Connect with us
  • b
  • a
  • x
A CARING AND GLOBAL UNIVERSITY
WITH COMMITMENT TO CHRISTIAN VALUES

Berita

Peringati Hangeul Day ke-572 , KSI Surabaya Gelar Lomba Menulis Cantik Hangeul
November 15, 2018

Belajar budaya Korea dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan Lomba Menulis Cantik Hangeul pada hari Sabtu, 20 Oktober 2018 mulai pukul 16.00-18.00 WIB di gedung T lantai 5 ruang AVT. 502, kampus UK Petra. “Sebanyak 105 peserta telah mendaftar. Kegiatan ini dalam rangka memperingati hari Hangeul (tulisan Korea) yang ke-572. Tiap tahun kami selalu memperingatinya tetapi berbeda-beda tiap kegiatannya.” ujar Dr. Liliek Soelistyo, M.A. selaku Direktur KSI Surabaya.

Kegiatan yang merupakan event budaya ini dalam rangka untuk memperkenalkan budaya Korea melalui kesenian puisi Korea. Bahan materi yang digunakan ialah puisi berjudul 꽃 (Kkot, Bunga) ciptaan Kim Chun Su yang merupakan seorang sastrawan terkemuka asal Korea Selatan pada akhir abad 20-an. Puisi ini ditulis saat perang saudara, yang menunjukkan keinginan seseorang untuk menjadi sesuatu yang berarti bagi orang lain, dengan memanggil nama orang tersebut yang diibaratkan sebagai “bunga”.

Para peserta lomba diberikan waktu selama satu jam untuk menulis puisi pada kertas yang sudah disediakan. “Ada tiga kriteria pemenang dalam lomba menulis cantik ini yaitu memiliki tulisan tangan terbaik tetapi bukan kaligrafi, melainkan tulisan tangan rapi dan hiasan atau gambar di kertas yang terlihat cantik serta menarik sesuai dengan arti puisi.” ungkap Dyah Sekarini H, A,Md., salah satu staff KSI Surabaya.

Akan dipilih 10 orang pemenang yang akan mendapatkan peralatan makan Korea yang diukir huruf Hangeul yang didatangkan langsung dari Korea. Menghadirkan lima juri yang diantaranya orang Korea langsung yaitu Hong Jong Youn (pengajar bahasa Korea), Kim Yu Jeong (pengajar dan perwakilan KSI di Korea), Cha In A (pengajar KSI Surabaya), Herlinda Yuniasti (pengajar bahasa Korea) dan LLiliek Soelistyo (Direktur KSI Surabaya).

Kompetisi yang diselenggarakan oleh King Sejong Institute (KSI) Surabaya di UK Petra ini tidak hanya terbatas murid KSI saja akan tetapi juga dari masyarakat luas. Salah satunya Yoshita Elsyanti, dari Mojokerto. “Saya sangat antusias untuk mengikuti lomba ini. Ini kali pertamanya mengikuti lomba dan menang. Saya menggunakan 30 menit pertama saya pakai untuk latihan dan 30 menit selanjutnya saya pakai untuk menulis pada kertas yang telah disediakan.” ungkap Yoshita Elsyanti salah satu pemenang.

Sembari menunggu pengumuman pemenang, para peserta dapat merasakan lima kuliner asli Korea mulai dari Bulgogi (olahan daging asal Korea bagian sirloin atau daging sapi pilihan dicampur kecap asin dan gula ditambah rempah asli daerah Korea), Japchae (sohun yang dicampur dengan berbagai jenis sayuran dan daging sapi, Kimchi (asinan sayur sawi putih atau lobak hasil fermentasi yang diberi bumbu pedas), Tteokbokki (terbuat dari tepung beras yang dimasak dengan bumbu gochujang yang pedas dan manis) dan ayam bumbu ala Korea. (elin/Aj)

Upacara Pembukaan Asian University President Forum 2018
November 08, 2018

Di hari kedua pelaksanaan Asian University President Forum (AUPF) ke-17, pada 7 November 2018, peserta menghadiri plenary session, talkshow, dan parallel session. Kegiatan ini dilaksanakan di auditorium kampus timur Universitas Kristen Petra (UK Petra). Suara musik tradisional mengalun mengiringi 30 penari yang melenggak-lenggok menyambut kedatangan para peserta AUPF 2018 di UK Petra. Tarian Etnik Mira Pote, yang merupakan tarian selamat datang dari wilayah Madura untuk menyambut tamu kehormatan, dengan diiringi alat musik khas madura yang bernama tong-tong. Tarian ini menceritakan tentang sopan santun rakyat Madura dalam mempersilakan tamu yang biasa disebut nyaleser.

Rektor UK Petra, Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng., menyambut hangat kedatangan 122 delegasi yang berasal dari 62 perguruan tinggi Asia ke kampus UK Petra. Tahun ini, tema yang dipilih adalah “Disruption at The Cross Roads : Innovative Enggagement and Future Challenges for Higher Education”. Tema ini dipilih karena saat ini dunia telah berubah sedemikian pesat, bahkan sering kali perubahan itu mengejutkan. Era perubahan ini sering kali dikenal sebagai era “Disruption”, dimana banyak sektor dan bidang yang terpengaruh, tidak terkecuali pendidikan. Isu tentang perubahan (disruption) ini menjadi tantangan tersendiri yang tepat untuk dibahas dan dipecahkan bersama, khususnya di wilayah Asia yang makin berkembang.

“Kami mengharapkan konferensi ini dapat menjadi sarana bagi para peserta, terutama pemimpin pendidikan tinggi di Asia untuk saling bertukar pikiran, mendapatkan masukan, dan membangun relasi,” ungkap Djwantoro Hardjito

Dr. Jiao Fangtai, mewakili sekretariat tetap AUPF mengungkapkan, pada awalnya, AUPF berasal dari kerjasama antara empat universitas di China dan Thailand. Saat ini AUPF telah menjadi forum dan sarana untuk meningkatkan kerja sama diantara universitas-universitas di Asia. “Salah satu hasil kerja sama antar anggota AUPF adalah Asian Summer Program (ASP) yang diajukan oleh Dongseo University pada tahun 2012. Sejak saat itu, ASP telah menjadi kegiatan tahunan, dan lebih dari 200 mahasiswa berpartisipasi dalam kegiatan ini,” ungkap Jiao Fangtai yang juga Wakil Rektor Guangdong University of Foreign Studies ini.

Dalam kesempatan ini, Prof. Ainun Na’im, Ph.D., selaku Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi hadir sebagai keynote speaker. Negara-negara di Asia sedang bertumbuh, jika berbicara mengenai pertumbuhan termasuk kualitas kehidupan, pendidikan menjadi faktor yang paling penting, tidak terkecuali pendidikan tinggi. “Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi sangat mendukung terselenggaranya Asian University President Forum, termasuk kegiatan-kegiatan lain yang serupa yang diatur oleh forum ini,” ujar  Ainun Na’im.

Pendidikan Tinggi di Indonesia memiliki hak bebas untuk membuka program-program baru yang relevan dengan komunitas dan industri. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi juga memfasilitasi dan mendukung universitas-universitas untuk memiliki cara baru dalam melakukan penelitian, mengembangkan teknologi baru dan memperbaiki kualitas pendidikan. Selain itu, pemerintah mendukung dan memfasilitasi perguruan tinggi untuk bekerja sama dengan industri, salah satu caranya adalah mahasiswa melakukan magang supaya siap memasuki dunia kerja. Kedepan pemerintah Indonesia akan terus mendukung universitas-universitas untuk memasuki globalisasi, meningkatkan kerja sama internasional dalam upaya untuk meningkatkan kualitas publikasi bagi dosen dan mahasiswa. (rut/dit)

Surabaya Menyambut Hangat Peserta Asian University Presidents Forum 2018
November 08, 2018

Asian University Presidents Forum (AUPF) ke-17 diselenggarakan di Surabaya, Indonesia. Kali ini Universitas Kristen Petra (UK Petra) berkesempatan menjadi tuan rumah dalam forum yang menghimpun berbagai institusi pendidikan tinggi di berbagai wilayah Asia ini. Selama tiga hari, pada 6-8 November, sebanyak 122 peserta yang terdiri atas 62 perguruan tinggi dari 14 negara Asia mengikuti serangkaian kegiatan AUPF 2018. Pemerintah Kota Surabaya mendukung penuh kegiatan AUPF, hal ini diwujudkan dengan kegiatan city tour dan welcome dinner yang dilaksanakan pada hari pertama.

Dr. (H.C.) Ir. Tri Rismaharini, M.T, selaku Walikota Surabaya secara langsung memilih lokasi-lokasi yang dikunjungi. Selama city tour, para peserta dipandu oleh tim Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya. Destinasi pertama adalah Taman Harmoni, sebelum menjadi salah satu taman terindah di Surabaya, Taman Harmoni merupakan tempat pembuangan akhir sampah. Taman kota ini dilengkapi fasilitas seperti Ruang Publik Kreatif (RPF), serta tempat olahraga dan refleksi.

Lokasi kedua yang dikunjungi yaitu House of Sampoerna. Sebagai salah satu tempat bersejarah di Surabaya, House of Sampoerna menyuguhkan memori masa lalu dari salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia. “Ini adalah kali kedua saya ke Indonesia, sebelumnya saya mengunjungi Bali dan Yogyakarta. Menurut saya, Surabaya merupakan kota yang unik, pemimpinnya juga merupakan seorang wanita yang hebat,” ungkap Fernold Guadilla Denna, President of Saint Louis College of Cebu, Filipina.

Perhentian berikutnya adalah Command Center Surabaya yang terletak di Gedung Siola. Diresmikan 26 Juli 2018 oleh Dr. (H.C.). Ir. Tri Rismaharini, M.T., Command Center merupakan ruang kendali untuk kondisi darurat kota Surabaya, yang melayani pengaduan yang bersifat darurat dengan cepat selama 24 jam dalam sehari. Saat ini terdapat 600 closed circuit television (CCTV) yang tersebar diseluruh wilayah Surabaya. “Kami ingin menunjukkan kepada peserta, bahwa Surabaya adalah kota yang aman dan diawasi penuh oleh pemerintah kota Surabaya, sehingga pengunjung yang bukan warga Surabaya tidak perlu merasa kuatir untuk berkunjung,” ujar Luqman Yusuf Ramadhan atau yang dikenal dengan nama Cak Man, salah satu pemimpin perjalanan wisata rombongan ini.

