Connect with us
  • b
  • a
  • x
A CARING AND GLOBAL UNIVERSITY
WITH COMMITMENT TO CHRISTIAN VALUES

Berita

UK Petra jadi Tuan Rumah Peksimida Jawa Timur 2018, Tangkai Lomba Komik Strip
September 14, 2018

Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia Jawa Timur (BPSMI Jatim) menggandeng Universitas Kristen Petra (UK Petra) dalam penyelenggaraan Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Jawa Timur 2018 untuk tangkai lomba Komik  Strip. Pada lomba ini, peserta yang meraih juara 1 akan otomatis terpilih mewakili Jawa Timur pada Peksiminas, Oktober mendatang. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan UK Petra, R. Arja Sadjiarto, SE., M.Ak., Ak. Dalam sambutannya, Arja mengungkapkan, “kami menyambut saudara sekalian untuk terus berprestasi. Di tempat ini kita boleh bersaing, tetapi nanti saat di nasional kita adalah teman yang akan berjuang bersama membela Jawa Timur”.  

Peksimida merupakan babak seleksi tingkat provinsi untuk memperoleh kandidat yang akan mewakili provinsi pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas). Peksiminas merupakan kompetisi di bidang seni bagi mahasiswa Indonesia yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud dengan menunjuk salah satu pengurus BPSMI sebagai panitia penyelenggara kegiatan. Peksiminas terdiri dari berbagai macam tangkai lomba, salah satunya adalah komik strip.

Lomba komik strip Peksimida Jawa Timur dilaksanakan pada 28 Agustus 2018 di Gedung P kampus UK Petra yang diikuti sebanyak 26 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di Jawa Timur. UK Petra sendiri mengirimkan lima orang perwakilannya untuk berjuang di lomba komik strip ini. Tema Peksiminas 2018 adalah “Merajut Budaya Nusantara”. Untuk Peksimida tangkai lomba komik strip, peserta baru mendapatkan tema saat hari pelaksanaan lomba. Tema yang dipilih yaitu isu terkini nasional, peserta diberi waktu empat jam untuk menyelesaikan komik strip mereka. Peserta diharuskan menggambar minimal dua panel dan maksimal lima panel pada selembar kertas berukuran A3. Peserta juga dibebaskan memilih alat dan bahan yang digunakan.

Juri pada perlombaan ini merupakan praktisi dan dosen yang sudah tidak asing lagi dalam dunia komik. Mereka adalah Siswoyo, komikus dari harian Jawa Pos, Dra. indah Chrysanti Angge, M.Sn., dosen Seni Rupa di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan Hangga Gunadi, S.Sn yang merupakan seorang komikus. Aspek yang dinilai oleh tim juri mencakup kesesuaian karya dengan tema, penguasaan teknik, karya yang komunikatif, dan juga originalitas atau kebaruan karakter visual.

Pengumuman pemenang dilaksanakan pada hari yang sama. Juara 1 diraih oleh Muchammad Irsyadul Masluchi dari Unesa, juara 2 diraih oleh Regina Nathalia Elyzabeth Pandjaitan dari UK Petra, juara 3 diraih oleh Muhammad Reynald dari Unesa, juara harapan 1 diraih oleh Anisa Nada Suksmono dari UK Petra, sedangkan juara harapan 2 diraih oleh Shalsabila Nurul Lisa dari Universitas Airlangga.

Muchammad Irsyadul Masluchi mengaku tidak menyangka akan terpilih menjadi wakil dari Provinsi Jawa Timur di Peksiminas di Yogyakarta. Ia menceritakan bahwa ia telah mempersiapkan beberapa kemungkinan cerita dengan tema berbeda, dan secara kebetulan salah satunya sama dengan tema lomba. “Isu yang saya angkat adalah tentang Asian Games, tetapi saya tidak mengambil dari segi olah raga. Saya memilih isu tentang calo tiket Asian Games yang belakangan menjadi pembicaraan hangat di masyarakat,” pungkasnya. (rut/Aj)

Life Long Learning untuk Melayani
September 14, 2018

Pembelajaran merupakan proses yang dilakukan seumur hidup seperti yang dilakukan oleh Serli Wijaya, S.E., M.Bus., Ph.D., seorang dosen pengajar di Fakultas Ekonomi dan Kepala Program Studi Magister Manajemen Universitas Kristen (UK) Petra. Serli berkesempatan mengikuti program pendidikan United Boards Fellows Leadership Program di Harvard University, Amerika. Program pendidikan ini diprakarsai oleh United Board for Christian Higher Education Association (UBCHEA). “Selama kurang lebih tiga minggu saya belajar mengenai menjadi pemimpin yang ideal. Ini merupakan pengalaman seumur hidup, saya berkesempatan belajar langsung dari sang ahli di universitas terbaik di dunia”, ungkap Serli Wijaya, S.E., M.Bus., Ph.D.

UK Petra telah beberapa kali bekerja sama dengan UBCHEA dalam hal program pendidikan dan penelitian, program kali ini ditujukan untuk para pimpinan di universitas anggota UBCHEA. Serli mengikuti program ini bersama dengan 19 orang pimpinan universitas lain, diantaranya enam orang rektor serta 13 orang pimpinan program atau biro. Rangkaian yang diikuti oleh Serli dalam program ini adalah: Harvard Summer Leadership Course selama 3 minggu di Harvard Graduate School for Education; Asian Placement selama 2-4 bulan di universitas yang tergabung dalam UBCHEA di Asia; dan terakhir adalah Leadership Seminar selama satu minggu yang rencananya dilakukan pada bulan Juni 2019.

Summer Leadership Course dilaksanakan pada tanggal 9-28 Juli 2018. Sebelum para peserta berada di Harvard, mereka difasilitasi dengan uji mandiri untuk mengidentifikasi tipe kepemimpinan yang mereka miliki. Dengan mengetahui sifat dan kecenderungan diri sendiri, maka masing-masing peserta mendapatkan kemampuan untuk memahami model kepemimpinan yang ideal mereka terapkan di lingkungan masing-masing. Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda, begitu pula situasi dan kondisi perguruan tinggi masing-masing berbeda maka gaya kepemimpinan yang cocok pun berbeda-beda.

Serli menuturkan bahwa dalam program ini proses mengidentifikasi diri dirancang dengan sangat baik, teliti dan mendalam. Dalam kepemimpinan terdapat permasalahan big assumption, yaitu kecenderungan untuk dihantui asumsi-asumsi yang belum tentu benar. Asumsi-asumsi ini menghambat seorang pemimpin dalam berfungsi dan mengambil keputusan. Identifikasi diri yang baik adalah salah satu metode untuk menghindari asumsi-asumsi tersebut. Seorang pemimpin yang baik perlu melakukan refleksi diri untuk mencapai pemahaman atas diri sendiri agar bisa mempraktekkan authentic leadership, kepemimpinan otentik yang selaras dengan keunikan diri dan lingkungan.

Mengenai titik berat proses ini, Serli mengatakan, “Yang penting adalah self-awareness, kemudian self-acceptance. Lalu seorang pemimpin perlu memiliki growth mindset”. Pembelajaran yang didapatkan peserta program ini dikenal sebagai transformational learning. Dimana peserta didik tidak mendapatkan pengetahuan saja, tetapi mendapatkan pembelajaran untuk mengubah diri menjadi lebih baik.

Setelah kursus di Harvard, selama 2 Sampai 4 bulan para peserta mengikuti proses Asia Placement. Masing-masing peserta mendapatkan mentoring dari pemimpin-pemimpin universitas-universitas terkemuka di Asia untuk belajar Strategic Planning (perencanaan strategis). Hasil rangkaian kegiatan sepanjang setahun ini, yaitu pembelajaran dan pengembangan diri mereka, kemudian dipaparkan dalam satu Leadership Seminar.

Serli yang sudah mendapatkan gelar doktor tetap senantiasa terus belajar. Alasannya terus belajar, menurut Serli adalah karena komitmen agar senantiasa bisa melayani dengan semakin baik. Diungkapkan bahwa salah satu nilai UK Petra, humility, adalah kompatibel dengan proses pembelajaran seumur hidup. Menurutnya dibutuhkan kerendah hatian untuk bisa benar-benar belajar. Dan dengan pola pandang rendah hati ini, Serli sampai pada pemikiran “The more we know, the more we don’t know”. Hal ini menggambarkan suatu siklus dimana pembelajaran selalu disusul dengan kebutuhan untuk selalu belajar. Sejurus dengan transformational learning yang didapatkan, Serli menyampaikan pesan dan harapan kepada mahasiswa UK Petra, katanya “Semoga transform menjadi good citizens yang menjadi berkat bagi sekelilingnya”. (noel/Aj)

Sejong Culture Academy, Kenal Lebih Jauh Tentang Kebudayaan Korea
September 13, 2018

King Sejong Institute (KSI) Surabaya kembali menggelar kegiatan belajar kebudayaan Korea. Rangkaian acara dikemas dalam gelaran bertajuk Sejong Culture Academy, meliputi K-beauty class, hanbok, korean food, K-pop dance, dan juga completion ceremony. “Sejong Culture Academy merupakan acara jangka pendek dari KSI Surabaya, banyak sekali yang mendaftar, tetapi hanya 30 peserta yang terpilih dan akan mendapatkan sertifikat,” ujar Dr. Liliek Soelistyo, MA., selaku Direktur KSI Surabaya.

