A CARING AND GLOBAL UNIVERSITY WITH COMMITMENT TO CHRISTIAN VALUES

Berita

Ketua Program Studi dan Pengelola Keuangan Berprestasi Tingkat Kopertis VII
October 08, 2017

Peningkatan kualitas pendidikan dan pelayanan bagi mahasiswa adalah hal yang penting dalam dunia pendidikan tinggi. Untuk mendukungnya, Kementerian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) sebagai badan regulasi yang terkait memprogramkan kegiatan penghargaan bagi para tenaga pendidikan tinggi yang berprestasi. Dua wakil dari UK Petra mendapatkan penghargaan ini pada periode 2017. Berikut adalah penggalan kisah prestasi kedua wakil berprestasi UK Petra ini.

Eunike Kristi Julistiono, S.T., M.Des.Sc.

Juara II Ketua Prodi Berprestasi

Pemilihan Kaprodi Berprestasi bertujuan memberikan penghargaan pada Kaprodi yang telah berhasil berperan sebagai ujung tombak pelaksanaan pembelajaran di perguruan tinggi. Dalam pemilihan kali ini, Eunike yang adalah Ketua Program Studi Arsitektur UK Petra ini mengajukan karya inovasi dengan judul “International Joint Workshop dalam rangka Internasionalisasi". Inovasinya dilatarbelakangi kesulitan merintis program internasional untuk prodi Arsitektur yang disebabkan oleh adanya perbedaan kurikulum bersistem studio dan masa studi yang berbeda-beda dari berbagai universitas mancanegara. Solusi yang diusungnya adalah dengan merintis hubungan kemitraan internasional melalui kegiatan joint workshop. 2 Joint workshop sudah dapat dilaksanakan di tahun 2016, baik di Surabaya (dengan menerima 52 mahasiswa dari UTAR), maupun di luar negeri (dengan mengirim 10 mahasiswa mengikuti workshop 4th PAAU di Taichung, Taiwan). Karya inovasinya ini mengantarkannya meraih juara II Ketua Program Studi Berprestai 2017 tingkat Kopertis 7.

Eunike merasa senang berkesempatan bertemu dan belajar dari para Kaprodi universitas lain. Ia membagikan bahwa ketika diminta mengikuti kompetisi ini, ia sebenarnya tidak merasa berprestasi, karena merasa selama ini hanya berusaha melakukan tugas saya dengan sebaik-baiknya dalam memajukan Prodi Arsitektur dan UK Petra. Namun ia sangat bersyukur karena dengan masuk menjadi 3 besar, ia tidak mengecewakan UK Petra. Eunike mengatakan, “Saat kita dipercaya untuk suatu tugas, setia selalu dan lakukan yang terbaik, maka Tuhan yang akan menuntaskan untuk kita. Karena ketika Tuhan memberi tugas, Dia juga yang akan memperlengkapi, memberkati dan menyertai kita sampai selesai”.

Dra. Supit Bahlava Wakti

Juara III Pengelola Keuangan Berprestasi

Pemberian penghargaan Pengelola Keuangan Berprestasi dari Kemenristekdikti adalah bentuk apresiasi dan rekognisi untuk peningkatan transparansi dan akuntabilitas di bidang keuangan. Dalam pemilihan periode 2017 ini, Supit mengajukan karya inovasi unggul bidang keuangan dengan judul “Mekanisme Pengelolaan Anggaran Berbasis Outcome melalui Optimalisasi Penggunaan Software AGR”. Penyusunan, pelaporan, dan pencatatan anggaran adalah rangkaian kegiatan yang panjang yang dilakukan di seluruh bagian universitas. Dengan menggunakan software khas AGR sebagai alat bantu, Badan Administrasi Keuangan UK Petra mempermudah pengelolaan anggaran bagi semua pihak yang terkait. Karya tulisnya meraih posisi Juara III Pengelola Keuangan Berprestasi. Hal ini patut disyukuri mengingat peserta pengelola keuangan Berprestasi lainnya mempunyai latar belakang dan kompetensi sebagai akuntan profesional dan tenaga pendidikan berpengalaman.

Persona pendidikan yang sudah 26 tahun mengabdi di UK Petra ini bersyukur dapat berpartisipasi meskipun pada awalnya ia merasa kurang mampu untuk mengikuti pemilihan Pengelola Keuangan Berprestasi. Akan tetapi dukungan dan bantuan yang diberikan pimpinan dan rekannya memberikan motivasi dan semangat untuk mengikuti kompetisi ini. Diakuinya dengan jujur bahwa membuat karya tulis itu tidak mudah, sangat menantang dan butuh perjuangan. Selama ini ia selalu berfokus pada pekerjaannya dan tidak pernah terpikirkan untuk membuat karya tulis. Namun setelah mengikuti kegiatan ini dan mendapatkan apresiasi, ia bersyukur karena bisa lebih melihat dinamika kehidupan di dunia pendidikan yang lebih luas. Ia mengatakan, “Tidak ada kata terlambat, jangan menyerah dan jangan takut melangkah dan jangan takut untuk menggunakan kesempatan yang ada. Mengenai hasil, itu adalah anugerah-Nya semata”. (noel)

Praktisi Keuangan yang Menguasai Teknologi
October 08, 2017

Ilmu pengetahuan dan teknologi akan terus berkembang, ini adalah dinamika waktu yang perlu diterima semua kalangan. Belakangan ini, seluruh aspek kehidupan manusia sudah terpengaruhi oleh kemajuan teknologi. Kemajuan ini membawa berbagai kemudahan dan pengembangan di berbagai lini, termasuk di dunia industri keuangan. Financial Technology (Fintech) adalah bentuk kemajuan  dan terobosan baru di industri keuangan, begitu juga Robo Advice. Kemajuan ini membawa pula peluang dan juga ancaman di sisi lain. Fakultas Ekonomi dan Program Manajemen Keuangan Universitas Kristen Petra menyelenggarakan seminar bertajuk “Peran Fintech dan Robo Advice” pada tanggal 24 Agustus 2017 untuk membahas peluang dan ancaman yang ada di industri keuangan dalam atmosfer perkembangan teknologi informasi ini.Seminar ini menampilkan praktisi dan akademisi dunia keuangan sebagai narasumber, yaitu: Tri Djoko Santoso, CFP (R) Ketua Financial Planning Standard Board (FPSB) Indonesia; dan Dra. Nanik Linawati, M.M., CFP (R) Kepala Bidang Studi Personal Finance di Program Manajemen Keuangan UK Petra. Seminar ini merupakan seminar pertama dari rangkaian acara dalam Investment Festival yang digelar pada tanggal 24-27 Agustus 2017 di Mall Grand City Surabaya untuk memperingati 10 tahun Program Manajemen Keuangan UK Petra.

Berbarengan dengan ini, kemajuan teknologi telah mengubah wajah aktivitas di industri keuangan. Peningkatan aksesibilitas internet menyebabkan perilaku belanja berubah dengan porsi pembelanjaan daring via internet semakin tinggi seiring berjalannya waktu. Transaksi perdagangan modal yang semula dilakukan dan berpusat di tempat eksklusif menjadi bisa dilaksanakan dimana saja. Metode pembayaran juga mengalami pergeseran ke arah pembayaran cashless (tanpa uang).

Kombinasi meningkatnya potensi pasar dan teknologi ini menimbulkan beberapa dampak. Kemajuan Fintech membuat peluang investasi menjadi terbuka ke lebih banyak orang yang karenanya volume investasi akan juga meningkat. Di sisi positif, akan ada lebih banyak orang yang membutuhkan keahlian seorang financial planner. Di sini Robo Advisors hadir menjembatani pemakai jasa keuangan yang semakin banyak ini. Robo advisors adalah konsultan keuangan dengan bantuan program atau aplikasi. Seorang financial planner akan bisa memanfaatkan Fintech ini untuk bisa menjangkau lebih banyak orang yang membutuhkan jasanya. Di sisi yang lain, timbul kebutuhan untuk menguasai teknologi tersebut agar tidak ketinggalan jaman dan kalah bersaing.

Tri menyampaikan bahwa praktisi keuangan perlu siap untuk menghadapi dinamika pasar. Perkembangan Fintech dan pemakaian Robo Advice akan menjadi ancaman bagi orang yang tidak siap menghadapi perkembangan, akan tetapi menjadi peluang bagi orang yang menguasainya. Maka dari itu, bagi seorang praktisi keuangan adalah suatu keharusan untuk menguasai teknologi informasi. Mengenai keharusan untuk selalu berupaya meningkatkan keahlian dan menyesuaikan dengan kondisi pasar, Tri mengatakan, “Ibaratnya orang bersepeda, agar tetap seimbang, kita harus terus mengayuh”. Sejurus dengan itu, Nanik mengatakan bahwa setiap entrepreneur perlu bisa beradaptasi dengan irama pasar yang pasti dan terus berubah. Akan tetapi, menurutnya ada beberapa hal mendasar yang memang akan selalu tetap diperlukan yang juga dibekalkan pada para mahasiswa di programnya, yaitu: penguasaan bahasa, etika, dan integritas. (noel/padi)

Empat Mahasiswa UK Petra Raih Hibah Kemenristekdikti Melalui Wall Insulation
October 08, 2017

Pemanasan Global membuat suhu udara di Indonesia semakin meningkat. Pengkondisi Udara (AC) dirasa menjadi solusi yang tepat untuk semakin meningkatnya suhu udara di Indonesia. Namun, pemasangan AC pada rumah atau gedung di Indonesia membawa akibat semakin meningkatnya konsumsi energi listrik, yang secara tidak langsung pemborosan energi dan bahan bakar fosil. Sehingga perlu ada cara untuk dapat meminimalkan penggunaan AC di tengah suhu udara yang semakin panas ini. Wall Insulation, sebuah lapisan pada dinding ruangan yang digunakan untuk memperkecil rambatan panas melalui dinding. Hal yang sederhana dan mudah dilakukan akan tetapi bisa dimanfaatkan untuk menghemat energi. Bagaimana bisa? Tentu saja bisa. Berkat penelitian empat mahasiswa Program Studi Teknik Mesin Universitas Kristen Petra (U.K. Petra) inilah akhirnya kita bisa mereduksi biaya penggunaan listrik meski menggunakan AC didalam rumah. Penelitian bertajuk “Penggunaan Wall Insulation Pada Rumah di Surabaya Untuk Mengurangi Kebutuhan Kapasitas AC” ini berhasil memperoleh hibah dari dari Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) beberapa waktu yang lalu sebesar Rp. 10.000.000,-.

