Connect with us
  • b
  • a
  • x
A CARING AND GLOBAL UNIVERSITY
WITH COMMITMENT TO CHRISTIAN VALUES

Berita

Lomba Debat Aku Untuk Indonesiaku
April 02, 2018

Era keterbukaan informasi membawa dampak positif dan negatif. Dampak negatif berupa timbulnya banyak informasi palsu (hoax) atau juga disinformasi. Terbukanya informasi yang ada tentunya juga dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk menambah ilmu dan wawasan dengan bersikap kritis. Salah satu cara mengkritisi sebuah informasi atau masalah yang terjadi adalah dengan bertukar pikiran sesama mahasiswa yang dikemas dalam sebuah kegiatan debat. Dalam kegiatan debat, seorang mahasiswa menyampaikan, menguji dan bersikap kritis pada sebuah ide sehingga pada akhirnya mereka dapat menemukan kesimpulan penyelesaian masalah.

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kristen (UK) Petra menyelenggarakan lomba debat “Aku Untuk Indonesiaku 2018” pada tanggal 16-18 Maret 2018 di gedung P. Lomba ini bertujuan mahasiswa dapat menjawab permasalahan sosial dan politik yang terjadi di Indonesia, selain itu diharapkan mahasiswa UK Petra dan mahasiswa luar UK Petra dapat menjalin komunikasi dan interaksi sesama mahasiswa.

Peserta lomba berjumlah 96 orang dari 48 tim. Peserta adalah wakil dari 21 perguruan tinggi di Indonesia dan 2 wakil dari asosiasi lomba debat internasional tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Kompetisi ini diadakan dalam  6 babak, yaitu: babak penyisihan, 16 besar, 8 besar, 4 besar, perebutan juara 3, dan grand final. Di hari pertama para peserta mengikuti penjelasan teknis tentang peraturan dan tata cara perlombaan. Perlombaan dimulai di hari kedua dengan babak penyisihan yang menyaring 48 tim peserta menjadi 16 tim untuk maju ke babak 16 besar di hari ketiga.

Lantai 6 Gedung P dipadati para peserta yang memakai 12 ruangan untuk babak penyisihan ini. Dalam satu ruangan, 4 tim berdebat dengan gaya debat British Parliament System. Aturan main di sistem ini adalah membagi keempat tim dalam satu ruangan itu menjadi 4 faksi, yaitu: 1) Opening Government; 2) Opening Opposition; 3) Closing Government; dan 4) Closing Opposition dan debat dilaksanakan dalam bahasa Inggris. Juri menyampaikan satu topik dan faksi-faksi bergiliran menyampaikan argumentasinya. Faksi-faksi government dipastikan mengambil sikap berbeda dengan faksi-faksi opposition. Penilaian diberikan berdasar poin-poin informasi yang diberikan oleh tim lawan. Debat dengan sistem ini dipakai di berbagai lomba debat tingkat internasional di banyak negara di dunia. Pada hari kedua dilaksanakan 5 babak debat sisanya. Di akhir lomba, muncul para juara sebagai berikut: Tim Institut Teknologi Bandung (ITB) 1 keluar sebagai Juara 1, Tim Bina Nusantara 1 Juara 2, Tim Universitas Gajah Mada (UGM) 6 Juara 3 dan Tim UGM 8 sebagai Juara 4.

UK Petra diwakili oleh Nicholas Christianto Wijaya dan Charaqua Vania Rawiadji. Charaqua yang biasa dipanggil Chacha mengatakan, “Dengan mengikuti lomba debat ini, saya menjadi mengerti permasalahan-permasalahan dan isu-isu internasional, hukum, politik, sosial-budaya dan lain-lain”. Ketua panitia lomba “Aku Untuk Indonesiaku” 2018, Arnold Rezon, menyampaikan pesan “Jangan  takut untuk berargumen, berkonflik, dan berdebat, jika berdebat dilakukan dengan benar akan sangat berguna untuk menemukan inovasi dan ide-ide yang dapat meluaskan pikiran kita”. (noel/dit)

Mahasiswa Program Studi Arsitektur Pamerkan Desain Tematik Ruang Terbuka Hijau Kawasan Darmo
March 29, 2018

Kawasan Darmo merupakan salah satu kawasan bersejarah di kota Surabaya. Banyak bangunan lama bernilai sejarah tinggi yang termasuk cagar budaya berada di daerah yang strategis tersebut. Sayangnya keberadaan ruang terbuka hijau kurang menjadi perhatian. Hal inilah yang kemudian membuat mahasiswa Program Studi Arsitektur menggelar pameran hasil tugas mata kuliahnya yang bertajuk “Desain Tematik Fasilitas Seni dan Ruang Terbuka Hijau yang Berkelanjutan di Kawasan Darmo, Surabaya”. Pameran ini diselenggarakan di ruang pamer Perpustakaan UK Petra, gedung Radius Prawiro lantai 6 mulai 1 hingga 31 Maret 2018.

Pameran menampilkan 66 karya desain bangunan fasilitas seni dan komersial yang bersifat publik di Kawasan Darmo, tepatnya di tepi Jl. Dr. Sutomo, berdekatan dengan lokasi Taman Korea. Pameran ini dilakukan dalam rangka mewujudkan visi dan misi Prodi Arsitektur terutama terkait dengan wawasan pembangunan berkelanjutan, nilai-nilai budaya lokal, dan kreativitas desain untuk berempati kebutuhan manusia. “Kawasan Darmo dipilih karena merupakan salah satu bagian dari wilayah kota Surabaya yang posisinya sangat strategis untuk pengembangan kegiatan komersial perkotaan. Selain itu, ditinjau dari tatanan makro, kawasan Darmo memiliki simpul ruang luar terbuka yang sangat kuat,” jelas Rully Damayanti, ST, M.Art, Ph.D. Pameran ini merupakan kumpulan hasil karya mahasiswa dalam Mata Kuliah Merancang Tematik yang diampu oleh Ir. Benny Poerbantanoe, MSP dan Rully Damayanti, ST, M.Art, Ph.D.

Mahasiswa harus melalui dua tahapan yaitu pembuatan blok plan dan desain bangunan secara individual. Tahap pertama melakukan desain kawasan yang mana merupakan tugas kelompok dilaksanakan selama 5 minggu kemudian dilanjutkan mendesain bangunan individu yang dikerjakan selama 10 minggu. Mereka diminta mendesain bangunan dengan memperhatikan faktor sosial-ekonomi dan lingkungan di kawasan ini. “Dengan adanya tugas ini maka diharapkan para arsitek muda akan memperhatikan kelestarian ruang terbuka hijau dan kaitan satu sama lainnya agar bangunan di kawasan perkotaan tidak bersifat egois. Harus membuat desain yang menyikapi aspek-aspek kota dan permasalahannya seperti sejarah kawasan dan bangunan bersejarah,” terang Rully.

Salah satu karya mahasiswa yang dipamerkan adalah karya Loundy Lompoliuw dan kawan-kawan. Mereka mendesain dan merancang maket berskala 1:500 yang terdiri dari art galery, hotel, dan apartemen. Selain itu, bangunan ini juga dilengkapi fasilitas kantor seni, area pertunjukan, taman bermain dan area khusus pedagang kaki lima. Keunikan lainnya adalah semua mobil akan diarahkan untuk melewati basement, sehingga yang melewati area sekitar gedung ini adalah sepeda dan pejalan kaki. “Kami sadar bahwa disana masih banyak ruang hijau, pengguna sepeda, pejalan kaki, dan terdapat beberapa sekolah dasar, oleh karena itu kami mendesain kawasan darmo ini sekaligus menjawab kebutuhan-kebutuhan tersebut,” ungkap Loundy Lompoliuw, mahasiswa semester tujuh ini. (rut/Aj)

Berpetualang sambil Belajar di International Day 2018
March 29, 2018

Biro  Administrasi Kerjasama dan Pengembangan (BAKP) Universitas Kristen Petra (UK Petra) kembali menyelenggarakan International Day. International Day 2018 kali ini bertajuk “Eduventure” yang artinya berpetualang sambil belajar. International Day  dihadiri oleh 10 mitra luar negeri UK Petra, diantaranya adalah Thailand, Korea, Jepang, United Kingdom, China, Taiwan, dan Bangladesh. Selain itu enam kantor perwakilan negara Amerika, Australia, Taiwan, Perancis, Jerman, dan Belanda juga turut hadir dalam kegiatan ini. International Day 2018 digelar dalam dua hari yaitu 22 dan 23 Maret 2018 serta diikuti oleh seluruh civitas akademika UK Petra dan juga orang tua mahasiswa. “Melalui kegiatan ini, kami berharap mahasiswa dan orang tua mendapatkan ilmu dengan cara yang menyenangkan seperti berpetualang,” ungkap Meilinda, S.S., M.A. selaku Kepala BAKP UK Petra.

Pada hari pertama, UK Petra memberikan kesempatan bagi para mahasiswa asing yang selama ini telah belajar di UK Petra untuk berinteraksi dengan masyarakat di luar kampus. Sebanyak delapan mahasiswa asing yang berasal dari empat negara berbeda ini mengajar bahasa asing kepada para siswa Sekolah Dasar (SD) di SDN Siwalankerto 2. Kegiatan mengajar ini dibagi menjadi empat kelas berdasarkan negara asal masing-masing mahasiswa. Paul Bernard Cornelis Bremmers dan Liz Ilva Meester mengajarkan cara memperkenalkan diri dalam bahasa Belanda pada siswa kelas 5C dengan menggunakan media bola. Momoko Miyazaki mengajarkan siswa kelas 5A tentang buah-buahan dalam bahasa Jepang. Alexander Schϋβler dan Fabian Basler mengajarkan tentang hobi dalam bahasa Jerman pada siswa di kelas 5D. Sedangkan Sin Eunsil, Lee Yejin, dan Kim Yeeun mengajarkan siswa kelas 5B berhitung dalam bahasa Korea.