    KSI mendatangkan pembicara asli Korea yang ahli di bidangnya. “Dalam acara ini peserta mendapatkan kesempatan untuk mempelajari berbagai kebudayaan Korea, oleh sebab itu kami mendatangkan expert dari Korea,” ungkap Dr. Liliek Soelistyo, MA. Korea Sejong Culture Academy dilaksanakan pada 3-13 Agustus 2018, salah satu kegiatan terbuka untuk umum adalah K-beauty class. Para peserta diperkenalkan dengan make up ala idol K-pop pada 6 Agustus 2018. KSI menghadirkan seorang youtuber kecantikan dari Korea, Jina Kim, untuk memberikan tips make up ala idol K-pop. Jina memberikan penjelasan mengenai trend make up di Korea saat ini dan mempraktekkan make up kepada salah satu peserta.

Tak hanya itu, pada 7 Agustus 2018, peserta diperkenalkan mengenai pakaian tradisional Korea yaitu Hanbok serta pernikahan tradisional Korea. Pembicara dari Hanbok Advancement Center Korea memimpin jalannya acara. Para peserta mengikuti sesi dengan menggunakan Hanbok lengkap. Dalam pernikahan tradisional Korea, terdapat beberapa peran yang membantu proses pernikahan, diantaranya adalah su-mo yaitu perwakilan dari kedua mempelai yang membantu selama proses pernikahan berlangsung, chong-sa-cho-rong deun sa-ram yaitu pembawa lentera, dan juga gi-reok-a-beom yaitu pembawa hiasan berbentuk angsa, yang merupakan simbol kesetiaan.

Koki dan dosen memasak dari Korean Food Promotion Institute, Lee Jin Tack dan Kim Mi Sook hadir untuk memperkenalkan dan mengajarkan cara membuat makanan dan minuman tradisional Korea yaitu dasik dan omija tea pada 11 Agustus 2018. Omija tea adalah teh yang terbuat dari buah-buahan berry yang direndam dengan madu, uniknya omija tea ini memiliki lima rasa yaitu manis, asam, pahit, pedas, dan asin. Sedangkan dasik merupakan makanan berbahan dasar tepung kacang dan madu yang ditekan dengan cetakan berpola. Pola-pola ini dianggap melambangkan kesehatan dan kemakmuran.

Pada acara penutupan, peserta menampilkan K-pop dance yang telah dipelajari sebelumnya. Dalam acara ini juga dibagikan sertifikat bagi para peserta yang telah mengikuti rangkaian acara dari Sejong Culture Academy 2018. Penampilan dari Korea National University of Arts yang menampilkan Samulnori (musik tradisional Korea) dan Bona performance menambah kemeriahan puncak acara ini. (rut/Aj)

Wadah Pelayanan dan Pembelajaran
September 13, 2018

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Kristen Petra (UK Petra) kembali menggelar Community Outreach Program (COP). "COP ini merupakan wadah pelayanan, pembelajaran, interaksi multikultural, ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni mahasiswa dari berbagai negara," ujar Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng., selaku Rektor UK Petra.

Kegiatan ini dilaksanakan di Mojokerto pada 17 Juli-9 Agustus 2018 dan di Kupang pada  26 Juli-9 Agustus 2018. Temanya adalah Keep Blessing The Nations, para peserta diharapkan dapat terus menjadi berkat bagi masyarakat bahkan Negara Indonesia melalui apa yang telah dilakukan. Sebanyak 211 mahasiswa yang berasal dari tujuh negara turut serta dalam COP 2018 di Kabupaten Mojokerto.

Mereka diantaranya 98 mahasiswa UK Petra, Surabaya-Indonesia, 10 mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang-Indonesia, 27 mahasiswa Dong Seo University-Korea Selatan, 15 mahasiswa International Christian University-Jepang, 10 mahasiswa Hong Kong Baptist University-Hong Kong, tiga mahasiswa Hong Kong Institute of Education-Hong Kong, satu mahasiswa Hong Kong University of Science and Technology-Hong Kong, 27 mahasiswa InHoland University-Belanda, satu mahasiswa Mamoyama Gakuin University-Jepang, satu mahasiswa Lignan University- Hong Kong, 11 mahasiswa Guangxi Normal University-China, tiga mahasiswa Fu Jen Chatolic University-Taiwan dan empat mahasiswa National Taiwan University of Science and Technology-Taiwan.

Pembukaan COP Mojokerto 2018 dilaksanakan pada 17 Juli 2018 lalu di Auditorium UK Petra, para peserta secara bergantian menampilkan pertunjukan untuk memperkenalkan negara mereka. Keesokan harinya, seluruh peserta ditempatkan di delapan lokasi, yaitu di delapan dusun pada tujuh desa di Mojokerto. Diantaranya adalah Dusun Lebaksari dan Dusun Siman di Desa Rejosari,  Desa Jembul, Dusun Gumeng di Desa Gumeng, Dusun Seketi di Desa Jatidukuh, Desa Dilem, Dusun Begagan di Desa Begagan Limo, serta Dusun Blentreng di Desa Ngembat. “Selamat datang di UK Petra. Selama beberapa minggu kedepan, kalian akan bekerja bersama, tinggal bersama dan akan mencoba memecahkan masalah bersama. Ini semua akan menjadi pengalaman yang berharga,” ungkap Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng. dalam sambutannya.

Para peserta COP 2018 akan mengerjakan proyek fisik dan non fisik. Pembangunan fisik seperti membangun gapura, poskamling, toilet, mural, membangun taman bermain dan sebagainya. Sedangkan pembangunan non fisik seperti mengajar Bahasa Inggris, penyuluhan, mengajarkan keterampilan, budidaya anggrek, dan sebagainya. Peserta melakukan semua proyek ini bersama dengan warga, sehingga dapat terjalin interaksi.  

“Saya suka mengajar anak-anak, karena jurusan saya di Belanda adalah pendidikan guru sekolah dasar. Kami mengajarkan Bahasa Inggris kepada anak-anak dengan menggunakan lagu berbahasa Inggris," ujar Daniël Prinsen, mahasiswa Inholland University Belanda. (rut/Aj)

 

Memahami Pendidikan dalam Perkembangan Jaman
September 12, 2018

Pemeran utama dalam pendidikan generasi baru adalah para orangtua. Memberdayakan orangtua agar bisa menjadi pendidik yang baik adalah penting. Diperlukan upaya untuk memberikan pada orangtua wawasan pendidikan yang relevan atas tantangan yang dihadapi generasi baru. Dalam rangka memperlengkapi dosen dan karyawan dengan wawasan pendidikan yang baik, Pusat Konseling dan Pengembangan Pribadi (PKPP) Universitas Kristen (UK) Petra menyelenggarakan Sarasehan Topik Aktual “Parenting in the Era of Disruption” pada tanggal 27 Juli 2018 di Ruang Konferensi 3 Gedung Radius Prawiro Lantai 10. Prof. Dr.(HC). Ir. Rolly Intan, M.A.Sc., Dr. Eng., sebagai narasumber tunggal seminar ini menyampaikan materi bertajuk Pendidikan Abad 21 dalam Era Digital Native.

Sarasehan dimulai dengan pembahasan tentang perkembangan fisik otak anak. Rolly mengumpamakan otak sebagai hardware (perangkat keras) suatu komputer yang menentukan kerumitan program yang bisa dijalankan suatu komputer. Untuk membantu anak dalam pertumbuhan fisik otak, dipaparkan wawasan mengenai tahap-tahap perkembangan otak yaitu: tahap I, 0-10 bulan janin; tahap II, kelahiran s/d usia 6 tahun; dan tahap III, usia 7 tahun s/d 12 tahun. Saran yang penting yang bisa diterapkan adalah di tahap I, Ibu hamil sebaiknya menjauhi rokok, alkohol, obat-obatan, dan logam berat; berusaha relaks; dan merangsang pembentukan otak janin dengan berbagai sensasi sentuh dan suara. Pada tahap II, adalah penting untuk memberikan pengalaman sehari-hari yang membentuk kenyamanan emosional. Pada tahap III adalah penting bagi orangtua untuk memahami perbedaan antara otak anak perempuan dan laki-laki sehingga bisa memberikan interaksi dan pendidikan yang sesuai. Otak wanita lebih berkembang ke arah komunikasi, sedangkan otak laki-laki ke arah persepsi dan pengambilan keputusan.

Bahasan selanjutnya membuka wawasan terkait dengan perkembangan jaman, tentang balita dan komputer/gawai. Sekitar 31% anak berusia 3 tahun ke bawah sudah mulai kecanduan komputer/gawai. Hal ini mengkhawatirkan karena ditemukan bahwa penggunaan layar sentuh pada anak di bawah usia tiga tahun dapat merusak peluang tumbuh kembang anak dari keterampilan yang dibutuhkan untuk matematika dan ilmu pengetahuan. Bayi dan balita belajar lebih baik dengan materi yang bisa mereka sentuh, raba, dan genggam, dibandingkan apa yang mereka lihat di sebuah layar. Pemakaian gawai mengurangi kesempatan anak dalam interaksi tatap muka yang membangun keterampilan sosial dan membuat mereka tidak peka atas emosi orang lain. Menurut Rolly, “Yang perlu disiapkan (di masa balita) adalah Emotional Quotient (EQ). Melatih EQ tidak bisa memakai gadget”.