Keempat mahasiswa tersebut ialah Gabriel Jeremy, Rio Grafika, Stephanie Cristie Rosalie dan Andriono Slamet yang berhasil menemukan inovasi tersebut. Jenis insulasi yang mereka manfaatkan adalah glasswool dengan density/kerapatan 16 kg/m3 menggunakan ketebalan optimum sebesar 10 centimeter. Hasilnya cukup signifikan, dengan ketebalan wall insulation 10 centimeter maka energi listrik yang dikonsumsi menurun hingga 33,33%, sedangkan penurunan biaya yang dikeluarkan sebesar 29,87%. “Di Indonesia, glasswool sebenarnya merupakan barang yang sudah biasa ditemukan di Indonesia, akan tetapi masyarakat masih tidak familiar menggunakannya. Sehingga dampak positifnya pun tidak pernah terdengar di Indonesia. Padahal seiring dengan berjalannya waktu dan semakin parahnya pemanasan global dan kebutuhan AC semakin tidak terelakkan. Maka penelitian mengenai penggunaan wall insulation di Indonesia harus mulai mendapat perhatian lebih untuk mengantisipasi kebutuhan kapasitas AC yang akan semakin besar”, ungkap Stephanie mahasiswi angkatan 2014.

Manfaat penggunaan wall insulation ini sendiri selain dapat meredam suara ternyata juga dapat meredam panas. Para mahasiswa ini telah mengujinya pada sebuah replika ruangan yang ada di kampus UK Petra dengan dimensi 1 meter x 1.2 meter x 1.7 meter dilengkapi dengan air conditioner ½ PK. Caranya wall insulation dipasang pada dinding terlebih dahulu pada rangka yang telah disiapkan dan ditutup dengan papan triplek untuk tempat memasang termokopel pada dinding yang sudah dilapisi wall insulation. Mereka melakukan percobaan sebanyak tiga kali pada ruangan yaitu tanpa glasswoll, dengan wall insulation setebal 5 centimer dan wall insulation setebal 10 centimeter. Mereka menguji coba dengan menyalakan AC pada temperatur 230C mulai pukul 11.00-15.00 WIB. Hasil pengujian sangat berbeda, jika AC dinyalakan di ruangan tanpa glasswoll maka konsumsi listriknya mencapai 0,77 kWh untuk 4 jam,  sedangkan pada ruangan dengan wall insulation setebal 5 centimer memerlukan 0,54 kWh dan paling sedikit ketika menggunakan wall insulation setebal 10 centimeter, yaitu hanya 0,5 kWh untuk pemakaian 4 jam. “Ini membuktikan bahwa wall insulation mampu menjadi alternatif jawaban untuk mengurangi jumlah energi listrik yang dikonsumsi dengan penggunaan AC pada rumah dan gedung di Indonesia. Akan tetapi kelemahan menggunakan metode ini maka luas ruangan akan berkurang sedikit”, urai Stephanie. Di lain kesempatan Kepala Program Studi Teknik Mesin UK Petra, Dr. Ir. Ekadewi Anggraini Handoyo, M.Sc menyatakan sangat gembira bahwa anak didiknya mampu membantu permasalahan yang sedang di hadapi yaitu pemanasan global. “Mereka mampu mengaplikasikan materi  yang didapatkan di kelas untuk membantu masyarakat sekitar, itulah yang akhirnya membuat mereka berhasil mendapatkan hibah dari Kemenristekdikti”, ungkap dosen berkacamata ini. (Aj)

Hadapi Tantangan Internasional dengan Serifikasi Profesi Insinyur
October 06, 2017

Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar ke-4 di dunia. Besarnya populasi ini menyiratkan besarnya potensi dalam bentuk tenaga kerja. Di sisi lain ada tantangan yang didapati untuk bisa mengaktualisasi potensi ini. Tenaga kerja dari Indonesia dipersepsi sebagai tenaga kerja tidak berkeahlian atau berkeahlian menengah sehingga apresiasi yang sepantasnya tidak didapatkan di lingkup internasional. Untuk mengubah persepsi ini, diperlukan adanya standarisasi dan sertifikasi yang baik atas para profesional ini. Dalam UU no. 11 tahun 2014 diregulasikan ketentuan khusus terhadap bagian dari profesi yang ada di Indonesia, yaitu insinyur. Menanggapi regulasi ini, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menerbitkan Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 35 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Program Profesi insinyur.

Program Profesi Insinyur (PPI) U.K. Petra yang berada dalam Fakultas Teknologi Industri berawal dari mandat yang ditetapkan oleh Kemenristekdikti melalui SK Menristekdikti no. 201/KPT/I/2017. Dari sekitar lebih dari 4000 perguruan tinggi (PT) yang ada di Indonesia, U.K. Petra adalah satu dari 40 PT yang ditunjuk menyelenggarakan pendidikan PPI. PPI UK Petra ini sendiri diresmikan pada tanggal 8 September 2017 melalui acara Launching Program Profesi Insinyur yang mengangkat tajuk “Urgensi Sertifikasi Profesi Insinyur di Era Persaingan Global”. Seminar yang dilaksanakan di Ruang Konferensi 4, Gedung Radius Prawiro lantai 10 ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu: Drs. Kresnayana Yahya, M.Sc., dari Enciety Bussines Consult; Prof. Ir. Benjamin Lumantarna, M.Eng., Ph.D., dosen di Program Studi Teknik Sipil U.K. Petra; dan Ir. Rudyanto Handojo, IPM., Direktur Eksekutif Persatuan Insinyur Indonesia (PII).

Seminar yang dihadiri sekitar 120 orang tersebut dimoderatori oleh Dr. Daniel Rohi, S.T., M.Eng.Sc. mengawali seminar dengan pertanyaan berikut: Mengapa Sarjana Teknik masih perlu mengambil sertifikasi lagi? Benjamin merespon dengan memaparkan bahwa seorang yang profesional memiliki pola pikir positif dimana ia akan selalu melakukan lebih dari yang diminta peraturan. Sejurus dengan Benjamin, Rudyanto menambahkan bahwa tuntutan sertifikasi tambahan bagi para sarjana teknik berawal dari dorongan yang disebabkan oleh kepentingan internasional. Ia mengangkat bahwa sejak Desember 2015, terkait dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN, terbuka akses bagi insinyur dari luar negeri untuk berkarya di Indonesia. Problematika yang muncul adalah insinyur dari negara tetangga dilihat sebagai professional engineer, yang diapresiasi berbeda dengan insinyur Indonesia. Menurut Rudyanto, sertifikasi profesi insinyur adalah langkah awal untuk mencapai kesetaraan dengan insinyur luar negeri. Kresnayana mengangkat bahwa urgensi untuk sertifikasi lebih lanjut ini berakar dari semakin spesifiknya kebutuhan di industri dan adanya keragaman tingkat keahlian dari pemegang ijasah yang sama. Hal ini menimbulkan tuntutan standardisasi keahlian profesi.

Berikutnya dberikan gambaran mengenai prospek dalam dunia profesi keinsinyuran. Rudyanto mengabarkan bahwa organisasi profesinya, PII, akan bisa menjembatani para profesional Indoensia dengan kesempatan bukan hanya di lingkup ASEAN saja, melainkan dalam lingkup internasional. Selain itu, di dalam negeri sendiri ada kebutuhan besar yang sudah ada di depan mata, dalam bentuk pembangunan infrastruktur negara dimana kita dalam 5 tahun ini (sejak 2014) membangun infrastruktur sebesar 5.500 triliun rupiah. Lebih dari dua kali lipat pembangunan infrastruktur di 5 tahun sebelumnya.

Dari paparan di seminar ini, sebagai closing statement, Daniel menyimpulkan bahwa ada urgensi untuk sertifikasi profesi insinyur yang muncul dari tuntutan internasional. Selain itu ada peluang besar yang bisa diraih para profesional yang sudah tersertifikasi baik di dalam negeri mau pun di luar negeri. Tanti Octavia, S.T., M.Eng., Kepala Program PPI UK Petra mengundang segenap insinyur untuk mengatasi tantangan ini dan juga meraih kesempatan yang ada. Ia mengucapkan, “It’s your time now to become a professional engineer. So come and join PPI Petra”. (noel/Aj)

Adiwarna 2017: Karyakarsa Karya untuk Masyarakat
October 06, 2017

Kreativitas dan inovasi mahasiswa Universitas Kristen Petra (U.K. Petra) terus dikembangkan dalam hal seni dan desain. Hal ini diimplementasikan melalui pameran Adiwarna 2017 yang digelar oleh Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) U.K. Petra. Adiwarna 2017 merupakan gelaran tahunan pameran tugas akhir mahasiswa jurusan DKV Universitas Kristen Petra. Terdapat beberapa rangkaian kegiatan Adiwarna 2017 antara lain adalah pameran karya tugas akhir, talkshow peran desain dalam merespon keadaan, talkshow peluang di Industri kreatif, workshop kreatif, screening film, bedah karya peserta pameran, bazaar kreatif, bursa karir dan penutupan Adiwarna 2017 berupa acara awarding night dan acara musik.

Salah satu tujuan kegiatan Adiwarna 2017 adalah untuk memperkenalkan peran desainer dalam menciptakan solusi kreatif terhadap problematika yang terjadi di masyarakat. Oleh sebab itu, tema yang diangkat tahun ini adalah Karyakarsa. “Karyakarsa sengaja diangkat untuk membuka pengetahuan masyarakat bahwa lulusan DKV UK Petra yang berkarya ini tidak hanya untuk memikirkan estetika saja namun juga dilatih memiliki pola pikir problem-solver dari berbagai permasalahan yang dihadapi”, urai Oscar selaku ketua panitia acara Adiwarna 2017. Selain itu, gelaran Adiwarna kali ini bertujuan sebagai sarana prestasi, sarana apresiasi, dan sarana edukatif.

Pameran tugas akhir mahasiswa DKV angkatan 2013 ini diadakan selama tiga hari di Grand Atrium Pakuwon Mall yakni pada tanggal 11 Agustus hingga 13 Agustus 2017. Gelaran Adiwarna kali ini menampilkan 55 karya terbaik dari seluruh mahasiswa Program Studi DKV angkatan 2013. 55 karya terbaik ini akan dipilih oleh para dosen, tanpa dibatasi oleh penjurusan yang ada dalam program studi. Jenis karya yang dipamerkan antara lain berupa komik, campaign, branding, pengembangan packaging, produk, fotografi, video, buku interaktif, dan media promosi. Semua karya ini dibuat dengan latar belakang permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat.

Sedangkan, rangkaian acara talkshow diadakan pada tanggal 12 Agustus 2017 di Ruang Audio Visual Gedung T Lantai 5 (AVT.502) dengan mengangkat topik “Merespon keadaan dengan desain”. Talkshow Adiwarna 2017 menghadirkan dua pembicara yakni Irwan Ahmett dan Antitank.  Kedua pembicara ini mengimplementasikan sebuah seni dan desain sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap kondisi disekitar lingkungannya. Karya yang dihasilkan beragam, seperti  berupa kegiatan bersama dan menghasilkan karya serta poster untuk menunjukkan aspirasi dan opini. Selain itu, terdapat rangkaian workshop Wood Cut Art Work bersama komunitas Mata Rante pada hari Sabtu, 12 Agustus 2017.

Berbeda dari tahun sebelumnya, Adiwarna 2017 juga menampilkan job fair dan creative market. Job fair diadakan untuk mengenalkan calon fresh graduate dengan perusahaan yang sesuai dengan bidang Desain Komunikasi Visual (DKV). Tidak hanya mengenalkan mahasiswa pada perusahaan, namun juga mengenalkan perusahaan pada mahasiswa. Salah satu harapannya adalah adanya kerja sama yang terjalin antara mahasiswa dengan perusahaan karena karya desain yang dihasilkan (fsc/Aj).