Pada hari kedua, peserta yang terdiri dari mahasiswa dan orang tua mahasiswa mengikuti talkshow dengan Rektor UK Petra, Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng. dan Chris Barnes selaku Konsulat Jenderal Australia di Surabaya. Talkshow yang diselenggarakan di Auditorium UK Petra ini mengangkat tema Seizing The International Opportunity: Generation Z’s Endeavour in Globalized World. Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng. menjelaskan tentang apa yang harus dipersiapkan oleh generasi Z dalam menghadapi era distruption di masa mendatang. Sedangkan Chris Barnes menjelaskan tentang pentingnya kuliah di Australia dan kesempatan bagi pelajar Indonesia untuk menempuh pendidikan di negeri kangguru tersebut. “Australia merupakan tujuan belajar yang sangat baik bagi masyarakat Indonesia, mahasiswa Indonesia sangat diterima di Australia karena di Australia juga merupakan negara yang multikultur,” jelas Chris Barnes.

Setelah mengikuti talkshow, UK Petra memfasilitasi orang tua dan mahasiswa yang ingin melanjutkan studi di luar negeri dapat berkonsultasi dengan berbagai perwakilan Universitas rekanan UK Petra. Selain itu, peserta juga bisa mencicipi berbagai makanan dan bermain di enam gerai budaya dari mahasiswa internasional UK Petra yaitu Korea, Jerman, Belanda, Timor Leste, Jepang dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Misalnya Jepang menyediakan menu udon dan sushi, Belanda menyediakan menu Poffertjes, Korea menyediakan menu tteok-bokki dan juga permainan tradisional Korea yaitu ddakji. (rut/padi)

Rombongan Rangsit University Thailand Belajar tentang Indonesia dan ASEAN di UK Petra
March 29, 2018

Rangsit University Thailand mengadakan kunjungan ke Universitas Kristen Petra (UK Petra) pada tanggal 16 Maret – 20 Maret 2018 yang lalu. Rangsit University merupakan sekretariat Passage to ASEAN  (P2A), kunjungan ini merupakan salah satu program mereka yaitu student mobility. UK Petra dipilih oleh Rangsit karena reputasi UK Petra yang selama tiga tahun berturut- turut masih dipercaya oleh Kemenristek DIKTI sebagai Universitas swasta terbaik di Indonesia. Rombongan Rangsit University yang terdiri dari sembilan mahasiswa dan seorang dosen ini akan belajar mengenai Indonesia serta posisinya di ASEAN dari kacamata budaya maupun perekonomian. Melalui kunjungan ini pula, Rangsit University mengundang UK Petra untuk bergabung dalam network P2A ini. “Ini pertama kalinya program P2A untuk mobility berlokasi di universitas yang tidak berada di Ibu Kota. Surabaya dipilih karena  UK Petra berlokasi di sini. Selain itu UK Petra dipandang sigap dalam merespon proposal mereka dan tidak ada masalah dalam komunikasi,” Ungkap Meilinda, S.S., M.A., selaku Kepala Biro Administrasi dan Pengembangan Institusi UK Petra.

Pada hari pertama, 16 Maret 2018, peserta disambut oleh Rektor UK Petra, Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng. dan melakukan campus tour. Peserta mengikuti dua Workshop Indonesian Spectrum di kampus UK Petra. Workshop tentang Indonesia in ASEAN from Cultural Perspective disampaikan oleh Setefanus Suprajitno, M.A., Ph. D dari Fakultas Sastra UK Petra. Dilanjutkan dengan workshop mengenai Business in Indonesia yang disampaikan oleh Foedjiawati, S.S., MA. dari dari Fakultas Ekonomi UK Petra. Pada hari kedua, 19 Maret 2018, peserta melaksanakan kunjungan ke dua industri besar di Surabaya yaitu PT. Ajinomoto Indonesia Japanese Seasoning Factory dan PT. Diamond Indonesia Ice Cream Industry.

Selain fokus pada pembelajaran tentang posisi Indonesia di ASEAN dari kacamata budaya dan ekonomi, para mahasiswa Rangsit University juga diajak untuk mengenal dan belajar tentang kebudayaan lndonesia. Pada hari terakhir, peserta diajak untuk mengikuti Workshop Batik Jumputan dan Workshop Tari Saman. Workshop Batik Jumputan dipandu oleh Andereas Pandu Setiawan, S.Sn.,M.Sn. dari Fakultas Seni dan Desain UK Petra di Laboratorium Material. Sedangkan Workshop Tari Saman dipandu oleh Ruth Budi Rahayu, S.S dan tim penari staff UK Petra di Gedung Entrace Hall lantai 2.

Kegiatan ini memberikan kesempatan pada lebih banyak anak muda di ASEAN untuk memahami perkembangan budaya dan perekonomian di negara – negara ASEAN. Selain menambah wawasan, diharapkan mereka memiliki jejaring yang lebih baik dengan negara tetangga di ASEAN. “Melalui kegiatan ini, saya berharap UK Petra makin dapat dipilih sebagai tujuan untuk belajar baik bagi mahasiswa di Indonesia maupun mahasiswa asing karena UK Petra memiliki para dosen yang memiliki kemampuan dan pengetahuan baik di bidangnya serta mumpuni dalam memberikan pelayanan bagi mahasiswa asing,” ujar Meilinda, S.S., M.A. (rut/Aj)

Bedah Buku Henk Ngantung: Saya Bukan Gubernurnya PKI
March 26, 2018

Menjadi seorang gubernur, terlebih lagi gubernur sebuah ibukota negara merupakan sebuah posisi yang sangat penting dan istimewa.  Hendrick Hermanus Joel Ngantung atau yang lebih dikenal dengan nama Henk Ngantung merupakan seorang seniman yang pernah menjabat sebagai Gubernur Daerah Khusus Istimewa (DKI) Jakarta periode 1964-1965, tetapi karena adanya isu yang mengaitkan namanya dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), nama Henk Ngantung mulai pudar dari ingatan publik. Jumat 16 Maret 2018, lembaga jurnal ilmiah “Discerning” Universitas Kristen (UK) Petra mengadakan bedah buku Henk Ngantung: “Saya Bukan Gubernurnya PKI”.

Buku Henk Ngantung: “Saya Bukan Gubernurnya PKI” merupakan sebuah biografi yang ditulis oleh Obed Bima Wicandra, seorang pengajar program studi (prodi) Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra. Buku ini menceritakan tentang kisah Henk Ngantung, seorang seniman lukis yang dipilih oleh Presiden Soekarno pada masa awal kemerdekaan untuk memimpin kota DKI Jakarta. Dikatakan bahwa Henk Ngantung pada dasarnya dipilih atas kedekatannya dengan Presiden Soekarno. “memilih Henk sebagai wakil gubernur dan kemudian menjadi gubernur mungkin disebut sebagai tindak ceroboh Presiden Soekarno kala itu, karena dia hanyalah seorang seniman. Namun, catatan pers dalam bentuk berita kemudian memperlihatkan betapa mumpuninya seorang seniman bernama Henk dalam memimpin Jakarta kala itu,” kata Obed.

Selain itu, buku ini juga membahas tentang kontribusi-kontribusi Henk Ngantung untuk kota Jakarta dan peninggalan-peninggalannya yang belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia. Henk  Ngantung merupakan salah satu juri dalam proyek pembangunan Monumen Nasional (Monas). Selain itu Henk Ngantung juga tercatat sebagai salah satu perancang monumen Selamat Datang yang terletak di Bundaran Hotel Indonesia DKI Jakarta. Diluar kontribusinya kepada kota Jakarta, dikatakan bahwa hasil-hasil karya yang dilukis oleh Henk Ngantung dikoleksi oleh beberapa kolektor di Indonesia.

Pembuatan biografi ini bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan riset yang cukup mendalam dalam proses pembuatan buku ini. “Buku ini merupakan bagian dari proyek yang di danai oleh Yayasan Kebangsaan pada tahun 2011, dimana Henk Ngantung menjadi fokus utama saya,” ungkap Obed. Ia juga menceritakan bahwa proses riset Henk Ngantung ini memberi tantangan tersendiri karena sulitnya mencari sumber data yang memuat kisah Henk Ngantung. Buku tersebut juga sempat mengalami beberapa pergantian judul hingga akhirnya terciptalah buku Henk Ngantung: Saya Bukan Gubernurnya PKI.

Pada akhirnya, bedah buku bersama Obed Bima Wicandra menjawab pertanyaan besar yang terpampang pada judul buku tersebut, yakni: Apakah Henk Ngantung merupakan bagian dari PKI? Obed kemudian memaparkan, “Saya rasa tidak. Pemikirannya memang sosialis tapi bukan PKI walaupun beliau dari organisasi Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) yang pada saat itu diasosiasikan dengan PKI, akan tetapi saya berpendapat dia adalah seorang Soekarnois.”

