Connect with us
  • b
  • a
  • x
A CARING AND GLOBAL UNIVERSITY
WITH COMMITMENT TO CHRISTIAN VALUES

Berita

Kerinduan Melayani Almamater
January 11, 2019

Keluarga Alumni Universitas Kristen Petra atau biasa disebut Kanitra, merupakan wadah bagi para alumni untuk menjalin relasi antar sesama alumni, maupun dengan universitas. Saat ini sebanyak 39.548 lulusan dari berbagai Program Studi secara otomatis menjadi anggota dari kanitra. Pada tahun 1996, menjadi awal inisiasi pembentukkan wadah bagi para alumni. Universitas melalui Ir. Frederik Jones Syaranamual, M.Eng., yang saat itu menjabat sebagai Wakil Rektor, menggandeng para alumni untuk membentuk wadah yang dapat memfasilitasi para alumni UK Petra.

Kongres pertama tahun 1997-2001 dilaksanakan pada tahun 1997, disusul  dengan reuni akbar pada yang dihadiri sekitar 1200 alumni di Shangri-la Surabaya. Dalam kongres pertama ini sekaligus pemilihan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Kanitra pertama. DPP terdiri dari Ketua Umum, Sekretaris Jenderal, lima orang Ketua, Wakil Sekretaris Jenderal, Bendahara Umum, dua orang Wakil Bendahara, dan 15 orang anggota bidang. Kanitra memiliki tiga bidang yaitu Bidang Komunikasi, Publikasi, dan Kerjasama, Bidang Aksi dan Partisipasi, serta Bidang Pengembangan Dunia Usaha dan Kesejahteraan Anggota.

Kongres dilaksanakan rutin setiap empat tahun. Pada 10 November 2018, Kanitra mengadakan Kongres ke-VI untuk memilih dan menetapkan DPP Kanitra yang menjabat periode 2017-2021. Melalui Kongres ke-VI ini menetapkan Ir. Hendra Prasetya sebagai Ketua Umum beserta jajarannya.

Secara garis besar, program kerja Kanitra dibagi menjadi tiga masa waktu, yaitu jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Untuk jangka pendek, beberapa agenda yang ingin dicapai misalnya mensosialisasikan Kanitra pada mahasiswa baru, wisudawan baru, dan para alumni, membuat buletin Kanitra, mengadakan seminar dan talkshow dengan mengundang alumni sebagai pembicara, serta mengembangkan usaha seperti penjualan cindera mata.

Untuk jangka menengah, Kanitra ingin meluncurkan kartu anggota, melakukan update data alumni, membuat aplikasi untuk mempermudah alumni dalam mengakses program-program Kanitra, serta mengusahakan Kanitra memiliki badan hukum. Program kerja jangka panjang Kanitra yaitu bersinergi dengan Yayasan Pendidikan Tinggi Kristen (YPTK) Petra dan juga universitas, serta mengadakan reuni akbar Kanitra. “Saya berharap kanitra dapat menjadi perhimpunan dan organisasi yang dapat bersinergi serta berdampak. Selain itu kami dapat merangkul para alumni untuk bersama-sama menjadi satu komponen dan kekuatan yang menopang bukan hanya alumni tetapi juga UK Petra,” ujar Dra. Irawati Sandjaja, M.Th. selaku Ketua I Kanitra.

Kanitra juga memiliki 15 komisariat sebagai perpanjangan tangan kanitra di tingkat program studi. 15 komisariat ini telah memiliki SK untuk melaksanakan tugas masing-masing. “Kami tergerak untuk memberikan waktu kami, menjadi DPP Kanitra, karena kami ingin melakukan sesuatu bagi almamater kami. Telah sekian lama Kanitra berdiri, biarlah Kanitra menyelesaikan apa yang telah Kanitra mulai,” ujar alumni Sastra Inggris UK Petra tahun 1972 ini. (rut/Aj)

Arsitek Surabaya yang Berpengaruh tetapi Kurang Dikenal
January 09, 2019

Dalam rangka menunjang pemahaman arsitektur kuno maka Program Studi (Prodi) Arsitektur dan Prodi Magister Arsitektur Universitas Kristen (UK) Petra bekerjasama dengan Perpustakaan UK Petra serta didukung oleh Embassy of the Kingdom of the Netherlands menyelenggarakan Bedah Buku "H.L.J.M. Estourgie and Son: Architects in Surabaya and Beyond" pada tanggal 23 November 2018 di Ruang Konferensi 4 Gedung Radius Prawiro lantai 10.

Bedah buku yang berbentuk diskusi ini menghadirkan dua narasumber yaitu Timoticin Kwanda, Ph.D., salah satu dosen pengajar di Prodi Arsitektur yang juga penulis buku tersebut; serta Ir. Handinoto, M.T., dosen di Prodi Arsitektur UK Petra, seorang anggota Tim Cagar Budaya Surabaya yang juga banyak menulis buku sejarah arsitektur. Proses pembuatan buku awalnya inisiatif dari Dr. Pauline K.M. van Roosmalen dari PKMvR Heritage Research Consultancy, Belanda yang hendak meningkatkan kesadaran tentang seorang arsitek Belanda bernama Henri Louis Joseph Marie Estourgie.

Awalnya Pauline melakukan studi literatur di Belanda yang kemudian menghasilkan daftar bangunan karya arsitek Estourgie. Kemudian pada tanggal 11-14 Oktober 2017, Timoticin beserta tim mahasiswa dan dosen dari Arsitektur UK Petra melaksanakan workshop dan juga studi lapangan untuk mengidentifikasi dan mencatat keadaan bangunan-bangunan tersebut dengan bantuan dana dari Kedubes Belanda. Hasil akhir dari rangkaian penelitian tersebut adalah buku ini.

Buku Timoticin berisi paparan kronologis perjalanan karir Estourgie dan karya-karyanya. Beberapa karya Estourgie saat berada di bawah bendera Cuypers (1906-1926) ini adalah gedung di ujung jalan Kembang Jepun, Balai Kota, dan beberapa gedung di kawasan Darmo. Karya Estourgie di saat menjadi kepala cabang (1921) adalah kantor PT. Perkebunan Nusantara XI di Surabaya; Gedung Biara Suster Ursulin yang dibuka pada tahun 1922, saat ini dikenal dengan gedung sekolah SMAK St. Maria Surabaya; serta gedung sekolah St. Louis yang dibuka tahun 1923.

Kemudian saat Estourgie mendirikan firma Rijksen & Estourgie (1926-1934) bersama rekannya sesama pekerja di Cuypers. Karyanya pada periode ini adalah gedung Gereja Pregolan; gedung Biara Ursulin di Malang yang saat ini menjadi gedung sekolah SMP & SMAK Cor Jesu, Malang. Ciri khas rancangan Estourgie nampak jelas yaitu karakteristik bangunan neo-gothik, menara dengan ujung berbentuk spire (piramid/kerucut), serta pemakaian rose window (jendela melingkar dengan ornamen menyerupai bunga mawar). Unik bagi Estourgie, di periode ini ia juga mengerjakan bangunan Istana Kerajaan Kutai Kartanegara di Tenggarong.