Bahasan terakhir dalam sarasehan ini adalah tentang pendidikan di abad 21. Era saat ini dikenal dengan era Industry 4.0. Dalam era ini, kehidupan manusia banyak dibantu oleh mesin, bahkan ada kecenderungan tenaga manusia digantikan oleh mesin. Perkembangan ini menyebabkan pesatnya perubahan di dunia pekerjaan. Sebagai ilustrasi, diperkirakan bahwa 85% pekerjaan di tahun 2030 kelak adalah pekerjaan baru yang tidak ada di tahun 2017. Pesatnya perubahan ini menuntut pekerja untuk bisa selalu belajar dan memakai teknologi baru. Permasalahan di dunia pendidikan saat ini adalah hasil utama dari pendidikan yang diberikan adalah pengetahuan (knowledge). Mengenai apa yang perlu disiapkan perguruan tinggi terkait problematika ini Rolly mengatakan, “Universitas sebaiknya memberikan meta-knowledge, yaitu knowledge behind knowledge”. Kemampuan untuk mendapatkan pengetahuan baru menjadi lebih berharga daripada pengetahuan itu sendiri. (noel/padi)

Mendesain dengan Kesadaran atas Lingkungan
September 07, 2018

Kegiatan dalam lingkup internasional merupakan indikator kualitas suatu institusi pendidikan tinggi. Begitu juga dengan UK Petra yang menggelar Joint International Workshop 2018 mulai tanggal 28-29 Agustus 2018 yang diusung Program Studi (Prodi) Arsitektur Universitas Kristen (UK) Petra bekerjasama dengan The University of Hong Kong (HKU). Timoticin Kwanda, B.Sc., Mrp., Ph.D., dosen pengajar Prodi Arsitektur UK Petra sekaligus koordinator acara menyampaikan harapannya. “Semoga mahasiswa menjadi lebih sadar tentang bagaimana memelihara lingkungan alam. Agar ketika mendesain bangunan tidak berdampak negatif atau merusak atau menyebabkan polusi udara, suara pada lingkungan sekitar”.

Mengambil tema “Surabaya Sustainable Development: Architecture, Environment, and Green Open Space”, kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan program “2018 Asia Pacific Rim University (APRU) Sustainable Cities and Landscape – Design Field School” yang diselenggarakan oleh Divisi Arsitektur Lanskap, Fakultas Arsitektur, HKU. Surabaya sengaja dipilih agar memberi kesempatan bagi mahasiswa akademisi dari berbagai disiplin ilmu dan dari beberapa universitas di kawasan Asia Pasifik untuk mempelajari isu-isu lingkungan dan pembangunan keberlanjutan.

Peserta kegiatan ini tak hanya berasal dari Prodi Studi Arsitektur UK Petra saja namun juga berasal dari beberapa universitas luar negeri seperti Zhejiang University di Cina, University of Oregon di Amerika Serikat, Korea University di Seoul Korea, University of Sydney dan University of New South Wales di Australia, dan University of the Philippines Diliman di Quezon City, Filipina.

Hari pertama (28/8), para peserta mendapatkan pembelajaran mengenai “Urban Design and Landscape in Hongkong” dari Prof. Matthew Pryor, seorang dosen pengajar di HKU. Acara kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur untuk mengetahui rencana pengembangan Taman Wisata Alam Kawah Ijen. Kemudian, para peserta mendapatkan penjelasan mengenai “The Green Building P1-P2 UK Petra” oleh Ivan Priatman, dari Archimetric, studio arsitek yang mendesain gedung baru UK Petra.

Gedung P1-P2 yang unik tersebut merupakan karya dari Ir. Jimmy Priatman, M.Arch., salah seorang dosen pengajar Prodi Arsitektur UK Petra. Dalam mendesain gedung tersebut, hal pertama yang dipertimbangkan adalah meneruskan kekhasan yang dimiliki gedung-gedung UK Petra, “Lantai dasar setiap gedung di kampus ini memiliki fungsi sebagai ruang publik. Termasuk mendesain gedung yang ramah pejalan kaki”, rinci Ivan.

Ivan juga mengungkapkan mengungkapkan bahwa bentuk gedung menyerupai huruf V, digunakan untuk meminimalisir paparan matahari di sepanjang tahun dan memberikan ruang terbuka di tengah bangunan. Dengan demikian energi yang diperlukan untuk pendinginan ruangan bisa diperkecil. Hemat energi menjadi komponen utamanya. Setelah puas berkeliling di Gedung P1-P2, para peserta melanjutkan kunjungan ke Wonorejo Mangrove Ecotourism, Pasar Burung Bratang, dan ruang terbuka hijau Taman Flora.

Studi lapangan hari kedua (29/8) akan diawali dengan kunjungan ke lokasi Lumpur Lapindo, kawasan perumahan Citraland, kampung “Green and Clean” Gundih yang dikenal sebagai penghasil produk herbal dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), Kawasan Ampel yang merupakan area pemukiman yang sarat potensi wisata religi, serta Pelabuhan tradisional Tanjung Perak. Mengenai kunjungan ke hutan mangrove  Wonorejo, Timoticin menyampaikan tujuan pembelajaran peserta disana, katanya “Manfaat mangrove adalah mencegah abrasi pantai, sebagai sumber makanan ikan, dan juga sumber oksigen. Perlu pelestarian kawasan hijau seperti mangrove di kota Surabaya. Artinya pembangunan fisik kota harus terkontrol atau dibatasi sesuai kapasitasnya”.(noel/Aj)

Petra Summer Program kembali hadir Mengisi Liburan Semester
September 06, 2018

Universitas Kristen Petra (UK Petra) kembali menggelar Petra Summer Program (PSP) 2018. Kali ini ada tiga program yang di buka yaitu Indonesian Culinary Art (ICA), Indonesian Tourism Campaign (ITC), dan Special Program for Industrial Challenge and Exposure (SPICE). PSP merupakan sebuah international summer program selama tiga minggu penuh untuk mengisi liburan dalam rangka meningkatkan kemampuan global agar siap terjun dalam dunia kerja yang sesungguhnya dengan cara yang menyenangkan. PSP 2018 dilaksanakan pada 9-28 Juli 2018 dan dilaksanakan di berbagai lokasi mulai di kampus UK Petra, industri-industri di Surabaya serta Bali. “Selain di lingkungan kampus dan beberapa perusahaan di Surabaya, para peserta juga mengunjungi Pulau Bali pada 18-20 Juli 2018. Bali dipilih karena sudah sangat internasional untuk fokus ke pariwisata dan dunia kulinernya,” ujar Yopi Yusuf Tanoto, S.T., M.T., selaku Ketua PSP 2018.

Seluruh kegiatan PSP menggunakan pengantar bahasa Inggris. Peserta PSP 2018 berjumlah 46 peserta yang terdiri dari 41 mahasiswa UK Petra, satu mahasiswa Hong Kong Baptist University Hong Kong dan empat mahasiswa International Christian University Jepang. Salah satu program PSP adalah ICA, yang merupakan program dari Manajemen Perhotelan UK Petra. ICA bertujuan memperkenalkan budaya Indonesia, khususnya kuliner kepada mahasiswa asing yang tertarik dengan seni kuliner dan bumbu-bumbu serta rempah-rempah tradisional khas Indonesia.

Peserta diperkenalkan dan memasak dengan tiga bumbu utama Indonesia yaitu bumbu kuning, putih, dan merah. Selain itu, peserta juga diajarkan masakan peranakan Tionghoa seperti lumpia, siomay, dan lontong cap gomeh. Masakan peranakan ini dipilih karena hanya ada di Indonesia, sedangkan di negara China sendiri tidak terdapat masakan-masakan tersebut. “Pada saat midterm, peserta diminta menciptakan kreasi baru makanan yang merupakan kolaborasi antara menu tradisional dan internasional. Hasil akhir dari program ini adalah buku resep yang berisikan kumpulan kreasi masakan dari para peserta lengkap dengan visualnya yang menarik,” ungkap Hanjaya Siaputra, S.E., MA., selaku koordinator ICA.

Sedangkan untuk program ITC yang merupakan kolaborasi antara Program Studi Ilmu Komunikasi dan Manajemen Pariwisata. Program ini berfokus pada pembuatan kampanye sederhana untuk beberapa tujuan wisata di Indonesia. Pada tahun ini, peserta diajak ke desa Pinge-Bali untuk mengumpulkan data. Saat midterm, peserta mempresentasikan konsep video yang akan dibuat, sedangkan hasil akhir dari program ini adalah video kampanye wisata berdurasi kurang lebih 5 menit. “Desa Pinge kami pilih karena merupakan desa yang menerapkan Sustainability Tourism (Desa Wisata). Para peserta dibagi menjadi tiga kelompok dengan angle yang berbeda yaitu overview Desa Pinge, Kegiatan sehari-hari masyarakat, dan kepercayaan masyarakat disana,” ungkap Daniel Budiana, S.Sos., MA., selaku koordinator ITC.

Program ketiga adalah SPICE yang digelar oleh Program Studi Teknik Industri. Program ini terbuka hanya untuk peserta dengan latar belakang bisnis teknik atau internasional. Peserta SPICE di bagi dalam kelompok, setiap kelompok melakukan studi kasus yang merupakan masalah nyata dalam sebuah perusahaan. Mereka diminta memberikan usulan perbaikan ke perusahaan. Para peserta mengunjungi dua perusahaan yaitu PT. E-T-A dan PT. HAPETE. Peserta dapat belajar dari industri secara langsung sehingga siap dalam dunia kerja. Pada final test, peserta mempresentasikan temuan dan usulan pada perusahaan di PT. HAPETE. (rut/padi)

 

Bekerja Bersama untuk UK Petra Lebih Baik
August 30, 2018

Universitas Kristen (UK) Petra telah melantik pejabat-pejabat struktural pada Jumat, 24 Agustus 2018. Pelantikan 41 pejabat dilaksanakan di auditorium UK Petra, meliputi kepala program profesi, kepala program, sekretaris program studi dan program, serta kepala pusat, program dan unit. Setelah pelantikan, acara dilanjutkan doa peneguhan untuk seluruh pejabat struktural, baik yang baru dilantik, maupun 45 pejabat yang telah dilantik beberapa waktu sebelumnya. “Selamat kepada rekan-rekan yang hari ini dilantik dan juga kepada seluruh pejabat periode 2017-2021. Penghargaan dan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya untuk rekan-rekan yang mengakhiri pelayanannya sebagai pejabat struktural periode sebelumnya, yang telah berkontribusi dan memberikan yang terbaik,” ungkap Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng. selaku rektor dalam sambutannya.