Dari bedah buku ini, pada akhirnya terpapar sosok Henk Ngantung, seorang seniman yang mendapatkan kesempatan untuk memegang peran besar sebagai Gubernur DKI Jakarta. Obed mengatakan bahwa “sejarah tidak hanya terdiri dari hitam dan putih, kisah Henk Ngantung semestinya  dikenang oleh masyarakat dan untuk mengenangnya kita harus tahu siapakah sosok seorang Henk Ngantung.” (vka/dit)

Dua Tahun Laboratorium Retail Penuhi Kebutuhan Praktik Mahasiswa
March 26, 2018

Sejak diresmikan pada 27 Februari 2016 lalu, Laboratorium Retail milik Program Manajemen Kepariwisataan Universitas Kristen Petra (UK Petra) telah menyelenggarakan berbagai macam event untuk menarik pengunjung dan memperkenalkan produk Hush Puppies. Event-event ini merupakan garapan para mahasiswa yang tergabung dalam mata kuliah Operasional Outlet. Sebanyak kurang lebih 55 mahasiswa dibagi dalam delapan kelompok, masing-masing kelompok diberi kesempatan untuk mengelola laboratorium selama dua minggu. Masing-masing kelompok juga harus membuat event yang menarik bagi warga kampus UK Petra.

Event terbaru yang diselenggarakan adalah  Mix & Match Contest pada 27 Februari – 2 Maret 2018. Kontes ini terbuka bagi semua pengunjung yang tertarik untuk berpartisipasi. Peserta bebas memilih produk-produk Hush Puppies, mulai dari pakaian hingga asesoris dan mencocokkannya sesuai selera. Sebelumnya peserta mengambil voucher yang bertuliskan budget mulai dari Rp. 500.000,- sampai dengan Rp. 3.000.000,-, produk-produk yang dipilih peserta tidak boleh melebihi budget tersebut. Selanjutnya peserta berfoto dan diunggah ke akun istagram milik Laboratorium Retail. Peserta dengan jumlah likes terbanyak berhak menerima voucher sebesar Rp 250.000,- yang dapat digunakan untuk membeli produk Hush Puppies di Petra Hush Puppies. Total peserta yang berpartisipasi dalam kontes ini sebanyak 11 peserta.

Sejak awal, Laboratorium Retail didirikan untuk menunjang salah satu kurikulum dalam Program Manajemen Kepariwisataan Universitas Kristen Petra (UK Petra) yaitu Applied Course in Mall and Retail Management.  Semakin marak dan berkembangnya sektor bisnis di bidang shopping mall dan industri retail memunculkan peluang kebutuhan sumber daya manusia (SDM) yang berkompeten di bidang retail. Hush Puppies dipilih karena merupakan brand yang cukup support tehadap pendidikan. Laboratorium Retail yang terletak di gedung E UK Petra ini beroperasi setiap hari Senin-Jumat pukul 09.00-17.00 WIB.

Sejak angkatan 2015, semua mahasiswa Manajemen Kepariwisataan mendapat kesempatan untuk praktik di Laboratorium Retail. Mahasiswa semester tujuh juga bisa melaksanakan magang di laboratorium retail ini selama enam bulan. Denny Wongso Kusumo, S.E., MBA., selaku dosen pengampu mata kuliah Operasional Outlet menyatakan bahwa melalui praktik di Laboratorium Retail ini, mahasiswa bisa mendapatkan banyak hal mulai dari kemampuan mendisplay produk, melayani konsumen, dan mengatur stock. “Dulu pernah ada kejadian barang hilang, terdapat selisih jumlah pendapatan dan stock, mahasiswa harus mengganti. Melalui kejadian ini, mereka juga belajar lebih bertanggung jawab,” imbuh Dosen yang juga merupakan Store Supervisor Laboratorium Retail ini. (rut/Aj)

Dayung Ilmoe, Jawara Pinasthika Creativestival ke-18
March 20, 2018

Esther Yulyana berhasil mengharumkan nama Universitas Kristen Petra (UK Petra) dalam kompetisi Pinasthika Creativestival ke-18. Pinasthika Creativestival merupakan kompetisi karya iklan dan desain bagi perusahaan, freelancer dan mahasiswa yang digelar oleh Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia Pengurus Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (P3I Pengda DIY) dan Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat.  Terdapat beberapa kategori dalam kompetisi yang bertemakan Do Well ini, yaitu Ad Student, Urban Idea, Young Film Director, dan Young Graphic Designer. Esther Yulyana meraih juara satu dalam kategori Urban Idea dan menerima penghargaan pada 16 Desember 2017 di Monumen Jogja Kembali, Jogjakarta.

Untuk kategori Urban Idea, peserta diminta merancang solusi kreatif atau program kreatif tentang permasalahan kota. Penilaian kategori Urban Idea meliputi seberapa jauh kreasi ide, program, maupun solusi kreatif yang dapat diciptakan sebagai pemikiran solutif untuk memecahkan masalah ruang publik atau menciptakan inovasi baru. Peserta diberikan delapan pilihan kota atau area yang dapat dijadikan lokasi penerapan ide, antara lain Zona Kota Tua Jakarta, Zona Kotagede Jogjakarta, Zona Braga Bandung, Zona Kota Lama Semarang, Zona Kota Tua Surabaya, Zona Pasar Klewer Solo, Zona Pantai Losari Makassar, dan Zona Pasar 16 Ilir Palembang.

Esther memilih Zona Kota Tua Surabaya dan memilih Sungai Kalimas sebagai lokasi penerapan idenya. Mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra ini membuat program yang di beri nama Dayung Ilmoe yaitu perpustakaan perahu di sungai kalimas Surabaya. Sungai Kalimas memiliki 3 fungsi utama, yaitu sebagai jalur transportasi, sebagai tempat masyarakat untuk mencari mata pencaharian, serta digunakan untuk perdagangan. Tetapi, seiring perkembangan kota Surabaya, kondisi kawasan sekitar Sungai Kalimas mengalami penurunan produktivitas. Konsep kreatif yang dipilih adalah program literasi. Karena melalui literasi dapat meningkatkan minat baca masyarakat Surabaya serta membekali generasi muda di Surabaya untuk siap menyongsong masa depan yang lebih baik, serta dapat mengetahui dan menghargai sejarah kota tua, dan beragam kebudayaan  yang ada di Surabaya.

Didalam perahu terdapat berbagai macam buku, salah satunya adalah buku sejarah kota Surabaya. Selain itu, perahu ini juga menyediakan makanan ringan dan minuman bagi pengunjung. Pengunjung dapat membaca buku dan menyantap makanan nya sambil menyusuri sungai dan melihat beberapa bangunan bersejarah di sepanjang sungai Kalimas. Perahu menyediakan ajang pameran karya tulis dan pengunjung dapat memamerkan karyanya dan dapat dibaca oleh orang lain.

Mengaku tidak menyangka akan meraih juara satu dalam kompetisi ini, Esther mengaku kesulitan terbesarnya saat itu adalah mengatur waktu karena banyaknya tugas Ujian Akhir Semester. Proses pembuatan ide Dayung Ilmu ini memakan waktu kurang lebih tiga minggu. “Melalui kompetisi ini, saya juga berkesempatan bertemu dan berbincang dengan orang-orang hebat salah satunya adalah Diki Satya, VP Content and Distribution  GO-JEK,” ujar mahasiswa angkatan 2015 ini. (rut/padi)

Kesempatan untuk Membuat Perubahan Lebih Baik
March 08, 2018

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kristen (UK) Petra bersama BEM Universitas Pelita Harapan Surabaya dan BEM Universitas Surabaya menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat di kecamatan Wonokromo Surabaya. Acara yang digelar pada Minggu 4 Maret 2018 ini bertajuk “Triple U”, mengacu pada tiga pokok kegiatan yang diadakan dan tiga universitas yang terlibat dalam acara ini.

Acara “Triple U” telah beberapa kali diadakan dan pada tahun 2018 ini mengangkat tema “Grab a Chance to Make a Change” yang memiliki makna seluruh peserta berkeinginan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk melakukan perubahan yang lebih baik.

Kecamatan Wonokromo merupakan salah satu kecamatan di Surabaya yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi, tingkat pendidikan masyarakat yang relatif rendah, dan kondisi lingkungan yang perlu pembenahan di bidang kebersihan dan penghijauan. Sasaran kegiatan dipusatkan di lingkungan Rukun Warga (RW) 07 khususnya di Rukun Tetangga (RT) 07, 09, 12 dan 16. Sebanyak 240 mahasiswa peserta “Triple U” setelah melakukan observasi dan wawancara, menemukan 3 pokok permasalahan yaitu: tidak adanya lahan untuk tanaman, lingkungan yang kumuh dan pendidikan yang relatif rendah. Bertolak dari pengamatan ini, para mahasiswa mengadakan tiga program pembenahan yaitu: pembuatan taman vertikal dari kemasan air mineral, pengecatan kampung berupa pengecatan jalan dan pembuatan mural serta kegiatan belajar mengajar untuk anak-anak di lingkungan tersebut.

Ketua RW 07 Iinsiyah mengapresiasi kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan para mahasiswa ini. Iinsyah mengatakan bahwa program mahasiswa ini tepat guna dan tepat sasaran, dimana dengan adanya taman vertikal membuat lingkungan lebih segar, pengecatan dan mural menghapus kesan kumuh, program belajar mengajar untuk anak-anak di waktu senggang berguna untuk memanfaatkan waktu dengan hal-hal yang positif. Menurutnya kepedulian mahasiswa pada masyarakat dan kerja nyata akan berguna bagi semua pihak. Sejurus dengan itu, ketua panitia kegiatan Triple U, Richard Cahya mengatakan “Mahasiswa sebagai salah satu agen changemaker hendaknya keluar dari zona nyaman untuk menjadi pribadi yang berdampak bagi sesama”.(noel/dit)

Pertolongan Pertama pada Remaja Trauma
March 05, 2018

Tekanan seakan menjadi bagian dari masyarakat modern yang hidup dalam persaingan dalam berbagai bidang, seperti ekonomi, pekerjaan, relasi sosial, bahkan rumah tangga. Hal ini menyebabkan pola kehidupan menjadi rentan terhadap stres. Dampak dari stres yang tidak terkelola adalah seseorang menjadi tidak terampil mengendalikan emosinya dimana salah satu perwujudannya adalah terjadinya tindak kekerasan terhadap anak dan remaja dari orang-orang dewasa di sekitarnya.