Malam harinya, peserta menghadiri undangan welcome dinner walikota Surabaya yang dilaksanakan di halaman rumah dinasnya. Tarian Reog Ponorogo lengkap dengan iringan musik tradisional menyambut kedatangan para delegasi AUPF dan seluruh jajaran kepemimpinan UK Petra. Sayangnya Walikota Surabaya berhalangan hadir dalam kesempatan ini dikarenakan menghadiri pertemuan di Spanyol. “Kami senang dapat menyambut bapak dan ibu sebagai keluarga besar di kota Surabaya. Semoga selama di Surabaya, bapak dan ibu sekalian dapat merasa aman, nyaman, dan dapat menikmati segala keramah-taman kota Surabaya,” ujar Dr. (H.C.). Ir. Tri Rismaharini, M.T.dalam sambutannya yang diwakilkan oleh  M. Taswin, S.E., M.M., selaku Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Kota Surabaya.

Rektor UK Petra, Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng., mengungkapkan rasa terima kasih kepada pemerintah kota Surabaya atas dukungan yang sangat besar kepada UK Petra. “Kami sangat berterima kasih atas segala dukungan yang diberikan oleh Ibu Tri Rismaharini dalam penyelenggaraan AUPF 2018 ini. Sungguh sebuah kehormatan bagi kami,” ungkapnya.

Peserta disuguhi berbagai pertunjukan menarik, salah satunya pertunjukan tari Remo yang dibawakan oleh sanggar Putra Bima Respati. Selain itu juga  penampilan angklung dari anak-anak Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB). “Saya berharap dengan adanya kegiatan ini dapat mempererat hubungan antar anggotanya, dan terus berlanjut menghasilkan kegiatan-kegiatan yang positif dan memberdayakan institusi dan komunitas,” ujar Dr. Venus Grace Kanongkong Fagyan, Wakil Rektor Mountain Province State Polytechnic College Filipina. (rut/dit)

Profesor dari Auburn University Bahas Energi Terbarukan di UK Petra
October 31, 2018

Listrik merupakan elemen penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Hal ini menyebabkan kebutuhan akan energi listrik sangat besar. Di Indonesia, sebagian besar penyediaannya masih bergantung pada energi fosil yang jumlahnya sudah semakin menipis. Maka dari itu, energi terbarukan juga menjadi salah satu agenda penting dan mulai banyak diterapkan di Indonesia.

Program Studi Teknik Elektro Universitas Kristen Petra (UK Petra) bekerja sama dengan Auburn University, Amerika menggelar kuliah umum bertajuk Renewable Energy Generation Challenges and Opportunity. Pembicara pada kuliah umum ini merupakan Profesor yang berasal dari Auburn University bernama Prof. Eduard Muljadi, Ph.D. Kuliah umum ini dilaksanakan pada 24 Oktober 2018 di Ruang Konferensi IV, Gedung Radius Prawiro, UK Petra.

Sekitar 100 peserta mengikuti perkuliahan ini, tidak hanya diikuti oleh mahasiswa Teknik Elektro UK Petra akan tetapi juga diikuti oleh mahasiswa dan dosen dari beberapa universitas di Jawa Timur. Kegiatan kuliah umum merupakan kegiatan rutin yang diadakan oleh Program Studi Teknik Elektro UK Petra untuk lebih mengenalkan kondisi terkini dalam bidang teknologi elektro kepada dosen, mahasiswa, dan praktisi. “Kali ini tujuan dari kuliah umum ini adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang kebutuhan energi terbaharukan dalam menghadapi fenomena pemanasan global,” ujar Iwan Handoyo Putro, S.T., M.Dig.Comm., selaku Ketua Program Studi Teknik Elektro UK Petra.

Prof. Eduard Muljadi, Ph.D. memberikan wawasan tentang jenis-jenis energi terbarukan, seperti air, surya, angin, serta metode pembangkitan energi tersebut. Dosen asal Sumenep, Madura yang telah lama hidup di Amerika ini menyatakan bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar dalam segala bidang, tidak terkecuali isu energi terbarukan ini. Beliau mengungkapkan fakta bahwa internasional mengakui perkembangan Indonesia beberapa tahun terakhir ini sangat pesat sekali. Internasional juga memprediksi bahwa 30-40 tahun yang akan datang, Indonesia akan menduduki peringkat empat dunia, mengalahkan Jerman dan Perancis. Indonesia merupakan negara yang besar dan memiliki potensi tinggi, hal ini dikarenakan Indonesia memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah. “Harapan saya adalah agar teman-teman sadar bahwa the future is bright, maka dari itu kalian harus mempersiapkan diri dengan baik,” ungkapnya.

Dari gambaran total primary energy supply secara garis besar di seluruh dunia, untuk energi terbarukan hanya sebesar 14%, hal ini menunjukkan ada banyak sekali kesempatan yang dapat dikembangkan. Modal atau aspek finansial untuk mengembangkan energi terbarukan di negara-negara Asean ini sangat tinggi, tetapi pada kenyataannya belum dikembangkan. Masuknya energi terbarukan tentunya menimbulkan tantangan tersendiri, tetapi ada teknologi dan manusia yang menguasainya dapat mengatasi masalah tersebut. “Nantinya, kalian mungkin akan terjun dalam dunia ini, seorang engineer merupakan seorang problem solver, tenaga kerja yang bekerja untuk memecahkan masalah,” jelas Prof. Eduard. (rut/Aj)

Dua Mahasiswa Sastra Tionghoa Torehkan Prestasi Cipta Puisi Bahasa Mandarin
October 31, 2018

Tanggal 8 Oktober yang lalu dua mahasiswi Program Studi Sastra Tionghoa Universitas Kristen Petra (UK Petra) menyabet dua predikat kejuaraan dalam ajang lomba Karya Puisi Berbahasa Mandarin yang diadakan oleh Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta. Temanya adalah Kontribusi Generasi Z Menuju Indonesia Emas. Bagaimana kisah mereka? Simak kisahnya berikut.

Febe Leonora Agung

Gegap gempita Asian Games 2018 yang baru saja berakhir menjadi inspirasi Febe Leonora Agung dalam membuat puisinya. “Emas Indonesia” itulah judul puisi berbahasa Mandarin karya mahasiswi angkatan 2017 ini dan berhasil menghantarkannya memperoleh prestasi juara 1. “Saya sama sekali tidak menyangka akan memenangkan perlombaan ini apalagi mendapat juara pertama, sebab saya merasa puisi ini masih banyak kekurangannya”, urai gadis yang baru pertama kali mengikuti kompetisi cipta puisi ini.

Proses yang dilakukan Febe cukup lama, sekitar 3 hari ia baru bisa menyelesaikan karyanya sejumlah enam paragraf. Melalui puisi ini, Febe ingin mengajak anak muda lebih semangat untuk membawa perubahan. Kata-kata “emas” dianalogikan oleh Febe sebagai sekumpulan generasi Z yang mempunyai segudang prestasi. Mereka bersatu mengharumkan nama Indonesia, meskipun dari suku dan agama yang berbeda-beda.

“Setelah membaca puisi ini, saya harap anak-anak muda Indonesia mampu membawa perubahan dengan bertanding di bidang akademik maupun non akademik untuk bersatu membawa nama Indonesia ke kancah internasional”, urai gadis yang hobi baca buku ini. Prestasi nasional ini semakin memacu Febe yang lahir 16 Agustus 1999 ini, untuk tidak ragu-ragu mencoba  berbagai kompetisi.

Kurniawati Adirahsetio

Lain halnya dengan gadis yang akrab dipanggil Nia ini, ia sering membuat puisi sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) meski dalam bahasa Indonesia. Hanya dalam sehari saja, puisinya berjudul “Bangunlah!” sudah jadi dalam bahasa Indonesia dan berhasil menghantarkannya menjadi pemenang juara 2.

“Meski sudah biasa membuat puisi, akan tetapi saya melakukan pencarian data terlebih dahulu. Saya menemukan fakta bahwa anak muda generasi Z ini suka sekali bermain telepon genggam dengan gaya menunduk. Dari sinilah akhirnya saya mendapat ide bahwa judulnya “Bangunlah” yang maksudnya tegakkan kepalamu dan mulailah buat sesuatu untuk Indonesia”, urai mahasiswi yang mempunyai hobi membaca buku novel.

Mahasiswi angkatan 2016 ini sempat berdiskusi dengan dosennya mengenai hasil karya puisinya tersebut. Puisi yang singkat dan sarat dengan makna ini, khusus ditujukan pada generasi muda yang gemar bermain gawai. “Saya ingin agar anak muda yang membaca puisi saya menjadi sadar dengan lingkungannya sendiri sebab masa depan ini milik anak muda itu sendiri, dan generasi muda harus berbuat sesuatu”, ungkap gadis kelahiran Sidoarjo 11 April 1998 silam. (Aj/dit)

Kampanyekan Bahaya Cyberbullying Lewat E-Poster
October 30, 2018

Kabar baik dan membanggakan kembali hadir dari mahasiswa Universitas Kristen Petra (UK Petra). Kali ini, empat mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi yang tergabung dalam dua tim meraih juara I dan III dalam kompetisi Communication in Action (COMIC) 2018 untuk cabang lomba E-Poster. Tim Faire beranggotakan Sarah Azaliah Karsa dan Lofina Junita, sedangkan tim Rinchel beranggotakan Sherin Fongana dan Natasya Rachel, keempatnya merupakan mahasiswa semester 5.

