai desain baru. Contoh desain upcycling yang memasukkan karakter lukisan jaman kolonial untuk memberikan kesan vintage (antik) pada produk baru seperti ornamen dinding, baju atau kursi. Dalam sesi ini, disampaikan tips dan trik styling dengan biaya murah tapi tetap berkelas. Luthfi juga memberikan beberapa contoh barang yang dapat dijadikan menjadi barang styling dari bahan-bahan yang ada di sekitar atau dari barang-barang yg sehari-hari digunakan.

Lomba Intuition adalah lomba mendesain Pop Up Store (gerai kecil) untuk merk kopi Caturra Espresso memakai metode upcycling dengan mengangkat tema “Techno Progression”. 10 Tim yang terdiri dari 3 orang dari berbagai perguruan tinggi mengikuti kompetisi ini dan hasilnya adalah 5 peserta dari UK Petra keluar sebagai finalis. Pada tanggal 28 April 2018 kelima tim finalis ini mengikuti penilaian dengan dewan juri terdiri dari Mariana Wibowo, S.Sn., M.MT., dosen program studi Desain Interior UK Petra, Linggajaya Suryana, Drs., HDII, desainer interior, serta Kenny Soewondo  dan Kevin Soewondo, pemilik dan pemimpin dari Caturra Espresso.

Desain berbentuk seperti alat penyaring kopi bertajuk “The Finest Drip” karya Jessica Tjiptawan dan Annelis Iwasil keluar menjadi juara 1. Judul desain mereka didasari dari metode menyeduh kopi yang populer saat ini yaitu metode manual drip. Aspek upcycling desain ini terlihat dari pemakaian pipa PVC untuk membuat atap kedai yang menyerupai alat filter kopi, serta pemakaian palet kayu sebagai dinding kedai yang menyerupai gelas kopi, mereka juga memakai warna coklat, krem dan putih yang berasosiasi dengan kopi. Juri Kenny dan Kevin dari Caturra Espresso mengapresiasi desain ini, “Kami senang dengan desain yang memanfaatkan barang-barang yang mudah didapatkan, detail dan memperhatikan aspek keindahan”.  (noel/dit)

Gelar Rangkaian Acara yang Dipersembahkan untuk Perempuan
May 22, 2018

Dalam rangka memperingati hari kartini pada 21 April 2018, perpustakaan Universitas Kristen Petra (UK Petra) menggandeng seorang dosen Desain Komunikasi Visual (DKV), Maria Nala Damayanti, S.Sn., M.Hum. untuk mengadakan serangkaian acara bertajuk “/empuan /empatan” (Perempuan Perempatan). Rangkaian acara ini terdiri dari berbagai kegiatan diantaranya workshop art therapy, pameran karya, teatrikal dan musikalisasi puisi, serta diskusi dan pemutaran film Marlina, Pembunuh dalam empat babak. “Tidak dapat disangkal perempuan masa kini menghadapi tantangan yang lebih besar dibanding satu dekade lalu. Oleh karena itu dirasa perlu melakukan kegiatan dimana perempuan bisa mendapatkan wawasan baru yang dapat memantapkan peran dan peluangnya sebagai bagian dari masyarakat dengan tidak kehilangan jati dirinya sebagai perempuan merdeka,” ungkap dosen  DKV ini.

Workshop art therapy dilaksanakan pada 18 April 2018 dan diikuti oleh ibu-ibu dari pengajian ex-dolly, ibu-ibu dari wilayah siwalankerto, mahasiswa, dan juga ibu-ibu dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Surabaya. Drs. Heru Dwi Waluyanto, M.Pd. memimpin jalannya workshop art therapy. Art therapy merupakan kegiatan terapi yang menggunakan proses kreatif yaitu seni untuk membantu pemulihan fisik, mental, dan emosi seseorang.  “Kali ini sejenak ibu-ibu meluangkan waktu untuk fokus pada diri sendiri, melalui kegiatan ini diharapkan dapat membantu ibu dan perempuan untuk lebih berani bereskpresi menyalurkan ide dan pikirannya secara estetis,” ujar Maria Nala Damayanti, S.Sn., M.Hum. dalam sambutannya.

Art therapy juga bagian dari pendidikan seni dan dapat mendiagnosis, memenyembuhkan, dan memulihkan berbagai macam penyakit fisik maupun psikis. Workshop art therapy ini bertujuan agar peserta dapat meluapkan perasaannya melalui seni. Selain itu dapat menjadi sarana bagi para peserta menikmati “me time” melalui karya seni. Bekerja sama dengan Rumah Belajar UK Petra, dalam workshop ini, peserta dapat dengan bebas mengekspresikan diri melalui karya, boleh dengan kolase, menggambar, mewarnai, menempel, dan lain-lain. Selain itu, peserta juga bebas memilih bahan-bahan yang akan digunakan.