Handinoto sendiri mengapresiasi pengerjaan buku ini, katanya “Sudah jarang orang menulis tentang bangunan kolonial, padahal saat ini masih banyak bangunan kolonial. Masih ada ratusan di Surabaya. Saya senang masih ada orang yang peduli dengan karya arsitektur kolonial Belanda”. Sesi ditutup dengan tampilan data bahwa 17 bangunan publik di Surabaya dan sekitarnya yang didesain oleh Estourgie, yaitu: 10 sekolah, 3 gereja, 2 rumah sakit, 1 istana, dan 1 panti asuhan. Timoticin menarik kesimpulan, “Estourgie adalah salah satu arsitek terkemuka abad 20 di Indonesia. Akan tetapi ia kurang dikenal dibandingkan arsitek lain. Karyanya ada di Surabaya, Jakarta, Semarang, Madiun, dan Bondowoso. Maka dari itu saya sebut sebagai arsitek Surabaya and beyond”.(noel/Aj)

 

Design “Loco” Hantarkan Raih Karya Terbaik Bidang Packaging
January 09, 2019

“Love Coffee, Love Eco”. Itulah nama design kemasan yang kemudian menghantarkan dua mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen Petra (UK Petra) menyabet juara best of kategori packaging. Mereka adalah Annetta Dewi Wijaya dan Yesica Suyanti, mahasiswa angkatan 2016. “Kami sangat gugup saat menghadiri awarding night  dan sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan juara”, ungkap Yesica saat dihubungi melalui telepon.

Ultigraph 2018 merupakan event terbesar Desain Grafis mencakup wilayah se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Jakarta. Ada tiga tahapan yang dilewati. Tahap pertama, peserta diminta mengirimkan slide presentasi mengenai karya desain. Panitia tidak memberikan tema tertentu dalam kompetisi ini. “Karena tema bebas, kami ingin memberikan packaging produk yang memiliki kandungan inovasi dan bermanfaat bagi masyarakat”, tambah Anneta.

Kemudian tahapan kedua, mereka diminta untuk mengirimkan prototype produk yang diajukan pada tahap sebelumnya. Hebatnya, karya mereka ini terus melaju hingga tahap ketiga. Hanya karya tiga besar saja yang bisa memasuki tahap ketiga ini dan hanya untuk menentukan karya terbaik kategori packaging. Pada tahap ketiga inilah, tepatnya tanggal 16 November 2018 mereka mempresentasikan hasil karyanya.

Annetta dan Yesica membuat kemasan kopi yang Reusable, Practical dan Eco Friendly. Awalnya mahasiswi yang pernah sekelas saat SMA ini, sangat terganggu mengenai permasalahan sampah didunia. Target marketnya adalah “Pencinta Camping”, Anneta dan tim melihat masalah limbah sampah para pencinta camping ini perlu ditangani. Para pencinta camping ternyata membutuhkan gelas tetapi seringkali tidak dibawa saat camping karena menyita tempat. Kemudian mereka terpikir membuat kopi drip instan.

Uniknya, kemasan ini dapat digembungkan saat digunakan untuk minum dan dikempeskan jika tidak dipakai. Jadi setelah isi kemasan diminum maka dapat digunakan untuk hal lainnya misalnya untuk gelas gosok gigi dan lain-lain. Bahannya menggunakan kertas khusus dan dilapisi dengan bahan tertentu agar tidak mudah robek saat terkena air. “Persiapan yang kami lakukan cukup lama sekitar satu bulanan, sebab kami mengerjakannya disela-sela kami UTS. Kami bersyukur bisa menang meskipun tak mendapatkan hadiah uang tunai. Sebab selain dapat menambah portfolio kami, kami juga belajar banyak saat mengikuti lomba ini”, urai keduanya mantap. (Aj/padi)  



Tak Terselami, Film Pendek yang Raih Juara 2 dalam CIA 2018
January 08, 2019

Kabar gembira kembali datang, kali ini empat mahasiswa Ilmu Komunikasi dan seorang mahasiswa Teknik Industri Universitas Kristen Petra (UK Petra) mengharumkan nama kampus dengan prestasi yang diperolehnya. Kelimanya berhasil meraih juara 2 pada Communication in Action (CIA) 2018, kategori Broad Action. Kompetisi ini diselenggarakan oleh Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya pada 4 November 2018.

Broad Action merupakan kompetisi film pendek dalam bentuk fiksi atau dokumenter, dengan tema "Heritage Pop Culture". Georgie Sentana Hasian, Cicilia Monika Darmawan, Melinda, Jocelin Alice Agape, dan Evander Lucius Azareel membuat film berjudul “Tak Terselami”. Film ini mengulas mengenai kampung nelayan yang terletak di daerah Kenjeran. “Pembangunan Jembatan Suroboyo mengubah budaya masyarakat di kampung nelayan. Adanya jembatan ini membuat para nelayan kesusahan untuk melaut. Perubahan inilah yang ingin kami soroti,” ujar Cicilia.

Pada tahun 2015, Pemerintah Kota Surabaya mendirikan jembatan Suroboyo yang menghubungkan kawasan pesisir Surabaya di Pantai Kenjeran. Sejak jembatan sepanjang 800 meter ini didirikan, permukaan air menjadi dangkal dan keruh karena banyak lumpur. Hal ini menyusahkan nelayan untuk pergi melaut, pendapatan masyarakat pun semakin menurun, sehingga tidak sedikit yang melakukan pekerjaan tambahan, seperti menjadi kuli bangunan, berjualan keripik, dan lainnya.

Perkembangan yang terjadi di jaman sekarang memang memiliki dampak positif bagi masyarakat sekitar, tetapi tidak bagi masyarakat kampung nelayan. Merasa dirugikan dari segi ekonomi, namun tidak banyak yang bisa dilakukan untuk memperbaiki apa yang telah terjadi. “Perkembangan ternyata tidak selamanya bagus, perkembangan dapat merubah segala budaya yang sejak dulu telah dilakukan oleh masyarakat kampung nelayan,” ungkap Georgie.