COMIC 2018 merupakan kompetisi tahunan yang diadakan oleh universitas Binus pada 6 Oktober 2018. COMIC 2018 terdiri dari tiga cabang lomba yaitu E-Poster, Video Campaign, dan Public Speaking. Tahun ini, tema yang diangkat adalah Stop Cyberbullying, isu yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Cyberbullying yaitu suatu bentuk dari kekerasan non fisik yang dilakukan oleh orang – orang di dunia maya. Bentuk cyberbullying dapat berbagai macam, seperti ujaran kebencian di internet, unggahan foto yang mempermalukan orang lain, serta hinaan fisik, gender dan SARA di media sosial. Cyberbullying dapat menimbulkan banyak sekali akibat, mulai dari minder, depresi, bahkan bunuh diri. Dalam cabang lomba E-Poster, mereka dituntut untuk mendesain poster sebagai bentuk kepedulian dan menyebarkan bahaya tentang cyberbullying.

Sebelumnya, pada 18-30 September 2018, peserta diminta mengumpulkan karyanya. Dari 36 kelompok yang mendaftar, sebanyak lima kelompok masuk ke babak final dan mempresentasikan karya mereka di hadapan para juri. Tim Faire membuat poster bergambarkan lemari terbuka yang berisi sepatu balet berdarah yang tergantung pada sebuah telepon genggam Sepatu balet melambangkan cita-cita atau impian dari seseorang. Sepatu balet dipilih karena identik dengan perempuan. Berdasarkan hasil riset, perempuan lebih rentan menjadi korban cyberbullying. Telepon genggam dipilih karena merupakan salah satu media yang digunakan untuk mengakses dunia maya, tempat terjadinya cyberbullying. Di dalam poster juga bertuliskan kata-kata “I Finally Stopped. #cyberbullykills”. Poster ini ditujukan bagi para pelaku cyberbullying agar lebih berhati-hati dalam berucap. “Pesan yang ingin kami sampaikan adalah cyberbullying memiliki dampak yang besar, bisa menghentikan impian seseorang, bahkan nyawa seseorang bisa hilang,” ujar Lofina Junita.

Tim Rinchel terinspirasi dari beberapa teman mereka yang suka menyakiti diri dengan menyayat tangannya saat menghadapi tekanan. Pada posternya, mereka menggambarkan tangan seseorang yang penuh dengan luka sayat sedang menggenggam sebuah telepon genggam bertuliskan kata-kata cacian. Di poster juga tertulis kalimat “To you, those are just words. To them, it’s their whole life”. Poster ini ditujukan bagi anak-anak berusia 9-17 tahun yang merupakan usia sekolah, oleh sebab itu latar posternya diberi motif kayu sebagai simbol bangku sekolah. “Melalui poster ini kami ingin memperingatkan pelaku cyberbullying bahwa kata-kata yang kita ucapkan kepada orang lain itu sangat penting. Bagi kita mungkin itu hanya kata-kata biasa dan tidak berarti, tapi bagi orang lain bisa menjadi pencitraan,” jelas Natasya Rachel.

Awalnya mereka mengaku mengikuti kompetisi ini karena merupakan kewajiban dari mata kuliah advertising production, hasil karya mereka juga menjadi penilaian ujian tengah semester. Setelah mengikuti kompetisi ini, mereka berharap karya mereka dapat menumbuhkan kepedulian pada tindakan cyberbullying. “Sebelumnya saya belum pernah mengikuti kompetisi seperti ini, sehingga merasa tertantang untuk mencoba. Kami berharap melalui kompetisi ini, dapat membantu pemerintah melalui kementerian komunikasi dan informasi untuk mengkampanyekan bahaya cyberbullying,” ungkap Sarah Azaliah Karsa. (rut/dit)

Tetap Berbuah Walaupun Sudah Tua
October 29, 2018

Pada hari Selasa, 16 Oktober 2018 dilaksanakan ibadah syukur Purna Tugas Bapak Munar. Ibadah ini dihadiri sekitar 40 rekan kerabat kerja dari berbagai unit dan dosen di UK Petra. Bapak Munar bertugas di Unit Pelayanan dan Pemeliharaan Kampus (UPPK) dan sudah berkarya di UK Petra sejak tahun 1979. Pada tanggal 13 Agustus 2018, Munar menginjak usia 60 tahun dan mencapai masa purna tugas.

Renungan dalam ibadah ini disampaikan oleh Drs. Saptana Hadi dengan tema “Tetap Berbuah Walaupun Sudah Tua”. Hadi mengambil ayat Firman Tuhan dari Mazmur 92: 14-15, “Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya”. Ayat ini menyampaikan pemahaman bahwa Tuhan menghendaki manusia untuk semakin tua semakin berbuah. Buah yang diharapkan ini berbentuk buah Roh, yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.

Hadi juga kemudian memaparkan tentang kondisi yang dihadapi ketika orang pensiun. Menurutnya, sindrom yang dihadapi dikenal dengan 5B yang menggambarkan kondisi umum orang yang telah berusia lanjut. 5B merupakan singkatan dari budeg (pendengaran kurang jelas), blawur (pandangan kurang jelas), beser (sering buang air kecil), bingung, lalu bablas (dipanggil Tuhan). Cara untuk menepis sindrom tersebut adalah dengan DUIT, yaitu singkatan dari: Doa, Usaha, Iman, Taat. Hadi menyampaikan saran dalam memasuki pensiun, “Selalu ingat bahwa hidup ini adalah kesempatan untuk melayani”. Hadi memberikan bentuk aplikasi dengan pentingnya menyadari bahwa hidup ini adalah milik Tuhan; pentingnya menjalani hidup dengan sukacita; dan selalu bersyukur dalam segala hal.

Seusai khotbah, rekan-rekan kerja Munar diberikan kesempatan untuk menyampaikan pesan dan kesan yang dipunyai. Purtoyo, rekan Munar di UPPK menyampaikan kisah pengalaman kerja yang dirasakan bersama Munar. Kondisi UK Petra saat ini menurutnya sudah enak, berbeda dengan masa-masa lalu saat universitas ini baru saja dirintis. Purtoyo menyampaikan ikut serta berbahagia karena melihat bahwa Munar di saat menjelang pensiunnya sudah siap. Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum & Keuangan Agus Arianto Toly, S.E., Ak., M.S.A., menyampaikan berita gembira bahwa Munar apabila masih berkenan untuk berkarya di Petra tetap dibutuhkan untuk bekerja.

Munar dan istrinya, Ibu Tukinah menyampaikan kesan dan pesannya. Munar mengatakan bahwa karirnya yang panjang di UK Petra bukanlah suatu kebetulan, melainkan adalah suatu karunia Tuhan. Katanya, “Ini adalah karunia. Kalau bukan, tidak mungkin saya sampai 39 tahun di sini”. Hal yang membuatnya mendedikasikan seluruh karir adalah untuk menjamin kehidupan dan pendidikan anak-anaknya serta cucunya. Dengan bersyukur, Munar mengatakan bahwa ketiga anaknya lulus dari UK Petra dan sejak SMP bersekolah di SMPKr Petra 5. Mengingat hal ini Tukinah turut mengucapkan syukurnya, “Saya senang anak-anak saya bisa berprestasi bersama di UK Petra semua”. Ketiga anak Munar dan Tukinah ketika berkuliah kesemuanya mendapatkan beasiswa.

Munar menyampaikan pesan harapannya atas rekan-rekan yang bekerja di UK Petra, “Bekerjalah dengan senyum dan ucapkan selamat pagi pada setiap orang”. Munar selalu mengucapkan selamat pagi kepada siapa pun yang dikenalnya di setiap saat. Hal ini dimaksudkannnya untuk menularkan semangat dan keceriaan, sehingga meskipun bertemu di sore hari rasanya tetap seperti di pagi hari sehingga suasana bekerja bisa selalu menyenangkan. (noel/padi)

Kemas Sejarah dengan Nilai Kekinian
October 26, 2018

Pengalaman merupakan pelajaran yang berharga, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bisa menjadi pelajaran bagi orang lain jika dibagikan pada orang lain. Para mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen Petra (UK Petra) yang tergabung dalam kelas Sejarah Budaya Indonesia (SBI) berkesempatan untuk mendengarkan pengalaman dari para pelaku industri kreatif yang ada di Surabaya. Kuliah tamu ini dilaksanakan pada 3 Oktober 2018 di ruang AVT 502.

Sebanyak 212 mahasiswa semester satu yang berasal dari tiga kelas mendengarkan sharing dari dua komikus dan animator terkenal di Surabaya yaitu Cak Waw dan Cak Ikin. Mata kuliah SBI adalah mata kuliah dasar, hal ini merupakan tantangan tersendiri, belajar sejarah yang tidak membosankan. Kuliah tamu ini bertujuan untuk menunjukkan pada mahasiswa bahwa inspirasi untuk berkarya itu tidak perlu jauh-jauh, sebenarnya inspirasinya dari budaya lokal kita sendiri juga bisa.  “Bagaimana mengangkat sejarah, budaya, kearifan lokal tetapi menggunakan nilai-nilai kekinian, kebetulan kali ini medianya animasi dan komik,” ujar Aniendya Christianna, S.Sn., M.Med.Kom., selaku dosen pengampu Sejarah Budaya Indonesia.

Cak Waw bernama asli Wiryadi Dharmawan memulai karirnya sebagai animator serial kartun TV Hela Heli Helo yang tayang di TPI. Cak Waw juga kerap mendapat penghargaan nasional maupun internasional. Salah satunya adalah Piala Citra Festival Film Indonesia. Saat ini ia menekuni perannya sebagai komikus 101 Hantu Nusantara. Pada komik 101 Hantu Nusantara ini, Cak Waw ingin menunjukkan keragaman dan keunikan hantu di Indonesia. Menurut Cak Waw ada beberapa langkah awal bagi seseorang yang ingin berkarya yaitu bakat, keajaiban, mendobrak kondisi, dan aktivasi.