Hasil karya peserta workshop art therapy ini dipamerkan dalam pameran karya di perpustakaan UK Petra pada 20-30 April 2018. Selain karya peserta art therapy, karya-karya ilustrasi buatan Maria Nala Damayanti, S.Sn., M.Hum. dan sebuah ruang instalasi yang disebut dengan diary visual. Diary visual ini berisikan barang-barang yang ditemukan di tempat penelitiannya, yaitu ex lokalisasi dolly yang menekankan pada gejolak rasa dan pikir pengunjung setelah melihat, mengalami serta menjalani peran sebagai perempuan dan ibu dengan segala dinamikanya.Pada 20 April 2018, bertepatan dengan pembukaan pameran dan rangkaian kegiatan perempuan perempatan, dilaksanakan monolog berjudul perempuan perempatan. Setelah itu disusul dengan musikalisasi puisi dari tim rumpun padi dari unit kemahasiswaan teater UK Petra.

Pada 27 April 2018, diadakan diskusi dan pemutaran film Marlina, Pembunuh dalam empat babak. Secara keseluruhan, Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak mengisahkan tentang keberanian dan peran wanita dalam kehidupan, ditambah dengan masih banyaknya laki-laki yang mengobjektifikasi perempuan dan merasa lebih superior. (rut/padi)

Bekali Para Pemimpin UK Petra Berfokus pada Injil Allah
May 21, 2018

Sebagai institusi pendidikan yang terus berkembang, Universitas Kristen Petra (UK Petra) memiliki banyak Sumber Daya Manusia (SDM) baik dosen maupun pegawai di unit-unit pendukung. Dengan berbagai karakter dan kepribadian masing-masing orang yang berbeda-beda, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk memimpin dengan adil dan bijaksana, tetapi tetap sejalan dengan kebenaran Firman Tuhan. UK Petra mengadakan lokakarya bagi para pejabat struktural UK Petra, baik di program studi maupun di unit-unit pendukung. Lokakarya bertajuk “Kepemimpinan yang Berpusat pada Injil” ini diadakan pada 26-27 April 2018 di Ruang Konferensi 4.

Lokakarya ini bertujuan untuk membekali para pemimpin di UK Petra dengan pemahaman yang benar dan dorongan untuk mengembangkan leadership style yang ingin diterapkan di UK Petra, sesuai dengan karakteristik UK Petra sebagai institusi Kristen. Sen Sendjaya, Ph.D., dipilih menjadi pembicara dalam lokakarya ini. Sen Sendjaya, Ph.D. merupakan seorang hamba Tuhan yang saat ini juga menduduki jabatan sebagai seorang Associate Professor di Monash University, Australia, khususnya dalam bidang kajian Servant Leadership. Bahkan mulai Juni 2018, beliau akan memangku jabatan baru sebagai Professor di bidang Servant Leadership di Swinburne University, Australia. “Pak Sen Sendjaya adalah narasumber yang amat istimewa di bidang ini, beliau dapat mengintegrasikan iman Kristen dengan kepakaran ilmiahnya di bidang servant leadership,” ungkap Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng.

Menurut Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng., secara umum kepemimpinan di UK Petra baik, ditandai dengan cukup banyaknya pemimpin yang rela bekerja keras dan memiliki hati yang rela melayani. “Bukan berarti sudah sempurna, ada banyak sisi yang masih harus dibenahi dan ditingkatkan, dan karenanya lokakarya ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk terus meningkatkan kualitas kepemimpinan di UK Petra,” sambung Rektor UK Petra ini.

Menurut Sen Sendjaya, Ph.D., terkadang seseorang, terutama seorang pemimpin memiliki motif yang salah saat melakukan sesuatu. Seringkali manusia memiliki sesuatu yang dianggap lebih penting dibanding Tuhan bagi hidupnya, inilah yang sekarang menjadi berhala modern bagi manusia. Berhala bagi setiap orang dapat berbeda dan dalam wujud apapun, misalnya uang, popularitas, pujian, dan lainnya. Motif dan berhala yang umumnya dimiliki setiap orang adalah kekuasaan, penerimaan, kenyamanan, dan kontrol. Dari empat berhala ini, umumnya manusia memiliki dua hal yang dominan dalam dirinya. Injil adalah berita sukacita tentang Kristus, dimana kita harus selalu tumbuh didalamnya. “Kita harus saling berkolaborasi meneladani Yesus, UK Petra ada untuk Kristus, sehingga apapun yang dilakukan nantinya adalah untuk Kristus,” ujar Sen Sendjaya, Ph.D.