Light Pipe, Solusi Pencahayaan Alami pada Pemukiman Padat Penduduk
October 05, 2017

Inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat, itulah hasil karya para mahasiswa Program Studi Arsitektur UK Petra yang mendapatkan hibah dari Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) beberapa waktu yang lalu. Light Pipe Daur Ulang: Solusi Ekonomis Pencahayaan Alami untuk Pemukiman Padat, itulah judul ide inovasi yang ditawarkan dan berhasil mendapatkan hibah sebesar Rp. 8.500.000,00. Light Pipe ini sudah diterapkan di dua rumah.

Kedua rumah yang telah dipasang alat ini adalah rumah Keluarga Aderahman dan rumah Keluarga Ibu Didi di jalan Siwalankerto Selatan. Apakah Light Pipe itu? Light Pipe merupakan alat yang berguna untuk meneruskan cahaya matahari ke dalam bangunan di lahan yang padat. Ialah Elisabeth Kathryn, Chefania, Samantha Isabela Ongkowijoyo dan Andrew Laksmana yang mengerjakan proyek ini. Mereka memanfaatkan bahan daur ulang yakni kaleng biskuit bekas untuk menyusun alat ini. Beberapa saat setelah pemasangan Light Pipe pada rumah warga, tim sempat melakukan pengukuran intensitas cahaya yang diperoleh. “Hasilnya lumayan. Kalo siang hari tidak perlu menyalakan lampu dan artinya saya bisa menghemat pengeluaran listrik. Biasanya dalam satu bulan saya mengeluarkan uang Rp. 400.000-450.000 untuk biaya listrik kini setelah menggunakan Light Pipe saya cukup mengeluarkan biaya sekitar Rp. 350.000 saja. Jadi saya bisa menghemat uang sekitar Rp. 50.000-Rp 100.000”, urai Ibu Didi sang pemilik rumah.

Kepadatan penduduklah yang kemudian menyebabkan permukiman di kota besar menjadi berhimpitan satu sama lain, terutama pada pemukiman masyarakat ekonomi lemah. Tanpa sadari, rumah tidak dapat memperoleh pencahayaan alami yang memadai karena terbatasnya jendela. “Ruangan menjadi gelap dan tidak sehat akibat minimnya pencahayaan alami sehingga harus menggunakan lampu sepanjang hari. Dengan hadirnya Light Pipe maka konsumsi energi listrik dapat dikurangi serta kenyamanan dan kesehatan penghuni dapat ditingkatkan. Cahaya yang dihasilkan dari light pipe bersifat diffused (tidak langsung) sehingga tidak menambah beban panas dan tidak menyilaukan”, urai Elisabeth selaku ketua pelaksana kegiatan.

Bahan yang digunakan untuk membuat Light Pipe ini sangat mudah didapatkan dan dikerjakan serta murah harganya. Sehingga sangat memungkinkan jika alat ini dibuat dan dipasang secara mandiri oleh warga sekitar. Bahan yang diperlukan untuk membuat sebuah light pipe daur ulang adalah kaleng bekas kemasan biskuit secukupnya (yang disusun vertikal keatas, sesuai jarak plafon dan atap), mangkuk kaca berbentuk setengah bola sebagai receiver matahari, dan kaca yang dilapis oleh stiker buram sebagai diffuser cahaya. Kaleng dipilih karena memiliki sifat metal yang kuat dan tahan lama serta memiliki permukaan dalam yang reflektif sehingga dapat memantulkan cahaya. Perekat antar kaleng menggunakan lem epoxy, sedangkan perekat mangkuk dan kaca menggunakan silicon sealant. Selain itu, alat yang dibutuhkan adalah pemotong tutup kaleng. Jika di kalkulasikan, biaya pembuatannya pun tak lebih dari Rp. 25.000,00. Sehingga penemuan ini sangatlah mudah untuk diaplikasikan pada masyarakat. “Kaleng bekas yang digunakan adalah kaleng standar berdiameter 15 cm dan jumlahnya tergantung dari jarak tinggi antara plafon dengan atapnya. Pada jarak kurang lebih 1 meter cukup menggunakan 7 kaleng bekas saja. Proses perawatannya pun cukup mudah, cukup dengan membersihkan mangkuk kaca dan diffuser cahaya setiap 1 tahun sekali dan memperhatikan kondisi perekatnya saja”, tutup Elisabeth. (Aj/padi)

Suguhkan Makanan Ala China di Restauran Hong Yuan
September 29, 2017

Inovasi dan kreativitas terus digerakkan oleh Universitas Kristen Petra, terutama agar mahasiswa tidak berhenti belajar dan dapat mengimplementasikan teori di kelas dalam hal praktek. Mahasiswa program studi Manajemen Perhotelan Universitas Kristen Petra (UK Petra) Surabaya kembali membuka hotel dan restauran untuk salah satu ajang praktek sebagai latihan di dunia kerja nanti, dimana setiap semester genap, mahasiswa semester enam akan melakukan praktek materi kuliah Manajemen Operasional Hotel (MOH) ini.

Bernuansa China, kali ini HongYuan Hotel and Restaurant menyajikan aneka pilihan menu China yang menjadi favorit banyak orang. Kata “Hong” yang berarti merah dan melambangkan keberanian dan juga kebahagiaan dan “Yuan” yang berarti taman. Tema yang dipilih adalah “Chinese Garden”, karena suasana tenang dan nyaman seperti taman di negeri China memiliki nuansa yang santai dan orang-orang dapat merasakan ketenangan yang dapat menenangkan pikiran. Suasana dari taman negeri China tersebut diterapkan ke dalam dekorasi. Seluruh “Hong Yuan” staf memiliki nama panggilan yaitu “Golden Squad” yang memiliki arti sesuatu yang berharga dan saling menghargai satu sama lain.

Restauran ini dibuka sejak tanggal 18 April 2017 hingga berakhir pada 8 Juni 2017, Hong Yuan Hotel and Restaurant dibuka setiap hari Selasa sampai Jumat dengan jam operasional mulai dari pukul 09.00 wib sampai dengan 20.30 wib. Hong Yuan Hotel and Restaurant memiliki beberapa menu special dari makanan, minuman dan makanan penutup (dessert). Menu makanan spesialnya adalah ‘Golden Cock’, terbuat dari irisan ayam yang dibalut dengan tepung dan digoreng, kemudian dimasak bersama bumbu special telur asin dan disajikan bersama nasi goreng special ala HONGYUAN. Sedangkan untuk minuman adalah Hong Suan, minuman ini special karena bahan utamanya adalah manisan kiamboi China yang di top up dengan soda. Untuk menu dessert spesial adalah Hong Tian, dessert yang berisi red velvet cake dengan cream cheese disajikan dengan mandarin sauce dan juga homemade caramel popcorn.

Mahasiswa Program Manajemen Perhotelan semester enam ini yang sedang praktek ini dibagi menjadi beberapa departemen yakni Service, Pastry, Produk, House Keeping, dan Front Office dimana setiap 5 hari,  mahasiswa diputar untuk berganti departemen. Kendati berjalan dengan sukses, namun mahasiswa manajemen perhotelan ini bukan berarti tidak menemukan kendala. “Banyak kendala yang kami lalui dalam pembukaan dan operasional HONGYUAN ini. Kendala yang kami lalui seperti adanya perbedaan pendapat antara para Golden Squad satu sama lain sehingga memerlukan waktu untuk diskusi untuk penyelesaiannya, selain itu kendala kami juga pada kualitas kontrol setiap produk yang memiliki rasa yang berbeda setiap hari dikarenakan staff yang berbeda-beda saat pergantian pergantian kerja sehingga kami harus meningkatkan kontrol kualitas kami,” urai Reynaldo Hartanto selaku General Manager Hong Yuan Hotel and Restaurant.

Harapan dari mahasiswa manajemen perhotelan yang praktek ini pun terurai melalui proyek ini. “Harapannya, setelah dari pengalaman membuka hotel dan restoran ini ketika kami berada di dunia industri, kami telah memiliki bekal pengalaman sebagai dasar untuk dapat bekerja di industri. Melalui pelajaran yang telah kami dapatkan selama mata kuliah Manajemen Operasional Hotel ini kami dapat menggunakannya sebagai standar dalam kami bekerja di industri, tutup Reynaldo Hartanto (fsc/dit).

COP Kupang 2017
September 25, 2017

Mahasiswa di Indonesia memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan Tridharma Perguruan TInggi. Salah satu pengamalannya adalah pengabdian pada masyarakat. Untuk melaksanakan tugas tersebut sebanyak 55 orang mahasiswa mengikuti Community Outreach Program (COP) dan membaktikan diri selama 2 minggu mulai tanggal 27 Juli-4 Agustus 2017 di saat liburan mereka untuk membantu membangun desa tertinggal di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Rombongan mahasiswa ini terdiri atas 3 mahasiswa dari Fu Jen Catholic University Taiwan; 2 mahasiswa Education University Hong Kong; 21 mahasiswa dari Universitas Kristen Petra; dan 29 mahasiswa dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang (Unwira). Mereka tergabung dalam program COP Kupang yang diprakarsai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UK Petra.

Rombongan COP tiba di kota Kupang pada tanggal 20 Juli 2017. Keesokan harinya pada tanggal  21 Juli 2017, para mahasiswa mendapatkan pembekalan terlebih dahulu di Unwira. Pada tanggal 22 Juli, mereka sudah tiba di lokasi pengabdian mereka di Dusun Sublele, Desa Sillu, Kecamatan Hatuleu, Kabupaten Kupang. Dusun Sublele berjarak dua  jam perjalanan mobil dari kota Kupang yang dihuni oleh 75 kepala keluarga. Selama di dusun Sublele, ke-55 mahasiswa peserta COP ini tinggal bersama warga dusun di 28 rumah yang ada.

Dusun Sublele berada di dataran tinggi dan memilki iklim yang kering. Ketika siang hari suhu sangat panas, dan ketika malam hari sangat dingin. Dusun ini membutuhkan gedung untuk sekolah Pendiidkan Anak Usia Dini (PAUD), dimana PAUD sudah ada akan tetapi diselenggarakan di rumah warga. Listrik untuk keperluan desa sudah ada akan tetapi masih sangat terbatas dan bersumber dari satu mesin generator. Permasalahan kekurangan listrik ini bisa dilihat sebagai kesempatan pengembangan diri mahasiswa, dimana mereka mau tidak mau harus bisa terlepas dari berbagai gadget yang dimilikinya karena mereka hanya diperbolehkan mengisi baterai satu kali dalam 3 hari. Potensi pengembangan yang dimiliki oleh Dusun Sublele adalah: terdapatnya satu mata air yang belum terkelola secara maksimal; dan ada lahan yang tidak terpakai.