Mohammad Sholikin atau yang dikenal dengan nama Cak Ikin merupakan Animator Culo & Boyo. Sejak kecil, Cak Ikin telah dikenalkan dengan budaya Indonesia yaitu wayang, hal ini menjadi salah satu dasar kecintaannya terhadap budaya lokal Indonesia. Dalam berkarya bermuatan konten lokal, ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan yaitu cerita rakyat, karakter ikonik, bahasa, dan beda. Dalam karyanya, Cak Ikin mengangkat konten lokal yaitu Suro dan Boyo menjadi karakter utamanya. Selain itu karyanya juga menggunakan bahasa suroboyoan yang khas, membuatnya memiliki daya tarik tersendiri. Masyarakat menyukai hal-hal yang unik dan dekat dengan mereka. Karya Cak Ikin juga telah mendapatkan berbagai penghargaan, salah satunya dalam South East Asian Games & Animaton Festival 2010. Sejak tahun 2015, Cak Ikin membuat webseries di youtube bertajuk Culo & Boyo. Jika dikemas dengan hal menarik seperti ini, mahasiswa akan lebih mudah memahami.

Pada semester-semester sebelumnya kuliah tamu SBI, mendatangkan penulis buku sejarah, dan itu kurang menarik bagi generasi sekarang. Jika dikemas dengan hal menarik seperti ini, mahasiswa akan lebih mudah memahami. “Ide itu ada dimana-mana dan dapat datang dari mana saja. Jangan terus berada di zona nyaman dan kita harus terus mencarinya,” tutup Aniendya. (rut/padi)

Mengenal Keunikan Keruangan di Asia Lewat PAAU 2018
October 24, 2018

Program studi arsitektur Universitas Kristen Petra (UK Petra) berkesempatan menjadi tuan rumah acara Platform for Asian Architecture and Urbanism (PAAU) pada 11-15 Oktober 2018. PAAU merupakan workshop tahunan internasional yang diikuti beberapa universitas dan tahun ini menginjak penyelenggaraan yang ke-6. Pada acara kali ini, para peserta diajak berkunjung ke kampung-kampung di Surabaya dan Gresik. “Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dan dosen program studi Arsitektur, Urban Design, dan Planologi dari tujuh universitas di Asia,” ujar Rully Damayanti, S.T., M.Art., Ph.D, selaku koordinator kegiatan PAAU.

PAAU 2018 mengangkat tema “Embedding Fluidity”, dimana para peserta diajak memahami ruang kampung yang berbeda dengan ruang perkotaan yang modern. Memahami ruang kampung itu adalah sesuatu yang sangat dinamis dan mudah berubah-ubah dimana hampir semua negara Asia memiliki isu serupa. Melalui kegiatan ini Rully ingin mengajak sesama warga Asia untuk mengenal keunikan ruang kampung tersebut. Tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan ini adalah supaya mahasiswa dapat menghasilkan suatu karya arsitektur yang menjawab kebutuhan warga sedangkan untuk dosen supaya mendapatkan pemahaman tentang filosofi ruang yang berbeda dari teori barat.

Sebanyak 98 peserta berasal dari beberapa universitas ternama, diantaranya Silpakorn University Thailand, Kunmig University China, KRVIA Mumbai India, Tunghai University Taiwan, Taylors University Malaysia, UTAR Malaysia, dan  UK Petra. Peserta dibagi dalam lima kelompok besar yang didampingi oleh dosen supaya dapat berdiskusi untuk menghasilkan ide desain dan produk arsitektural dari berbagai kampung yang dikunjungi.

Pada hari pertama peserta diajak mengunjungi kampung Ketandan dan Kampung Kebangsren, Tunjungan Surabaya untuk melakukan identifikasi fenomena fisik atau sosial kampung tersebut. Dengan berjalan kaki menyusuri kampung, peserta diajak mengamati keunikan arsitektur di kampung ini. Setelah berkeliling, peserta berkumpul di pendopo untuk mendengarkan penjelasan dan berdiskusi mengenai kampung tersebut “Kita ingin menunjukkan bahwa kampung di Indonesia punya keunikan, kehidupan sosial yang ramah, bersih, dan teratur,” lanjut Rully.

Jason Yap, mahasiswa UTAR Malaysia menyatakan bahwa ia baru pertama kali berkunjung ke Indonesia. Setelah mengunjungi kampung Ketandan, ia menyatakan bahwa kampung ini sangat rapi dan bersih. “Kampung disini hampir sama dengan kampung di Malaysia, hanya saja disini lebih rapi dan bersih,” ujar Jason.

Pada hari kedua, peserta diajak ke Gresik mengunjungi Kampung Kemasan dan Omah Damar. Mereka belajar mengenai Damar Kurung dan produk kemasan. Hari ketiga peserta diajak mengunjungi kampung Ampel di Surabaya. Kampung Kemasan dan Omah Damar di Gresik serta kampung Ampel di Surabaya dipilih karena kuat dalam budaya dan religi, serta memiliki nilai jual. Keesokan harinya, peserta diajak berjalan di Car Free Day di Surabaya. Hal ini unik karena tidak semua negara memiliki Car Free Day, sehingga akan menjadi pengalaman unik bagi peserta. Pada hari terakhir, para peserta melakukan presentasi dan pameran karya yang telah mereka selesaikan selama workshop. (rut/dit)

Belajar Bahasa dan Budaya Korea Lewat Film
October 18, 2018

Pengaruh budaya Korea di kalangan anak muda sangat besar, tidak terkecuali di Indonesia. Belajar budaya Korea dapat dilakukan melalui berbagai cara, King Sejong Institute (KSI) Surabaya punya berbagai cara menarik untuk memperkenalkan budaya dan bahasa Korea kepada masyarakat, salah satunya dengan nobar (nonton bareng). Kegiatan ini dikemas dalam gelaran Korean Movie Day 2, yang diadakan pada 21 September 2018 di CGV Marvell City Mall Surabaya.

Dalam kegiatan ini, KSI menggandeng CGV Cinema Marvell City dalam pelaksanaannya. Sebelumnya, pada Maret 2018, KSI telah mengadakan kegiatan serupa dengan film The Princess and the Matchmaker. “Antusiasme peserta pada Korean Movie Day yang lalu cukup tinggi, hal ini yang membuat kita memutuskan untuk melaksanakan Korean Movie Day yang kedua,” ujar Dr. Liliek Soelistyo, MA selaku Direktur KSI Surabaya.

Kali ini, film yang dipilih adalah Midnight Runners yang dibintangi oleh beberapa aktor Korea papan atas yaitu Park Seo Joon dan Kang Ha Neul. “Film ini dipilih untuk ditayangkan pada Korean Movie Day 2 karena para aktornya merupakan aktor-aktor yang sedang naik daun dan diminati oleh masyarakat,” ungkap Dyah Sekarini H, A.Md., salah satu staff KSI Surabaya. Midnight Runners bercerita tentang dua orang pemuda yang menempuh pendidikan di Universitas Kepolisian. Keduanya memiliki mimpi serupa yaitu menjadi petugas kepolisian, namun memiliki latar belakang dan sifat yang sangat berbeda. Mereka dipertemukan saat masa orientasi sebelum resmi masuk Universitas Kepolisian.

Keduanya menjadi sahabat, hingga suatu malam, mereka terjebak dalam peristiwa yang dilematis saat mereka jadi saksi kasus penculikan remaja perempuan. Di satu sisi, keduanya memiliki semangat berapi-api untuk membongkar kasus sesuai teknik dan pengetahuan yang mereka dapat di kampus. Sementara di sisi lain, ada urusan birokrasi yang rumit yang menghalangi mereka menguak kasus penculikan remaja-remaja wanita. Keduanya berjuang hingga akhirnya berhasil memecahkan kasus tersebut. Dibalut dengan unsur komedi dan action, para peserta begitu antusias selama film diputar. Suasana studio sangat meriah dengan kekompakan 325 peserta menanggapi adegan-adegan laga yang menantang maupun adegan lucu dalam film berdurasi sekitar 110 menit ini.

Peserta berasal dari berbagai kalangan, baik murid KSI, mahasiswa, alumni, dosen, bahkan orang tua. Salah satunya Fenny Anggraini yang mengaku mengikuti Korean Movie Day setelah diajak oleh salah seorang temannya. “Saya tertarik mengikuti kegiatan ini karena saya suka Korea dan suka dengan pemain-pemainnya karena sebelumnya saya telah menonton beberapa drama yang diperankan oleh Park Seo Joon dan Kang Ha Neul,” ungkap alumnus Program Studi Ilmu Komunikasi UK Petra ini. Selesai menonton, sebanyak 50 peserta beruntung mendapatkan doorprize dari CGV. (rut/padi)

Rayakan 20 Tahun Bersama Alumni
October 18, 2018

Sejak tahun 1998, Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra telah banyak menghasilkan orang-orang hebat yang memiliki kontribusi positif bagi masyarakat bahkan bagi bangsa dan negara Indonesia. Dalam rangka merayakan usia ke-20 tahunnya, DKV UK Petra bekerjasama dengan alumni mengadakan Festival Temu Alumni DKV UK Petra. “Ilmu desain sangat bergantung pada kreativitas dan imajinasi, Liar Imaji adalah gambaran ide-ide yang berbeda, unik, dan imajinatif. Selama 20 tahun kita memiliki ide-ide yang sangat brilian dan “liar” itu,” ungkap Deddi Duto Hartanto, S.Sn., M.Si., selaku ketua panitia Festival Alumni Rongpuluhan.  

Festival Alumni dilaksanakan pada 29 September 2018 di selasar gedung P UK Petra. Berbagai rangkaian kegiatan menarik dilaksanakan, yaitu zumba massal, bazaar dan pameran, workshop, community talk show, dan juga alumni berbagi. Tidak hanya melibatkan alumni, tetapi warga Siwalankerto dan civitas UK Petra diajak untuk terlibat dalam gelaran bertajuk Rongpuluhan Liar Imaji ini sebagai wujud terima kasih atas penerimaan warga kepada alumni saat aktif menjadi mahasiswa dulu. Acara resmi dibuka dengan pemotongan tumpeng dan pemotongan pita.