Sebagai bentuk kepedulian atas permasalahan ini, Pusat Konseling dan Pengembangan Pribadi (PKPP) Universitas Kristen (UK) Petra menyelenggarakan lokakarya Psychological First Aid (PFA) for Abused Teenager pada 13-14 Februari 2018 di gedung T yang diikuti 35 orang konselor dari sekolah dan gereja. Sebagai narasumber hadir Kuriake Kharismawan, seorang dosen pengajar dan kepala Center for Trauma Recovery Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata, serta konsultan psikososial deputi rehabilitasi rekonstruksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Selama dua hari, Kuriake memaparkan materi yang memberikan empat manfaat utama untuk peserta yaitu (1) peserta memiliki pemahaman penyebab dan dampak dari perilaku kekerasan yang dialami seorang anak; (2) peserta memiliki kemampuan melakukan penilaian awal untuk memahami kondisi yang dialami korban kekerasan; (3) peserta mampu membuat rujukan pertolongan dengan psikoedukasi bagi keluarga korban kekerasan; (4) peserta memiliki keterampilan melakukan teknik stabilisasi seperti relaksasi, emotional freedom technique, dan  progressive muscle relaxation.

Di hari pertama, materi yang diberikan Kuriake berupa pengayaan wawasan terkait dengan anak dan remaja, stres, trauma beserta dampak-dampak dari stress dan trauma, dan prinsip-prinsip dasar PFA. Dengan pemahaman yang baik pada psikologi anak dan remaja maka peserta diharapkan mampu untuk berempati dan menolong mereka sebagai penyintas kekerasan. Stres dan trauma berkaitan erat dan pemahaman yang baik atas gejala dan dampaknya memungkinkan konselor untuk menentukan metode terbaik untuk membantu penyintas. Prinsip dasar PFA adalah memberikan pertolongan psikologis pertama pada penyintas untuk mencegah memburuknya kondisi psikologis. Secara garis besar, hari pertama lokakarya memenuhi dua tujuan pertama lokarya seperti disebut di atas.

Di hari kedua, para peserta mendapatkan paparan tentang tindakan yang sebaiknya diberikan sebagai PFA. Diawali dengan pemahaman atas pentingnya stabilisasi, yaitu upaya untuk memberikan kondisi pikiran yang kondusif dan nyaman bagi penyintas. Seorang yang mengalami trauma selain perlu diberikan pemenuhan rasa aman dan kebutuhan mendasar, juga perlu berada dalam kondisi yang stabil dan tenang. Tindakan lebih lanjut ketika kondisi penyintas tidak stabil justru memungkinkan timbulnya kecemasan baru. Seusai diberikan pemahaman mengenai stabilisasi, peserta mendapatkan pelatihan progressive muscle relaxation atau relaksasi otot. Manfaat dari teknik ini adalah untuk merelaksasi kondisi pikiran melalui olah otot. Penekanan utama pada relaksasi otot adalah menstimulasi otak untuk menyadari kemampuannya untuk memilih. Ketika penyintas sudah stabil dan relaks, teknik Emotional Freedom Technique (EFT) diaplikasikan untuk menumbuhkan resiliensi pada penyintas. Teknik ini adalah alat bantu psikoterapi yang dapat dilakukan oleh penyintas sendiri untuk merawat berbagai gangguan psikologis. EFT berdasarkan ilmu titik-titik energi tubuh (akupunktur) dan pemrograman neurolinguistik. Teknik ini dilakukan dengan mengajak penyintas merefleksi pikiran-pikiran negatif yang ada dan secara bersamaan mengetuk-ngetuk titik-titik energi yang berhubungan dengan emosi sedih, marah, cemas, panik, dan takut.

Dra. Lanny Herawati, Kepala PKPP menyampaikan harapannya kepada para peserta lokakarya ini, “bangun kepekaan pada tanda-tanda korban kekerasan atau perundungan, lakukanlah kepedulian dengan memberi kelegaan emosi dan terjadinya resiliensi”. (noel/dit)

Tingkatkan Kepedulian Terhadap Anak Indonesia
February 26, 2018

Mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra berhasil menorehkan prestasi nasional dalam kompetisi Communication Awards (CA) yang diselenggarakan oleh Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (KOMAKOM UMY). Communication Awards memiliki empat kategori lomba yaitu Print Ad, Corporate Social Responsibility, Integrated Campaign, dan Festival Film Gadget. Cornelli Kwanda meraih juara dua dalam kategori Print Ad, Robby Gunawan dan Andreas Evan Christopher yang tergabung dalam tim Terima Kasih meraih juara dua dalam kategori Integrated Campaign. Tim Cinestar Film yang beranggotakan William Sanjaya, Jeremy Adrian Sutanto, dan Ivana Hardiyanti Wijaya meraih juara dua dan predikat sinematografi terbaik dalam kategori Festival Film Gadget.

Kategori Print Ad mengangkat tema “Robot Kecil yang Malang”, diinspirasi dari banyak kasus tentang pekerja anak yang luput dari pandangan masyarakat. Cornelli Kwanda membuat poster dengan judul “Tangisku Bahagiamu”. Cornelli fokus kepada anak-anak pekerja di bidang tekstil yang merupakan hal lumrah di industri tersebut. Dibuat kurang lebih tiga hari, poster berisi gambar label pakaian yang tertera tulisan made by kids, 65%  child’s sweats, dan 35% child’s tears. “Pesan yang ingin saya sampaikan adalah supaya masyarakat sadar bahwa pakaian yang mereka gunakan itu merupakan hasil kerja keras anak-anak dan saya harap masyarakat tidak mendukung perusahaan yang mempekerjakan anak-anak,” ujar mahasiswa angkatan 2015 ini.

Kategori Integrated Campaign, tema pada babak penyisihan adalah “Kotak Ajaib”. Seringkali gadget dipandang sebagai hal yang negatif saja, tetapi ada banyak manfaat gadget bagi pertumbuhan anak-anak. Peserta diminta membuat kampanye kreatif kepada orang tua usia 21-40 tahun agar menggunakan gadget untuk membantu tumbuh kembang anak layaknya kotak ajaib. Tim Terima Kasih membuat Rapor Digital yang merupakan laporan atau evaluasi hasil belajar anak di rumah tentang penggunaan gadget. Rapor Digital memiliki sistem kebalikan dengan rapor sekolah pada umumnya, karena pengisian rapor digital ini dilakukan oleh orang tua dan ditujukan untuk wali kelas anak di sekolah. Tujuan dari rapor digital ini agar orang tua sadar bahwa anak dapat tumbuh dan berkembang dengan gadget jika orang tua terlibat di dalamnya. Setelah diumumkan menjadi finalis, tim Terima Kasih dan empat tim finalis lainnya mengikuti babak final di Jogyakarta. Pada babak final ini, finalis diminta membuat kampanye kreatif kepada masyarakat usia usia 40-60 tahun tentang suatu produk obat diabetes agar dapat dikenal di taraf Nasional tanpa melalui media televisi. Ide tim Terima Kasih adalah dengan mengadakan event bagi-bagi manisnya jajanan Jogja, tim ini menjatuhkan pilihan pada Yangko. Event ini dilakukan dengan membagi-bagikan yangko di area sekitar Jalan Malioboro Jogyakarta. Yangko dilengkapi pesan tentang bahaya diabetes dan solusi pada bagian kemasannya.

Kategori Festival Film Gadget, tema yang dipilih adalah “Bully pada Anak-Anak”. Tim Cinestar Film membuat film berdurasi lima menit yang berjudul “Dibalik Kalbuku”. Berkisah tentang nostalgia seorang anak Sekolah Dasar (SD) yang menjadi korban bully dan akhirnya memutuskan untuk bunuh diri. Film yang proses pembuatannya sekitar dua minggu ini ingin menyampaikan pesan bahwa bully harus dicegah dan dihindari. Keunikan dari film ini adalah cinematografinya, dimana film ini menggunakan point of view karakter utamanya. “Setelah mengikuti lomba ini, banyak hal yang bisa saya dapat melalui workshop yang diadakan, saya bisa banyak belajar tentang dunia perfilman,” ungkap William Sanjaya. (rut/padi)

Mahasiswi DKV UK Petra: “doview” Berhasil Sabet Gold dalam Ajang BG Award Citra Pariwara
February 24, 2018

Biasanya apa yang menyebabkan kita enggan berdonasi pada sebuah organisasi nirlaba? Salah satunya adalah konsistensi berdonasi dengan jumlah nominal uang yang jika dihitung per tahun lumayan besar. Lalu bagaimana caranya mengajak masyarakat berdonasi, tetapi tanpa merasa mengeluarkan uang? Joy Gloria Harendza dan Nita Elviani Limman, dua orang mahasiswi Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra menggagas ide “doview” (donate by view) hingga berhasil menyabet gelar Gold pada BG Award Citra Pariwara 2017 lalu yang diselenggarakan oleh Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) di Jakarta.

Kompetisi ini langsung memberikan kasus nyata pada para peserta. Sebagai obyeknya menggunakan Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia (Pita Kuning), merupakan yayasan filantropi bagi anak dengan kanker yang berdiri atas inisiasi komunitas sukarelawan muda yang menamakan dirinya Community for Children with Cancer (C3). Pelayanan Yayasan Pita Kuning memberikan perawatan paliatif dan pedampingan psikologis bagi pasien anak dengan kanker. Bagaimana cara kerja “doview” ini? Ide unik dari Joy dan Nita mengambil konsep dengan menggandeng Youtubers untuk mendonasikan 10% hasil pendapatannya yang didapat dari jumlah viewers dan subscribers pada Pita Kuning setiap bulannya selama minimal satu tahun. “Jadi dengan demikian bukan dalam bentuk uang yang diberikan pada yayasan tersebut, tetapi Youtube yang akan memberikannya pada Pita Kuning itu. Jika dihitung, nominal itu besar apalagi jika Youtubersnya adalah orang yang sudah sangat terkenal”, urai Joy.