Sebelumnya, kelompok yang mengikuti kategori mahasiswa umum ini melakukan survey terlebih dahulu untuk mengetahui permasalahan dan keadaan kampung nelayan. Total pengerjaan film pendek ini dilakukan selama tiga minggu, “susah cari waktunya sehingga buat kami pengerjaan ini sangat berat sebab bersamaan dengan Ujian Tengah Semester (UTS)”, rinci kelimanya serempak. Pengumpulan karyapun dilakukan dengan cara mengunggah video berdurasi lima menit tersebut melalui Youtube. Meraih juara 2, Georgie dan kawan-kawan mendapatkan sertifikat, piala, dan uang sebesar Rp 1.500.000,-. (rut/Aj)



Tim Mahasiswa UK Petra Sabet Juara 1 dalam CIA 2018
January 04, 2019

Tim mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Petra (UK Petra) berhasil meraih juara 1 dalam Communication in Action (CIA) 2018 untuk kategori Public Relations In Marvellous Elucidate (PRIME). Mereka berhasil melewati tiga tahapan di Universitas Brawijaya, Malang dan menyisihkan 17 tim universitas lainnya. “Ada tiga topik yang bisa dipilih, akan tetapi akhirnya kami memilih membuat proposal bagaimana strategi public relations  menangani krisis kemudian membuat re-branding tourism destination Lombok”, jawab mahasiswa angkatan 2016.

Tim yang beranggotakan lima mahasiswa ini terdiri dari Brian Henry, Felicia Luvena, Fide Abraham, Irving Williem Herly dan Liem Michael Stefan Setianto. Awalnya mereka diminta membuat proposal dan video berdurasi lima menit mengenai rencana program yang diajukan, kemudian karena membuat program re-branding maka mereka membuat mulai dari logo baru, anggaran yang diperlukan hingga program unggulan agar jumlah wisatawan yang berlibur ke Lombok kembali meningkat.

Ada beberapa program yang ditawarkan diantaranya pembentukan asosiasi pemulihan Lombok (#ChangeforChange), membuat logo baru, membuat video promosi, mengundang creative content creator, mengadakan kompetisi menulis lagu untuk Lombok, mengundang artis dalam pembuatan video klip musik, pembangunan Lombok Educational Center, hingga penyebaran kapsul penyelamat. “Dengan strategi yang kami susun, kami harap Dinas Pariwisata Lombok tidak hanya berfokus pada peningkatan angka wisatawan, namun juga memperhatikan rencana preventif jika terjadi hal yang tidak diinginkan”, urai Luvena.

Tim ini membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk membuat program, “yang paling sulit adalah ketika kami harus memikirkan bagaimana program-program ini harus realistis”, ungkap Brian saat ditanya kendalanya dalam membuat program dalam Kompetisi CIA 2018. Uniknya, tim ini membuat program bencana yang terjadi di Lombok tidak perlu disembunyikan akan tetapi justru menjadi daya tarik bagi wisatawan agar mau kembali ke Lombok. Salah satunya pembangunan Lombok Educational Center, hal ini bertujuan selain destinasi wisata baru juga memberikan informasi mitasi gempa serta tempat perlindungan saat terjadi gempa. Cukup dengan tiket Rp. 5000 saja, diharapkan dapat menjangkau anak sekolah dalam hal pemberian edukasi. Tak heran dengan paket program yang lengkap inilah, akhirnya panitia memilih Brian dan tim menjadi juara 1 dan berhak mendapatkan sertifikat, piala dan uang senilai Rp. 1.500.000. (Aj/dit)

 

Gugah semangat nasionalisme dan kecintaan kepada NKRI
January 03, 2019

Sikap intoleransi belakangan menjadi “virus” yang semakin banyak menjangkit masyarakat Indonesia, tidak terkecuali anak-anak muda. Dengan perkembangan teknologi yang ada, sikap intoleransi semakin terlihat di kalangan masyarakat. Departemen Matakuliah Umum (DMU) Universitas Kristen Petra (UK Petra) bekerjasama dengan Institut Leimena menggelar Seminar Wawasan Kebangsaan dan Forum Group Discussion (FGD) pada Kamis, 13 Desember 2018 di Ruang Konferensi IV UK Petra.

“Sangat penting bagi civitas akademika untuk menyadari perannya sebagai seorang warga negara. Perkuliahan merupakan moment mempersiapkan mahasiswa untuk terjun menjadi manusia dewasa ke tengah masyarakat. Kita tentu sangat mengharapkan lulusan UK Petra dapat berkontribusi banyak bagi negara,” ujar Dr. Ir. Ekadewi Anggraini Handoyo, M.Sc., selaku Kepala Departemen Matakuliah Umum.

Seminar yang dibagi dua sesi ini dihadiri oleh mahasiswa dan dosen pengampu matakuliah Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan. Sesi pertama, Drs. Jakob Tobing, MPA, Presiden Institut Leimena berbicara mengenai Perjalanan Cita-cita Kebangsaan Indonesia. Menurut Jakob, Bangsa Indonesia sebenarnya telah terbiasa dengan dinamika global dan interaksi dengan keberagaman, sejak jaman purba, masa penjajahan, hingga kemerdekaan. “Demokrasi yang dianut Indonesia dan dicita-citakan oleh para pendiri bangsa adalah demokrasi yang bertanggung jawab. Bukan hanya aspek demos kratos (kedaulatan rakyat) tapi juga nomos kratos (konstitusi) harus dipertimbangkan,” ungkap Jakob.

Sedangkan sesi kedua, Drs. Jakob Tobing, MPA dan Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng., selaku Rektor UK Petra hadir sebagai pembicara. Topik yang diangkat adalah Peran Pendidikan Tinggi dalam Pertarungan Ideologi Bangsa. Generasi milenial disebut sebagai “me me me generation”, sangat tergantung teknologi, individualistik, dan apatis terhadap politik. “Sesuai dengan visi UK Petra untuk menjadi universitas yang peduli dan global, artinya kita tidak boleh tinggal diam untuk berkontribusi bagi masyarakat dan juga bagi bangsa dan negara,” jelas Prof. Djwantoro.

Beberapa inisiatif untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara mahasiswa juga telah dilakukan oleh UK Petra, diantaranya melaksanakan pekan sadar politik, melaksanakan program-program service learning, Petra Mengajar, Petra Peduli Lombok hingga program Community Outreach Program (COP). Dalam COP, mahasiswa UK Petra bersama dengan mahasiswa asing hidup bersama masyarakat lokal untuk mengerjakan proyek-proyek tertentu di daerah tersebut.

Kedepannya, UK Petra akan terus meningkatkan kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara dengan berbagai inisiatif yang relevan. Tak lupa juga terus menghadirkan tokoh-tokoh inspiratif untuk berbagi hidup dan pemikiran. Selain itu juga memperkuat silabus beberapa matakuliah yang relevan untuk meningkatkan kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara, dari aspek kognitif, afektif, dan motorik. (rut/Aj)

Prodi Teknik Elektro Gelar Kuliah Tamu bersama PT Bambang Djaja
January 03, 2019

Teknologi telah membantu umat manusia untuk dapat hidup lebih efisien dan mudah. Khususnya pada saat ini, perkembangan teknologi telah pesat di segala bidang. Joko Widodo selaku presiden Indonesia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mendorong industri dalam negeri berkembang lebih. Dalam rangka mempersiapkan mahasiswa, Program Studi Teknik Elektro Universitas Kristen Petra (UK Petra) mengadakan kuliah tamu berjudul “Technology Transformator” dengan membawakan narasumber dari PT Bambang Djaja Indonesia.