Seorang pemimpin seharusnya mampu mendengarkan hal-hal yang tidak terucapkan diantara para pengikutnya. Pemimpin juga harus mengakui kelemahan diri sendiri, menjadi pendengar yang baik, dan tidak menghakimi orang lain dengan standar dirinya sendiri. Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng. berharap workshop ini dapat menjadi bekal bagi para pemimpin di UK Petra, untuk terus mengembangkan kepemimpinannya berdasarkan Injil Kristus. (rut/padi)

Aliansi Jurnalis Indonesia Gandeng UK Petra Perangi Hoax
May 16, 2018

Saat ini kita hidup di era ‘banjir informasi’, dimana informasi dapat dengan mudah kita peroleh dari manapun dan kapanpun. Selain itu internet membantu mempercepat informasi tersebar luas. Di era ini, seringkali kita mencerna informasi tanpa tahu itu fakta atau hanya hoax. Kebanyakan masyarakat hanya membagikan informasi tanpa tahu resikonya, bahkan seringkali masyarakat tahu bahwa informasi tersebut adalah hoax, tetapi tidak tahu bagaimana cara menyikapinya. Selain makin maraknya berita bohong atau hoax, kejahatan cyber seperti pembajakan akun pribadi dan pencurian data digital juga tidak jarang ditemui.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bekerja sama dengan Google News Initiative dan Internews mengadakan kegiatan Halfday Basic Workshop. Surabaya menjadi kota ke-9 diselenggarakannya kegiatan ini dari 30 kota di Indonesia. Bekerja sama dengan Komunitas Discerning, Universitas Kristen Petra (UK Petra) dipilih menjadi lokasi penyelenggaraan workshop bertajuk “Hoax Busting and Digital Hygiene” ini. Komunitas Discerning merupakan komunitas mahasiswa UK Petra yang bernaung dibawah Departemen Mata Kuliah Umum (DMU) bertujuan mengembangkan ketajaman mahasiswa dalam melihat realitas masyarakat, bangsa dan dunia serta mengasah kecermatan dalam mengaitkan bidang minat dan keilmuan yang ditekuni dengan pergumulan nyata di masyarakat. “Kami memilih UK Petra karena kami ingin sebaran informasi bisa merata dan kampus adalah ruang yang sangat strategis untuk menjadi agen-agen kritis dan menyebarkan di lingkungannya,” ungkap Miftah Faridl, selaku Ketua AJI Surabaya.

“Ada banyak sekali celah yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab terhadap aktivitas kita di dunia digital. Tapi yang paling urgent dari acara ini adalah kita sedang membenihkan agen-agen yang bisa menjadi penyambung, karena kami sebagai jurnalis tidak bisa bekerja sendiri. Paling penting adalah mendidik pembaca agar kritis terhadap sesuatu informasi,” sambung pria yang biasa disapa Farid ini.

Workshop ini dilaksanakan pada 27 April 2018 di ruang Audio Visual 503, Gedung T UK Petra dan diikuti oleh sekitar 55 peserta yang terbuka untuk umum. Inggrid Dwi Wedhaswary dan Ika Ningtyas dari AJI memberikan materi-materi terkait ragam dis-misinformasi di sekitar kita, tips melawan hoax, tools melawan hoax, dan digital hygiene. Dalam menghadapi berita hoax, dalam materinya Inggrid dan Ika menjelaskan bahwa tips melawan hoax yaitu dengan cara tidak mudah percaya serta melakukan cek dan ricek.

Penyebaran berita hoax bisa melalui gambar, artikel maupun video, tetapi ada beberapa tools yang bisa dimanfaatkan untuk menyelidiki kebenarannya. Salah satunya adalah dengan menggunakan google reverse image research untuk melacak unggahan foto pertama pada sebuah website. Hal ini juga berlaku untuk menyelidiki sebuah video yaitu dengan mengcapture video dan melacaknya dengan menggunakan google reverse image research. Memperhatikan detail pada video dan foto, seperti nama gedung, toko, bangunan, plat nomor kendaraan, nama jalan, monumen, dan lainnya, setelah itu melacaknya dengan google maps atau aplikasi lainnya. Untuk keamanan digital, kita harus memperhatikan kekuatan kata sandi dari setiap akun yang kita miliki. Selain itu, kita juga harus rutin memperbaharui kata sandi.