Dengan menggunakan tanda pagar (tagar) #SAYAPITAKUNING, hal ini digunakan sebagai penanda bagi para Youtubers yang berpartisipasi dalam kampanye ini. Cara kerjanya, Youtubers akan memberitahu para penontonnya di awal atau di akhir video tentang kampanye ini. sekali dalam satu bulan, Yayasan Pita Kuning akan mengirimkan sebuah bingkisan dari anak-anak yang tergabung dalam Yayasan Pita Kuning kepada para pencipta video sebagai wujud rasa terima kasih mereka karena telah bergabung dalam program ini. Para pencipta video bisa memasukkan bingkisan tersebut sebagai konten di kanal (saluran Youtube) mereka.

Sebelum menentukan ide ini, Joy dan Nita melakukan riset kecil ke beberapa teman mereka sehingga akhirnya mereka mendapatkan kesimpulan mengapa anak muda masih merasa enggan untuk berdonasi. Targetnya menyasar anak muda baik pria maupun wanita berusia 25-40 tahun yang senang menggunakan internet dan gawai. Menurut penelitian dari laman ”we are social” dan “hootsuite”, media sosial yang tertinggi penggunaannya adalah Youtube. Sedangkan anak muda ini salah satu kebutuhannya adalah menonton Youtube untuk mengisi waktu luangnya. “Kami menyelesaikan ide ini hanya dalam dua hari sejak taklimat yang diberikan oleh panitia kami terima, jadi waktunya sangat terbatas”, urai Nita.

Tak sia-sia usaha keras mereka, dengan menyisihkan 53 peserta dari tujuh universitas yang ada di Indonesia. Joy dan Nita berhasil mendapatkan piala, sertifikat, dan kesempatan belajar mengenai periklanan dengan menghadiri acara AdFest di Thailand selama dua hari besok bulan 23-24 Maret 2018 yang akan datang. “Rasanya tak percaya bahwa kami bisa menjuarai perlombaan periklanan yang bergengsi di Jakarta ini. Banyak pengetahuan baru yang didapatkan, bahkan kami juga sudah ditawari bekerja di beberapa agensi periklanan saat malam penganugerahan pemenang”, urai keduanya mantap. (Aj/dit)

UK Petra Jadi Tuan Rumah Lokakarya Pembuatan Dokumen Penjaminan Mutu Internal
February 21, 2018

Dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Permenristekdikti) no. 44 tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT) dan Permenristekdikti no 62 tahun 2016 tentang Sistem Penjaminan Mutu Internal, maka setiap perguruan tinggi mempunyai kewajiban melaksanakan penjaminan mutu perguruan tingginya sesuai dengan standar-standar yang telah ditetapkan.

Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Wilayah VII Jawa Timur bekerja sama dengan Universitas Kristen Petra (UK Petra) menyelenggarakan lokakarya penyusunan dokumen Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Dr. Dra. Jenny Mochtar, M.A. dan Drs. Heri Saptono Warpindyasmoro, M.Si. menjadi narasumber dalam lokakarya yang diikuti oleh 57 Kepala Lembaga Penjaminan Mutu atau dosen yang ditugaskan untuk menyusun dokumen mutu dari berbagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Jawa Timur. Acara yang dilaksanakan di ruang T 417 UK Petra pada 12-13 Februari 2018 ini dibuka oleh Ketua APTISI Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr. Suko Wiyono, S.H. M.Hum. Dalam sambutannya, beliau mengungkapkan bahwa SPMI sangat penting bagi PTS disamping peraturan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) yang semakin ketat dan sistem yang serba daring. “Saya berterima kasih kepada UK Petra yang bersedia menjadi tuan rumah sekaligus menjadi narasumber. Saya memilih UK Petra karena merupakan Perguruan Tinggi Swasta terbaik di Jawa Timur, semoga bisa ditularkan kepada kita,” ungkap Prof. Dr. Suko Wiyono, S.H. M.Hum.

Tujuan dari lokakarya ini adalah agar peserta memiliki pemahaman mengenai kebijakan Sistem Penjaminan Mutu (SPM), kebijakan SPMI dan SNPT yang komprehensif, peserta juga memiliki pengetahuan tentang langkah-langkah penyusunan dokumen SPMI meliputi kebijakan SPMI, standar SPMI, manual SPMI, dan formulir SPMI. Kemudian peserta mampu mengidentifikasi standar turunan dan standar pendidikan tinggi yang melampaui standar nasional pendidikan tinggi. Peserta juga diharapkan mampu menyusun standar perguruan tinggi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan sesuai dengan visi dan misi perguruan tingginya. Selain itu, standar-standar perlu dijabarkan langkah-langkah Penetapannya, Pelaksanaannya, Evaluasinya, Pengendaliannya dan Peningkatannya (PPEPP) sehingga sistem penjaminan mutu di perguruan tinggi dapat dilaksanakan secara terstruktur, objektif, berdasarkan data, transparan dan akuntabel.

Pada sesi pertama, Dr. Dra. Jenny Mochtar, M.A. berbicara tentang Kebijakan Nasional Sistem Penjaminan Mutu Internal. “Melalui lokakarya ini kita melihat kembali standar perguruan tinggi masing-masing dan mulai menyusun kembali berdasarkan karakteristik masing-masing perguruan tinggi. Otonomi dan mandiri adalah kunci dari SPMI,” jelas Mantan Kepala Lembaga Penjaminan Mutu UK Petra ini. Pada sesi kedua, Drs. Heri Saptono Warpindyasmoro, M.Si. berbicara mengenai Sistem Penjaminan Mutu Eksternal. Pada sesi berikutnya peserta berlatih menyusun Kebijakan SPMI, latihan penyusunan standar SPMI, latihan penyusunan manual SPMI, latihan penyusunan formulir SPMI, dan presentasi hasil penyusunan dokumen SPMI. Kepala Penjaminan Mutu UK Petra periode 2017-2021, Dr. Dra. Gan Shu San, M.Sc. juga turut menjadi peserta acara ini.

Lokakarya pembuatan dokumen Penjaminan Mutu Internal (SPMI) kembali digelar pada 19-20 Februari 2018, karena peminat yang banyak. Lokakarya putaran kedua ini dilaksanakan di ruang konferensi 4 dan diikuti oleh 66 peserta.

Salah satu peserta dari STT Cahya Surya kota Kediri, Tutus Praningki, M.Kom., mengungkapkan, “Lokakarya ini sangat bermanfaat bagi saya yang nantinya bertugas untuk menyusun SPMI bagi perguruan tinggi saya. Walaupun mungkin sedikit sulit karena saya adalah seorang pemula, tapi dengan mengikuti kegiatan ini saya mendapatkan banyak pengetahuan.” (rut/dit)

Rebut Dua Medali Perak Nasional Lewat Disiplin dan Kerja Keras
February 21, 2018

Aurelia Inggrid Setiono, seorang mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Petra (Ilkom UK Petra), membuktikan bahwa tanpa bakat sejak lahirpun, dapat meraih segudang prestasi. Ia berhasil meraih medali perak pada Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) cabang olah raga renang yang diadakan di Makassar pada bulan Oktober tahun 2017 lalu. POMNAS merupakan salah satu kompetisi olah raga tingkat nasional yang cukup bergengsi pada kalangan mahasiswa. Dengan  membawa pulang dua medali perak, itu artinya Inggrid berhasil mengharumkan kota Jawa Timur di kancah nasional.

Inggrid, panggilan akrabnya, mengatakan bahwa berenang bukanlah bakat yang ia temukan dengan begitu saja. Ia mulai belajar berenang sejak masih berusia Taman Kanak-Kanak (TK). Tak terbayang sama sekali bahwa ia akan menjadi atlit renang, bahkan diakuinya pada mulanya ia tidak menyukai olah raga renang. Akan tetapi berkat dorongan ayahnya, Inggrid memutuskan untuk terus berlatih renang secara rutin dan masuk ke kelas prestasi. Melalui latihan rutin ini pada akhirnya Inggrid menemukan kecintaannya pada dunia renang.

Sudah cukup banyak prestasi yang digenggam oleh gadis kelahiran 9 Oktober 1998 ini. Bersama dengan sembilan orang lainnya, Inggrid maju mewakili Jawa Timur pada kompetisi POMNAS. Di kompetisi ini Inggrid berhasil membawakan renang melalui nomor beregu estafet gaya ganti dan estafet gaya bebas. Dua medali perak tersebut tidak direbutnya dengan begitu saja, ada proses yang harus dilaluinya. Inggrid mengakui banyak pengorbanan yang dilakukan demi memenangkan kompetisi bergengsi ini.

“Saya sempat mengalami kesulitan karena Kompetisi POMNAS kala itu diadakan berbarengan dengan Ujian Tengah Semester UK Petra. Akan tetapi kampus telah banyak membantu saya,” urai mahasiswi yang juga menjadi 10 besar IPK tertinggi di Fakultas Ilmu Komunikasi UK Petra Surabaya. Sebelum mengikuti POMNAS ini, Inggrid harus mengikuti tahap penyisihan di POMDA (Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah) terlebih dahulu, ia berhasil menyabet dua medali emas di nomor 50 meter gaya bebas dan 50 meter gaya kupu-kupu.