Kuliah tamu ini diadakan pada hari Jumat tanggal 16 November 2018 pukul 12:00 – 14:30 WIB di Ruang Konferensi IV Gedung W UK Petra. Kuliah ini merupakan mata kuliah wajib untuk mata kuliah Mesin-Mesin Listrik bagi mahasiswa Program Studi Teknik Elektro dan untuk mata kuliah Teknik Tenaga Listrik bagi mahasiswa Program Studi Teknik Mesin. Chairul Arifandi, seorang Distribution Transformator Senior Advisor dari PT Bambang Djaja hadir sebagai narasumber kuliah ini.

Di dalam kuliah ini dibahas mengenai transformator (trafo) listrik secara lebih detail dan lebih mendalam. Revolusi industri 4.0 juga turut memaksa pemerintah Indonesia untuk bertindak. Dengan perkembangan teknologi, sekarang kita tidak perlu untuk import trafo lagi. Pemerintah Indonesia sedang gencar untuk mendorong industri dalam negeri untuk dapat memproduksi barang-barang yang selama ini hanya dapat kita peroleh dari luar negeri.

Hal ini juga dialami oleh PT Bambang Djaja sebagai produsen trafo distribusi dan trafo daya. Banyak diskusi dan pertukaran pikiran antar mahasiswa dengan narasumber terjadi dalam kuliah ini. “Kuliah tamu yang diberikan oleh Bambang Djaja lebih terasa seperti sebuah diskusi dari pada kuliah satu arah, hal ini sangat bermanfaat bagi kami selaku mahasiswa FTI karena permasalahan yang ingin kami ketahui sangat beragam dan dengan tanya jawab yang kami alami,” ucap Cedric Rahardjo, mahasiswa Teknik Mesin UK Petra salah satu peserta kuliah tamu ini.

Seusai kuliah tamu, akan direncanakan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) untuk memperpanjang kerjasama. Kerjasama yang dilakukan adalah program magang di PT Bambang Djaja, penggunaan laboratorium tegangan tinggi, studi ekskursi Program Studi Teknik Elektro, dan lain-lain. Banyak alumni Teknik Elektro yang juga bekerja di PT Bambang Djaja. Oleh karena itu, hubungan yang sudah baik ini perlu untuk dipertahankan. “Saya berharap dengan adanya kuliah tamu ini, memberikan wawasan pada mahasiswa tentang prospek pekerjaan kedepan, supaya mereka tidak ragu untuk memilih industri yang seperti apa,” ujar Ir. Julius Sentosa M.T., IPM, dosen Program Studi Teknik Elektro sekaligus Kepala Laboratorium Sistem Tenaga Listrik UK Petra. (luk/Aj)

Kucurkan Beasiswa , SPS Corporate dan SMB Group Tandatangani Nota Kesepahaman dengan UK Petra
December 20, 2018

Penandatanganan Nota Kesepahaman tentang Kerjasama Pemberian Beasiswa antara SPS Corporate dan SMB Group dengan Universitas Kristen Petra (UK Petra), Surabaya dilaksanakan pada hari Kamis (06/12) di Ruang Rapat Universitas lantai 9 kampus UK Petra. “Pemberian beasiswa ini merupakan wujud kerjasama dan dukungan industri pada lembaga pendidikan tinggi yang mereka percaya agar dapat mempersiapkan sumber daya manusia yang dapat memimpin dan membangun Indonesia”, ungkap Meilinda, MA selaku Kepala Kantor Perencanaan Strategis UK Petra.

Beasiswa ini diberikan pada dua mahasiswa Program Studi Magister Manajemen (MM) serta lima mahasiswa di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UK Petra. Bagi program strata satu FKIP, beasiswa meliputi biaya kuliah dan biaya hidup bagi mahasiswa selama satu tahun, sedangkan untuk program strata dua MM, beasiswa meliputi biaya kuliah bagi calon dosen UK Petra dari awal sampai tuntas.

Beasiswa yang diberikan oleh perusahaan yang bergerak dibidang ekspor tissue dan kemasan karton ini memiliki beberapa syarat. Syarat yang diberikan bagi mahasiswa program studi MM UK Petra haruslah mahasiswa yang telah lolos seleksi yang dilakukan oleh Fakultas Bisnis dan Ekonomi UK Petra dan terpanggil menjadi dosen di UK Petra, sedangkan bagi mahasiswa FKIP, beasiswa diberikan pada mahasiswa yang berasal dari putra daerah dan berasal dari keluarga kurang mampu dengan IPK tertinggi di FKIP. Tak hanya itu saja, para calon penerima beasiswa FKIP ini harus mendemonstrasikan motivasi tinggi untuk mengabdi menjadi guru dan membawa semangat pembaharuan bagi daerah asalnya.

SPS Corporate dan SMB Group merupakan dua group perusahaan dibawah satu bendera yang dipimpin oleh Dermawan Suparsono. Dermawan memiliki kerinduan agar anak muda Bangsa Indonesia menyadari dan berani mengambil peran masing- masing untuk membawa tanah air Indonesia ke arah yang lebih baik. Beliau percaya pendidikan menjadi salah satu senjata untuk mempersiapkan calon pemimpin yang visioner, cerdas dan nasionalis.

Visi ini lah yang menginspirasi Dermawan untuk memberikan beasiswa bagi mahasiswa berprestasi di UK Petra. UK Petra dipilih karena telah mampu menunjukkan kinerja serta sumbangsih nyata dalam mendukung pemuda pemudi dari Indonesia Timur untuk dapat belajar di UK Petra dan kemudian kembali memimpin daerah asalnya baik di sektor swasta maupun masuk dalam pemerintahan.

Dermawan sempat menitipkan pesan kepada para mahasiswa penerima beasiswa ini. “Tujuan kuliah ini adalah untuk tiga hal. Awalnya belajar mandiri kemudian belajar bagaimana menempatkan diri. Dan jangan lupa untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat, sebab ketika kita mau hidup bijak harus dibarengi dengan ketulusan yang mulai langka saat ini”, urai Dermawan Suparsono. (Aj/dit)

Atasi Kemacetan dengan Sistem Ride Sharing
December 20, 2018

Kabar baik kembali datang dari Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Petra (UK Petra). Kali ini, Steven Indarto Oetomo, Gabriella Yuki, dan Jessica Chandra Sutanto meraih juara 2 dalam Civil Week 2018 untuk kategori lomba National Paper Competition. Selain National Paper Competition, Civil Week terdiri dari beberapa kategori lomba yaitu International Concrete Competition, Lomba Rancang Bangun Jembatan, dan Lomba Rancang Gambar Bangunan. Civil Week merupakan kompetisi tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta.