Para peserta dibagi menjadi tiga kelompok dimana masing-masing kelompok akan mendapat tugas mengerjakan proyek fisik dan non fisik untuk membantu warga Dusun Sublele. Kelompok pertama bertugas membangun sarana fisik gedung untuk PAUD dan kemudian melaksanakan kegiatan belajar mengajar di PAUD tersebut. Kelompok membangun 2 unit rumah kompos dan 1 bak reservoir irigasi yang memanfaatkan luberan dari mata air yang ada. Dengan sistem ini, mata air yang semula tidak terkelola dengan maksimal bisa mengairi lahan kosong yang tidak terpakai. Proyek non fisik kelompok kedua adalah bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Kupang memberikan pelatihan kompos untuk memberdayakan warga memakai rumah kompos. Dengan adanya kompos dan irigasi, diharapkan budi daya pertanian di Dusun Sublele bisa berkembang dan meningkatkan taraf hidup warga. Selain itu, kelompok ini juga memberikan pengajaran di SMP Swasta Nusa Timor. Kelompok ketiga mendirikan 2 unit kolam lele terpal. Bekerjasama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kupang yang memasok bibit ikan, kelompok ini memanfaatkan ketersediaan lahan dan bibit ini untuk membangun kolam yang akan bisa meningkatkan perekonomian warga dusun. Selain itu kelompok ini juga melakukan pengajaran di Sekolah Dasar setempat.

Tanggapan positif datang dari Kepala Dusun Sublele, Osias Tob. Osias mengatakan, “Kami diberkati dengan ada pembangunan di desa kami. Kegiatan ini bisa membuat adanya percepatan pembangunan di desa kami”. Elisabeth Kurniawan, seorang mahasiswa Prodi Sastra Tionghoa UK Petra merasa senang mengikuti COP ini. Ia bisa bertemu teman baru, saling bertukar pikiran dan memperluas wawasan tentang banyak hal. Selain itu ia juga bisa melatih kemampuan berbahasa sesuai dengan jurusannya karena ada peserta dari Taiwan di kelompoknya. Mengenai pengalaman pribadinya di desa, Elisabeth mengatakan “Awalnya sulit bagi saya untuk hidup dengan apa yang ada di desa, namun setelah beberapa hari tinggal di sana saya mulai bisa beradaptasi baik dengan lingkungan maupun warga desa dan bahkan saya menikmati kehidupan saya di sana”. (noel/Aj)

Mahasiswa Prodi SIB dan Teknik Informatika Raih Juara 1 di Ajang FIT Competition 2017
September 22, 2017

Torehan prestasi kembali tercatat dalam daftar kemenangan mahasiswa Universitas Kristen Petra (UK Petra) pada kompetisi tingkat Nasional. Pada bulan Mei 2017 lalu, mahasiswa Program Studi (Prodi) Sistem Informasi Bisnis (SIB) dan Prodi Teknik Informatika UK Petra berhasil mengharumkan nama UK Petra pada ajang FIT Competition 2017. Kompetisi di bidang jaringan, mobile, dan web merupakan sebuah ajang yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika (HMPTI) Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga.

FIT Fun Fest 2017 mengambil tema Karya Ku Untuk Negeri Ku dengan tujuan untuk menjawab dan mengatasi permasalahan yang ada di lingkup masyarakat Indonesia khususnya pada kegiatan lomba FIT Competition 2017. Pada lomba web dan mobile hasil yang dicapai adalah aplikasi berbasis web atau mobile, sedangkan untuk jaringan hasil yang dicapai adalah pembuatan suatu keamanan jaringan yang bermanfaat untuk menjaga keaslian data yang mencakup lingkup multinasional.

 

Lomba ini adalah lomba tingkat nasional tahunan di bidang jaringan, mobile, dan web. Tim UK Petra berpartisipasi pada kategori lomba website.. Lomba di bidang website adalah lomba yang ditujukan untuk menguji kemampuan, nalar, ide, orisinalitas, dan kreativitas dalam membuat sebuah proposal aplikasi berbasis web yang mampu menjawab masalah yang sering terjadi di lingkup masyarakat (ekonomi, social, budaya, pendidikan, kesehatan, pertanian, dan pemerintahan). Solusi yang diharapkan dapat bermanfaat bagi bangsa dan negara.

 

Tiga mahasiswa UK Petra berhasil membawa nama UK Petra di kancah Nasional dengan memenangkan juara 1.  Tiga mahasiswa ini adalah Andre Gunawan dari Prodi Sistem Informasi Bisnis (SIB), Yohanes Christian dari Prodi Sistem Informasi Bisnis (SIB), dan Yohanes Adam dari Prodi Teknik Informatika. Ketiga mahasiswa ini merupakan mahasiswa angkatan 2014. Tim UK Petra bersaing dengan mahasiswa yang berasal dari berbagai universitas lain seperti dari Universitas Bina Nusantara, Universitas Indonesia, Universitas Jember, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya, Universitas Gorontalo, dan lain-lain.

 

Tim UK Petra membuat website bernama ‘Consillium’. Ide awalnya adalah banyak orang di Indonesia yang mengalami permasalahan psikis namun seringkali tidak tahu bagaimana menyelesaikan permasalahannya. Permasalahan ini beragam mulai dari pendidikan, keluarga, hubungan suami istri, pekerjaan dan lain-lain. Disinilah  peran psikolog diperlukan, tetapi seringkali persepsi orang Indonesia terhadap peran psikolog masih negatif dimana banyak orang beranggapan jika seseorang ke psikolog, maka orang itu bermasalah, aneh, ataupun mengalami gangguan kejiwaan.Dengan website ini, tim UK Petra menyediakan layanan dimana psikolog dapat berinteraksi dengan pengguna secara anonim, untuk menjaga privasi dan kerahasiaan tiap pengguna. Pengguna dapat berkonsultasi dengan psikolog maupun guru konseling yang sudah terdaftar dan memenuhi syarat di website ini. Bukan hanya bermanfaat untuk pengguna, psikolog juga mendapat keuntungan. “Kami memberdayakan psikolog Indonesia sehingga dapat memperoleh pendapatan tambahan dan sekaligus jadi wadah untuk pengabdian. Website nya secara umum adalah platform chatting, user memilih psikolog berdasarkan kategori spesialisasi dan rating, saat kedua belah pihak setuju maka chatting session akan dimulai sampai nantinya kedua belah pihak menyatakan permasalahan yang dibicarakan sudah selesai,” urai Yohanes.

 

Terdapat beberapa tahap dalam lomba ini dimana tahap akhirnya dilaksanakan pada tanggal 2 hingga 4 Mei 2017 di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Pada akhirnya, tim UK Petra berhasil menjadi juara 1 untuk kategori website. Ketiga mahasiswa UK Petra ternyata tidak berjuang sendirian, dibantu oleh dosen pembimbing, Justinus Andjarwirawan S.T.,M.Eng., selaku dosen Prodi Teknik Informatika yang sekaligus Kepala Pusat Komputer (Puskom) UK Petra, selain itu, ketiga mahasiswa ini mendapatkan informasi lomba dari dosen SIB UK Petra, Silvia Rostianingsih, S.Kom, M.MT.

Juara 1 berhasil dituai sehingga ketiganya memperoleh reward berupa piala, sertifikat, dan uang tunai 6 juta rupiah. Tim UK Petra ini pun menyampaikan harapan untuk teman-teman mahasiswa lain agar termotivasi mengikuti perlombaan tingkat Nasional maupun Internasional. “Selagi ada kesempatan, ada baiknya untuk dicoba. Berusaha sebisa mungkin, pertahankan kejujuran, maka pasti ada hasilnya. Dan pastikan ikut lomba dengan hati yang bahagia dan partner yang cocok,” tutup Yohanes Christian (fsc/dit)

Menjawab Tantangan Global: UK Petra Membuka Program Profesi Insinyur (PPI)
September 21, 2017

Sebagai institusi Pendidikan tinggi yang peduli dan global yang berkomitmen pada nilai-nilai kristiani, Universitas Kristen Petra (UK Petra) hadir untuk melayani dan memenuhi kebutuhan masyarakat di berbagai bidang. Adanya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) membuat persaingan tenaga ahli berkompetensi seperti insinyur menjadi lebih bebas dan terbuka sehingga insinyur di Indonesia harus memiliki kompetensi yang mampu bersaing dengan masyarakat global.

 

Universitas Kristen Petra bergerak untuk menjawab tantangan MEA saat ini melalui dibukanya Program Profesi Insinyur (PPI). Hal ini sejalan dengan kebutuhan terhadap profesi insinyur yang masih sangat diperlukan dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Melalui ijin operasional yang disampaikan pada tanggal 6 April 2017 melalui SK Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 201/KPT/I/2017 maka Universitas Kristen Petra resmi menjadi salah satu dari 40 universitas di Indonesia yang diberikan kepercayaan untuk menyelenggarakan Program Profesi Insinyur (PPI). Istimewanya, Universitas Kristen Petra adalah salah satu diantara tiga universitas swasta di Jawa Timur yang diberi kepercayaan untuk membuka program Program Profesi Insinyur (PPI).

 

Secara keseluruhan, terdapat tiga syarat hingga ijin operasional dikeluarkan. Pertama, universitas harus memiliki enam dosen yang sudah tersertifikasi Insinyur Profesional Madya (IPM). Kedua, universitas harus memiliki kerjasama dengan sebuah industri dimana bentuk kerjasama ini difasilitasi oleh pemerintah, yakni bekerjasama dengan Bina Konstruksi yang merupakan bagian dari Kementerian Pekerjaan Umum (KPU). Ketiga, universitas memiliki fasilitas yang memadai seperti ruang kelas dan ruang laboratorium.

Kenapa PPI ini penting? Kebutuhan tenaga ke-insinyuran untuk menghadapi MEA sangatlah tinggi dan diperlukan, dimana teknologi yang semakin berkembang akan selalu membutuhkan peran insinyur untuk menciptakan dan membuat kehidupan lebih produktif dan efisien.

Terdapat dua jenis Program Profesi Insinyur (PPI), yakni reguler dan Rekognisi Pengalaman Lampau (RPL). Program PPI reguler berjalan selama satu tahun dan menempuh enam mata kuliah (24sks). Persyaratan untuk mengikuti Program PPI reguler antara lain merupakan alumni dari fakultas teknik, memiliki pengalaman kerja selama dua tahun. Sedangkan untuk non teknik, persyaratan yang harus dipenuhi adalah memiliki pengalaman kerja selama tiga tahun dan harus ditambah dengan pengalaman kerja selama dua tahun.

Program PPI Rekognisi Pengalaman Lampau (RPL) berjalan selama satu bulan dengan tiga mata kuliah setiap hari. Persyaratan yang harus dipenuhi adalah merupakan alumni dari teknik dan memiliki pengalaman kerja selama tiga tahun. Sedangkan untuk non teknik, harus memiliki pengalaman kerja selama tiga tahun dan ditambah dengan pengalaman kerja selama tiga tahun. Perbedaan antara Rekognisi Pengalaman Lampau (RPL) dan reguler adalah Rekognisi Pengalaman Lampau (RPL) tidak terdapat praktek keinsinyuran dan program reguler terdapat praktek keinsinyuran.