Sebagai perwujudan dari tema “Liar Imaji”, DKV UK Petra menggandeng para pemain Persebaya untuk membuat mural. Tiga pemain Persebaya yaitu Miswar Saputra, Ruben Sanadi, dan juga Osvaldo Haay membuat mural dari hasil tendangan mereka. Pemain persebaya secara bergantian menendang bola ke arah cat yang telah disusun di depan bidang putih. Cipratan cat ini menghasilkan karya mural yang unik. “Hasil tendangan dari para pemain persebaya ini menghasilkan karya seni yang indah, inilah salah satu perwujudan kata Liar Imaji. Seni dapat dipadukan dengan bidang apapun, termasuk sepak bola,” ujar Deddi.

Tidak hanya itu, berbagai workshop menarik dilaksanakan, di antaranya Color Latte Art yaitu seni menggambar diatas kopi yang bekerja sama dengan Kudos Cafe, Fashion Illustration oleh Agnes Olivia Go, Watercolor Lettering oleh Vallery Darmadji, dan juga Copperplate Calligraphy oleh Melli_fluous. Para pecinta motor juga dapat mengikuti Community Talk Show bersama alumni DKV angkatan 1999, David Hutani yang juga merupakan pemilik Im Garage dan juga Adrianka Anka, alumni DKV angkatan  2002, pemilik Elders Garage.

Sesi yang sangat dinanti adalah Alumni Berbagi, dimana alumni-alumni yang telah berkarya bagi masyarakat dan negara membagikan pengalaman mereka sejak lulus dari DKV UK Petra. Beberapa alumni yang hadir dan menjadi narasumber yaitu Adrianka Anka, angkatan 2002, founder Tandaseru Detailed Imaging dan pembuat motor Chopper Jokowi. Hadir pula Fonny Tunggal angkatan 2000 yang menjadi fashion designer sekaligus pemilik dari Fonny Tunggal Couture, rancangannya telah dipamerkan diberbagai fashion show seperti Indonesia Fashion Week dan pemilihan kontes kecantikan di Malaysia.

Alumni angkatan 2002, Arghubi Utama yang merupakan founder Aiola Group dan KUMI Home Décor, serta Ellen Anatashia, angkatan 1999, seorang artistic event stylist dan art director Eden Design juga turut membagikan kisah mereka. Hadir pula Astri Kunto, angkatan 1998 yang merupakan Co-Founder Seruni Creative Bandung, Bertono Adi, angkatan 2000, yang merupakan Creator Kudos Cafe. Selain itu, Flo Hadjon, angkatan 1999, seorang graphic designer dan sutradara film, serta Deni Lie, founder Dream entertainment, Edustory & Orleeozora juga turut hadir dalam sesi ini. Tidak hanya alumni, dalam sesi ini, Freddy H. Istanto selaku Kaprodi Pertama DKV UK Petra juga membagikan pengalamannya saat awal berdirinya program studi ini. (rut/Aj)

Charaqua Vania Rawoadji, Mahasiswi dengan Segudang Prestasi
October 15, 2018

Meraih prestasi di usia muda merupakan cita-cita dari semua orang di dunia. Namun untuk merealisasikan hal itu, banyak hal yang harus dilewati dan dikorbankan. Apalagi usia muda adalah masa dimana kebanyakan anak muda habiskan untuk bersenang-senang. Berbeda dengan anak muda pada umumnya, Charaqua Vania Rawiadji, mahasiswi Universitas Kristen Petra Surabaya, ia berhasil untuk meraih berbagai prestasi di usia mudanya.

Mahasiswi yang sering dipanggil Caca ini, merupakan mahasiswi Program English for Creative Industry (ECI) Universitas Kristen Petra (UK Petra) angkatan 2018. Semenjak berkuliah di UK Petra, Caca telah mengikuti delapan perlombaan tingkat perkotaan hingga nasional. Salah satu lomba paling bergengsi yang pernah diikuti Caca adalah National University Debate Championship (NUDC) yang diselenggarakan oleh Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) wilayah VII April-Mei 2018 lalu. Caca diberi kesempatan untuk dapat memenangi kompetisi tersebut dan meraih juara pertama di tingkat regional universitas.

Gadis asal Bojonegoro ini mengawali perjalanan prestasinya sejak SMA. Berawal dari ekstrakurikuler English Debate, Caca diperkenalkan ke dalam dunia debat. Dunia debat memang terbilang sulit untuk dimasuki oleh pemula. Namun, dengan tekad dan rasa pantang menyerah, Cac akhirnya dapat beradaptasi dan malah jatuh cinta dengan dunia debat. “Debat memaksa saya untuk dapat melihat berbagai sisi dari sebuah fakta, dan mengajari saya untuk dapat lebih toleransi lagi.”

Selain berkompetisi dan mengkoleksi prestasi, Caca juga aktif dalam berbagai kepanitiaan dan organisasi di UK Petra. Tahun ini, Caca menjabat sebagai Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) English Debate UK Petra yang sekaligus menjadikannya anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UK Petra. Dengan segala kesibukannya, Caca tetap mampu memertahankan nilai perkuliahannya dengan baik, terbukti dengan Indeks Prestasi Kumulatifnya yang mencapai nilai sempurna 4.0. Yang terpenting adalah tidak suka menunda pekerjaan, itulah rahasia Caca dalam membagi waktu dan menyelesaikan segala tugasnya dengan tepat waktu.

Memenangi National University Debate Championship merupakan salah satu momen paling membanggakan Caca maupun kampus UK Petra. Segala jenis persiapan Caca lakukan demi mengikuti perlombaan bergengsi ini. Kampus pun turut membantu dalam hal administrasi dan transportasi Caca selama persiapan dan saat hari pelaksanaan kompetisi ini. Bercerita mengenai pengalamannya, pressure yang tinggi pun juga dialami Caca, namun ia tak gentar.  “Pokoknya jangan punya mentalitas mengasihani diri, harus terus fokus dan maju dan tetap berdoa.” ungkap mahasiswi kelahiran 27 September 1999 ini.

Untuk kedepannya, Caca ingin lebih fokus kuliah, BEM, UKM ED, dan Petra Little Theatre. Namun, tidak berarti bahwa Caca akan berhenti untuk berkompetisi dan meraih prestasi. Caca masih ingin terus mengikuti berbagai lomba yang ada, menjadi juri hingga menjadi seorang pelatih English Debate. Caca terus beraharap agar ia dapat membawa dampak dan terus menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekitarnya. (luk/Aj)

 

Aspiring to Expand Your Network? AUPF 2018 is the Answer!
October 12, 2018

Originating from the collaboration among several higher education institutions in Asia, the Asian University Presidents Forum (AUPF) was officially founded in 2002. Since then, AUPF members have routinely met every year, with the opportunity to host the meeting rotated among participating universities. In 2018, the 17th AUPF meeting will take place in Indonesia, particularly at Petra Christian University (PCU), in Surabaya. In the previous year, the 16th AUPF meeting was held in the Philippines Normal University, the Philippines. The 17th meeting this year will highlight the theme of “Disruption at the Cross Roads: Innovative Engagement and Future Challenges for Higher Education.”

Joining AUPF has brought numerous benefits for its participants, one of them being the opportunity to build a network with higher education institutions across Asia. This is of course in line with AUPF’s mission, which is to “increase communication, exchange information, share experience, and seek common development.” In the 17th AUPF Meeting at PCU, the cooperation among members will be formalized with the signing of Memorandum of Understanding (MoU), which is scheduled on the last day of the meeting. Participating institutions will have a vast opportunity to cooperate with other institutions, such as through co-organizing conferences, student exchange programs, faculty research programs, summer programs, and many more.

To facilitate this, the AUPF Committee will share the list of participating institutions with all participants who attend the meeting so that they can start exploring the possibilities for establishing cooperation with the other institutions. For PCU, joining AUPF has brought significant impact, particularly in terms of international cooperation. “AUPF members include many universities which means a bigger network. Networking and cooperating with international universities become easier for us because we have known each other as AUPF members,” Monika Kristanti, S.E., M.A., the Head of the Bureau for Cooperation and Institutional Development, said.

PCU has been an AUPF member since 2012, and since then it has worked together with numerous international institutions. Some of PCU’s major programs are the outcome of its collaboration with other AUPF members. Asian Summer Program (ASP), for example, is a collaborative effort between PCU and four other universities, namely Dongseo University, Korea, Bangkok University, Thailand, Josai University, Japan, and Universiti Malaysia Perlis, Malaysia. Today, ASP has also included other AUPF members. “This is a positive thing for PCU, since PCU students who join the ASP program have more opportunities to meet and interact with students from many different countries,” Meilinda, S.S., M.A., AUPF 2018’s Steering Committee, mentioned. 

This year, PCU initiated the publication of Asian Higher Education Chronicles, AUPF’s first publication. This bulletin will feature ideas from the Rectors or Presidents of higher education institutions from all over Asia to develop the higher education field in Asia. “As the host for the 17th AUPF meeting, PCU also becomes the member of AUPF Standing Committee, and this will enable PCU to contribute strategic thoughts and ideas for AUPF in its effort to develop higher education institutions in Asia,” Meilinda, S.S., M.A., said.

Moving forward, AUPF members can work together to seek international funding and grants for development purposes. At the moment, there are many international grants which make consortium as one of their requirements. Therefore, AUPF is definitely the right place for higher education institutions in Asia to start seeking partners to work together for the betterment of education in Asia.

Lokakarya Audit Mutu Internal (AMI) 2018, Pembelajaran Bersama untuk Meningkatkan Mutu
October 12, 2018

Selama dua hari, 10-11 Oktober 2018 UK Petra menyelenggarakan proses terakhir Program Asuh Perguruan Tinggi Unggul dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Kegiatan ini bernama Lokakarya Audit Mutu Internal (AMI) di ruang Sriwijaya Hotel Sheraton, Surabaya. “UK Petra juga mendapatkan pembelajaran dari kegiatan bersama ini. Kami senang bermitra dengan tiga universitas yang ada dan berharap akan ada kegiatan bersama diluar program hibah ini”, ungkap Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng. selaku rektor UK Petra,Surabaya.