Saat ini, Inggrid telah menjadi seorang pengajar renang. Menjadi seorang pengajar renang membuatnya merasa bangga dan semakin yakin terhadap masa depannya sebagai atlit renang. Kesuksesan yang telah diraih dalam olahraga ini membuatnya semakin termotivasi untuk terus berlatih dengan disiplin. Bukan bakat murni yang membawanya mencapai prestasi gemilang, akan tetapi sesuai dengan motto hidupnya, Inggrid berkata bahwa “success is the usum of small efforts, repeated day-in and day out.” (kesuksesan adalah buah dari usaha-usaha kecil yang diulang hari demi hari). (vka/Aj)

Cita-Citakan Kualitas Pendidikan Lebih Baik
February 13, 2018

The Regional English Language Office (RELO) United States (US) Embassy mengadakan EPIC Camp yang merupakan kegiatan pelatihan bagi calon-calon guru Bahasa Inggris di seluruh Indonesia dan Timor Leste untuk meningkatkan kualitas pendidikan serta pendidik bahasa Inggris di Indonesia. Camp yang diikuti oleh 43 mahasiswa tingkat akhir dari ini bertujuan untuk memberikan wadah bagi preservice English teacher untuk selalu berinovasi di bidang pendidikan dan pengajaran serta mempersiapkannya menjadi profesional teacher. Kali ini, EPIC Camp diadakan di Hotel Singgasana Surabaya pada 8 Januari – 19 Januari 2018. Synthia Santoso, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Kristen Petra (UK Petra) berhasil berpartisipasi dalam EPIC Camp ke-4 ini. Synthia memiliki pengalaman menjadi guru les privat bagi siswa Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Saat mendaftarkan diri, Synthia mengisi form yang berisi menguraikan motivasinya mengikuti camp dan mencari dua surat rekomendasi dari Kepala Program Studi dan dosen. Selain mengisi waktu liburan, motivasi Synthia mengikuti camp ini adalah menantang diri sendiri dengan berpartisipasi dalam kegiatan ini. Terdapat enam pembicara yang berasal dari Amerika yang disebut fellows dan empat orang pembicara yang berasal dari Universitas Indonesia (UI) yang disebut facilitator.  Melalui camp ini, fellows dan facilitator memberikan materi mengenai teknik mengajar yang menarik dan menyenangkan. EPIC Camp (campers) diberi kesempatan untuk berdiskusi setelah mendengarkan materi dari pembicara dan dapat langsung praktik mengajar di kelas dengan teknik yang dimiliki. Para campers juga didampingi oleh counsellor, alumni EPIC Camp terpilih, hal ini membuktikan bahwa hubungan baik masih terjaga bahkan setelah kegiatan ini telah berakhir. “Para fellows dan facilitator menyampaikan materi dengan teknik yang berbeda-beda, menarik, dan unik, kami bahkan tidak sadar bahwa kami sedang diberikan materi, ada yang mengajar dengan permainan, bahkan musik,” ujar mahasiswa semester delapan ini.

Tidak hanya dilatih untuk menjadi guru yang profesional, campers juga diperkenalkan dengan budaya Amerika, seperti menari, sikap saat berkemah, dan lain-lain dalam sesi America Moment. Mahasiswa kelahiran Kotabaru ini mengaku awalnya mengalami beberapa kesulitan diantaranya adalah culture shock, merubah kebiasaan dan minder, “Peserta lainnya merupakan orang-orang yang sangat tertarik dalam hal mengajar dan memiliki banyak pengalaman,” ungkapnya. Synthia mengungkapkan bahwa setiap guru itu special dan memiliki keunikan mengajar masing-masing. Setelah mengikuti camp ini, ia bercita-cita untuk membuat wadah bagi guru les privat yang dapat menghubungkan guru dengan karakter tertentu dan murid dengan kebutuhan tertentu yang sesuai, serta mengimbangi dengan gaji yang layak.

Setelah pulang dari camp, campers bisa mendapatkan manfaat stay Connected dengan seluruh campers dan para fellows. Mereka dapat bertukar ide, informasi dan mendapatkan lebih banyak jaringan, karena setelah camp selesai, para campers harus berkontribusi dengan cara membuat kegiatan-kegiatan dan dapat mengundang fellows atau campers lain. Dari kegiatan inilah proses pematangan materi yang sudah dibawa pulang sedang berproses. “Selama dua minggu saya mengikuti camp ini, saya benar-benar enjoy dan senang, saya mendapatkan banyak pengetahuan dan teman-teman baru yang luar biasa,” ungkap alumni SMA Kristen Petra 5 ini. (rut/padi)

Rolly Intan Raih Gelar Honoris Causa dari Dongseo University, Busan-Korea Selatan
February 09, 2018

Rektor Universitas Kristen Petra periode 2009-2017, Prof. Rolly Intan, Dr.Eng. baru saja menerima gelar doctor honoris causa (Dr. HC) di bidang Business Administration dari Dongseo University, Busan-Korea Selatan. Penganugerahan berlangsung pada hari ini Jumat, tanggal 9 Februari 2018 bertempat di kampus Dongseo University (DSU), Busan-Korea Selatan mulai pukul 11 siang waktu setempat.

“Saya merasa kaget dan tidak menduga akan menerima penghargaan ini tetapi saya merasa sangat terhormat. Mereka menilai saya layak mendapatkan gelar ini khususnya di bidang leadership dan manajemen. Terima kasih sekali kepada Dongseo University di Korea Selatan atas kerjasamanya selama ini. Supportnya sungguh besar pada beberapa program yang telah dilakukan secara bersama dengan Universitas Kristen Petra”, ungkap Prof. Dr. (HC) Rolly Intan, Dr.Eng. yang masih berada di Korea saat dihubungi via telepon. Penganugerahan gelar kehormatan ini dilakukan bersamaan dengan upacara wisuda mahasiswa Dongseo University, Busan-Korea Selatan yang dihadiri oleh tamu undangan kehormatan, Chancellor DSU, Rektor DSU dan Rektor UK Petra periode 2017-2021, Prof. Djwantoro Hardjito,Ph.D.

Prof. Dr. (HC) Rolly Intan, Dr.Eng. sempat memberikan sambutannya. Beliau mengungkapkan perasaannya mengenai penganugerahan ini sekaligus harapan ke depannya. “Saya yakin kedepannya UK Petra yang kini dipimpin oleh Prof. Djwantoro Hardjito, Ph.D. akan membuat kerjasama dengan DSU semakin lebih intens dan bermanfaat bagi masyarakat sehingga kehadiran universitas di tengah-tengah masyarakat akan mampu menaikkan taraf kehidupan masyarakat”.

Rektor UK Petra, Prof. Djwantoro Hardjito, Ph.D. yang turut hadir dalam penganugerahan ini mengungkapkan kegembiraannya. “Prestasi Prof. Dr. (HC) Rolly Intan, Dr.Eng benar-benar membuat keluarga besar Universitas Kristen Petra berbangga atas prestasi yang telah diterimanya. Hal ini menandai tonggak sejarah lain dalam persahabatan dan kolaborasi panjang antara Universitas Kristen Petra dengan Dongseo University sejak tahun 1996. Kolaborasi aktif dengan Dong Seo University di berbagai bidang ini amat penting untuk untuk terus dikembangkan, terlebih di masa Revolusi Industri 4.0, yang menghadapkan kita pada banyak tantangan dan sekaligus peluang”, ungkap Prof. Djwantoro.

Berbagai kegiatan yang berkesinambungan tahun demi tahun antara Universitas Kristen Petra, Indonesia-Surabaya dengan Dongseo University, Busan-Korea Selatan antara lain:

  1. Asia Summer Program (sejak 2012) – UKP dan DSU sebagai founders;
  2. Partisipasi UKP dalam Asia University Presidents Forum atas rekomendasi DSU (sejak 2012);
  3. Penyelenggaraan Dual Degree Program (2+2) in Film (sejak 2014) dan Digital Media (sejak 2016);
  4. Pembukaan King Sejong Institute Surabaya di UKP (2015);
  5. Pembukaan E-Class Korean, bekerjasama dengan Korean Association of Network Industries (2017).

    [gallery ids="1071,1072,1070"]

 

UK Petra Lantik Wakil Rektor dan Pejabat Struktural Periode 2017-2021
February 08, 2018

Kali ini Universitas Kristen Petra (UK Petra) kembali menggelar agenda penting yaitu pelantikan Wakil Rektor, Dekan, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), Kepala Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), dan Kepala Departemen Mata Kuliah Umum (DMU) periode 2017-2021. Bertempat di Auditorium UK Petra, prosesi pelantikan dilaksanakan pada hari Jumat, 2 Februari 2018 mulai pukul 10.00 WIB. Pdt. Wahyu Pramudya, M.Th. yang mengawali acara pelantikan ini mengutip dari 1 Samuel 7:12. Dalam dunia ini, manusia butuh “pembatas” salah satunya adalah masa jabatan. Sebuah batas bukan selalu berbicara tentang akhir, tetapi juga berbicara tentang awal yang baru. “Kali ini bagi pejabat struktural yang lama, inilah batas anda, syukuri apa yang telah dilewati, rayakan pertolongan Tuhan sambil menengok kebelakang, mengevaluasi apa yang telah kita lakukan dan apa yang kelak akan dilakukan untuk menjadi lebih baik,” ujar hamba Tuhan dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Ngagel ini.