Untuk babak penyisihan, pada 13 September 2018, peserta mengumpulkan abstrak dari paper mereka, kemudian pada 12 Oktober 2018, 50 peserta terbaik harus mengirimkan full paper mereka. Dari 50 peserta, dipilih lima terbaik untuk maju ke babak final yang dilaksanakan pada 6-9 November 2018. Tema yang dipilih pada National Paper Competition kali ini adalah “Development Strategy of Urban Transportation Towards Sustainable Transportation”. Peserta diminta membuat paper tentang solusi untuk mengatasi masalah transportasi di Indonesia, khususnya daerah perkotaan. Steven, Gabriella, dan Jessica membuat paper berjudul “Algoritma Ride-Sharing untuk Mengatasi Kemacetan Lalu Lintas: Sistem dan Implementasi di Indonesia”.

Bertambahnya volume kendaraan di Indonesia menimbulkan banyak permasalahan dalam bidang transportasi, seperti timbulnya kemacetan, meningkatnya emisi CO2, dan kurangnya lahan parkir. “Salah satu upaya penyelesaian permasalahan ini adalah dengan pemanfaatan transportasi publik, namun upaya ini belum dapat maksimal dikarenakan banyaknya pengguna yang lebih memilih kendaraan pribadi karena dinilai lebih nyaman, aman, dan fleksibel,” ujar Steven.

Bagi Steven dan kawan-kawan, kendaraan pribadi juga dapat dijadikan sebagai alternatif untuk mengurangi permasalahan kemacetan di Indonesia yaitu ride sharing. Ride sharing merupakan suatu sarana transportasi dengan cara menggabungkan beberapa orang dan pengemudi yang memiliki rute dan destinasi yang sama dalam satu kendaraan. Dengan demikian, ride sharing memaksimalkan penggunaan kendaraan pribadi, sehingga tidak ada kursi kosong yang tersisa dalam kendaraan. Ride sharing selama ini telah ada di Indonesia, namun pelaksanaannya belum maksimal, oleh sebab itu  Steven dan kawan-kawan mengembangkan algoritma ride sharing untuk memaksimalkan pelaksanaannya.

“Saat ini dengan adanya smartphone, GPS, dan koneksi internet memudahkan pelaksanaan ride sharing ini,  penumpang dan pengendara dapat dicocokkan secara otomatis dengan sebuah sistem. Sistem ini akan memberikan data-data yang sekiranya diperlukan oleh penumpang, seperti estimasi waktu tunggu, identitas pengemudi, dan data kendaraan,” jelas Jessica.

Saat babak final, 7 November peserta mempresentasikan paper yang telah dibuat selama 15 menit, dan dilanjutkan tanya jawab selama 30 menit. Keesokan harinya kegiatan dilanjutkan dengan Seminar Nasional. Steven dan kawan-kawan berhasil meraih juara 2 dan mendapatkan piagam serta uang sebesar Rp 5.000.000,-. (rut/padi)

Kemenristekdikti Berikan Apresiasi Program Asuh PT Unggul pada UK Petra
December 19, 2018

Rabu, 05 Desember 2018 Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Dirjen Belmawa Kemenristekdikti) memberikan apresiasi pada Universitas Kristen Petra, Surabaya (UK Petra). Bertempat di Jakarta, pemberian sertifikat dalam rangka apresiasi program asuh Perguruan Tinggi (PT) Unggul ini diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum dan Keuangan UK Petra, Agus Arianto Toly, S.E., Ak., M.S.A.

“Puji Tuhan, berita bahagia bagi kampus UK Petra. Ini artinya budaya mutu yang sudah dikembangkan oleh UK Petra selama ini mendapatkan apresiasi dari Dirjen Belmawa Kemenristekdikti”, urai Agus Arianto Toly, S.E., Ak., M.S.A. Dari 29 PT yang mengikuti program asuh PT Unggul 2018 ini, hanya lima PT yang menerima apresiasi. Diantaranya Universitas Syiah Kuala (Unsyiah)-Banda Aceh, Universitas Kristen Petra (UK Petra)-Surabaya, Universitas Brawijaya-Malang, Universitas Mercu Buana-Jakarta dan Universitas Gadjah Mada-Yogyakarta.

Tak hanya menerima apresiasi saja, Agus Arianto Toly, S.E., Ak., M.S.A. yang ditemani oleh Kepala Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UK Petra, Dr. Dra. Gan Shu San, M.Sc., juga diminta untuk sharing best practices. “Kami berbagi pengalaman dan praktik  baik selama pelaksanaan program asuh, serta testimoni apa manfaatnya saat UK Petra menjadi PT Asuh dan apa yang bisa UK Petra dapatkan dari hasil belajar bersama ini”, urai Shu San.

Sebagai informasi, UK Petra sudah dua kali (sejak tahun 2017) mengikuti program dari Direktorat Penjaminan Mutu, Dirjen Belmawa Kemenristekdikti. Untuk mengikuti program tahunan ini, Dirjen Belmawa Kemenristekdikti memberikan persyaratan yaitu haruslah PT dengan Akreditasi Institusi A dan mengirimkan proposal terlebih dahulu untuk direview. Tak hanya itu saja, minimal satu PT yang diasuh haruslah universitas yang ada di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar), serta PT yang diasuh haruslah memiliki minimal 20 Program Studi dengan akreditasi C.

UK Petra menerima bantuan program Asuh PT Unggul ini sebesar Rp. 310.000.000 dan ditambah dana pendamping dari UK Petra. Tahun 2018, UK Petra mengasuh Universitas Kristen Wira Wacana (Unkriswina)-Sumba Timur, Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum, (Unipdu) Jombang dan Institut Teknologi Del (IT Del)-Toba Samosir. Shu San menambahkan, UK Petra tahun depan akan kembali mengikuti program baik ini. “Tahun depan kami akan ikut lagi. Sebab program ini selaras dengan visi UK Petra yaitu menjadi universitas yang peduli. Itu artinya program pemerintah dapat mendukung pencapaian visi UK Petra”,tutup Shu San.    (Aj/padi)

 

Perkaya Wawasan Mahasiswa UK Petra Tentang Indo Pasifik Melalui DiploFest 2018
December 19, 2018

Di era globalisasi saat ini, topik mengenai diplomasi sangat penting untuk digalakan kepada seluruh masyarakat, terutama kaum muda. Kementerian Luar Negeri Indonesia mengadakan sosialisasi mengenai diplomasi dalam rangkaian acara bertajuk Diplomacy Festival (DiploFest) 2018. Mengawali acara DiploFest, Kemenlu mengadakan public lecture (kuliah umum) di lima universitas di Kota Surabaya. Pada hari Jumat, tanggal 23 November 2018 Universitas Kristen Petra (UK Petra) menjadi salah satu universitas yang berkesempatan untuk menjadi tuan rumah dari kuliah umum yang diadakan oleh Kementerian Luar Negeri.