Tahun ini (2018), UK Petra mengasuh Universitas Pesantren Darul Ulum (Unipdu), Jombang; Universitas Kristen Wira Wacana (Unkriswina), Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur; serta Institut Teknologi Del (IT Del), Toba Samosir, Sumatra Utara. Dalam sambutannya, Rektor Unipdu, Prof. Dr. Kiai H. Ahmad Zahro, MA., menyampaikan harapannya yaitu prospek peningkatan status akreditasi institusinya, katanya “Kami berharap agar tidak lama lagi mendapatkan Akreditasi A, karena saat ini sudah ada gurunya. Kami juga berharap kerjasama yang sudah ada akan tetap terjalin”.

Kegiatan lokakarya sebagai penutup program asuh ini dihadiri 24 peserta, 8 orang dari masing-masing PT Asuh. Mereka disambut oleh Rektor UK Petra, Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng.; Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum & Keuangan, Agus Arianto Toly, S.E.,Ak.,M.S.A.; serta Kepala Lembaga Penjaminan Mutu, Dr. Gan Shu San, M.Sc. beserta jajarannya.

Lokakarya dimulai dengan paparan “SPMI dan Pengertian AMI” serta “Perencanaan dan Pelaksanaan AMI” yang difasilitasi oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UK Petra, Dr. Jenny Mochtar, MA dan Ir. Emmy Hosea, M.Eng.Sc., dari Lembaga Penjaminan Mutu UK Petra. Dalam memahami hubungan antara SPMI dan AMI, perlu diingat bahwa tujuan suatu audit dilaksanakan adalah 1) Memastikan sistem manajemen memenuhi standar/regulasi; 2) Memastikan implementasi sistem manajemen sesuai dengan sasaran/tujuan; 3) Mengidentifikasi peluang perbaikan sistem manajemen mutu; dan 4) Mengevaluasi efektivitas penerapan sistem manajemen mutu. Kondisi SPMI bisa terlihat dari kegiatan AMI yang baik. Begitu juga dengan adanya audit yang baik, SPMI bisa lebih lanjut lagi dikembangkan secara berkesinambungan. Siklus pengembangan ini dikenal dengan PPEPP, yang merupakan singkatan dari: Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, serta Peningkatan.

Selain mendapatkan pemaparan materi tersebut, para peserta mendapatkan pelatihan dalam bentuk simulasi. Simulasi yang diadakan adalah simulasi: Audit Sistem (Desk Evaluation); Audit Kepatuhan (Site Visit); Permintaan Tindakan Koreksi; serta Laporan Audit Internal. Para peserta dibagi menjadi 6 kelompok dengan 4 anggota. Satu anggota berperan sebagai auditee (pihak yang diaudit), 3 anggota lainnya yang berasal dari PT berbeda dari auditee berperan sebagai auditor (pihak yang mengaudit). Untuk memberikan efek yang aktual dan faktual, maka data sistem penjaminan mutu yang dipakai simulasi adalah benar-benar data yang ada di PT auditee. Selain itu, para auditee diberikan tugas untuk merespon para auditor dengan sikap yang tidak kooperatif. Dr. Merry Meryam Martgrita, Dekan Fakultas Bioteknologi IT Del, mendapatkan peran sebagai auditee. Merry menyampaikan pengalamannya, “Dengan pelatihan ini, kami jadi tahu cara yang benar dalam melakukan SPMI dan AMI yang memang diwajibkan oleh Kemenristekdikti”. (noel/Aj)

Pelatihan ISO 28000: Standarisasi Internasional untuk Menghadapi Perubahan
October 03, 2018

Globalisasi adalah era keterbukaan yang menyebabkan akses interaksi pelaku industri dan bisnis melintasi berbagai batasan. Proses ini terus terjadi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dalam atmosfir ini, kesempatan dan tantangan muncul secara bersamaan dihadapan pelaku industri. Kesempatan muncul dalam terbukanya pasar baru dan peluang kerjasama baru karena terbukanya akses antar negara. Tantangan hadir juga dalam hadirnya pelaku industri dari berbagai negara lain yang hendak ikut bermain di pasar yang sebelumnya tidak terbuka untuk mereka.

Contoh nyata yang terjadi di Indonesia adalah datangnya merk dagang besar sekaligus peritel perabot rumah tangga internasional dari Swedia. Brand internasional ini selain menjadi kompetitor bagi peritel dalam negeri juga memberikan kesempatan bisnis baru bagi produsen mebel untuk menjadi pemasok. Untuk mempertahankan pasar yang sudah ada dan memanfaatkan kesempatan besar ini industri mebel perlu mengkomunikasikan jaminan atas standar tinggi yang dimilikinya. Hal ini bisa didapatkan melalui sertifikasi standar yang diakui secara internasional. Untuk memberikan pemahaman atas standarisasi internasional ini, Program Studi (Prodi) Teknik Industri Universitas Kristen (UK) Petra bidang Process Development menyelenggarakan seminar dengan tajuk “Security Supply Chain Management, ISO 28000 Awareness and Documentation” pada tanggal 29-30 Agustus 2018 di ruang Konferensi 3 gedung Radius Prawiro lantai 10. Drs. Jani Rahardjo, Ph.D., dosen pengajar di Prodi Teknik Industri menyampaikan urgensi standarisasi ISO yang belum merata dimiliki industri, katanya “Di dunia yang serba berubah harus dihadapi dengan perubahan”.

Seminar yang dihadiri 18 pelaku industri ini menghadirkan Antonius Widiarso, ST., Freelance Auditor dari Sucofindo serta Konsultan Penerapan ISO 28000. Antonius membuka sesi pertama dengan memperkenalkan tentang ISO yaitu sertifikasi standarisasi internasional yang diterbitkan oleh International Organization for Standardization. ISO ini sendiri bukanlah singkatan dari organisasi yang menerbitkannya, melainkan penyerapan kata ‘isos’ dari bahasa Yunani yang artinya adalah ‘sama’. Ada berbagai macam standarisasi ISO, fokus di seminar kali ini adalah ISO 28000: 2007 Spesifikasi untuk Sistem Manajemen Keamanan pada Rantai Pasokan. Menurut Antonius, batasan lingkup yang jelas dapat membantu memahami konsep yang ada dalam ISO. Pengertian dari Manajemen Keamanan di lingkup ini adalah kegiatan sistematis dan terkoordinasi dan praktek-praktek di mana organisasi mengelola risiko, potensi ancaman, serta dampak-dampaknya secara optimal. Dengan batasan itu, maka ISO 28000 sebagai standarisasi Manajemen Keamanan pada Rantai Pasok bisa diidentifikasi manfaatnya dan langkah-langkah implementasinya. Terkait dengan manajemen keamanan ini, Antonius menyampaikan mentalitas yang perlu dikembangkan, yaitu risk based thinking, katanya “Idealnya adalah organisasi, industri, atau jasa konsultan menyadari risk based thinking dan berpatokan pada itu dalam manajemen risiko”. Hasil dari sesi di hari pertama seminar ini adalah peserta memahami klausul-klausul yang ada di ISO 28000.

Di hari kedua, sesi seminar berkisar pada pelatihan pembuatan dokumen untuk ISO 28000. Hadir sebagai fasilitator di sesi ini dua dosen pengajar di Prodi Teknik Industri UK Petra, yaitu Jani serta Dr. Drs. I Nyoman Sutapa, M.Sc.Nat. Sesi hari kedua ini secara khusus memberikan pada para peserta pelatihan mengidentifikasi risiko-risiko yang dapat terjadi di proses rantai pasok. Alat bantu yang dapat dipakai untuk meningkatkan kesadaran dalam identifikasi risiko dengan adalah peta manajemen risiko. (noel/padi)

57 Tahun UK Petra Berkarya Bagi Bangsa
September 27, 2018

Rapat Terbuka Senat Universitas Kristen Petra dan Kebaktian Ucapan Syukur dalam rangka Dies Natalis ke-57 bersama sivitas akademika diadakan di Auditorium UK Petra kampus Timur pada 24 September 2018. Dalam sambutannya, Rektor UK Petra Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng. menyatakan bahwa “walaupun penuh warna dan dihadapkan pada berbagai tantangan, baik internal maupun eksternal, kita dapat menjalani Tahun Akademik 2017/2018 dengan amat baik. Semuanya itu bisa terjadi hanya karena perkenan, pimpinan, pemeliharaan, kemurahan dan berkat dari Allah Tritunggal.”

Segenap keluarga besar UK Petra, Pembina, Pengawas dan Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Kristen (YPTK) Petra, serta para wakil gereja pendukung turut hadir. Mengutip Roma 8:28, Pdt. Andreas Catur Wismantono, M.Min. menyampaikan bahwa UK Petra bisa sampai saat ini, adalah karena Kasih Karunia Tuhan Yesus. Allah turut bekerja sama di dalam segala hal, termasuk dalam perjalanan UK Petra selama ini. Ada rencana Tuhan yang telah Tuhan sediakan dalam segala hal dan kita semua disiapkan untuk penggenapan rencana Allah. “Bukan karena kebetulan Tuhan tempatkan rekan-rekan yang ada di UK Petra, tetapi Tuhan ingin membentuk setiap pribadi untuk kemuliaan nama-Nya,” ujar Pdt. Andreas Catur Wismantono, M.Min.

Melalui kegiatan ini, Rektor UK Petra juga berkesempatan menyampaikan Laporan Rektor tahun 2017-2018 di hadapan seluruh hadirin. Sesuai dengan visinya “to be a caring and global university with commitment to Christian values”, memasuki usia ke-57 UK Petra terus menggalakkan berbagai program dan kegiatan internasional dalam rangka mempersiapkan para lulusan untuk mampu berperan aktif dalam dunia global. Dalam tahun akademik 2017/2018 telah diselenggarakan beberapa program internasional non-degree yang bersifat short term, antara lain COP (Community Outreach Program), Indonesian Spectrum, Petra Summer Program, International Community Service Program, Work Camp, dan International Day 2018. Dengan semakin banyaknya program internasional di UK Petra, semakin terbuka peluang untuk menarik minat mahasiswa asing datang ke UK Petra, sehingga membuka kesempatan terjadinya internasionalisasi secara inbound di dalam kampus.