Acara dilanjutkan dengan pelantikan dan serah terima jabatan dari pejabat struktural lama kepada pejabat struktural yang baru. Dr. Dra. Jenny Mochtar, M.A. terpilih sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik, Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum dan Keuangan dipercayakan kembali kepada Agus Arianto Toly, S.E., Ak., M.S.A. Sedangkan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dipegang oleh R. Arja Angka A. A. A. Sadjiarto, S.E., M.Ak., Ak. Setelah pelantikan para Wakil Rektor, acara dilanjutkan kembali dengan pelantikan dekan. Berdasarkan SK no.20 /Kept/YPTK/I/2018 tanggal 29 Januari 2018, Dekan Fakultas Sastra dipercayakan kepada Dwi Setiawan, S.S., MA-ELT., Ph.D., Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan dipercayakan pada Dr. Rudy Setiawan, S.T., M.T. berdasar SK no.22 /Kept/YPTK/I/2018 tanggal 29 Januari 2018. Mengakhiri masa jabatannya sebagai Kepala LPPM, Berdasarkan SK no.24 /Kept/YPTK/I/2018 tanggal 29 Januari 2018, Dr. Juliana Anggono, S.T., M.Sc. kini dipercaya menjadi Dekan Fakultas Teknologi Industri periode 2017-2021.

Berdasarkan SK no.26 /Kept/YPTK/I/2018 tanggal 29 Januari 2018, Ricky, S.E., MRE., Ed.D. terpilih menjadi Dekan Fakultas Ekonomi, Dr. Yusita Kusumarini, S.Sn., M.Ds. dan Dr. Drs. Ido Prijana Hadi., M.Ds. kembali mengemban tugas sebagai Dekan Fakultas Seni dan Desain sesuai dengan SK no.28 /Kept/YPTK/I/2018 tanggal 29 Januari 2018 dan Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi periode 2017-2021 sesuai dengan SK no.30 /Kept/YPTK/I/2018 tanggal 29 Januari 2018. Dr. Drs. Ribut Basuki, M.A. dilantik menjadi Kepala LPPM berdasarkan SK no.32 /Kept/YPTK/I/2018 tanggal 29 Januari 2018. Kepala LPM yang baru dipegang oleh Dr. Dra. Gan Shu San, M.Sc., sesuai dengan SK no.34 /Kept/YPTK/I/2018 tanggal 29 Januari 2018. Sedangkan berdasarkan SK no.24 /Kept/UKP/II/2018 tanggal 1 Februari 2018, Ketua Departemen Mata Kuliah Umum periode 2017-2021 dipercayakan kepada Dr. Ir. Ekadewi Anggraini Handoyo, M.Sc.

Setelah pelantikan dan doa peneguhan bagi para pejabat struktural yang baru, Rektor UK Petra memberikan sambutannya. “Tak lupa saya mengucapkan terima kasih atas pelayanan para pejabat struktural yang lama. Sungguh sebuah anugerah besar bagi kampus UK Petra. Saya mewakili seluruh keluarga besar UK Petra juga mengucapkan selamat kepada pejabat baru periode 2017-2021 yang telah dilantik, saya percaya bahwa tanggung jawab yang baru yang telah didoakan dan akan dijalani selama empat tahun kedepan ini merupakan kesempatan dan kehormatan untuk menjadi rekan sekerja Allah untuk mewujudkan rencanaNya di UK Petra,” ungkap Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng.(rut/Aj)

Sampaikan Pesan Lewat Media Film Pendek
February 07, 2018
Dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen Petra (UK Petra) menorehkan prestasi dalam Kompetisi Film Pendek 2017 yang diadakan oleh Dharma Wanita Persatuan Surabaya dan Independen Film Surabaya (INFIS) bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Maria Nala Damayanti, S.Sn., M.Hum. bersama tim diumumkan meraih juara tiga pada 17 Desember 2017 di Balai Pemuda Surabaya. Kompetisi membuat film pendek ini terdiri dari beberapa kategori yaitu ibu, Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Madrasah Aliyah (MA). Kompetisi ini diawali dengan workshop film bagi murid SMP/MTs dan ibu pada tanggal 10 November 2017. Setelah itu, para peserta dirujuk untuk mengikuti kompetisi film pendek ini. Peserta diminta membuat film pendek dengan durasi maksimal lima menit dengan tema besar “Inspirasiku”. Selanjutnya peserta mengumpulkan hasil karya film pendek pada tanggal 5 Desember 2017. “Saya ingin mendorong perempuan untuk berani berekspresi karena perempuan pasti punya perspektif tersendiri dalam melihat suatu permasalahan, film adalah media yang sangat dekat dengan kita dan sebagai penyampai pesan yang punya daya jangkau luas,” ungkap Maria Nala Damayanti, S.Sn., M.Hum.
Dalam pembuatan film pendek ini, dosen yang akrab disapa Maya ini berperan sebagai sutradara, produser, dan script writer. Dosen kelahiran Kediri ini dibantu rekan dosen DKV UK Petra dan beberapa mahasiswa DKV UK Petra yang berperan sebagai director of photography ilustrator, animator, dan editor. Maya dan tim membuat film pendek berjudul “Opsi” yang mengisahkan tentang ibu tunggal yang memiliki dua anak. Sang ibu memiliki kebiasaan yaitu selalu membacakan dongeng sebelum anaknya tidur. Suatu malam, sang ibu terlalu sibuk bekerja, sehingga tidak bisa membacakan dongeng bagi anaknya. Saat melihat anaknya yang telah tidur, ia menemukan kertas bertuliskan “aku sayang ibu” di tangan anaknya. Pesan yang ingin disampaikan melalui film pendek yang proses pembuatannya kurang lebih tiga minggu ini adalah membangun kebiasaan dengan anak akan selalu membekas, itu yang memperkuat ikatan antara ibu dan anak. “Kisah dalam film pendek ini, saya justru terinspirasi dari anak bungsu saya, yang setiap hendak tidur selalu minta untuk digarukkan. Hanya dalam film ini saya ganti dengan kebiasaan mendongeng karena lebih umum bagi masyarakat,” ujar ibu dua anak tersebut.
Sebelum membuat film pendek ini, dosen yang sejak tahun 2001 mengabdi di UK Petra ini melemparkan suatu unggahan di facebook untuk mengetahui respon masyarakat tentang isu ibu. Isi dari unggahan tersebut adalah apa yang kamu ingat dari ibu? Dan hasilnya cukup banyak respon positif yang didapat. Keunikan dari film pendek ini yaitu adanya unsur animasi dan menampilkan kesenian lainnya yaitu tari balet. Balet dipilih karena merupakan tarian klasik dan merupakan salah satu budaya yang cukup tinggi. Selama proses pembuatan film pendek ini, Maya mengaku mengalami beberapa kendala, diantaranya adalah membagi waktu, mencari talent, dan keterbatasan waktu. “Membagi dan menyesuaikan waktu dengan tim dan talent cukup sulit, karena kami punya kesibukan masing-masing,” terang dosen kelahiran tahun 1971 ini. Maya dan tim berhasil mengalahkan 20 tim lainnya pada kategori ibu dan berhak mendapatkan piagam dan piala. (rut/padi)
Sabet Best Desain untuk SOHO Design Competition
January 31, 2018

Semakin minimnya lahan tanah yang ada maka tak heran saat ini para penduduk di kota mulai mengemari hunian keatas. Apartemen pun menjadi salah satu pilihan gaya hidup masyarakat perkotaan. Akan tetapi bagaimana membuat apartemen yang nyaman di tinggali sekaligus menjadi kantor? Pemikiran inilah yang mendasari tiga mahasiswi Program Studi Desain Interior (DI) Universitas Kristen Petra (UK Petra) membuat OMAHUB!, an multifunction apartment yang kemudian berhasil menyabet Best Desaign kategori mahasiswa dalam SOHO Design Competition digelar oleh Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) pada tanggal 9 Januari 2018 yang lalu di Jakarta. Mereka adalah Melissa Ardani, Evania Tjandra Khosasih dan Natasya Angelina yang merupakan mahasiswi semester 5 Prodi DI UK Petra.

OMAHUB! merupakan sebuah small office home office (SOHO) yang terletak disebuah apartement di pusat kota Surabaya dengan luasan 42 m2 dan tinggi 3 meter. Ini disesuaikan dengan syarat perlombaan yang diminta mendesain hunian dan kantor dengan luasan antara 36 m2. “Kami mendesain dengan skenario untuk para professional muda yang dapat dihuni dua hingga 3 orang. Jadi apartement tersebut dapat dijadikan sebagai tempat bekerja, bertemu client, menerima tamu hingga tempat berkumpul dengan keluarga”, rinci Melissa. Omah diambil dari bahasa Jawa yang memiliki arti rumah, sedangkan Hub merupakan pusat dari aktifitas. Sehingga OMAHUB ini sebagai pusat aktivitas yang termasuk green building, dwi fungsi dan multi fungsi dengan didukung teknologi masa depan.

Aspek green building meliputi banyak hal yaitu penghawaan alami yaitu memiliki fitur yang mendapatkan penghawaan alami dan ditambah AC dengan sistem eco. Material juga dipikirkan dengan matang menggunakan sustainable dan low-emission yaitu material utamanya kayu, cork dan concert. Cork ini sebagai peredam suara sedangkan concrete mampu meningkatkan kualitas udara dalam ruangan sehingga biaya sedikit untuk perawatan. Tak lupa juga menggunakan Plumbing Fixture yaitu peralatan mandi yang mampu menghemat air lebih banyak dengan menggunakan limbah air wastafel sebagai flush toilet.

Uniknya, desain ini memiliki tiga layout yang berbeda jika dijabarkan yaitu situasi pagi hari, situasi kantor dan situasi di malam hari. Ini dikarenakan menggunakan smart partion yang mampu mengubah beragam situasi tersebut. “Cara kerjanya menggunakan rel dibawahnya yang mampu mengubah fungsi area dari tempat bekerja menjadi ruang tidur didukung dengan LED yang mampu berubah warna sesuai dengan kebutuhan”, urai Evania.