Firman yang dibawakan oleh Pendeta Sandi Nugroho, S.Th. mengingatkan bahwa selama kita hidup di dunia ini, kita berada dalam kontes atau ajang dalam memperebutkan sesuatu. UK Petra pun sedang berjuang memperebutkan sesuatu, yaitu kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai Kristus di tengah-tengah dunia ini. Kita harus berlomba-lomba untuk menebarkan damai, kasih, sukacita, dan integritas kita untuk sekeliling kita. Mengutip dari Yosua 1:7-9, Pendeta Sandi mengutarakan ada empat tahap pada masa transisi pemindahan kepemimpinan antara Musa kepada Yosua yaitu pelantikan, pemaparan tugas-tugas, peneguhan, dan berkat. “Ada tiga hal penting tentang peneguhan, yaitu kita harus percaya bahwa hati kita memiliki komitmen pada kebenaran Kristus, kita harus menetapkan hati untuk taat pada Firman Tuhan, dan kita harus serta dengan Kristus,” ujar Pendeta Sandi.

Setelah Firman Tuhan, para pejabat menandatanganani berita acara pelantikan. Dalam kesempatan ini Rektor UK Petra mengungkapkan tantangan yang dihadapi dan agenda yang harus dikerjakan bersama untuk UK Petra yang lebih baik. Beberapa hal yang akan dilakukan adalah re-akreditasi Magister Sastra, melakukan      akreditasi internasional untuk beberapa program studi (prodi), peningkatan kerjasama internasional, serta peningkatan jumlah publikasi internasional dan jumlah dosen yang terlibat. “Di depan kita terbentang begitu banyak tantangan, kita perlu bekerja keras dan cerdas, berupaya terus meningkatkan kualitas dan kinerja kita. Saya mengajak kita semua, khususnya kepada para pejabat struktural periode 2017-2021, untuk rela bekerja keras dengan tulus hati dan sukacita, memberikan yang terbaik, saling bekerjasama, untuk UK Petra yang lebih baik, dan untuk kemuliaan Tuhan,” urai Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng.

Mewakili yayasan, Henky Philinius Palit, S.H., M.H. menyampaikan harapan yayasan bagi seluruh pejabat struktural UK Petra. Pengawasan merupakan faktor paling penting dalam sebuah organisasi, oleh sebab itu para pejabat struktural diharapkan untuk melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. “Kepemimpinan di UK Petra adalah kepemimpinan yang melayani, dan diharapkan dapat mengembangkan UK Petra dalam hal sumber daya manusia, administrasi, dan keuangan,” tutup Sekretaris Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Petra ini. (rut/dit)

Mayor of Surabaya Extends Invitation to University Leaders in Asia
August 29, 2018

The Mayor of Surabaya, Dr. (H.C) Ir. Tri Rismaharini, M.T., invites all Rectors and Presidents of higher education institutions from all over Asia to join the 17th Asian University Presidents Forum (AUPF) 2018 in Surabaya. The forum will take place at Petra Christian University campus and Sheraton Surabaya Hotel and Towers for three days, starting from 6-8 November 2018.

As the second largest city in Indonesia, Surabaya is a warm, welcoming, and beautiful city to visit. “On the behalf of the government, the citizens of Surabaya, and the academic community at Petra Christian University, we proudly invite all of you, the honored participants of Asian University Presidents Forum, which will be held on 6-8 November 2018, at our beloved campus, Petra Christian University, Surabaya,” the Mayor said. As a form of support from the city of Surabaya, the mayor extends her warm welcome by inviting all of the participants to a complimentary city tour and welcome dinner.

The city tour guests will have the opportunity to visit the Jalesveva Jayamahe monument, which is located at Surabaya’s Naval Base that is not usually open for public. Guests will also visit the Harmoni Keputih Park which was transformed from the biggest landfill in Surabaya to a beautiful and functional green space. Guests will also have a glimpse at Koridor co-working Space, a space created to support creative cooperation that will benefit Surabaya, and the Command Center for 112, which is a special emergency call center serving Surabaya citizens, similar to the 911 emergency phone number in the United States.

During the city tour, participants will take a ride on the “Suroboyo Bus,” the Mayor’s latest initiative to preserve the environment. In order to take a ride, passengers need to pay the fare with plastic bottles or cups. The bus is both safe and comfortable with wide and clear windows; moreover, it is equipped with 12 CCTV cameras inside the bus, and three outside of it.

At the end of the tour, the Mayor of Surabaya herself, Dr. (H.C) Ir. Tri Rismaharini, M.T., will entertain the guests in a welcome dinner at her official residence.

The theme of the 17th AUPF meeting is “Disruptions at the Crossroads: Innovative Engagement and Future Challenges for Higher Education.” Petra Christian University hopes that this forum will act as a platform for rectors and presidents of higher education institution in Asia to exchange ideas, broaden insights and network with each other while anticipating the implications and challenges of the era of disruption.

Come, and be a part of the 17th AUPF 2018 meeting in Surabaya. Together with Petra Christian University, the Mayor of Surabaya, Dr. (H.C) Ir. Tri Rismaharini, M.T., warmly invite you to take part in advancing education for our future generation in Asia while creating cherished memories and valuable networks in our beloved city.

https://www.youtube.com/watch?v=Fo4e61B0aHE

WGG 2018: Sambut Mahasiswa Baru dengan Kegiatan Bermakna
August 28, 2018

Tahun ajaran baru telah berganti, Universitas Kristen Petra (UK Petra) kembali menyambut calon anggota keluarga baru dalam kegiatan Welcome Grateful Generation (WGG) 2018. Pada tahun ini, WGG diikuti oleh sekitar 2.400 mahasiswa baru dari tujuh fakultas di UK Petra. Rangkaian kegiatan WGG 2018 dilaksanakan pada tanggal 23 Juli – 6 Agustus 2018. Tema yang dipilih untuk WGG 2018 adalah “Longing to Love, Longing to Serve”.

Kegiatan WGG dimulai dengan kegiatan Pra-WGG yaitu pengenalan fasilitas kampus seperti perpustakaan dan pusat komputer. Selain itu, pada masa Pra-WGG, calon mahasiswa juga mengikuti tes kepribadian dan tes karir. Selama mengikuti kegiatan WGG, mahasiswa baru tidak hanya dikenalkan dengan kehidupan kampus yang berbeda dengan masa SMA, tetapi juga diajak untuk melayani sesama. Kegiatan melayani sesama ini dikemas dalam kegiatan kepedulian di sekolah-sekolah dasar di Surabaya. Beberapa SD yang dikunjungi antara lain SDN Siwalankerto 1, SDN Kutisari 2, SDN Jepara, SD Kristen Aletheia, SD YPPI, SDN Bubutan 2, SDN Kapasan 9, SDN Kutisari 1, dan SDN Kapasari 5. “Dengan adanya kegiatan ini, mahasiswa baru dapat berinteraksi langsung dengan siswa-siswi SDN. Nantinya, diharapkan mahasiswa baru akan memiliki hati yang mengasihi sesama dan melayani sesama dengan apa yang mereka punya,” ujar Hans Christian, selaku Ketua WGG 2018.

Sebelumnya, panitia melakukan survey pada masing-masing sekolah untuk mengetahui apa yang menjadi kebutuhan dari masing-masing sekolah. Salah satunya adalah kegiatan kepedulian yang diadakan di SDN Jepara, para mahasiswa baru dari Program Studi Teknik Sipil berkesempatan untuk mengajarkan membuat tanaman hidroponik kepada siswa kelas lima. “Saya sangat senang karena anak-anak sangat semangat dan antusias mempelajari hal-hal baru. Saya harap kegiatan ini tidak hanya berhenti sampai disini, tetapi akan ada kelanjutannya, sehingga kita bisa mengajarkan kepada anak-anak kelas lainnya,” ujar Dian Susilorini, S.Pd., M.Si., selaku Kepala Sekolah SDN Jepara.

Selain itu, sebagai generasi muda yang memiliki peran besar bagi perubahan-perubahan sosial di lingkungan serta keberhasilan negara, mahasiswa baru UK Petra diharapkan mampu melahirkan karya, inovasi, dan dampak positif untuk memajukan bangsa. WGG 2018 ingin membuka wawasan mahasiswa baru dengan mengadakan Seminar Wawasan Kebangsaan yang berjudul “Lentera Negeriku”. Pembicara yang dihadirkan dalam seminar dilaksanakan pada tanggal 1 Agustus 2018 ini adalah Hermann Josis Mokalu, atau yang biasa dikenal dengan Yosi Project Pop. Yosi yang juga merupakan salah satu penggagas chanel youtube Cameo Project ini menyatakan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk, seharusnya bangsa ini bisa hidup dengan harmonis. Media sosial harusnya digunakan sebagai sarana mencari wawasan, tetapi justru digunakan sebagai alat penyebar kebencian. “Sebagai anak muda, hal yang paling sederhana yang dapat kita lakukan untuk Indonesia ini adalah positif thinking. Dengan hanya berpikiran positif saja, kita sudah memberikan kontribusi bagi negara ini,” imbau aktor kelahiran Jakarta, 47 tahun silam ini.

Pada penutupan, mahasiswa baru mengikuti tes WGG dan juga mengikuti closing ceremony yang menghadirkan beberapa pengisi acara. Salah satu pengisi acara yang turut memeriahkan penutupan rangkaian acara WGG 2018 adalah Billy Simpson. (rut/Aj)

Metode Campuran untuk Memajukan Riset
August 14, 2018

Riset atau penelitian adalah salah satu dari tiga komponen pokok Tridarma Perguruan Tinggi. Salah satu upaya meningkatkan kualitas penelitian dengan cara memperkaya khazanah pengetahuan para peneliti atas teknik-teknik dan metode penelitian. Program Manajemen Bisnis Universitas Kristen (UK) Petra menyelenggarakan seminar “Mix Methods Research Designs” pada 23-24 juli 2018 di hotel Swiss-Bellinn Tunjungan Surabaya. Seminar yang dihadiri 15 peneliti dari dalam dan luar UK Petra ini menghadirkan narasumber tunggal Dr. Jashim Khan, dosen senior dari University of Surrey, Inggris Raya. Khan adalah seorang penggiat pemakaian Mixed Methods (Metode-metode Riset Campuran) penelitian.