Harapan pun terurai melalui program ini. “Dengan dibukanya Program Profesi Insinyur (PPI) di UK Petra, kami berharap dapat membuka peluang gelar keinsiyurannya sarjana teknik di Indonesia dapat diakui baik di dalam maupun luar negeri serta dapat bersaing secara global,” urai Tanti Octavia, S.T., M.Eng selaku Wakil Dekan Fakultas Teknologi Industri UK Petra (fsc/dit).

King Sejong Institute menggelar “Completion Ceremony”
September 20, 2017

King Sejong Institute (KSI) Universitas Kristen Petra (UK Petra) di Surabaya telah menyediakan pendidikan bahasa dan budaya Korea sejak tahun 2015. Pada tanggal 9 Juni 2017, KSI melaksanakan Semester Completion Ceremony untuk semester 1 201 dimana sekitar 80 orang menghadiri acara yang diadakan di ruang AV gedung T 503 ini.

Hidangan makan malam khas Korea karya siswa-siswa yang mengambil kelas Budaya dengan pengasuh Kim Sung Sook. Dalam hidangan ini, tersaji 4 menu makanan khas Korea, yaitu : bulgogi, masakan daging sapi khas Korea sebagai hidangan utama; ddeokkochi, sate dari kue beras sebagai hidangan pendamping; guksu, mie khas Korea sebagai pendamping; dan samsaek gyeongdang kue mirip onde-onde tiga warna dengan rasa khas Korea.

Rangkaian acara dibuka dengan sambutan dari Direktur KSI Surabaya, Dra. Liliek Soelistyo, M.A. Dalam sambutannya, Lilik menyampaikan bahwa Completion Ceremony ini adalah yang keempat kalinya dan wisuda kali ini adalah wisuda dengan jumlah yang terbesar. Ia berharap para siswa KSI yang hadir di acara ini tetap bersemangat dan terus melanjutkan pembelajaran di KSI. Liliek mengatakan juga, KSI akan terus mendatangkan guru-guru yang baru sehingga bisa melayani kelas-kelas dengan lebih baik”.

Setelah sambutan acara dilanjutkan dengan pemutaran video KSI yang menggambarkan situasi kelas dan kegiatan-kegiatan yang telah diadakan di sepanjang semester yang telah diselesaikan. Acara yang diadakan KSI sepanjang semester ini adalah: Korean Culture dan Korean Movie Day di bulan Maret 2017, Lomba Menghias Kipas Korea di bulan April 2017 dan Lomba Korean Speech Competition di bulan Mei 2017. Rekaman ini juga menayangkan Korean Culture Day yang diselenggarakan Program manajemen perhotelan Gachi Resto, kemudian berpindah ke acara film Ode to My Father di acara Korean Movie Day.

Seusai pembukaan dan presentasi video, dilaksanakan penyerahan beasiswa dan raport hasil pembelajaran. Pada semester 1 2017, KSI menyelenggarakan 5 kelas, yaitu antara lain: dua kelas tingkat Beginner 1A; satu kelas tingkat Beginner 2A; satu kelas Persiapan Topik 1; dan satu kelas Budaya yang mempelajari masakan Korea (Korean Cooking Class). Tergabung dalam kelima kelas ini adalah 64 siswa yang bukan hanya dari mahasiswa UK Petra akan tetapi juga dari  kalangan umum. Untuk mengapresiasi usaha dan prestasi siswanya, KSI memberikan berbagai penghargaan berupa beasiswa yang diberikan pada satu orang siswa di tiap kelas bahasa. Penerima beasiswa semester ini adalah Meilisa Dewi dan Stefani dari kelas 1A, dan Nadya Artamara dari kelas 2A.

Setelah pembagian sertifikat dan penghargaan, para hadirin dihibur dengan penampilan grup tari Korean POP (KPOP) yang dibawakan oleh grup pemenang KPOP Dance Festival, G-Frikex dari kota Malang. Penampilan grup tari ini merupakan bagian terakhir acara penutup semester ini. Justine, siswa KSI yang juga mahasiswa Manajemen Bisnis UK Petra membagikan pengalamannya mengikuti kursus KSI, “Belajar di kelas itu sangat menyenangkan dan lebih mengerti mengenai kebudayaan Korea yang saya sukai”. Sebagai informasi, semester kedua 2017 KSI akan dimulai pada tanggal 21 Agustus 2017 dan per tanggal 31 Juli 2017 pendaftaran sudah ditutup. (noel/dit)

Dosen UK Petra Persembahkan Pameran Mengenai Perlawanan Bonek
September 19, 2017

Sepakbola adalah olahraga yang terkenal dan digemari dimana-mana. Klub sepakbola selalu menjadi idola dan kesayangan warga kota yang bersangkutan salah satunya adalah Persebaya Surabaya yang didukung oleh suporternya yang dikenal dengan nama “Bonek”. Karena besarnya jumlah Bonek dan begitu mendalamnya rasa bangga di kalangan masyarakat Surabaya, kehadiran Bonek memberi warna tersendiri dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Surabaya. Warna seperti apa yang ada selama ini? Perubahan apa yang sedang mereka lakukan? Hal inilah yang menggelitik benak dua dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra dengan menggelar pameran hasil penelitian yang masih berjalan bertajuk “Nek Aku Bonek, Koen Kate Lapo?” di Perpustakaan UK Petra pada tanggal 6-16 Juni 2017 yang lalu.

Pameran ini menampilkan data awal penelitian Obed Bima Wicandra, S.Sn., M.A. dan Anang Tri Wahyudi, S.Sn., M.Sn. “Pameran ini memang masih belum selesai. Kami ingin memamerkan data awal penelitian sekaligus menjaring pandangan tentang bonek dari pengunjung. Interaksi ini diharapkan akan menjadi masukan bagi peneliti. Kami juga mengundang bonek untuk bisa saling berbagi dengan kami setelah melihat data-data yang kami kumpulkan”, urai Obed Bima Wicandra, S.Sn., M.A yang juga sebagai Seketaris Program Studi DKV UK Petra. Penelitian mereka mengangkat mengenai street art yang marak dibuat oleh Bonek sebagai bentuk perlawanan atas PSSI yang melarang Persebaya berkompetisi di Liga Indonesia. Rentang waktu pengambilan data berupa foto dokumentasi dan kliping pemberitaan tentang aksi para Bonek ini adalah antara bulan Oktober 2016 sampai dengan Januari 2017. Perlu dicatat, bahwa pada masa-masa tersebut aksi perlawanan Bonek sedang mendaki menuju titik kulminasi yang ditandai dengan pernyataan dari PSSI yang mencabut larangan bertanding bagi Persebaya di bulan Januari 2017.

Nuansa hijau yang sebagai ciri khas dari Bonek tampak menonjol di gallery pameran. Para pengunjung perpustakaan akan secara otomatis melihat deretan display pameran yang dihiasi berbagai merchandise Persebaya. Dinding display pameran dihiasi lebih dari seratus foto dokumentasi yang diambil saat aksi para Bonek berlangsung. Foto-foto ini menunjukkan ragam media dan street art yang dibuat, yaitu: spanduk sederhana dari kain putih dan tulisan ala kadarnya; konvoi sepeda motor yang menampakkan orang-orang memakai jersey hijau kebanggaan Persebaya; aksi demo di berbagai ruang terbuka publik; dan masih banyak lainnya. Selain foto dokumentasi dan atribut-atribut pendukung Persebaya, dinding display ini juga menampilkan kliping-kliping koran yang memuat artikel momen-momen penting yang dijalani Bonek dan Persebaya. Misalnya seperti: pencabutan larangan oleh PSSI; pembenahan image Bonek yang mulanya terkenal tidak mau membeli tiket menjadi tertib dengan jargon “No ticket, no game”; dan tanding tandang yang lebih terkoordinir.

Penelitian yang ditampilkan dalam pameran ini diawali dengan keunikan perlawanan Bonek dibandingkan pendukung klub lain yang juga mendapat larangan PSSI. Agar lebih menghasilkan data yang akurat, Anang dan Obed turut dalam aksi Bonek untuk merekam aktivitas dan pola seni jalanan yang dihadirkan Bonek. Kedua dosen yang juga aktivis seni jalanan ini melihat bahwa pola street art yang dipakai Bonek dalam komunikasi perlawanan mereka tidak mengacu pada pola mainstream dari street art yang ada saat ini. Dimana street art mainstream cenderung menunjukkan sisi artistik dan dasar dari seni rupa yang terlihat dari adanya komposisi, kesatuan dan keseimbangan yang menampilkan estetika. Sedangkan di street art Bonek, pola tersebut tidak ada, dan cenderung anti estetika. Pola yang muncul cenderung vernacular atau asal-asalan, spontan dan apa adanya. Pola yang apa adanya ini terlihat dari media spanduk yang sering mereka pakai yang hanya dibuat dengan cat semprot diatas kain putih. Seni jalanan bonek yang apa adanya ini memberikan kesan kejujuran dan perlawanan. Hal ini sesuai dengan nama Bonek yang merupakan singkatan dari Bondo Nekat yang berarti Bermodal Nekat. Meskipun hanya bermodal nekat, bisa dilihat bahwa pada bulan puncak perlawanan mereka Surabaya telah diwarnai secara masif dengan street art khas Bonek. Seperti kata Obed, “Kini transformasi Bonek bukan hanya ‘bondo nekat’ tetapi juga’Bondo Nekat dan Kreatif’”. (noel/Aj)

Usung Konsep Glow Run, Prodi Teknik Industri Rayakan Hari Jadi ke-25
September 19, 2017

Menginjak usia ke-25 tahun, Program Studi (prodi) Teknik Industri Universitas Kristen Petra (UK Petra) terus bertumbuh dan berkembang memberikan kualitas terbaik bagi mahasiswa dan lingkungan sekitar. Di tahun 2017, Prodi Teknik Industri Universitas Kristen Petra (UK Petra) tepat merayakan ulang tahun perak. Dies Natalis Teknik Industri XXV mengangkat tema “Divergent” yang merupakan singkatan dari “Dies Natalis Silver Generation”. Mengangkat konsep fun, Prodi Teknik Industri UK Petra mengangkat konsep Glow Run, yakni berolahraga lari dan bersenang-senang bersama untuk menciptakan rasa kekeluargaan.

 

Fun Run yang dilaksanakan di malam hari menggunakan lightstick fosfor sebagai penerangan dalam perayaan ulang tahun Program Studi Teknik Industri Universitas Kristen Petra yang ke-25 dimana peserta berlari pada rute yang telah ditetapkan dengan jarak 5,5 km. Fun run bertempat di Graha FairGround dan dimeriahkan dengan penaburan bubuk warna di beberapa titik pada saat berlari. Sekitar 430 orang turut meramaikan perayaan Hari Jadi Prodi Teknik Industri ke-25 ini. Tidak hanya mahasiswa yang berpartisipasi, dosen, karyawan, alumni dan masyarakat umum turut memeriahkan fun run malam itu. Sebelum mulai berlari, MC menjelaskan kepada peserta mengenai arah dan aturan selama berlari di arena. Lalu, sebelum berlari, terdapat drama pembukaan yang diambil dari inspirasi film Divergent mengenai pahlawan yang memperjuangkan keadilan. Para pahlawan harus mengambil kembali box yang telah dicuri untuk dapat membuktikan diri agar mendapat keadilan. Drama ini merupakan titik awal dari berlari yaitu peserta harus menolong para pahlawan untuk mengejar box yang dicuri dengan berlari di sepanjang arena.