Sebagai pembicara, hadir Dr. Siswo Pramono, LL.M, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia, Adwin Surya Atmadja, SE., MIEF., Ph.D selaku Ketua Program Studi Manajemen UK Petra dan dipandu oleh Dr. Sautama Ronni Basana, S.E., M.E sebagai moderator pada kuliah umum ini. Tema yang dibahas pada kuliah umum ini adalah Asian Century: The Economic Implication to Indo Pacific Region.

Tema Asian Century: the Economic implication to Indo Pacific Region diangkat untuk membahas kemajuan industry di Asia pada abad ini dan pengaruhnya terhadap negara-negara indo pasifik. “Dikatakan pada abad ke 18 adalah abadnya Inggris, pada abad ke 20 adalah abadnya Amerika, sedangkan pada abad ke 21 adalah abadnya Asia,” ujar Siswo yang alumni dari Monash University ini. Dikatakan bahwa penggerak abad Asia ini adalah munculnya inovasi-inovasi yang pada akhirnya menggerakan roda perekonomian benua Asia.

Hal lain yang mempengaruhi perekonomian benua Asia juga adalah kerjasama Indo Pasifik.  Pada dasarnya, indo pasifik memiliki konsep yang berbeda-beda, dimana dikatkan bahwa tiap negara bisa memiliki konsep indo pasifiknya sendiri. Seperti contohnya, pada negara Australia, mereka memiliki konsep indo pasifik yang melihat kerjasama ini sebagai potensi untuk mengimplementasikan kebijakan luar negerinya. Akan tetapi, hal tersebut berbeda dengan negara Indonesia, dimana konsep indo pasifik untuk negara Indonesia melihat ekonomi interdependence sebagai dasar dari ekonomi indo pasifik.

“Bagi negara Indonesia, yang utama bukanlah value. Cita-cita indo pasifik bagi negara Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika, dimana yang sama-sama akan dikerjakan tanpa memaksakan value. Jadi, lebih mengutamakan common interest untuk meningkatkan marginal revenue,” jelasnya pada kuliah umum yang dilaksanakan di amphiteathre UK Petra ini. Oleh karena itu, ia menekankan agar masyarakat Indonesia terus menciptakan inovasi hingga mencapai ranah internasional.

Selain Dr. Siswo Pramono, terdapat seorang pembicara lagi, yakni Adwin Surya Atmadja. Apabila Dr. Siswo Pramono lebih menekankan pada kondisi indo pasifik dan konsep-konsep indo pasifik, ketua prodi manajemen UK Petra ini lebih menekankan pada bagaimana meningkatkan produktivitas di indo pasifik ini. Ia mengatakan bahwa “kompetisi akan menciptakan inovasi.”

Pada akhir kuliah umum ini, Dr. Sautama Ronni Basana selaku moderator kuliah umum ini menarik sebuah kesimpulan. “apakah ada hope untuk Indonesia dalam kompetisi indo pasifik?” ujarnya. “jawabannya adalah Indonesia harus terus melakukan inovasi-inovasi.” (vka/Aj)

Maknai Natal 2018 dalam Balutan Nuansa Korea
December 18, 2018

Memasuki Bulan Desember, hiasan dan pernak-pernik Natal nampak terlihat di berbagai sudut kampus Universitas Kristen Petra (UK Petra). Natal di UK Petra selalu berbeda dari tahun ke tahun, kali ini mengangkat nuansa dari Negara Korea. Mengangkat tema “크리스마스를 위한 집” (Chrismas rel wihan jib) atau “Home For Christmas”, dimeriahkan dengan berbagai acara.

“Tema Home for Christmas dipilih karena kami ingin supaya UK Petra dapat menjadi rumah bagi kita bersama untuk dapat melayani Tuhan,” jelas Agung Herwi Bantara, S.H., selaku Ketua Panitia Natal 2018. Rangkaian kegiatan Natal 2018 diantaranya Opening Ceremony dan Christmas Friendship, Natal Anak Pegawai, Lomba Korean Christmas Corner, Kunjungan Pensiunan Pegawai UK Petra, Kebaktian dan Perayaan Natal, serta Seminar Transformasi Pendidikan di Sumba yang akan dilaksanakan pada Januari 2019.

Opening Ceremony, Christmas Friendship dan Korean Christmas Corner

30 November 2018, atrium UK Petra tampak ramai oleh civitas UK Petra yang bersama-sama menyaksikan berbagai penampilan tari-tarian dari mahasiswa. “Sesuai dengan visi kita yaitu To be a Caring and Global University with Commitment to Christian Value, itu kita hidupi melalui perayaan Natal tahun ini yang bernuansa Korea. Momen ini juga mengingatkan kita kembali bahwa Kristus datang untuk semua bangsa, termasuk bangsa kita dan bangsa Korea,” ungkap Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng, selaku rektor UK Petra dalam sambutannya.

Dengan mengenakan pakaian adat Korea, Prof. Djwantoro dan R. Arja Sadjiarto, S.E., M.Ak., Ak., selaku Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan UK Petra memukul alat musik tradisional bernama Janggu dan Ching sebagai simbol pembukaan rangkaian kegiatan Natal 2018. Lomba-lomba yang diadakan berlangsung meriah dan akrab diantaranya lomba membuat kimbap dan makan samyang.

Selain itu, segenap civitas juga dapat mengikuti lomba-lomba lainnya seperti lomba Korean Christmas Corner dan lomba selfie atau wefie yang pengambilan gambarnya dilakukan di setiap Korean Christmas Corner di BAAK, BAK, Prodi Ilmu Komunikasi, Unit Perbekalan, UPFK, LPM, dan Prodi Desain Interior.

Unit-unit dan prodi-prodipun tak ketinggalan untuk ikut memeriahkan Natal 2018 ini. Unit Perbekalan terpilh sebagai juara 1 dalam lomba Korean Christmas Corner, LPM terpilih sebagai juara 2, dan Sedangkan juara 3 diraih oleh BAAK.

Yesus Kebenaran Sejati

Dalam rangkaian Natal 2018 juga dilaksanakan perayaan natal bagi anak-anak pegawai. Perayaannya dilaksanakan pada Sabtu, 1 Desember 2018 tersebut mengangkat tema “Super Truth”. Sengaja memilih tema ini sebab untuk mengajarkan kepada anak-anak bahwa Tuhan Yesus adalah satu-satunya sumber kebenaran. Para mahasiswa dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) ikut terlibat membantu dalam perayaan Natal anak 2018 ini.

Anak-anak dibagi menjadi dua kelas, kelas kecil adalah untuk anak-anak usia 0-9 tahun, sedangkan kelas besar adalah untuk anak-anak usia 10-13 tahun. Untuk kelas kecil, diceritakan tentang kisah perjalanan Paulus yang akhirnya menemukan kebenaran sejati yaitu Yesus Kristus. Sedangkan kelas besar diceritakan mengenai The Pilgrim's Progress, kisah seorang anak bernama Christian yang telah mencari berbagai macam hal untuk membuatnya bahagia, namun tidak ada yang lain selain kebenaran Tuhan Yesus.