Sejak jaman filsuf klasik, sudut pandang metode riset terbagi dua, yaitu kualitatif dan kuantitatif. Perbedaan pandangan ini diilustrasikan Khan dengan perumpamaan enam orang tuna netra mencoba memahami seekor gajah melalui indra perabanya. Orang yang meraba bagian kaki gajah menceritakan sesuatu yang sangat berbeda dengan orang yang meraba bagian belalainya. Sama halnya dengan bagian tubuh gajah yang berbeda memberikan citra yang berbeda itu, metode penelitian kualitatif mengungkapkan hal yang berbeda dengan metode penelitian kuantitatif. Kedua metode ini memiliki kekhususan masing-masing beserta juga keunggulan dan kekurangannya, maka dari itu, fenomena atau informasi yang bisa diungkap kedua metode ini juga berbeda.

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan saat ini, banyak pertanyaan penelitian yang tidak bisa dijawab memakai metode penelitian kuantitatif maupun kualitatif saja. Menurut Khan, solusi permasalahan ini adalah menggunakan mixed methods, katanya, “tujuan pemakaian mixed methods adalah untuk menggabungkan berbagai keunggulan yang berbeda dari kedua metode tersebut”. Khan memaparkan tiga kemungkinan kombinasi metode ini, yaitu convergent findings (temuan konvergen), comprehensive coverage (cakupan komprehensif), dan connected contributions (kontribusi yang terhubung).

Ketiga macam kombinasi metode penelitian ini dapat menguak fenomena yang tidak bisa dilakukan melalui metode kuantitatif maupun kualitatif. Metode convergent findings adalah memakai metode kuantitatif dan kualitatif dan membandingkan hasil kedua metode tersebut. Metode comprehensive coverage adalah satu studi dengan dua penelitian kuantitatif dan kualitatif yang masing-masing membidik sasaran-sasaran yang spesifik tersendiri. Connected contribution adalah satu studi yang dilakukan dengan dua metode kuantitatif dan kualitatif yang mana satu metode akan berkontribusi pada performa metode yang lainnya.

Ada problematika tersendiri yang terkait dengan pemakaian mix methods ini, yaitu peneliti cenderung memiliki preferensi terhadap salah satu dari antara metode kuantitatif dan kualitatif, sehingga penelitian yang dilakukan cenderung memakai metode yang lebih disukai atau dikuasai peneliti tersebut. Sedangkan, mix methods menggunakan keduanya dalam mengungkapkan satu fenomena. Mengenai permasalahan ini, Khan mengatakan bahwa, “Peneliti sebaiknya memahami dan mampu memakai kedua metode tersebut. Pemakaian metode seharusnya didasarkan pada research question (pernyataan tesis) yang dihadapi”. Ketika ditemukan suatu pernyataan tesis yang tidak bisa dijawab baik melalui metode kuantitatif maupun kualitatif, mix methods memberikan alternatif yang bisa mendekatkan pada pengungkapan pernyataan tesis tersebut. (noel/dit)

Petra Christian University Proud to Host 2018 Asian University Presidents Forum
August 13, 2018

Petra Christian University (PCU) is proud to be the host for the Asian University Presidents Forum’s (AUPF) annual meeting this year. AUPF is a forum that brings together higher education institutions across Asia. Every year, member universities take turns to host the forum’s meeting, whose main purpose is to develop internationalization initiatives, particularly in the context of higher education. This event also becomes a hub for the exchange of ideas to increase the quality of higher education and to develop bilateral cooperation among higher education institutions in Asia.

The upcoming 17th annual meeting will be held on 6-8 November 2018 at PCU campus and Sheraton Surabaya Hotel and Towers. The forum will be attended by approximately 200 delegations consisting of university presidents and accompanying officials from more than 100 higher education institutions in Asia.

This year’s theme for the forum will be “Disruption at the Cross Roads: Innovative Engagement and Future Challenges for Higher Education.” This theme was chosen because swift changes are happening in the world due to technology development, and most of these changes ultimately catch the society by surprise. The era of change is also known as the era of “disruption.” Many sectors and fields are affected, including education. The issue of change (or disruption) becomes a challenge that is fitting to be discussed and solved together, especially in Asia where development is ongoing at a rapid pace. Discussing this theme will result in strategic insights on how to deal with future challenges in the era of disruption and will also prepare the leaders of education in Asia to creatively address these challenges.

The 17th AUPF meeting features five prominent speakers who will each address different aspects of the forum’s theme. The keynote speech, which will address the main theme of the meeting, “Disruption at The Cross Roads: Innovative Engagement and Future Challenges for Higher Education,” will be delivered by Prof. Ainun Na’im, Ph.D., The Secretary General of the Ministry of Research, Technology and Higher Education of Indonesia.

Following the keynote session, four distinguished speakers will present in the Talk Show session, namely Prof. Dr. Jekuk Chang, the President of Dongseo University, South Korea, Brig. Jen. Datuk Prof. Emeritus Dr. Kamarudin bin Hussin, the Board of Directors Chairman from Universiti Sultan Zainal Abidin, Malaysia, Prof. Dr. (H.C.). Ir. Rolly Intan, M.A.Sc., Dr. Eng., the Rector of Petra Christian University in 2009–2017, Indonesia, and Prof. Dr. hab. C. Eng. Janusz Szpytko – AGH University of Science and Technology, Krakow, Poland.

The speakers will discuss three subthemes that are related to the conference main theme. The first subtheme will unpack the navigation of online courses at the age of disruption, while the second subtheme expands on shifting the way of learning through disruptive innovation. Finally, the last subtheme addresses the issue of disruption, globalization, and the changing context of education.

The discussion in the forum will be enriched by the perspectives of various higher education institutions across Asia. In addition to idea-sharing, one of the aims for this meeting is to provide an opportunity for the participants to network with each other. In fact, there will also be an opportunity for participating institutions to formalize their partnerships in the MoU Signing ceremony.

 

Moreover, Petra Christian University as the host has taken an initiative to publish a non-scientific journal where higher education leaders who are AUPF members can share their thoughts and ideas. It is hoped that the journal will be a legacy from the 17th Asian University Presidents Forum. “The journal will be a vehicle for higher education leaders to socialize their ideas to others. We hope that starting this year and in the following years, the journal will be routinely published every time an AUPF meeting is being held,” Prayonne Adi, M.MT., the Head of the AUPF 2018 Committee, mentioned.

Note: This article was originally published in Indonesian language in the March 2018 edition of Dwi Pekan, a bi-weekly publication of the Public Relations Department at Petra Christian University. The article is translated with permission from the Public Relations Department for use by the Committee of AUPF 2018. Some slight changes are made in the translated version in order to reflect the most current information.

Sampaikan Cita-Cita Politik Indonesia, Mahasiswi UK Petra Menangkan Lomba Vlog Kantor Staf Presiden
August 02, 2018

Kantor Staf Presiden (KSP) Republik Indonesia memiliki cara lain untuk membuat anak-anak muda berkontribusi dengan cara yang menarik dan menyenangkan. Lomba vlog KSP, itulah yang digagas oleh KSP RI agar para mahasiswa menyampaikan pendapatnya secara kreatif. Elisabeth Glory Victory, mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Petra (UK Petra) berhasil menjadi pemenang dalam kategori Kontribusi Untuk Negeri.

Ada dua kategori dalam lomba vlog ini, kategori pertama yaitu Kontribusiku untuk Negeri yang berisi pendapat dan usulan atas kinerja pemerintah Indonesia. Sedangkan kategori kedua yaitu Caraku Menuju 2045 yang berisi cita-cita dan rencana 10 tahun ke depan, serta upaya apa yg dipersiapkan sejak sekarang. Peserta membuat vlog selama satu menit dan mengunggahnya di instagram pribadi masing-masing peserta, peserta juga harus mentag lima temannya. Disertai dengan menuliskan caption menarik, mention dan tag instagram Kantor Staf Presiden, serta memberi tagar #kantorstafpresiden, #KSPmendengar, #kerja3ersama, dan #KSPgoestocampus. Peserta diberi waktu untuk mengunggah video hingga 9 April 2018.

Elisabeth Glory Victory awalnya mengikuti kategori Caraku Menuju 2045, tetapi justru terpilih menjadi pemenang untuk kategori Kontribusiku untuk Negeri. Hal ini berdasarkan hasil pertimbangan juri karena substansi vlognya yang memberi pandangan tajam atas isu distrust anak muda terhadap pemerintah akibat gap komunikasi dan menunjukkan aksi konkrit dengan menjadi influencer sosial politik. Dalam vlognya, gadis yang biasa disapa Ory ini menyatakan keinginannya agar masyarakat Indonesia terutama anak-anak muda dan kaum terpelajar tidak lagi apatis dan peduli terhadap politik. Sebagai mahasiswa, Ory sering mendengar perkataan teman-temannya bahwa siapapun pemimpinnya, tidak akan ada perubahan, politik dianggap jauh dari kita. Buruknya persepsi terhadap pemerintah ini menimbulkan apatisme di kalangan mahasiswa. Publisitas akan bobroknya Indonesia juga menambah gap dan distrust politik di kalangan masyarakat. “Rasa kecewa menghambat kontribusi anak muda untuk membuat gebrakan, padahal kita anak-anak muda adalah kunci perubahan,” ungkap alumnus SMAKr Petra 2 ini.