Setelah Fun Run, acara dilanjutkan dengan penampilan hiburan band kemudian acara ditutup dengan prosesi tiup lilin dan penampilan Disc Jockey, pembagian hadiah hiburan dan pengumuman pemenang Fun Run.

Selain bertujuan untuk merayakan ulang tahun Program Studi Teknik Industri Universitas Kristen Petra yang ke-25, acara ini bertujuan untuk meningkatkan rasa kekeluargaan antara mahasiswa, dosen, dan staff di  Program Studi Teknik Industri Universitas Kristen Petra. Selain itu, untuk mengenalkan Prodi Teknik Industri kepada masyarakat umum terutama siswa-siswi SMA dan membuka relasi yang baik kepada seluruh pemangku kepentingan.

Sebuah harapan muncul melalui acara Hari Jadi Prodi Teknik Industri ini. “Harapannya, dapat mempererat persaudaraan antar civitas Prodi Teknik Industri, menjaga hubungan baik dengan alumni-alumni Teknik Industri dari berbagai angkatan serta semakin banyak masyarakat yang mengetahui dan tertarik untuk bergabung bersama kami menjadi keluarga besar Teknik Industri Universitas Kristen Petra,” urai Stefani Gisella W.T, selaku Ketua Panitia Dies Natalis XXV “Divergent” Glow Run (fsc/dit).

Program English for Creative Industry & Prodi Sastra Inggris Mendirikan Petra Independent Film
September 19, 2017

Semakin maju dan berkembangnya dunia digital mendorong insan perfilman untuk terus berkarya dan menggali kreatifitas tanpa batas. Hal ini diimplementasikan oleh Program English for Creative Industry & Program Studi (prodi) Sastra Inggris Universitas Kristen Petra (UK Petra) dengan mendirikan Petra Independent Film (PIF). Diresmikan pada tanggal 5 Mei 2017 lalu, PIF didukung secara akademis oleh program English for Creative Industry (E-Crav), Prodi Sastra Inggris, dengan kelas-kelas film seperti Screenplay Writing, Acting for Film, Directing, Film Production, dan lain-lain.

 

PIF (Petra Independent/Indie Film) adalah organisasi film edukatif yang bergerak di ranah pendidikan atau pelatihan, produksi, dan penayangan sebelum dipentaskan di khalayak umum (screening) dan distribusi film. Selain itu, Program E-Crav juga memfasilitasi produksi film oleh mahasiswa dengan dukungan dana dan peralatan yang ada. Melalui penelitian dengan PLT (Petra Little Theatre), PIF juga mengadakan screening  film secara periodik setiap semester. PIF juga akan mengadakan screening ke sekolah-sekolah atau lembaga mitra agar karya-karya mahasiswa dapat di-diseminasi-kan ke khalayak, khususnya di Surabaya.

Digagas sejak tahun 2010, PIF akhirnya berdiri untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa dalam menambah wawasan dalam bidang perfilman. PIF dibekali dengan berbagai kelas-kelas film, ditambah mahasiswa telah memproduksi beberapa film pendek baik di tingkat pelatihan dasar maupun lanjutan. Istimewanya, program ini diperkaya dengan adanya program Double Degree antara Prodi Sastra Inggris UK Petra dengan Film Department-Dongseo University, Korea Selatan. Di tahun 2017 ini, telah kembali enam  mahasiswa yang merampungkan program Double Degree di Korea Selatan untuk menyelesaikan tugas akhir di UK Petra. Dari enam mahasiswa ini kepengurusan PIF dibentuk dan akhirnya resmi berdiri.

 

PLT didirikan sebagai cikal bakal terbukanya Program English for Creative Industry (E-Crav). Program English for Creative Industry (E-Crav) merupakan hasil dari reorientasi pengutamaan sastra yang saat itu hanya akademis yang membahas karya-karya sastra. Dengan adanya E-crav, mahasiswa tidak hanya dapat membahas karya-karya sastra, mahasiswa diberi ruang untuk memproduksi karya. Dalam sambutan di acara peluncuran PIF, Dr. Ribut Basuki, M.A menyatakan bahwa karya novel atau cerpen seharusnya tidak berhenti pada file laptop, tetapi dicetak dan diedarkan. Maka dari itu, Fakultas Sastra mulai memfasilitasi penerbitannya. Karya berupa naskah drama tidak harus berhenti di file dan diterbitkan, PLT ada untuk  memproduksi karya-karya tersebut dalam pertunjukan.

“Karya berupa naskah film atau screenplay juga demikian, maka pada hari ini kita meluncurkan PIF. Dengan PIF, diharapkan karya mahasiswa dapat diproduksi dan akhirnya di screening. Lebih jauh lagi, screening tersebut dapat ditiketkan sebagai pertunjukan PLT. Lebih jauh lagi, screening dapat dilakukan di tempat lain misalkan di sekolah-sekolah. Lebih jauh lagi, film yang diproduksi di screening di festival-festival baik Nasional maupun Internasional. Maka dari itu, untuk mahasiswa manfaatkan PIF untuk belajar dan berkreasi,” urai Dr. Ribut Basuki, M.A., selaku executive board of directors PIF.
Melalui PIF, diharapkan mahasiswa dapat menuangkan idealisme selama masih di kampus. “Buatlah film-film yang baik, yang berdampak, tanpa memikirkan rating. Berkaryalah, belajarlah membuat film yang benar dan jadilah mahasiswa yang kreatif dan bersinar,” tutup Dr. Ribut Basuki, M.A (fsc/dit).

Sustainable and Green Construction
August 22, 2017

Seiring perkembangan zaman, teknologi akan selalu berkembang di semua bidang kehidupan manusia. Industri bangunan tidak terlepas dari teknologi yang cepat berkembang yang memudahkan pekerjaan dalam industri ini. Hal ini menimbulkan kebutuhan untuk selalu up to date dengan teknologi, khususnya bagi mahasiswa yang akan terjun ke industri yang berkembang dengan cepat ini. Dalam perkuliahan, mahasiswa akan mendapatkan pengetahuan yang relevan dengan teknologi terkini akan tetapi di luar pengetahuan tersebut mahasiswa membutuhkan juga pengalaman berpraktek, berorganisasi, dan juga pengenalan pada industri.

Untuk mengenalkan mahasiswa pada industri, dan juga membaharui pengenalan atas perkembangan teknologi di bidang teknik sipil, Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil UK Petra (Himasitra) menyelenggarakan Petra Construction Expo (PCE) sejak bulan Maret 2017 sampai dengan acara puncak kegiatan PCE Market yang diaksanakan di Galaxy Mall Surabaya pada tanggal 20-23 April 2017. Dalam rangkaian PCE 2017 terdapat 4 kegiatan utama, yaitu: Seminar nasional dengan tema Sustainable and Green Construction, Bridge Competition, Lomba Kuat Tekan Beton dan Earthquake Resistant Design Competition. Keempat kegiatan ini pada tahun-tahun sebelumnya selalu dilaksanakan terpisah, pada tahun 2017 ini, keempat kegiatan ini diadakan dalam satu payung PCE.

Bridge Competition 2017 mengangkat tema “Raise the Bar, Reach the Highest”. Lomba dengan lingkup nasional ini diikuti oleh 410 orang peserta di kategori SMA, dan 359 orang peserta di kategori Universitas. Dalam lomba ini para peserta diberi tugas membuat maket jembatan dari bahan kayu balsa dengan ketentuan tinggi maksimal 15 cm, lebar maksimal 8 cm, dan panjang maksimal 40 cm. Jembatan ini akan disimulasikan untuk menyambungkan jurang selebar 30 cm dan pada bentang jembatan harus ada clearance (jarak dari permukaan tanah dengan batas paling bawah jembatan) setinggi 4 cm. Berat jembatan tidak boleh lebih dari 25 gram. Jembatan ini kemudian akan diberi beban berupa kerikil yang dituang kedalam pipa. Semakin ringan jembatan dan semakin berat beban yang bisa ditahan jembatan, maka semakin tinggi penilaiannya. Dari 20 tim finalis dari 7 universitas di jawa, 3 Tim dari mahasiswa UK Petra meraih juara 1, 2 dan 3 di kompetisi ini.

Dalam Earthquake Resistant Design Competition (ERDC), peserta lomba ditugaskan membuat maket suatu bangunan dari bahan kayu balsa, dan kemudian maket ini akan diuji dengan simulasi gempa. Penilaian dalam lomba ini selain menghitung kekuatan bangunan, juga menghitung efisiensi bangunan dan nilai ekonomis bangunan. ERDC 2017 mengambil tema “Prepare Because We Care”. Dari 54 tim peserta, diambil 12 tim dengan nilai tertinggi untuk tampil di babak final. Muncul sebagai juara adalah tim Resonance dari UK Petra.

Lomba kuat tekan beton (LKTB) dimulai pada tanggal 24 Maret 2017 yang diawali dengan briefing yang diberikan oleh salah seorang anggota juri, Antoni, Ph.D. Dalam briefing ini Antoni memperkenalkan konsep Low Cement Concrete (LCC) pada para peserta. LCC adalah sesuai dengan tema lomba ini, yaitu “Optimize Your Material for greener concrete”. LCC adalah teknik pembuatan beton dengan jumlah semen yang sedikit dan merupakan cara yang ramah lingkungan dan sustainable (berkelanjutan) dalam membangun. Pemakaian semen menghasilkan emisi karbondioksida yang menyebabkan efek rumah kaca, maka dari itu pemakaian semen sesedikit mungkin dalam pembuatan beton adalah teknik yang ikut menjaga kelestarian lingkungan. LCC adalah fokus yang khas yang dipakai oleh LKTB Petra, kekhasan lain dari lomba ini adalah memperkenalkan penggunaan fly ash (endapan abu) yang bisa didapatkan secara gratis sebagai suatu bahan pengganti semen dan penggunaan superplasticizer dalam pembuatan beton. Peserta lomba ini ditugaskan untuk membuat contoh beton dengan kekuatan setinggi mungkin dan diberi batasan jumlah pemakaian semennya. Hasil sampel beton karya para peserta sudah bisa disejajarkan dengan standar beton industri konstruksi. Hal ini bisa dilihat dari hasil beton terkuat di kompetisi ini adalah sekitar 40 MPa (megapascal), setara dengan kekuatan beton untuk bangunan pertokoan bertingkat yang terkenal di Surabaya. Untuk beton di perumahan, pada umumnya kekuatannya adalah 20 MPa saja. Kompetisi ini dimenangkan oleh tim dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Hieronimus Enrico, sebagai ketua panitia mengungkapkan kesannya atas kompetisi ini, “Kami mendapatkan ilmu membuat beton yang baik dan mengenal  perusahaan-perusahaan konstruksi yang sudah terkenal. (noel/dit)

Pameran Desain Interior “Interior Design for Cultural Community”
August 15, 2017

Pada 14-16 Juni 2017, Program Studi Desain Interior Universitas Kristen Petra (UK Petra) mengadakan sebuah pameran yang bertajuk “Interior Design for Cultural Community” yang berlangsung di Selasar Gedung P lantai1. Pameran ini merupakan tugas mata kuliah Desain Interior dan Styling 4.