“Tahun ini kami ingin perayaan Natal yang dapat menjadi wadah penginjilan bagi anak-anak, mereka dikelompokkan ke dalam kelompok kecil, sehingga mereka dapat turut terlibat, berinteraksi, dan dapat membuat sesuatu,” ungkap Kartika Bayu Primasanti, S.I.P., MA.Ed., selaku koordinator kegiatan Natal anak.

Kunjungan Pensiunan Pegawai UK Petra

Tak lupa dengan rekan-rekan UK Petra yang telah pensiun, Biro Administrasi Umum dan Kepegawaian UK Petra rutin mengunjungi para pensiunan pegawai UK Petra. Kunjungan yang dilaksanakan selama dua hari yaitu pada tanggal 4 dan 6 Desember 2018 ini memang rutin dilakukan setiap Natal.

Tak hanya memberikan bingkisan saja, kunjungan ini juga dalam rangka untuk berbagi sukacita Natal pada para pensiunan. Kali ini yang dikunjungi antara lain Amadi, dari Unit Pelayanan dan Pemeliharaan Kampus (UPPK); Appolos Soepardi dari UPPK; Mohammad Tohir dari UPPK, serta I Gusti Ayu Ketut Ariati, B.Sc, dari Biro Administrasi Akademik (BAA). Kunjungan dilaksanakan pada tanggal 4 dan 6 Desember 2018.

Home For Christmas

Perayaan Natal UK Petra berlangsung sangat meriah pada hari Jumat, 7 Desember 2018 di Auditorium UK Petra. Dekorasinya pun dipenuhi dengan hiasan seperti pohon-pohon cherry blossom bak di Korea, seluruh pengisi acara pun mengenakan pakaian tradisional Korea (Hanbok).

Bertajuk Home For Christmas, Pdt. Philip Andrew membuka Firman Tuhan dengan bacaan dari Lukas 2:6-7. Didalam keberdosaan manusia, seringkali manusia hanya melihat secara lahiriah, manusia lebih tertarik pada hal-hal yang kelihatan hingga lupa lihat yang didalam.

Kelahiran bayi Yesus di kandang domba merupakan bentuk kesederhanaan. Yesus lahir untuk menyelamatkan manusia dari dosa. “Melalui tema ini, kita membuka hati kita supaya Kristus lahir di hati kita, itulah natal yang sejati. Kita memberikan tempat kepada Yesus, ijinkan Dia menjadi Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya bagi kehidupan kita,” ujar Pdt. Philip Andrew.

Dalam ibadah Natal ini, juga terdapat penampilan-penampilan menarik, seperti paduan suara dari Surabaya Korean Church dan juga penampilan alat musik tradisional Korea yaitu Gayageum oleh Kwon Ji Yun. Tak hanya itu saja, pengumuman dan pemberian hadiah bagi para pemenang lomba-lomba juga memeriahkan suasana. (rut,noel/Aj)

Tiga Medali Emas, diraih Mahasiswi UK Petra
December 14, 2018

Kembali lagi Universitas Kristen Petra meraih prestasi. Kali ini, Aurelia Inggrid Setiono berhasil merebut tiga medali emas pada Kejuaraan Renang antar Mahasiswa se-Indonesia (KRAMSI) VIII. Acara tersebut diadakan pada 25-27 Oktober 2018 di Universitas Hassanudin, Makassar. Tak hanya itu saja, Inggrid, biasa dipanggil bahkan berhasil merebut predikat Perenang Terbaik pada kompetisi tersebut karena kecepatan renangnya yang lebih mendekati rekor nasional.

Aurelia Inggrid Setiono merupakan mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi dengan peminatan Marketing Public Relations di UK Petra. Untuk urusan olah raga renang, prestasi Inggrid memang sudah tidak perlu diragukan lagi. Berbagai kompetisi renang berhasil ia menangkan. Salah satunya adalah ia pernah merebut dua medali pada kompetisi POMNAS di tahun 2017 kemarin. Pada KRAMSI VIII, Inggrid berhasil menyabet tiga medali emas untuk nomor 50m gaya bebas putri, 50m gaya kupu putri dan 100m gaya kupu putri.

Kompetisi KRAMSI sendiri bukanlah sebuah kompetisi kecil. Inggrid harus bersaing dengan
16 universitas lain yang ada di Indonesia. Ketika ditanya alasan mengikuti kompetisi ini, alumnus SMAK Santo Albertus, Malang ini menjawab, “sebenarnya ya iseng saja. Saya mengikuti lomba ini juga karena diajak oleh anak-anak UKM renang. Jadi saya memutuskan untuk ikut,” ujarnya. Sebenarnya terdapat dua mahasiswa UKM renang yang mengikuti kompetisi ini, namun hanya Inggrid yang berhasil membawa pulang medali.

Menjadi juara pada kompetisi ini tentulah membutuhkan persiapan yang matang. Untuk
mempersiapkan lomba ini, Inggrid memiliki caranya sendiri untuk berlatih. “Sebetulnya kompetisi ini cukup mendadak. Jadi selama dua minggu saya terus menerus latihan setiap hari dari hari senin hingga kamis setiap jam 17.30 WIB sampai jam 20.30 WIB. Itupun tidak hanya latihan renang, tetapi juga latihan fisik dan sebagainya,” cerita Inggrid.

Selama kompetisi KRAMSI VIII di Makassar, terdapat beberapa hambatan yang dirasakannya salah satunya kondisi cuaca yang terlalu panas. Cuaca yang terlalu panas menyebabkan para peserta kompetisi menjadi cukup malas untuk melakukan pemanasan yang diperlukan sebelum melakukan kompetisi renang. Belum lagi ditambah rasa gugup yang menghalangi Inggrid merebut kemenangan pada kompetisi tersebut. “Kalau mengikuti lomba memang saya selalu deg-deg-an. Memang ketika renang hal tersebut tidak menganggu, tetapi saya menjadi nervous ketika nama saya dipanggil untuk mulai berkompetisi. Ini hambatan dari diri saya sendiri,” ujar mahasiswi kelahiran Kediri ini.

Berkali-kali menjadi juara tidak menjadikan Inggrid sebagai sosok yang selamanya dipuji-puji oleh banyak orang. Sampai saat ini, Inggrid masih merasakan menjadi seseorang yang kemampuannya dipandang sebelah mata oleh beberapa orang. Bahkan dalam kompetisi ini pun, Inggrid sempat merasakan kemampuannya sempat diragukan. “Ada yang sempat meragukannya, katanya ‘yakin anak ini akan menang?’ jujur saja saat itu saya kesal. Tapi itulah yang menjadi pemicu utama saya untuk menang. Saya ingin membuktikan kalau saya bisa menang. Saya tidak berpikir muluk-muluk, pada saat itu saya berpikir setidaknya saya bisa bawa pulang satu medali saja, apapun medalinya,” jelas Inggrid.