Selain itu banyak prestasi-prestasi yang telah dicapai UK Petra selama tahun akademik 2017/2018, diantaranya adalah di tahun 2018 ini, kembali UK Petra mendapatkan kepercayaan dari Kemenristekdikti untuk menjadi Perguruan Tinggi Asuh (PT Asuh) bagi 3 perguruan tinggi lain. Acara juga dimeriahkan dengan penyerahan beasiswa, penghargaan mahasiswa berprestasi, pegawai berprestasi, penghargaan Petra Kencana Karya dan penghargaan Petra Kencana Bhakti. Penghargaan Petra Kencana Karya diberikan kepada dosen dan pegawai UK Petra yang telah mengabdi selama 20 tahun, sedangkan penghargaan Petra Kencana Bhakti diberikan kepada dosen dan pegawai UK Petra yang telah mengabdi selama 30 tahun.

Pada semester gasal tahun ajaran 2018-2019 ini, beasiswa diberikan kepada 346 mahasiswa, dengan jumlah total Rp 3.037.165.000. Di sepanjang tahun 2017-2018 juga telah terukir 80 prestasi ekstrakulikuler yang diraih oleh 134 mahasiswa UK Petra, 15 prestasi tingkat regional, 50 prestasi tingkat nasional, dan 15 prestasi tingkat internasional. Pada kesempatan ini pula, UK Petra memberikan penghargaan kepada empat dosen dan tenaga kependidikan yang berprestasi di tingkat Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII.

UK Petra juga memberi penghargaan bagi program studi yang memiliki kinerja terbanyak dalam internasionalisasi, diantaranya adalah Program Studi Sastra Inggris dengan jumlah kegiatan internasionalisasi terbanyak, Program Studi International Business Management (IBM) dengan mahasiswa outbound terbanyak, serta Program Studi Desain Interior dengan mahasiswa inbound terbanyak.

Selanjutnya penghargaan diberikan kepada para dosen, program studi, dan fakultas yang memiliki kinerja penelitian dan pengabdian masyarakat terbaik tahun 2018. Dosen dengan kinerja terbaik diraih oleh Antoni, S.T., M.Eng., Ph.D., dari Program Studi Teknik Sipil. Dosen sebagai peneliti pemula terbaik diraih oleh Yopi Yusuf Tanoto, S.T., M.T. dari Program Studi Teknik Mesin. Dosen dengan kinerja pengabdian kepada masyarakat terbaik diraih oleh Lily Puspa Dewi, S.T., M.Kom. dari Program Studi Teknik Informatika. Sedangkan program studi dengan kinerja penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terbaik diraih oleh Program Studi Teknik Sipil. Fakultas dengan kinerja penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terbaik diraih oleh Fakultas Teknologi Industri.

"Dalam kesempatan amat baik ini, saya mengajak kita semua mengingat kebaikan dan berkat Tuhan yang luar biasa untuk UK Petra dan untuk kita semua, sejak UK Petra didirikan tanggal 22 September 1961 hingga saat ini. Hanya berkat dan kemurahanNya yang mengijinkan UK Petra berkembang menjadi sebagaimana adanya sekarang ini. Ehen-haezer, sampai di sini Tuhan sudah menolong kita," tutup Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng.  (rut/Aj)

Sharing Knowledge in Facing the Era of Disruption in the Meeting for Asian University Presidents
September 27, 2018

Today, we are currently facing the era of “Disruption.” In line with this development, the 2018 Asian University Presidents Forum (AUPF) which will be held on 6-8 November 2018 chooses to highlight the phenomenon of “Disruption” in its main theme. “Leaders in education need to identify the potentials of disruptive technologies for their benefit in order to avert the disruptive powers of these technologies,” the Rector of Petra Christian University, Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng., emphasized.

 

Petra Christian University (PCU) will host the forum that brings together the leaders of higher education institutions from all over Asia. This forum will be attended by approximately 200 delegations consisting of university presidents and accompanying officials from more than 100 higher education institutions in Asia. With the theme “Disruption at the Cross Roads: Innovative Engagement and Future Challenges for Higher Education,” Petra Christian University has prepared a series of events during the forum that are not only interesting, but will also generate thoughtful and fruitful discussions as well as networking opportunities for the participants.  

 

In fact, the 2018 AUPF meeting also receives full support from the Government of Surabaya for the City Tour and Welcome Dinner. The Mayor of Surabaya, Dr. (H.C) Ir. Tri Rismaharini, M.T. herself, has sponsored the city tour, allowing participants to visit some important and historical venues in Surabaya, some of which are not usually open for public. Among others, some of the locations that will be visited are the Jalesveva Jayamahe Monument, which is 30.6 meters tall and is located at the end of the pier facing towards the Island of Madura. Not only that, participants will also visit the Harmoni Keputih Park, which was once the site for Surabaya’s biggest landfills, and has now become one of the greenest and the most beautiful parks in Surabaya.

 

Participants will also be able to visit Koridor Co-Working Space which was created by the government of Surabaya as a part of their commitment to create conducive environment that allows creators, innovators, and local entrepreneurs to take part in the global market place. Afterwards, the participants will also have a sneak peek of the Command Center 112, which is a special emergency call center serving Surabaya citizens much like the 911 service in the United States. In the evening, the Mayor of Surabaya, Dr. (H.C) Ir. Tri Rismaharini, M.T., will host the guests in a welcome dinner sponsored by the Government of Surabaya.

 

While the rest of the participants are joining the city tour, members of the AUPF Standing Committee will meet in the Standing Committee Meeting. They will join the rest of the participants for the Welcome Dinner.

 

The 2018 AUPF Meeting will be held in two locations, namely Petra Christian University campus and Sheraton Surabaya Hotel and Towers. The Opening Ceremony, Plenary Session, Talk Show, and the Parallel Sessions will take place at Petra Christian University campus. Afterwards, the Gala Dinner and Token Exchange, MoU Signing, and Closing & Hand-Over Ceremony will be at Sheraton Surabaya Hotel and Towers.

 

During the session at Petra Christian University campus, participants will be able to get insights from five prominent speakers who will each address different aspects of the forum’s theme. The keynote speech will be delivered by Prof. Ainun Na’im, Ph.D., The Secretary General of the Ministry of Research, Technology and Higher Education of Indonesia.

 

Following the keynote session, four distinguished international speakers will present in the Talk Show session, namely Prof. Dr. Jekuk Chang, the President of Dongseo University, South Korea, Brig. Jen. Datuk Prof. Emeritus Dr. Kamarudin bin Hussin, the Board of Directors Chairman from Universiti Sultan Zainal Abidin, Malaysia, Prof. Dr. (H.C.). Ir. Rolly Intan, M.A.Sc., Dr. Eng., the Rector of Petra Christian University in 2009–2017, Indonesia, and Prof. Dr. hab. C. Eng. Janusz Szpytko - AGH University of Science and Technology, Krakow, Poland.

 

Furthermore, during the parallel sessions, there will be three separate sessions featuring the accepted papers which will discuss each of the subthemes of the forum, namely “Navigating online courses at the age of disruptions,” “Disruptive innovations: Shifting the way of learning,” and “Disruption, globalization, and the changing context of education.”

 

After sharing thoughts and ideas during the day, participants are then invited to attend the Gala Dinner which will be held in Sheraton Surabaya Hotel and Towers, which will be an excellent opportunity to network with other higher education institutions all over Asia. There will also be an opportunity to exchange tokens formally with partner universities. On the last day of the forum, participants will have an opportunity to formalize partnerships and cooperation with partner institutions during the MoU signing ceremony.

 

Finally, at the end of the whole event, Petra Christian University also offers an optional tour package for guests who are interested in exploring one of East Java’s most famous tourist destinations, Mount Bromo, which is scheduled on 8-9 November 2018. For more information, please visit our website, aupf2018.petra.ac.id

Tumbuhkan Kesadaran Bhinneka Tunggal Ika Lewat Seni
September 19, 2018

Suksesnya gelaran wayang modern dengan menggunakan overhead projector (OHP) yang telah dilakukan oleh Petra Little Theatre (PLT) Universitas Kristen Petra  (UK Petra) dijadikan motivasi untuk mengajak anak-anak muda berkreasi dengan medium yang sama. “Dengan membawa Overhead Projectplay ke dalam format festival, PLT berniat melibatkan lebih banyak anak muda berkreasi menggunakan bentuk kesenian ini,” ujar Stefanny Irawan, S.S., M.A., selaku Managing Director PLT.

PLT mengadakan Onstage Festival 2018 bagi para pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Surabaya dan sekitarnya, yang sebelumnya telah mengikuti Overhead Projectplay Workshop pada 2 Agustus 2018. Dari 11 kelompok yang mengikuti workshop, sebanyak empat kelompok berhasil mengikuti Onstage Festival. “Kami mengajarkan apa saja yang perlu diperhatikan dalam pertunjukan, kemudian mereka mulai membuat cerita mereka sendiri. Mereka juga mengirimkan video latihan mereka, sehingga kami dapat memberikan masukkan untuk perbaikan,” jelas Sheena Sugiarto, Ketua Onstage Festival 2018.

Onstage Festival dilaksanakan pada 27 Agustus 2018 di Amphitheater gedung P2 UK Petra. Tema yang dipilih dalam Onstage Festival adalah “Diversty in Harmony” karena melihat realita kebangsaan Indonesia dalam dua tahun terakhir ini, diperlukan ruang untuk mendiskusikan tema yang amat penting ini. Para siswa SMP dan SMA nantinya akan menjadi penerus dan pemimpin bangsa di masa depan, maka festival ini merupakan salah satu usaha untuk memahami perbedaan yang ada dan mengupayakan persatuan bangsa. Tujuan dari acara ini adalah mengajak anak-anak muda untuk aktif memaknai Bhinneka Tunggal Ika di dalam kehidupan mereka dan menuangkannya dalam bentuk pertunjukan. “Kami percaya, seni juga bisa berperan penting dalam menumbuhkan kesadaran dan kepedulian di dalam diri para penampil dan penonton atas keberagaman yang harmonis dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” ungkap Stefanny.