Menyongsong 100 tahun Indonesia di tahun 2045 mendatang, mahasiswi kelahiran Ambon 20 tahun silam ini menyatakan keinginannya untuk menghentikan distrust politik yang ada. “Indonesia butuh pemimpin, tapi bukan hanya di bidang politik, tetapi juga di sosial media. Karena itulah yang menyuntik informasi bagi mahasiswa seperti kami, agar menceritakan bahwa harapan itu masih ada dan bahkan sangat terang bagi yang mau berjuang,” ujar mahasiswa semester lima ini.

Sebagai hadiah, Ory berkesempatan melakukan eduventure ke Kantor Staf Presiden di Jakarta pada 28-29 Juni 2018. Kantor Staf Presiden juga membiayai transportasi, akomodasi, dan juga memberikan uang saku sebesar Rp. 1.000.000,-. Selama di Jakarta, putri pasangan Mayri Suzana dan David Yenarto ini diajak berkeliling Kantor Staf Presiden, berdiskusi dengan para staf Kantor Staf Presiden, serta bertemu dengan Moeldoko, Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia. (rut/Aj)

Perkenalkan Teknologi Building Information Modeling dan Artificial Intelligence di Bidang Konstruksi
August 01, 2018

Doddy Prayogo, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., dosen Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Petra (UK Petra) menerima hibah dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dalam program World Class Professor (WCP). Program ini bertujuan untuk meningkatkan kolaborasi dan kerja sama antara dosen Indonesia dengan profesor kelas dunia. WCP memiliki dua kegiatan besar, yaitu mendatangkan profesor dari luar negeri ke Indonesia dan kunjungan dosen Indonesia ke kampus profesor tersebut. Kedatangan profesor ke Indonesia dilakukan untuk menjalin diskusi, riset bersama dan pertukaran ilmu. Sebagai bentuk implementasi program WCP, dilaksanakan seminar bertajuk Building Information Modeling (BIM) and Artificial Intelligence (AI) Applications in Construction Engineering. Seminar yang diikuti oleh sekitar 140 peserta ini dilaksanakan pada 5 Juli 2018 di Auditorium UK Petra.

BIM adalah teknologi di bidang konstruksi dan arsitektur yang dapat menyimulasikan model pembangunan dari suatu proyek  dengan berbagai macam informasi yang terintegrasi. BIM memerlukan aplikasi software seperti AutoCAD untuk menunjukkan tahapan pembangunan suatu proyek dilihat dari sifat fisik dan fungsional secara terperinci dari masa ke masa. Sedangkan AI atau kecerdasan buatan di manajemen konstruksi merupakan penggunaan kecerdasan buatan untuk menyelesaikan masalah dalam proyek teknik sipil salah satunya dalam penentuan tata letak fasilitas dan keamanan pekerja di proyek konstruksi. “Dengan mengimplementasikan BIM dan AI  dalam proyek konstruksi maka akan meningkatkan keuntungan dalam segi biaya, waktu, dan mutu. Selain itu, teknologi ini dapat meminimalisir terjadinya kesalahan kerja,” ujar Doddy.

Dalam seminar ini hadir Prof. Min Yuan Cheng, Ph.D, seorang profesor dari National Taiwan University of Science and Technology (NTUST), Taiwan. Prof. Min Yuan Cheng berbicara tentang tiga hal yaitu Novel Intelligent Green Building-Mega House (Rumah berteknologi tinggi dengan konsep bangunan hijau), BIM Integrated Smart Monitoring Technique for Building Fire Prevention and Disaster Relief (Penggunaan Building Information Modelling dan sensor wireless untuk pencegahan kebakaran dan penanggulangan bencana), dan Particle Bee Algorithm for Construction Site Layout Optimization (Kecerdasan buatan untuk manajemen konstruksi). Penerapan BIM memerlukan biaya tambahan yang sangat mahal, kebanyakan owner di Indonesia berorientasi pada pengoptimalan biaya, hal ini menyebabkan penggunaan BIM masih jarang ditemui di Indonesia. Sedangkan di Taiwan, hampir semua kontraktor sudah sangat sering menggunakan BIM karena owner akan lebih memilih kontraktor yang menggunakan BIM karena ia yakin proyeknya akan terintegrasi dengan baik,” ujar Prof. Min Yuan Cheng.

Kedua pembicara selanjutnya adalah Andreas F.V. Roy, Ph.D dan Adrian Firdaus , S.T., M.Sc., yang berasal dari Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Andreas berbicara mengenai Potential Application of Evolutionary Support Vector Machine in Discharge Forecasting, prediksi volume air pada waduk selorejo. Sedangkan Adrian berbicara mengenai Preliminary Study of BIM Knowledge and Implementation in Indonesia, survey tentang BIM di Indonesia. Pembicara berikutnya adalah Tri Joko Adi, Ph.D., yang berasal dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Tri berbicara mengenai Kecerdasan Buatan untuk Keselamatan Pekerja Konstruksi. (rut/padi)

Harga yang Tidak Mungkin Ditolak Klien
August 01, 2018

Seringkali karya seorang desainer tidak terapresiasi dengan baik. Dalam keseharian, belakangan ini sering kita temui bahwa pekerjaan mendesain dipandang sebelah mata dan diberi harga yang murah. Apabila desainer muda tidak memiliki sikap dan bekal yang cukup untuk menghadapi pandangan ini, keahlian desainer bisa semakin tidak dihargai. Untuk memberikan sudut pandang, dan sikap yang tepat terkait menentukan harga bagi para desainer muda, Continuing Education Center (CEC) menyelenggarakan seminar bertajuk “Set Your Price” yang dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 30 Juni 2018 di Satu Atap Coworking Space. Sebanyak 11 orang desainer muda hadir dalam seminar ini.

Deddi Duto Hartanto, S.Sn., M.Si., dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra dan pendiri Maindesign Surabaya hadir sebagai pembicara pertama. Dedi mengangkat pentingnya merubah mindset desainer untuk bermigrasi dari menghasilkan karya ke menghasilkan ide. Menjual karya adalah memenuhi permintaan klien dengan eksekusi yang baik. Saat ini, banyak desainer yang tidak berasal dari latar belakang akademik bisa menghasilkan karya dengan eksekusi yang baik. Situasi ini menyebabkan karya desain menjadi sesuatu yang semakin umum dan akhirnya nilainya pun semakin berkurang. Di sisi yang lain, ide selalu memiliki nilai lebih dibandingkan karya. Dedi memberikan tips dalam menyampaikan ide pada klien, yaitu: 1) desainer perlu memahami problem klien; kemudian 2) memberikan solusi yang relevan; dan 3) memberikan harga yang tidak mungkin ditolak klien. Proses dalam mengkonsep suatu ide menuntut desainer berperan sebagai konsultan bagi klien. Harga yang tidak mungkin ditolak ini adalah hasil dari komunikasi dan ide sebagai solusi yang sesuai dengan kebutuhan klien. “Untuk klien bisa menerima ide, perlu ada proses edukasi”, kata Dedi menggambarkan proses konsultansi.

Sesi kedua bertajuk “How to Set the Right Price?” dengan narasumber Dr. Michael Adiwijaya., SE., MA., dosen Program Studi Magister Manajemen UK Petra dan Direktur Magna Consulting Group. Sesi ini memberikan kesempatan brainstorming dan pelatihan merancang pemasaran untuk desainer khususnya dalam hal menentukan harga. Untuk menentukan harga, pertama-tama perlu ditentukan target pasar, kemudian perlu ada pemahaman atas pasar yang ditarget, lalu perlu identifikasi nilai unik khusus yang bisa ditawarkan desainer pada klien. Michael menyampaikan pentingnya memahami bahwa persepsi klien adalah lebih penting dari realita, “Penilaian konsumen atas harga bersifat relatif, mahal atau murah suatu barang tergantung dari  persepsi konsumen yang menilainya”.

Sebagai pembicara pamungkas, James Frederick Tandi, owner Bebocto Creative Design Studio membawakan materi bertajuk “Good Process from Setting Up the Right Price”. James yang terjun ke dunia profesional sejak lulus dari SMAK St. Maria Surabaya ini menyampaikan bahwa dengan menentukan harga yang benar maka proses yang baik bisa dilaksanakan dengan nyaman. James menekankan pada pentingnya value, nilai yang diciptakan, bagi seorang desainer dalam menetapkan harga karyanya. Apabila desainer hanya melihat pada menghasilkan produk, maka harga yang bisa diminta terbatas pada produk tersebut. Menurutnya memberikan 5 star services bisa menciptakan value tambahan yang membuat seorang desainer dihargai lebih. James membagikan pengalamannya sebagai vendor produksi buku tahunan beberapa SMA di Surabaya. Pada awal karirnya, ia berhasil mengambil alih klien dari kompetitor yang adalah perusahaan besar dan menawarkan harga produk yang lebih murah. Menurutnya, klien memiliki kebutuhan dan potensi yang berbeda-beda, keunikan masing-masing klien ini perlu ditangkap. Dengan proses konsultasi dan memberikan nilai lebih, desainer akan bisa menetapkan harga yang sesuai yang memberikan manfaat bagi klien dan tetap nyaman bagi desainer. (noel/padi)

Dosen Teknik Sipil UK Petra, Doddy Prayogo Raih Hibah World Class Professor Kolaborasi dengan Taiwan
July 26, 2018

Salah satu dosen Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Petra (UK Petra) berhasil meraih hibah Program World Class Professor (WCP) skema B. Program WCP ini merupakan program dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti RI) dalam upaya untuk meningkatkan peringkat Perguruan Tinggi (PT) menuju QS WUR 500 terbaik dunia. Seluruh pendanaan kegiatan ini ditanggung penuh oleh Kemenristekdikti RI.