“Pada jaman digital ini, opini seseorang sepertinya sudah dibentuk oleh sosial media. Saya berharap semakin banyak edukasi untuk literasi digital, dengan adanya kegiatan ini diharapkan kita dapat lebih selektif terhadap informasi-informasi yang kita terima,” ungkap Ivana Kurniawati, selaku Ketua Komunitas Discerning. (rut/padi)

Wakil UK Petra Siap Maju Pilmapres Nasional
May 08, 2018

Direktorat Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemeristekdikti) kembali melaksanakan Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Tahun 2018. Pilmapres menyeleksi mahasiswa yang memiliki prestasi unggul serta membanggakan pada hard skills maupun soft skills secara selaras dan seimbang. Pilmapres dilaksanakan dalam tingkat nasional dan diikuti oleh seluruh Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta. Seluruh Perguruan Tinggi wajib mengirimkan satu mahasiswa terbaik untuk mewakili Perguruan Tingginya. Pada tahap seleksi, Pilmapres diadakan pada tingkat Kopertis Wilayah terlebih dahulu. Universitas Kristen Petra (UK Petra) masuk dalam wilayah Kopertis VII.

Gho Danny Wahyudi, mahasiswa Program Studi Teknik Sipil terpilih mewakili UK Petra dalam Pilmapres 2018 ini. Dalam tahap pemilihan di UK Petra terdapat tiga faktor yang harus terpenuhi yaitu memiliki kepribadian yang baik, aktif dalam lembaga mahasiswa, dan berprestasi. Tak sia-sia usahanya, akhirnya pada tingkat Kopertis VII Danny berhasil meraih juara III dari total 50 peserta Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur.

Dalam Pilmapres terdapat tiga kategori penilaian yaitu berprestasi, membuat karya tulis ilmiah, dan kemampuan berbahasa Inggris. Pada tahap penyisihan, peserta diminta membuat karya tulis ilmiah dan video presentasi dalam bahasa Inggris dengan tema besar “Sustainable Development Goals” (SDGS). Judul karya tulis ilmiah Danny saat itu yaitu Kampung Binaan Organisasi Kemahasiswaan Untuk Pembangunan Sustainable Urban Village. Isu yang diangkat oleh mahasiswa kelahiran Surabaya ini adalah adanya kesenjangan kehidupan warga yang sangat mencolok di kota yang sudah maju. “Di kota maju seperti Surabaya, masih ada saja kesenjangan sosial dan sangat mencolok. Bahkan masih cukup banyak warga Surabaya yang tidak memiliki toilet,” terang Danny yang juga merupakan ketua Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM) UK Petra.

Tujuannya adalah mahasiswa terutama yang tergabung dalam organisasi kemahasiswaan dapat lebih peka dan tahu kondisi negara ini. Selain itu kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat mengasah soft skill dan juga mempraktikkan ilmu yang telah didapatkan selama perkuliahan. Kampung yang dipilih menjadi target sasaran pelaksanaan kegiatan ini adalah daerah Putat Jaya, kawasan ex lokalisasi di pusat kota Surabaya dengan kondisi beberapa warga yang masih tidak memiliki toilet.

Pada 12-13 April, sebanyak 20 peserta hadir untuk seleksi di hotel Luminor Surabaya. Peserta mempresentasikan karya tulis ilmiah dan dilanjutkan dengan tanya jawab dari juri dan kompetitornya. Selanjutnya peserta diminta memilih topik dan memberikan agumentasinya dengan menggunakan bahasa Inggris selama maksimal tujuh menit. Danny mendapatkan topik tentang “Apakah seharusnya pemerintah Indonesia melarang pekerja asing di Indonesia?” Menurut Danny tidak perlu adanya larangan tentang pekerja asing di Indonesia, karena dengan adanya pekerja asing di Indonesia dapat mentransfer teknologi dan pengetahuan.

Delapan mahasiswa terbaik Kopertis VII berhak maju ke tingkat nasional. Danny merasa bangga dapat mewakili UK Petra dalam kompetisi bergengsi bagi mahasiswa ini. Putra pasangan Soetikno dan Jong Lie Hwa ini menyatakan harapannya, “Dengan mengikuti Pilmapres ini, saya harap dapat bertukar ide dengan peserta lain untuk membangun Indonesia.” (rut/Aj)