Tim ini juga mempertimbangkan pemilihan warna di setiap sisi dengan memilih warna coklat, biru, hijau dan orange yang mana memiliki artinya masing-masing. Misalnya saja, pemilihan warna biru memberikan efek untuk menstimulasi produktivitas, simbol dari jiwa muda. Sehingga membuat mood yang ceria, fresh, tenang sekaligus membuat ruangan terasa lebih luas. Desain OMAHUB! memiliki banyak keunikan sehingga tak heran mampu mengalahkan … pesaing dari … universitas yang ada di Indonesia. Kekuatan utama desain ini terletak pada lesehan yang disediakan sehingga nuansa local contentnya sangat terasa. “Jadi dalam apartemen ini nantinya para penghuninya bisa juga leyeh-leyeh seperti konsep rumah pada umumnya, sangat menyenangkan sebab biasanya itu yang tidak didapatkan pada fungsi apartemen pada umumnya”, ungkap Natasya.

Desain yang lengkap dan apik ini tak heran berhasil memboyong hadiah sebesar Rp. 20.000.000, Trophy dan sertifikat dengan gelar sebagai best design. Pengalaman yang menyenangkan ini sangat membekas bagi ketiga mahasiswi DI UK Petra tersebut. “Kami sama-sama mendapat pengalaman dan pembelajaran baru bahwa jangan takut memberikan ide, lepas dan dituangkan saja. Jangan pernah merasa jago akan tetapi hauslah akan belajar banyak hal sebab di dunia luar masih banyak hal yang lebih bagus dari yang kita punya. Jika ada kesempatan diambil saja”, urai ketiganya mantap. (Aj/padi)

DKV UK Petra Dukung Perubahan Image Dolly Lewat Fashion Show
January 30, 2018

Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen Petra (UKP) bekerjasama dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya menyelenggarakan acara bertajuk “Terima kasih Bunda Semangatmu adalah Inspirasi dan Motivasi Kami” yang diadakan dalam rangka merayakan hari Ibu. Acara ini digelar pada Kamis, 21 Desember 2017 di Dolly Saiki Point, Jalan Putat Jaya Lebar, Surabaya.

Berangkat dari tugas akhir karya salah satu alumni DKV UK Petra, Gracia  Asterina, yang berjudul Dollymorphosa, DKV UK Petra mewujudkannya dalam bentuk fashion show.

Konsep Dollymorphosa adalah upaya mempromosikan produk batik dari tiga usaha kecil dan menengah (UKM) Rumah Batik yaitu Alpujabar, Jarak Arum dan Canting Surya, yang dikemas melalui fashion fotografi. Gracia mencoba menonjolkan nilai batik-batik yang unik yaitu selain dikerjakan oleh masyarakat kampung Dolly, juga menceritakan latar belakang kehidupan dan budaya disana melalui motif-motif batiknya. Gracia menampilkan model mengenakan batik dengan latar belakang kampung Dolly yang legendaris. Dolly dan metamorphosa adalah konsep yang diusung Gracia, yang melekat di setiap detail fotonya, mulai dari pilihan busana yang dikenakan model, pemilihan lokasi bahkan simbolisasi waktu, pagi dan malam. “Saya tertarik mempromosikan tiga UKM dari Rumah Batik Dolly ini pada masyarakat luar sebab kualitasnya sangat baik akan tetapi promosinya kurang menarik. Saya memilih jalur promosi ke dalam tampilan visual fashion fotografi yang segar dan fashionable dengan menyasar kalangan anak muda”, urai Gracia.

Tujuan acara Dolly Saiki Point adalah membantu meningkatkan promosi UKM Dolly terutama batik, sepatu dan tas. Promosi dikemas ke dalam bentuk penyelenggaraan acara yang menampilkan hasil karya kolaborasi dosen, mahasiswa dan pemilik UKM. Acara Fashion show  dibawakan oleh enam model yang  mengenakan produk batik dari UKM Rumah Batik. Bersamaan dengan itu dipajang kurang lebih 15 karya fashion fotografi Gracia Asterina.

Fashion show ini diselenggarakan sekaligus menjadi penutup rangkaian acara Dolly Saiki Point. “fashion show UK Petra menampilkan enam model yang akan mengenakan 12 baju dari bahan batik dan sepatu UKM di Dolly. Enam baju diantaranya merupakan baju yang ada di karya Gracia Asterina”, ungkap Luri Renaningtyas., S.T., M.Ds, dosen DKV dan penanggung jawab acara.

Kegiatan ini sekaligus mengkampanyekan campaign zero waste, yaitu tidak membuang kain sama sekali. Rizki Ramadityo, mahasiswa DKV semester 7 yang bertugas menjadi stylish dalam acara fashion show, membuat pakaian zero waste yang dikenakan para model, yaitu kain dibentuk menjadi baju, celana, kulot, dress, dan lainnya tanpa perlu dijahit dan membuang kainnya.“Saya ingin mengangkat nilai jual dan merubah image Dolly terutama ingin membuat batiknya dikenal masyarakat luas” ujar Rizki Ramadityo. (rut/dit)

5 Pustakawan Peroleh Jay Jordan IFLA/ OCLC Early Career Development Program
January 17, 2018

Pustakawan UK Petra Chandra Pratama Setiawan berhasil memperoleh Jay Jordan IFLA/ OCLC Early Career Development Fellowship Program, yaitu program bergengsi yang disponsori oleh IFLA dan OCLC di Ohio, US, yang memberikan kesempatan pengembangan pendidikan dan profesional pustakawan untuk pustakawan dari negara berkembang. Hanya 5 pustakawan muda yang dipilih dari berbagai negara berkembang di dunia. Program berlangsung dari 17 Maret s.d. 13 April 2018. Semoga bisa menginspirasi pustakawan muda lainnya.

 

---

 

2018 Fellows are from Ethiopia, Indonesia, Jamaica, Kenya, and Romania

DUBLIN, Ohio, 15 January 2018OCLC, along with the International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA), has named five librarians selected to participate in the Jay Jordan IFLA/OCLC Early Career Development Fellowship Program for 2018. The program supports library and information science professionals from countries with developing economies.

The IFLA/OCLC Fellowship Program provides advanced continuing education and exposure to a broad range of issues in information technologies, library operations and global cooperative librarianship. With the selection of the five Fellows for the class of 2018, the program will have welcomed 90 librarians and information science professionals from 40 different countries.

The 2018 IFLA/OCLC Fellows are:

  • Alehegn Adane Kinde, University of Gondar, Ethiopia
  • Arnold Mwanzu, International Centre of Insect Physiology & Ecology (icipe), Kenya
  • Irina Livia Niţu, National Library of Romania, Romania
  • Chantelle Richardson, National Library of Jamaica, Jamaica
  • Chandra Pratama Setiawan, Petra Christian University, Indonesia

“The IFLA/OCLC Fellowship Program continues to have an impact on libraries and librarians around the world since its inception 17 years ago,” said Skip Prichard, OCLC President and CEO. “The program offers experiences, ideas, connections and inspiration to the talented professionals who are selected to participate. They take what they learn here to implement new and innovative programs in their home countries. They go on to become leaders and champions of libraries, to shape the future of libraries and librarianship in different parts of the world, ready and eager to inspire others.”

During the four-week program, from 17 March through 13 April, the Fellows participate in discussions with library and information science leaders, library visits and professional development activities. The program is based at OCLC headquarters in Dublin, Ohio, USA.

“Library cooperation, as I’ve experienced and learned about from OCLC, will go a long way in helping Nigerian libraries meet the information needs of the most populous country in Africa,” said Idowu Adegbilero-Iwari, a 2016 IFLA/OCLC Fellow from Nigeria.

“I now see things from a different point of view,” said Rhea Jade Nabuson, 2016 Fellow from Philippines. “I am a better librarian, ready to overcome challenges faced by Philippine libraries.”

“The program has equipped me to further my career,” said Patience Ngizi-Hara, 2017 Fellow from Zambia. “It has been life-changing.”

The selection committee for the 2018 Fellowship program included: Ingrid Bon, IFLA; Sarah Kaddu, National Library of Uganda; and Nancy Lensenmayer, OCLC.

Watch a brief video interview with Rashidah Bolhassan, from Malaysia, who was part of the very first IFLA/OCLC Fellows class. She is now the CEO of the Sarawak State Library in Malaysia.

Read more about the IFLA/OCLC Fellowship Program on the OCLC Next blog.

About IFLA

The International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA) is the leading international body representing the interests of library and information services and their users. It is the global voice of the library and information profession. Founded in 1927 in Edinburgh, Scotland at an international conference, we now have more than 1,400 Members in over 140 countries around the world. IFLA was registered in the Netherlands in 1971. The Royal Library, the national library of the Netherlands, in The Hague, generously provides the facilities for our headquarters.

About OCLC

OCLC is a nonprofit global library cooperative providing shared technology services, original research and community programs so that libraries can better fuel learning, research and innovation. Through OCLC, member libraries cooperatively produce and maintain WorldCat, the most comprehensive global network of data about library collections and services. Libraries gain efficiencies through OCLC’s WorldShare, a complete set of library management applications and services built on an open, cloud-based platform. It is through collaboration and sharing of the world’s collected knowledge that libraries can help people find answers they need to solve problems. Together as OCLC, member libraries, staff and partners make breakthroughs possible.

OCLC, WorldCat, WorldCat.org, and WorldShare are trademarks and/or service marks of OCLC Online Computer Library Center, Inc. Third-party product, service and business names are trademarks and/or service marks of their respective owners.