 

Mata kuliah Desain Interior & Styling 4 (DIS 4)  merupakan mata kuliah wajib di Program Studi Desain Interior yang diambil oleh mahasiswa semester 6 dengan metode pengajaran kuliah teori dan praktik desain di studio maupun lapangan. Proyek desain ini adalah perancangan ruang budaya berupa fasilitas publik yang dapat mewadahi kegiatan sebuah komunitas budaya di Surabaya dan menciptakan pengalaman ruang yang edukatif, dengan pendekatan filosofis bagi pembelajaran masyarakat yang berkelanjutan.

 

Objek pada pameran ini antara lain 76 maket hasil perancangan interior dengan skala 1:50, 76 poster hasil perancangan interior, dan 8 presentation board yang menampilkan hasil tugas styling kelompok di basecamp komunitas. Pameran ini juga melibatkan komunitas yang diambil sebagai objek perancangan antara lain Perkumpulan Bangga Berkain, Paguyuban Senopati, Persatuan Layang-layang Surabaya (PERLABAYA), Urban Sketchers Surabaya, De Mardijkers, Serikat Mural Surabaya (SMS), Komunitas Batik Surabaya (KIBAS) dan Petra Little Theater (PLT).

 

Secara keseluruhan, terdapat tiga tahapan dalam tugas mata kuliah ini. Pertama,  mahasiswa melakukan observasi lapangan dan berinteraksi secara mendalam dengan sebuah komunitas budaya yang telah ditentukan oleh kepala studio. Dalam tahap ini mahasiswa mengumpulkan data mengenai identitas, visi misi, aktivitas rutin maupun insidentil serta produk atau objek koleksi komunitas yang memiliki nilai berharga bagi masyarakat lokal Surabaya dalam konteks budaya, sejarah, seni, pariwisata, dan ilmu pengetahuan. Tahapan ini dilakukan pada minggu 1-5.

 

Kedua, mahasiswa mencari sebuah site riil dengan denah riil di lokasi Surabaya dengan luasan 300-500m2 untuk projek desain. Mahasiswa kemudian merancang program ruang berdasarkan observasi lapangan yang telah dilakukan dengan tidak menutup kemungkinan untuk menciptakan ide fasilitas-fasilitas baru bagi komunitas tersebut sehingga dapat secara optimal mewadahi kegiatan-kegiatan mereka serta mendukung terjadinya pembelajaran masyarakat masa depan melalui sebuah konsep perancangan yang mendalam. Tahapan ini dilakukan pada minggu 6-14.

Ketiga, mahasiswa bekerja secara berkelompok yang terdiri dari 9-10 orang untuk menata area di lokasi basecamp komunitas berdasarkan kebutuhan komunitas tersebut. Projek Styling yang telah dilakukan adalah menata benda koleksi komunitas, serta perabot dan aksesoris lainnya di dalam sebuah ruang sehingga menarik untuk diapresiasi oleh masyarakat setempat; mendesain dan merealisasikan perabot atau mebel dalam skala 1:1 untuk memenuhi kebutuhan memajang benda koleksi komunitas; mendesain photobooth dan fasilitas display yang bersifat pasang-urai (knock-down) untuk acara-acara rutin maupun insidentil di komunitas dan mendesain main entrance basecamp komunitas sehingga lebih menarik dan mengundang.

Tujuan dari pameran ini adalah agar mahasiswa mendapatkan pengalaman mendesain ruang budaya bagi komunitas lokal sehingga memiliki kesadaran akan perannya di masa depan sebagai desainer interior yang dapat mendukung potensi yang dimiliki masyarakat untuk menyalurkan kekayaan budaya dan kreativitas bangsa. “Selain itu, tugas ini diharapkan dapat memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa untuk berinteraksi dengan klien riil dan mewujudkan desain yang bermanfaat secara” urai Diana Thamrin, S.Sn, M.Arch, selaku Kepala Studio Desain Interior & Styling 4 (fsc/dit).

Introduction Interior Design Exhibition
July 27, 2017

Perancangan produk interior adalah salah satu kegiatan yang utama dalam dunia yang digeluti mahasiswa Program Studi Desain Interior Universitas Kristen Petra (UK Petra). Produk interior yang pada umumnya berupa meubel/furniture membutuhkan kreativitas dan keahlian dalam pembuatannya. Kreativitas akan memungkinkan seorang desainer untuk bisa mengkonsep suatu meubel dengan unik dan bermanfaat, sedangkan keahlian akan memungkinkan desainer tersebut untuk merealisasikan konsepnya menjadi produk dengan pengerjaan yang prima.

Untuk membina mahasiswa agar memiliki kreativitas dan keahlian tersebut, dirancang rangkaian mata kuliah Studio Desain Produk Interior (DPI) yang bisa diikuti oleh mahasiswa yang mengambil pengkhususan Desain Produk. Rangkaian mata kuliah ini terdiri dari mata kuliah DPI I sampai dengan DPI IV.

DPI I diikuti oleh mahasiswa semester 3 yang belajar merancang produk interior berbasis bentuk dan bahan. DPI II diikuti mahasiswa semester 4 yang mempelajari aspek fungsi dan kenyamanan. DPI III diikuti oleh mahasiswa semester 5 yang mempelajari aspek proses produksi dan pasar dari desain produk interior. DPI IV diikuti oleh mahasiswa semester 6 dan mempelajari konsep budaya. Dalam proses pembelajaran di setiap mata kuliah ini, para mahasiswa ditugaskan untuk mendesain dan membuat produk interior sesuai dengan fokus yang dipelajari di mata kuliahnya. Dalam proses desain ini mahasiswa akan mengeksplorasi literatur, membuat konsep desain, dan memproduksi produk yang sudah didesainnya. Apresiasi dan evaluasi atas hasil akhir dari perkuliahan ini, yang berupa meubel, akan bisa menjadi bahan pembelajaran yang sangat berharga bagi mahasiswa.

Untuk memberikan apresiasi dan evaluasi pada produk interior hasil perkuliahan DPI II dan DPI IV, dilaksanakanlah kegiatan pameran bertajuk “Introduction: Interior Design Exhibition”. Pameran ini dilaksanakan pada tanggal 16 sampai dengan 18 Juni 2017, di Rotunda Atrium lantai 3 Ciputra World Surabaya. Sebanyak 27 karya mahasiswa DPI II dan 35 karya mahasiswa DPI IV ikut serta dalam pameran ini. Karya DPI II mengangkat aspek fungsi dan kenyamanan dalam seting ruang kerja kantor. Karya DPI IV menerapkan konsep budaya dalam seting ruang publik. Tim dosen pengampu DPI II dan DPI IV turut serta bersama para mahasiswa mengelola pameran ini, mereka adalah: Adi Santosa, S.Sn., M.A.Arch., Grace Setiati Kattu,  S.Sn,  M.Ds dan Grace Mulyono, S.Sn., MT.

Pameran ini memberikan kesempatan pada para pengunjung untuk memberikan pemilihan karya favorit. Adi dalam sambutannya menghargai upaya para mahasiswa yang tugas akhirnya ditampilkan di pameran ini. Ia mengangkat proses pembuatan karya-karya ini sebagai kesempatan belajar yang baik bagi para mahasiswa, ujarnya “Kesempatan belajar ini sebaiknya dimanfaatkan sebaik mungkin untuk membuat sendiri produk interiornya. Dengan demikian maka mahasiswa akan bisa mengembangkan keahliannya”. Sesuai dengan tajuknya, diharapkan dengan adanya pameran ini akan terjalin perkenalan antara mahasiswa dan pasar. Lebih lanjut lagi, diharapkan mahasiswa akan lebih tahu apa yang diharapkan pasar, dan pasar akan mengetahui potensi kreativitas mahasiswa Desain Interior UK Petra.

Keseluruhan 62 karya ini akan dinilai oleh tim juri dan diambil 3 karya terbaik DPI II dan 3 karya terbaik DPI IV. Tim dosen menyeleksi 10 karya terbaik dari masing-masing kelas mata kuliah untuk kemudian dinilai oleh Tim juri yang terdiri dari: Ir. Hedy Constancia Indrani, M.T, Ronald Hasudungan Irianto Sitindjak, S.Sn., M.Sn dan Wyna Herdiana, S.T., M.Ds. Kriteria penilaian untuk DPI II adalah Fungsi dan Kenyamanan (Functional-Ergonomic), Estetika (Aesthetics) dan Orientasi Pasar (Marketable). Kriteria penilaian untuk DPI IV adalah serupa seperti di atas ditambah dengan nilai budaya.

Keluar sebagai pemenang juara I dari DPI II adalah Claudia dengan produk meja kerja yang  dibuat memiliki penutup ruang pribadi dengan sistem poros besi. Juara I DPI IV adalah Venta Clarisza yang karyanya berupa rangkaian kursi yang mengangkat konsep budaya permainan kartu. (noel/dit)

Surabaya Memory 2017 “Mengenal Kampungku Suroboyo”
July 19, 2017

Surabaya sebagai ibukota Provinsi Jawa Timur, juga merupakan kota terbesar kedua di Indonesia. Dalam atmosfer metropolis ini, nilai-nilai luhur tradisional yang dimiliki warga Surabaya dengan cepat mudah tergusur dalam cepatnya irama hidup dan perkembangan teknologi yang pesat. Pada tanggal 31 Mei 2017, kita merayakan Hari Jadi ke 724 Kota Surabaya, akan tetapi sedikit dari kita yang mengetahui mengapa usia kota ini jauh melampaui usia Republik Indonesia. Hari kemenangan pasukan Majapahit terhadap penyerbu dari Mongol sekitar 8 abad silam, ditetapkan sebagai hari jadi kota Surabaya. Warisan atau pusaka tradisional seperti ini perlu dilestarikan agar bisa terus berkelanjutan menjadi pusaka warisan bagi generasi selanjutnya.

Surabaya Memory adalah inisiatif yang didedikasikan untuk perekaman dan pelestarian pusaka (heritage) Kota Surabaya. Kegiatan ini pertama kali diluncurkan pada hari jadi Kota Surabaya yang ke-708 pada tahun 2001. Pada tahun 2017, Surabaya Memory mengangkat tema “Kampungku Suroboyo” dengan latar belakang kampung-kampung di Surabaya yang memiliki ciri khas masing-masing dan membentuk gaya hidup yang membentuk Surabaya. Tema ini juga sesuai dengan keinginan pemerintah kota Surabaya yang hendak mengembangkan potensi kampung Surabaya di sisi ekonomi, budaya, wisata dan lain sebagainya.

Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan di Grand City Mall Surabaya pada tanggal 10 sampai dengan 14 Mei 2017 ini terdiri dari berbagai jenis kegiatan dan  lomba diantaranya lomba Karya Tulis Pengelola Taman Baca Masyarakat bertema  “Karyaku Mewujudkan Surabaya Kota Literasi”, Lomba Presentasi bagi Karang Taruna dengan tema “Mbangun Kampung”, Lomba Foto Kampung dan Lomba Mendongeng Cerita Rakyat Jawa Timur. Lomba-lomba ini sesuai dengan tema dan juga merupakan tindak lanjut dari Surabaya Memory tahun sebelumnya dan sekaligus juga program pemerintah kota Surabaya yang bertujuan meningkatkan budaya literasi di kampung-kampung Surabaya. Beberapa babak penyisihan lomba-lomba ini telah dilaksanakan di Kampus UK Petra sebelum dilaksanakannya final lomba di rangkaian acara Surabaya Memory 2017.

Kegiatan lainnya adalah pameran yang menampilkan foto-foto Surabaya jaman dahulu, foto-foto Kebun Binatang Surabaya dari masa ke masa karya masyarakat umum dan wartawan, produk kreatif dan potensi kampung-kampung di Surabaya, produk literasi kampung yang diambil dari 5 terbaik Lomba Akseliterasi tahun sebelumnya, karya para finalis lomba, karya seni dan karya ilmiah dosen dan mahasiswa UK Petra dengan tema Kampung Surabaya dan pameran buku-buku kuno Surabaya dari kolektor dan Badan Perpustakaan dan Arsip Jawa Timur. Pameran ini menempati selasar di depan panggung Surabaya Memory sehingga mengundang minat para pengunjung pertokoan untuk berkunjung melihat-lihat.

Selain mengangkat cerita perkampungan, tema Kebun Binatang Surabaya (KBS) juga diangkat dalam Surabaya Memory 2017. KBS adalah salah satu ikon kebanggaan masyarakat Surabaya dan dalam rangkaian kegiatan ini, digelar bedah buku “Bonbin dalam Kisah dan Tjerita” karya Henri Nurcahyo dan juga karya foto tentang kebun binatang karya mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual UK Petra.

Salah seorang pengunjung, Eva-seorang mahasiswi salah satu universitas negeri di Surabaya mengatakan, “Menarik. Kegiatan seperti ini memberikan inspirasi”. Billy Setiadi, S.I.P., M.A., selaku ketua panitia Surabaya Memory mengungkapkan harapannya, ia mengatakan: “Semoga melalui Surabaya Memory, UK Petra bisa memberi lebih banyak sumbangsih pada kota Surabaya, khususnya dalam hal pelestarian pusaka budaya Surabaya”. (noel/dit)

Presenting Surabaya: Old City
July 11, 2017

Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia adalah kota yang kaya akan warisan sejarah. Kekayaan sejarah kota ini bisa dilihat dari keindahan gedung-gedung kunonya yang bersejarah. Program Studi Desain Interior Universitas Kristen  Petra (UK Petra)  melalui tugas mata kuliah Presentasi Visual 2 (PV2) mengajak para mahasiswa untuk mengeksplorasi gedung-gedung bersejarah ini dan meningkatkan kemampuan penyajian visual melalui kegiatan mempresentasikan sisi tua kota Surabaya.

Kegiatan tugas “Presenting Surabaya: Old City” dilaksanakan sejak awal semester genap 2016-2017. Mahasiswa peserta PV2 yang berjumlah 140 orang dibagi dalam kelompok-kelompok, di mana per kelompok berisi 10-11 orang. Kelompok-kelompok ini kemudian ditugaskan untuk melakukan pencarian arsip dan penelitian sejarah bangunan-bangunan cagar budaya Surabaya, seperti: Wisma Wismilak; House of Sampoerna; Klenteng Boen Bio Kapasan; Rumah Abu Han; Bank Mandiri Jalan Pahlawan; Perpustakaan Bank Indonesia dan Museum Bank Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk membekali mahasiswa yang akan melakukan penelusuran lapangan dengan landasan pengetahuan tentang sejarah dan gaya desain bangunan yang akan dikunjungi.
Setelah penelitian arsip, para mahasiswa mengunjungi bangunan-bangunan tersebut. Dalam kunjungan ini mereka ditugaskan membuat sketsa perspektif dan rekam detail dari bangunan tersebut. Sketsa perspektif ini dilakukan secara manual dengan tangan dan rekam detail dilakukan dengan membuat visual note. Hasil dari sketsa dan visual note yang didapatkan adalah bahan yang akan diolah untuk kemudian dijadikan suatu presentasi visual.
Puncak dari tugas ini adalah pameran Presenting Surabaya: Old City yang dilaksanakan pada tanggal 6 – 10 Maret 2017. Dalam pameran ini disajikan papan informasi tentang gedung dan ruang dalam yang dianggap menarik, visual note rekam data literatur, sketsa di lapangan dan gambar perspektif. Dari pemaparan ini bisa dilihat bagaimana mahasiswa mengidentifikasi gaya desain masing-masing gedung: Wisma Wismilak, House of Sampoerna, Bank Mandiri Jalan Pahlawan, Perpustakaan Bank Indonesia dan Museum Bank Indonesia didesain dengan gaya kolonial Belanda, sedangkan Klenteng Boen Bio Kapasan dan Rumah Abu Han dibangun dengan pengaruh gaya desain Cina dan kolonial Belanda. Gaya desain Cina diidentifikasikan dengan ornamen-ornamen budaya Cina seperti naga, aksara dalam bahasa Cina, serta desain yang mengangkat pentingnya keseimbangan antara simbol-simbol elemen (api, air, kayu, dan sebagainya.) Sedangkan gaya desain kolonial belanda dicirikan dengan ventilasi yang melimpah, jarak lantai dan atap yang tinggi, dan pilar-pilar kolonial.

Dengan rangkaian kegiatan tugas ini, mahasiswa diajak memahami melalui gaya desain bahwa Surabaya dibagi dalam beberapa area di masa lampau. Mahasiswa juga diajak memahami bagaimana pengaruh desain tersebut terhadap dinamika sosial ekonomi. Pemahaman ini akan membantu mahasiswa belajar pada tahap awal mengenai kaitan keilmuan desain terhadap manusia. Menurut Fanny, seorang mahasiswa dari kelompok yang berkunjung ke Perpustakaan Bank Indonesia, “Dengan tugas ini kami belajar rendering bayangan dan pencahayaan”. Audrey, mahasiswa PV2 yang lain mengungkapkan kesannya mengenai tugas ini, katanya: “Saya belajar membedakan langgam (style)  yang ada pada bangunan kuno kita”. Sejurus dengan kesan-kesan mahasiswa, Dr. Ir. Lintu Tulistyantoro, M.Ds., salah seorang dosen koordinator studio PV2 mengatakan: “Surabaya memiliki potensi sejarah di sisi lain UK Petra  memiliki potensi mahasiswa yang akademis dan tugas ini memancing mahasiswa untuk melihat secara akademis bagaimana mereka mengapresiasi sejarah dalam sebuah presentasi gambar”. (noel/dit)

Presenting Surabaya: Old City
July 11, 2017

Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia adalah kota yang kaya akan warisan sejarah. Kekayaan sejarah kota ini bisa dilihat dari keindahan gedung-gedung kunonya yang bersejarah. Program Studi Desain Interior Universitas Kristen  Petra (UK Petra)  melalui tugas mata kuliah Presentasi Visual 2 (PV2) mengajak para mahasiswa untuk mengeksplorasi gedung-gedung bersejarah ini dan meningkatkan kemampuan penyajian visual melalui kegiatan mempresentasikan sisi tua kota Surabaya.

Kegiatan tugas “Presenting Surabaya: Old City” dilaksanakan sejak awal semester genap 2016-2017. Mahasiswa peserta PV2 yang berjumlah 140 orang dibagi dalam kelompok-kelompok, di mana per kelompok berisi 10-11 orang. Kelompok-kelompok ini kemudian ditugaskan untuk melakukan pencarian arsip dan penelitian sejarah bangunan-bangunan cagar budaya Surabaya, seperti: Wisma Wismilak; House of Sampoerna; Klenteng Boen Bio Kapasan; Rumah Abu Han; Bank Mandiri Jalan Pahlawan; Perpustakaan Bank Indonesia dan Museum Bank Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk membekali mahasiswa yang akan melakukan penelusuran lapangan dengan landasan pengetahuan tentang sejarah dan gaya desain bangunan yang akan dikunjungi.
Setelah penelitian arsip, para mahasiswa mengunjungi bangunan-bangunan tersebut. Dalam kunjungan ini mereka ditugaskan membuat sketsa perspektif dan rekam detail dari bangunan tersebut. Sketsa perspektif ini dilakukan secara manual dengan tangan dan rekam detail dilakukan dengan membuat visual note. Hasil dari sketsa dan visual note yang didapatkan adalah bahan yang akan diolah untuk kemudian dijadikan suatu presentasi visual.
Puncak dari tugas ini adalah pameran Presenting Surabaya: Old City yang dilaksanakan pada tanggal 6 – 10 Maret 2017. Dalam pameran ini disajikan papan informasi tentang gedung dan ruang dalam yang dianggap menarik, visual note rekam data literatur, sketsa di lapangan dan gambar perspektif. Dari pemaparan ini bisa dilihat bagaimana mahasiswa mengidentifikasi gaya desain masing-masing gedung: Wisma Wismilak, House of Sampoerna, Bank Mandiri Jalan Pahlawan, Perpustakaan Bank Indonesia dan Museum Bank Indonesia didesain dengan gaya kolonial Belanda, sedangkan Klenteng Boen Bio Kapasan dan Rumah Abu Han dibangun dengan pengaruh gaya desain Cina dan kolonial Belanda. Gaya desain Cina diidentifikasikan dengan ornamen-ornamen budaya Cina seperti naga, aksara dalam bahasa Cina, serta desain yang mengangkat pentingnya keseimbangan antara simbol-simbol elemen (api, air, kayu, dan sebagainya.) Sedangkan gaya desain kolonial belanda dicirikan dengan ventilasi yang melimpah, jarak lantai dan atap yang tinggi, dan pilar-pilar kolonial.

Dengan rangkaian kegiatan tugas ini, mahasiswa diajak memahami melalui gaya desain bahwa Surabaya dibagi dalam beberapa area di masa lampau. Mahasiswa juga diajak memahami bagaimana pengaruh desain tersebut terhadap dinamika sosial ekonomi. Pemahaman ini akan membantu mahasiswa belajar pada tahap awal mengenai kaitan keilmuan desain terhadap manusia. Menurut Fanny, seorang mahasiswa dari kelompok yang berkunjung ke Perpustakaan Bank Indonesia, “Dengan tugas ini kami belajar rendering bayangan dan pencahayaan”. Audrey, mahasiswa PV2 yang lain mengungkapkan kesannya mengenai tugas ini, katanya: “Saya belajar membedakan langgam (style)  yang ada pada bangunan kuno kita”. Sejurus dengan kesan-kesan mahasiswa, Dr. Ir. Lintu Tulistyantoro, M.Ds., salah seorang dosen koordinator studio PV2 mengatakan: “Surabaya memiliki potensi sejarah di sisi lain UK Petra  memiliki potensi mahasiswa yang akademis dan tugas ini memancing mahasiswa untuk melihat secara akademis bagaimana mereka mengapresiasi sejarah dalam sebuah presentasi gambar”. (noel/dit)