Apa itu WCP? WCP ini sebuah program mengundang profesor kelas dunia dari berbagai PT ternama dalam negeri/luar negeri sebagai visiting professor untuk ditempatkan di berbagai PT di Indonesia selama kurun waktu maksimum sampai akhir bulan November 2018. WCP ini sendiri terbagi menjadi dua bagian, yaitu WCP skema A (level institusi) dan WCP skema B (level perorangan). Ada banyak syarat yang harus dipenuhi dalam mengikuti hibah bergengsi ini, salah satunya untuk WCP skema B, dosen yang mengajukan hibah harus minimal bergelar Doktor dan berkolaborasi dengan Profesor Luar Negeri berprestasi minimal memiliki h-index Scopus ≥ 10.

Banyak kegiatan yang dilakukan dalam kolaborasi ini, salah satunya dosen yang mendapatkan hibah harus menghasilkan publikasi bersama yang terpublikasi pada November 2018 dan saling berkunjung menularkan ilmunya di negara masing-masing. Peraih hibah ini salah satunya, yaitu Doddy Prayogo, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., seorang dosen Program Studi Teknik Sipil UK Petra. Pada 14 Juli hingga 10 Agustus 2018, Doddy Prayogo, Ph.D., berangkat ke Taiwan. Dosen berusia 31 tahun tersebut berkolaborasi dengan Prof. Min-Yuan Cheng, Ph.D. dari National Taiwan University of Science and Technology (NTUST), Taiwan.

Doddy, begitu ia biasa dipanggil, akan menitikberatkan penelitian mengenai aplikasi kecerdasan buatan dalam dunia teknik sipil khususnya pemodelan perilaku material konstruksi. “Penelitian mengenai kecerdasan buatan khususnya di dunia teknik sipil ini sangat jarang dilakukan. Padahal ilmu yang lain sudah mulai menggunakannya. Saya ingin sekali penelitian di bidang dunia teknik sipil ini, khususnya di Indonesia,juga maju jika perlu go international.”, urai Doddy, pria kelahiran Banjarmasin itu. Penerapan kecerdasan buatan ini tidak bisa dihindarkan. Hal ini disebabkan kita telah memasuki industri generasi keempat atau biasa disebut industri 4.0, dimana industri mulai menyentuh dunia virtual berbentuk konektivitas manusia, mesin, dan data. Istilah ini biasa disebut dengan internet of things.

Pria yang kini menjabat sebagai Kepala Program Studi Magister dan Doktor Teknik Sipil UK Petra menerangkan, jika selama ini dalam dunia konstruksi untuk menentukan fasilitas dan keamanan pekerja di proyek konstruksi berdasarkan intuisi dan pengalaman kerja. Hal ini bisa menyebabkan hasil yang didapatkan tak maksimal dan terjadi kesalahan dalam bekerja. Misalnya seorang pekerja dalam menjalankan tugasnya membutuhkan letak kantor dan gudang berdekatan akan tetapi berdasarkan intuisi, letak kedua fasilitas ini ditempatkan berjauhan. Jika menggunakan kecerdasan buatan, maka data-data kedua fasilitas tersebut bisa diatur sedemikian rupa untuk efisiensi dan efektivitas  pekerja.

Selama lebih kurang 28 hari, Doddy berbagi ilmu di hadapan para mahasiswa dan praktisi konstruksi Taiwan. “Untuk kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia, para peneliti harus berani mengambil hibah. Hibah Kemenristekdikti menawarkan banyak kesempatan untuk para peneliti mendapatkan pengalaman dan wawasan baru.”, tutup Doddy. (Aj/dit)

Dosen Teknik Industri UK Petra Raih Hibah Program World Class Professor
July 26, 2018

Dalam program World Class Professor (WCP) yang diadakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Universitas Kristen Petra (UK Petra) mengirimkan tiga perwakilan yang kesemuanya berhasil mendapatkan hibah untuk skema B. Salah satunya adalah dosen Program Studi Teknik Industri, I Gede Agus Widyadana, S.T., M.Eng., Ph.D. WCP merupakan program mengundang profesor kelas dunia dari berbagai Perguruan Tinggi (PT) ternama dari dalam negeri atau luar negeri sebagai visiting professor untuk ditempatkan di berbagai PT di Indonesia selama kurun waktu maksimum sampai akhir bulan November 2018. Program ini bertujuan supaya dosen atau peneliti dapat berinteraksi dengan profesor ternama dan unggul sehingga bisa meningkatkan kehidupan akademis, kompetensi, kualitas, dan kontribusinya bagi pengembangan ilmu pengertahuan dan teknologi di Indonesia. Terdapat dua skema yang dapat diikuti, yaitu skema A untuk level institusi dan skema B untuk perorangan.

Dalam program WCP ini, dosen yang telah mengabdi di UK Petra selama lebih dari 20 tahun ini mendapatkan hibah sebesar Rp 151.000.000,-. Topik yang diangkat adalah pengendalian persediaan untuk produk yang memiliki tingkat kerusakan tinggi. Beberapa produk seperti sayuran, susu, dan buah-buahan memiliki tingkat kerusakan tinggi. Kerusakan meliputi pembusukan, penguapan, keusangan, hingga penurunan kualitas dari suatu komoditas. Selain karena menarik, topik ini dipilih karena seringkali nilai persediaan dipandang sebelah mata.

Saat persediaan berkurang karena rusak, biaya yang dikeluarkan cukup tinggi, sehingga dapat mengurangi pendapatan yang seharusnya diperoleh. Di Indonesia banyak sekali produk-produk pertanian yang mudah rusak. “seringkali orang tidak mempertimbangkan jumlah barang yang disimpan, padahal persediaan yang tidak bergerak disebut dengan modal mati. Pada umumnya, nilai dari persediaan dalam sebuah industri itu tinggi,” ujar dosen yang menyelesaikan pendidikan magisternya di Asian Institute of Technology, Thailand ini.

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui cara mengoptimalkan jumlah barang yang dipesan, jumlah yang disimpan, serta kapan harus memesan kembali, sehingga biaya pemesanan, biaya persediaannya rendah, serta biaya tingkat kerusakannya juga rendah.

Dalam pelaksanaannya, WCP memiliki dua kegiatan besar, yaitu mendatangkan profesor dari luar negeri ke Indonesia dan kunjungan dosen Indonesia ke kampus profesor tersebut. Untuk itu, Gede menggandeng Prof. Hui Ming Wee, B.Sc., M.Eng., Ph.D. dari Chung Yuan Christian University, Taiwan. Prof. Hui Ming Wee yang memiliki h-index Scopus 32 ini telah mempublikasikan sebanyak 244 jurnal, beberapa diantaranya merupakan hasil kolaborasi dengan Gede. Selain itu, Prof. Hui Ming Wee juga merupakan salah satu profesor yang terkenal di bidangnya dan telah menerbitkan sebanyak 17 buku akademis, serta telah memperoleh beberapa paten.

Nantinya Prof. Hui Ming Wee akan tinggal di Indonesia pada 20 Agustus hingga 3 September 2018 mendatang. Selama kunjungannya di UK Petra, beliau akan mengisi seminar, lokakarya, dan juga menjadi dosen tamu. Setelah itu, Gede akan  berkunjung ke Chung Yuan Christian University selama tiga minggu. Tujuan kunjungan ini adalah untuk berdiskusi dan menyempurnakan makalah yang telah dibuat. “Harapan saya dengan adanya program WCP ini adalah dapat menularkan semangat bagi rekan-rekan dosen untuk melakukan penelitian dan menulis jurnal ilmiah berkualifikasi bagus, sehingga dapat mengangkat nama Indonesia dan khususnya UK Petra di dunia internasional,” ungkap Ketua Program Studi Magister Teknik Industri UK Petra ini. (rut/dit)

Bekali Calon Guru dengan Inovasi Belajar yang Menyenangkan
July 20, 2018

Kemajuan teknologi yang sangat pesat turut mempengaruhi karakter dan sifat dari generasi masa kini. Ini menjadi tantangan bagi orang tua dan guru yang memiliki peran dalam memberikan pendidikan karakter bagi anak-anak baik di rumah maupun di sekolah. Pembelajaran yang menyenangkan tentunya akan mempermudah anak-anak untuk lebih memahami materi yang diajarkan. Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (Prodi PGSD) Universitas Kristen Petra (UK Petra) menggelar lokakarya Fun Learning with Creativity pada 4 Juli 2018. “Kegiatan ini sebenarnya untuk menolong mahasiswa sebagai calon guru, saya percaya melalui seni budaya menjadi sebuah pintu yang dapat dibuka sangat luas. Karena seni merupakan sebuah kebebasan, untuk nantinya anak-anak dapat berani dan percaya diri untuk akhirnya menemukan hal terbaik yang Tuhan berikan bagi mereka,” ungkap Dr. Magdalena Pranata Santoso, S.Th., M.Si., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UK Petra dalam sambutannya.

Lokakarya ini merupakan tugas Ujian Akhir Semester dari mata kuliah Seni Budaya dan Kerajinan Anak SD. Menghadirkan dua pembicara yaitu Lily Eka Sari, S.S., M.A., Dosen PGSD UK Petra yang pernah menjadi guru untuk anak-anak berkebutuhan khusus di Amerika ini berbicara mengenai Wajah Pendidikan Indonesia. Kemiskinan hingga tindak kriminal mencerminkan wajah pendidikan di Indonesia, hal ini menunjukkan banyak yang tidak beres dengan sistem pendidikan di Indonesia. Data yang di dapat dari USAID, menurut Direktur Jenderal Pendidikan Dasar (Dikdas), saat ini Indonesia masih kekurangan sebanyak 112.000 guru SD. Selain itu, faktor ekonomi dan pernikahan dini menjadi alasan anak-anak tidak dapat melanjutkan pendidikannya.