Empat sekolah yang tampil dalam Onstage Festival yaitu SMP Muhammadiyah 3, SMP Muhammadiyah 2, SMA Gloria 1, dan SMA Gloria 2. SMP Muhammadiyah 3 membawakan cerita berjudul “Being Different is so Wonderful”, SMP Muhammadiyah 2 membawakan cerita berjudul “Bhinneka Birds”, SMA Gloria 1 membawakan cerita berjudul “Toy-Verse Story”, serta SMA Gloria 2 yang membawakan cerita berjudul “The Four Animal Kingdom”. Selain penampilan dari para finalis, terdapat pertunjukkan dari kelas Theatrical Design yang membawakan legenda tentang “Keong Mas”. Tim PLT juga mempersembahkan penampilan tentang keberagaman yang dikemas dalam gelaran berjudul “Pujasera Bhinneka”. SMA Gloria 1 berhasil memperoleh juara 3, juara 2 diraih oleh SMP Muhammadiyah 2, sedangkan SMA Gloria 2 berhasil meraih gelar juara 1. (rut/dit)

Kesetaraan Kualitas Pendidikan Internasional
September 19, 2018

Pada 12 Juli 2018, Universitas Kristen (UK) Petra menerima kunjungan delegasi dari I-Shou University (ISU), Taiwan, yang terdiri atas Prof. Dr. Roger C. Y. Chen, President ISU; dan Prof. Dr. Taichi Wu, Kepala International College ISU. Delegasi ISU disambut oleh Rektor UK Petra, Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng., Dekan Fakultas Ekonomi (FE), Ricky, S.E., MRE., Ed.D., Ketua program Manajemen Perhotelan periode 2013-2017, Endo Wijaya Kartika, S.E., M.M., Ketua program Manajemen Kepariwisataan, Yudianto Oentario SE., MM., Ketua program International Business Management, Ruth Srininta Tarigan, S.Kom., MBA., Ketua program Manajemen Keuangan, Mariana Ing Malelak, S.E., M.SM., M.Rech., CFP., Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi, Dr. Ido Prijana Hadi, M.Si., Ketua program studi Ilmu Komunikasi, Daniel Budiana, S.Sos., MA., Dekan Fakultas Teknologi Industri, Dr. Juliana Anggono, S.T., M.Sc., Ketua program studi Teknik Elektro, Iwan Handoyo Putro, S.T., M.Dig.Comm. serta Foedjiawati, S.S.,M.A., Ph.D., mewakili Magister Manajemen. Pertemuan ini dimaksudkan untuk memperbarui kesepakatan kerjasama yang sudah terjalin diantara kedua universitas dan juga berdiskusi untuk kesempatan kerjasama baru.

Acara dimulai dengan perkenalan UK Petra yang disampaikan oleh Dekan FE, menyambung perkenalan ini, Prof. Taichi memperkenalkan ISU yang dikatakannya dimiliki oleh grup perusahaan internasional E United. Universitas ini didirikan pada tahun 1986 dengan nama awal Kaohsiung Polytechnic Institute. Pada tahun 1997, universitas yang mendapatkan pengakuan Times Higher Education Young University Rangkings ini menyandang nama ISU. Taichi memaparkan keberadaan international college dalam ISU yang memiliki 6 program berbahasa Inggris, yaitu: International Business Administrational, International Finance, International Hospitality & Tourism, Entertainment Management, Intelligent Systems & Automation Engineering, dan Communication Production. Kerjasama yang telah dilakukan Petra dengan ISU melalui program bisnis, keuangan, dan kepariwisataan. Dengan adanya program internasional di bidang automasi, sistem cerdas, serta komunikasi, maka bentuk kerjasama baru dimungkinkan. Taichi juga memaparkan keberadaan program Pascasarjana Magister Manajemen (MBA.) dan Doktor Manajemen (Ph.D.).

Dalam diskusi ini diinformasikan bahwa pemerintah Taiwan menerapkan regulasi melarang kerjasama gelar ganda (double degree) untuk jenjang sarjana dengan masa studi 3+1 (3 tahun di Indonesia dan 1 tahun di Taiwan). Adanya program pascasarjana memungkinkan kerjasama double degree dengan bentuk 3+1+1, yaitu 3 tahun perkuliahan di Indonesia, satu tahun menyelesaikan jenjang sarjana di Taiwan, dan satu tahun tambahan di Taiwan untuk mendapatkan gelar magister, dalam arti  dalam waktu 5 tahun, mahasiswa mendapatkan dua gelar sarjana dan satu gelar magister. Taichi juga mengajukan kemungkinan kerjasama dalam bentuk 3+1+1+1 di mana satu tahun tambahannya adalah kerja magang di Inggris. Taichi mengatakan bahwa kesempatan kerja dan menetap di Taiwan sangat terbuka untuk peserta program pendidikan kerjasama ini, “Sangat mudah untuk mendapatkan 60 poin ijin menetap setelah mengikuti program ini. Poin sudah didapatkan dari perolehan gelar akademik, penguasaan bahasa asing termasuk Inggris dan Indonesia”, katanya. Seusai diskusi, acara dilanjutkan dengan penandatanganan Memo Kesepakatan oleh kedua pimpinan universitas. (noel/dit)

Life Long Learning untuk Melayani
September 14, 2018

Pembelajaran merupakan proses yang dilakukan seumur hidup seperti yang dilakukan oleh Serli Wijaya, S.E., M.Bus., Ph.D., seorang dosen pengajar di Fakultas Ekonomi dan Kepala Program Studi Magister Manajemen Universitas Kristen (UK) Petra. Serli berkesempatan mengikuti program pendidikan United Boards Fellows Leadership Program di Harvard University, Amerika. Program pendidikan ini diprakarsai oleh United Board for Christian Higher Education Association (UBCHEA). “Selama kurang lebih tiga minggu saya belajar mengenai menjadi pemimpin yang ideal. Ini merupakan pengalaman seumur hidup, saya berkesempatan belajar langsung dari sang ahli di universitas terbaik di dunia”, ungkap Serli Wijaya, S.E., M.Bus., Ph.D.

UK Petra telah beberapa kali bekerja sama dengan UBCHEA dalam hal program pendidikan dan penelitian, program kali ini ditujukan untuk para pimpinan di universitas anggota UBCHEA. Serli mengikuti program ini bersama dengan 19 orang pimpinan universitas lain, diantaranya enam orang rektor serta 13 orang pimpinan program atau biro. Rangkaian yang diikuti oleh Serli dalam program ini adalah: Harvard Summer Leadership Course selama 3 minggu di Harvard Graduate School for Education; Asian Placement selama 2-4 bulan di universitas yang tergabung dalam UBCHEA di Asia; dan terakhir adalah Leadership Seminar selama satu minggu yang rencananya dilakukan pada bulan Juni 2019.

Summer Leadership Course dilaksanakan pada tanggal 9-28 Juli 2018. Sebelum para peserta berada di Harvard, mereka difasilitasi dengan uji mandiri untuk mengidentifikasi tipe kepemimpinan yang mereka miliki. Dengan mengetahui sifat dan kecenderungan diri sendiri, maka masing-masing peserta mendapatkan kemampuan untuk memahami model kepemimpinan yang ideal mereka terapkan di lingkungan masing-masing. Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda, begitu pula situasi dan kondisi perguruan tinggi masing-masing berbeda maka gaya kepemimpinan yang cocok pun berbeda-beda.

Serli menuturkan bahwa dalam program ini proses mengidentifikasi diri dirancang dengan sangat baik, teliti dan mendalam. Dalam kepemimpinan terdapat permasalahan big assumption, yaitu kecenderungan untuk dihantui asumsi-asumsi yang belum tentu benar. Asumsi-asumsi ini menghambat seorang pemimpin dalam berfungsi dan mengambil keputusan. Identifikasi diri yang baik adalah salah satu metode untuk menghindari asumsi-asumsi tersebut. Seorang pemimpin yang baik perlu melakukan refleksi diri untuk mencapai pemahaman atas diri sendiri agar bisa mempraktekkan authentic leadership, kepemimpinan otentik yang selaras dengan keunikan diri dan lingkungan.

Mengenai titik berat proses ini, Serli mengatakan, “Yang penting adalah self-awareness, kemudian self-acceptance. Lalu seorang pemimpin perlu memiliki growth mindset”. Pembelajaran yang didapatkan peserta program ini dikenal sebagai transformational learning. Dimana peserta didik tidak mendapatkan pengetahuan saja, tetapi mendapatkan pembelajaran untuk mengubah diri menjadi lebih baik.

Setelah kursus di Harvard, selama 2 Sampai 4 bulan para peserta mengikuti proses Asia Placement. Masing-masing peserta mendapatkan mentoring dari pemimpin-pemimpin universitas-universitas terkemuka di Asia untuk belajar Strategic Planning (perencanaan strategis). Hasil rangkaian kegiatan sepanjang setahun ini, yaitu pembelajaran dan pengembangan diri mereka, kemudian dipaparkan dalam satu Leadership Seminar.

Serli yang sudah mendapatkan gelar doktor tetap senantiasa terus belajar. Alasannya terus belajar, menurut Serli adalah karena komitmen agar senantiasa bisa melayani dengan semakin baik. Diungkapkan bahwa salah satu nilai UK Petra, humility, adalah kompatibel dengan proses pembelajaran seumur hidup. Menurutnya dibutuhkan kerendah hatian untuk bisa benar-benar belajar. Dan dengan pola pandang rendah hati ini, Serli sampai pada pemikiran “The more we know, the more we don’t know”. Hal ini menggambarkan suatu siklus dimana pembelajaran selalu disusul dengan kebutuhan untuk selalu belajar. Sejurus dengan transformational learning yang didapatkan, Serli menyampaikan pesan dan harapan kepada mahasiswa UK Petra, katanya “Semoga transform menjadi good citizens yang menjadi berkat bagi sekelilingnya”. (noel/Aj)