Fun learning, bukan berarti selalu mengajar dengan permainan, tetapi bagaimana menjadikan kegiatan belajar mengajar menyenangkan dan dapat dipahami oleh murid-murid. Setiap anak memiliki learning style yang berbeda-beda, ada yang kinestetik, visual, dan auditori. Oleh karena itu, seorang pengajar harus mampu memberikan pengajaran sesuai kebutuhan masing-masing murid. “Doa saya bagi para mahasiswa saya, empat sampai lima tahun lagi kalian akan menjadi pengajar. Tiap orang diciptakan Tuhan secara unik, tidak ada istilahnya cacat produksi. Jangan pernah menganggap bahwa murid kalian itu pasti sama dengan kalian,  setiap orang berbeda, gaya belajarpun berbeda-beda,” jelas dosen berambut pendek ini.

Pembicara kedua dalam lokakarya ini adalah Ricky Abraham, S.S. yang berbicara tentang pengajaran kreatif dan menyenangkan. Ricky yang merupakan guru di Sekolah Pelangi Kristus Surabaya ini membagikan pengalamannya mengajar murid-murid mulai dari Taman Kanak-kanak (TK) hingga SMA (Sekolah Menengah Atas). Ricky tertarik dengan kesenian khususnya seni badut (clowning), yang hingga saat ini menjadi salah satu metode pengajarannya pada murid-muridnya. Menggunakan metode clowning dan menggunakan alat peraga, murid-murid terutama anak-anak lebih tertarik untuk memperhatikan guru yang mengajar.

Lokakarya ini diikuti oleh sekitar 150 orang peserta, mulai dari mahasiswa, pelajar, guru sekolah minggu, guru SD, bahkan dosen. Selain lokakarya ini, para mahasiswa PGSD juga mempersembahkan penampilan berupa tarian merak, tamborin, vocal group, dan juga tarian gemufamire dari Nusa Tenggara Timur. (rut/Aj)

Berdampak Melalui Tulisan, Mahasiswa UK Petra Kembali Torehkan Prestasi
July 16, 2018

Melalui sebuah tulisan, banyak hal dapat diekspresikan seperti menghibur, memberi informasi, memotivasi, juga mempersuasi. Tulisan diharapkan dapat berdampak positif bagi sekitar dan membangun masyarakat yang lebih baik.

Gabriella Tiara Utomo, seorang mahasiswa Program Studi Sastra Inggris Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya meraih juara satu dalam kompetisi menulis cerita pendek “Our Ocean Short Story Writing Contest” yang diselenggarakan delegasi Uni Eropa di Indonesia dan Brunei Darusalam. Kompetisi ini diselenggarakan dalam rangka konferensi “Our Ocean” oleh Uni Eropa di Bali pada Oktober 2017 silam. Konferensi ini membahas hal-hal mengenai permasalahan kelautan, seperti pelestarian ikan laut, membangun Blue Economy dimana pembangunan yang mengutamakan pemanfaatan sumber daya alam yang seimbang bagi pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat dan kesehatan lingkungan yang berkelanjutan, perubahan iklim dan lain-lain.

Kompetisi “Our Ocean Short Story Writing Contest” ini diikuti oleh 251 peserta usia 9 sampai 26 tahun di seluruh Indonesia. Konten cerita pendek yang dikumpulkan bertemakan topik dari konferensi Uni Eropa di Malta sebelumnya, seperti polusi laut, limbah laut, perubahan iklim, keamanan di laut dan ditulis tidak lebih dari 1000 kata. Cerita pendek yang dikumpulkan hanya boleh ditulis dalam 24 bahasa resmi Uni Eropa dan dikumpulkan secara daring maksimal pada tanggal 10 November 2017. Tujuan dari Uni Eropa menyelenggarakan kompetisi ini adalah untuk menemukan visi dan kepedulian terhadap bagaimana cara menyelamatkan laut pada pemuda-pemudi Indonesia.

Gabriella, atau yang sering dipanggil Gaby, membuat cerita fiksi mengenai limbah plastik yang ada di laut. Cerita dimulai dari 2 orang perempuan kakak beradik sedang menaiki dive boat. Mereka bertengkar karena si adik dengan acuh tak acuh membuang botol plastik ke laut. Singkat cerita, si kakak tertidur dan bermimpi dibawa 100 tahun ke depan dan melihat bagaimana keadaan laut sangat kotor dan banyak binatang laut yang punah di masa depan. Si kakak sadar bahwa hanya diam dan tidak membuang sampah di laut, tidak cukup untuk membantu, mereka harus bertindak untuk menjaga kelestarian laut.

Dalam menulis cerpen ini, Gaby memerlukan waktu selama 1 hari untuk menggali ide, bertukar pikiran dan melakukan riset, dan 1 hari untuk menulis cerita. Ada beberapa tantangan yang Gaby alami selama menulis cerpen ini, adanya batasan jumlah kata (1000 kata) membuat Gaby harus cermat dalam memuat ide yang ingin disampaikan hanya di dalam 1000 kata.

Cerita berjudul “2117” milik Gaby tersebut berhasil meraih juara pertama dalam kompetisi “Our Ocean Short Story Writing Contest” dan mendapatkan hadiah laptop Apple MacBook Air. Lewat cerita pendek ini, Gaby berharap bahwa kita semua tidak hanya pasif melainkan juga ikut berperan aktif dalam melestarikan laut, dan berharap bahwa ceritanya tidak berhenti sampai disini, melainkan dapat terus memotivasi untuk terus memberikan dampak positif terhadap lingkungan. (luk/dit)

Angkat Topik Religi, Petra Little Theatre Pentaskan “Going Home”
July 11, 2018

Kita tidak akan pernah tahu kapan waku kita di dunia akan habis. Namun ketika waktu itu tiba, apakah kita sudah siap? Bagaimana jika kita masih memiliki kewajiban di dunia ini? “Going Home”, gelaran pementasan teater oleh Petra Little Theatre (PLT) Universitas Kristen Petra (UK Petra), menceritakan kisah seorang ibu yang masih memiliki kewajiban yang belum dia selesaikan saat dia merasa  Tuhan akan menjemputnya. Pementasan ini dilaksanakan selama 4 hari berturut-turut mulai tanggal 6-9 Juni 2018 di Studio PLT Gedung B lantai 2 UK Petra, Surabaya.

Pementasan berdurasi 1 jam ini mengisahkan kehidupan sebuah keluarga yang terdiri dari ibu single-parent dan putrinya. Suryani, sang ibu, merupakan seorang Kristen yang taat. Bertolak belakang dengan ibunya, Renata, putrinya, merupakan seorang mahasiswa yang atheis. Suatu malam, Suryani bermimpi  diberitahu akan “kembali ke rumah Tuhan” dalam waktu tiga hari. Suryani merasa hidupnya sudah tak lama lagi. Keesokan harinya, Suryani berupaya keras melakukan kewajiban sekaligus impian terbesarnya sebelum “kembali ke rumah Tuhan” yaitu membawa Renata menjadi seorang Kristen.

Berbagai upaya dilakukan Suryani. Namun Renata bukannya makin sadar, tetapi  hubungan ibu dan anak itu makin menjauh. Renata melihat sang ibu tidak bisa mengaplikasikan cinta kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya adalah tidak menyayangi Renata dan ayahnya ketika laki-laki itu masih hidup. Meski mengalami berbabagai pertengkaran, Suryani tak patah semangat untuk merealisasikan impiannya.

Hingga suatu saat, Suryani mendapat ide ekstrem membawa Renata mengenal Tuhan . Ia merencanakan sebuah perampokan yang dilakukan oleh seorang anggota majelis gereja yang dulu membuat Suryani memeluk agama Kristen, dengan harapan, ketika terdesak, Renata akan meminta pertolongan Tuhan. Akan tetapi tanpa diduga, malah terjadi perampokan sesungguhnya. Suryani sempat terluka dan karena itulah akhirnya Renata berdoa meminta pertolongan Tuhan. Singkat cerita, mereka selamat dan Suryani sadar bahwa mimpinya bukanlah pertanda kematiannya. Mimpinya bisa diartikan  bahwa Suryani akan ke rumah Tuhan, yaitu gereja dalam waktu 3 hari. Hal itu disadarinya ketika berbicara dengan Renata yang bersedia pergi ke gereja bersama di hari Minggu.

Pementasan yang apik ini merupakan karya keenam dari program New Play Development milik PLT. . Dita Berlian, sang penulis naskah pementasan ini, merupakan mahasiswa Program English for Creative Industry (ECI) angkatan 2015 yang sedang melakukan student exchange di Momoyama Gakuin University, Osaka, Jepang. Naskah yang pada awalnya merupakan hasil karya Dita dalam mata kuliah Playwriting ini mengambil dari pengalaman pribadinya. Dita melihat bahwa banyak orang-orang Kristen yang terlihat religius saat berada di gereja, namun melakukan hal yang bertolak belakang ketika sedang tidak di gereja. “Pada dasarnya salah satu fungsi teater adalah mengangkat isu yang layak diperhatikan dan memaparkan realita yang ada. Kami ingin mengajak orang berpikir kritis tanpa mendikte apa yang seharusnya mereka dapatkan dari pementasan ini. Sebab selain interpretasi setiap orang yang pasti berbeda-beda, kami percaya penonton sudah cukup dewasa dalam berpikir dan melakukan refleksi diri,” ujar Stefanny Irawan, S.S., M.A. selaku Managing Director PLT. Pementasan ini menuai banyak umpan balik yang positif, salah satunya adalah “I can relate to Renata about how she sees Christianity. Although I’m not a Christian myself, I do have a prejudice about it. This story opens a new perspective for me. Thank you. Nice job!” (luk/Aj