Pada akhirnya, motivasi tersebut tidak hanya membuahkan satu medali, tetapi tiga medali emas serta predikat Perenang Terbaik. Menjadi juara tidak hanya membutuhkan latihan yang keras, tetapi juga mental dan fokus yang kuat. Hal ini dibuktikan dengan motto hidup Inggrid, yakni “usaha tidak akan mengkhianati hasil”. (vka/Aj)

 

Mahasiswa Sastra Tionghoa Uk Petra Menangkan Lomba Esai Kedutaan Tiongkok
December 14, 2018

Celine Adelia, seorang mahasiswa program studi Sastra Tionghoa angkatan 2016 Universitas Kristen Petra (UK Petra), telah memenangkan lomba menulis esai dalam Bahasa Mandarin se-Jawa Timur. Lomba menulis esai dengan tema “Saya dan Cina” ini berada dalam sebuah rangkaian acara Lomba Pengetahuan Budaya Tiongkok ke-4 oleh Konsulat Jenderal Republik Rakyat Cina Surabaya. Celine meraih juara 2 dalam lomba menulis esai.

Pengumpulan esai dilakukan secara daring mulai dari 1 Agustus sampai dengan 20 September 2018. Lomba ini terbuka untuk seluruh mahasiswa di Jawa Timur dan terbagi menjadi dua kategori yaitu umum dan mahasiswa. Esai yang dikumpulkan haruslah menceritakan pengalaman penulis dengan Cina dan budayanya dalam kurang lebih 500 kata. Di dalam esainya, dia menceritakan bagaimana budaya China mengelilingi dan mempengaruhi hidupnya. Ia sangat bersyukur bahwa ia lahir di waktu Cina telah membuka negaranya ke dunia luar. Sejak masa kecilnya, Celine telah belajar bahasa Mandarin, setelah belajar bahasa, Celine memperdalam  ketertarikannya pada budaya Cina yaitu menyanyi dan drama dalam bahasa Mandarin.

Budaya Cina tidak pernah terlepas dari kehidupan mahasiswa yang lahir ditahun 1998 ini. Celine yang juga menyukai seni drama dalam bahasa Mandarin ini, sempat kursus dan bergabung dalam komunitas drama bahasa Mandarin di CHHS Theater Department sejak usia 3 tahun. Selain drama, Celine juga memiliki hobi lainnya yaitu menyanyi lagu Mandarin. Menjadi Master of Ceremony dalam bahasa Mandarin juga menjadi salah satu kelebihan mahasiswa ini. Seremonial penutupan dari rangkaian acara Lomba Pengetahuan Budaya Tiongkok ke-4 diadakan di Java Paragon Hotel & Residences Surabaya pada tanggal 30 Oktober 2018. Acara ini dihadiri oleh perwakilan Konsulat Cina serta Kepala Sekolah CHHS. Celine meraih juara 2 dan mendapatkan hadiah berupa telepon genggam beserta sertifikat.

Walaupun dalam keluarganya tidak ada yang berberbahasa Mandarin, tidak menjadi halangan bagi Celine untuk tetap belajar bahasa Mandarin. Celine mempertahankan kemampuan bahasa Mandarinnya melalui menyanyi dan percakapan dengan dosen di UK Petra. Berawal dari iseng-iseng belaka, namun akhirnya mencapai sebuah prestasi, itulah yang telah dilakukan Celine Adelia. “Terima kasih pada UK Petra yang selalu mendorong saya untuk terus berkembang,” ujarnya. (luk/dit)

 

Ajak Masyarakat Lawan Kekerasan Lewat A Story of Wounds
December 12, 2018

Tidak ada seorangpun pantas untuk disakiti. Akan tetapi kenyataannya Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) masih terjadi di tengah masyarakat. KDRT merupakan perbuatan yang berakibat atau dapat menyebabkan penderitaan fisik, psikis, seksual, termasuk pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, serta penelantaran ekonomi yang terjadi baik dalam di dalam maupun di luar ikatan perkawinan.

Berangkat dari rasa kepeduliannya terhadap isu kekerasan, Jessie Monika, S.S. menuliskan naskah berjudul “A Story of Wounds” yang dipentaskan dalam teater musikal di Petra Little Theatre (PLT) Universitas Kristen Petra (UK Petra). Pementasan berdurasi 105 menit ini, PLT bekerja sama dengan Christian Xenophanes sebagai komposer musik untuk lagu-lagu yang digunakan dalam pementasan. Selain itu, pementasan ini juga merupakan kolaborasi antara PLT dan kelas Stage Production Program English for Creative Industry (ECI) UK Petra.

Disutradarai Stefanny Irawan, S.S., M.A., pementasan ini juga dalam rangka memperingati Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP). Pementasan digelar selama empat hari mulai tanggal 21-24 November 2018 di ruang PLT UK Petra. “Isu ini sangat penting, tetapi seringkali hal ini masih dianggap tabu untuk dibicarakan secara luas di masyarakat, bahkan dianggap sebagai aib bagi korban dan keluarganya,” ujar Jessie.

A Story of Wounds bercerita tentang kehidupan seorang pelukis muda bernama Nina yang menikah dengan Ruben, seorang lelaki dari keluarga terpandang yang dikenal baik dan kaya. Ruben memiliki kebiasaan buruk sebagai pecandu alkohol, dan menjadi seorang yang sangat kasar saat terpengaruh minuman keras. Disaat itu, seringkali Ruben menyakiti Nina dan meninggalkan bekas luka di sekujur tubuhnya. Ruben tahu apa yang dilakukannya terhadap istrinya itu salah, oleh sebab itu ia selalu berusaha berbuat baik pada Nina sebagai permohonan maaf.

Namun hal mengerikan tersebut terus berulang, walaupun keluarga Ruben mengetahui perbuatan tersebut, tapi memilih untuk menutup mata dan berusaha “menyembunyikan” Nina dari masyarakat. Ternyata Ruben memiliki kisahnya sendiri, anak pertama yang disiapkan menjadi pemimpin perusahaan, ia mendapat banyak tekanan, sehingga ia melampiaskannya dengan minuman keras. Nina menjadikan karya dan lukisannya sebagai alat untuk mencurahkan perasaan dan keadaannya pada masyarakat luas.

Menurut Jessie, para penyintas pada umumnya merasa dirinya layak menerima perlakuan tidak manusiawi macam ini oleh karena itu tidak berani mencari pertolongan. Ini salah satunya diakibatkan oleh adanya anggapan dari masyarakat bahwa KDRT merupakan hal yang cukup wajar dilakukan oleh seorang suami terhadap istri. Sebelumnya Jessie melakukan wawancara dengan seorang penyitas, Jessie juga berkonsultasi dengan psikolog yang menangani kasus kekerasan dalam rumah tangga.

Melalui pementasan ini, Jessie ingin menekankan bahwa kekerasan terhadap siapapun, dengan dalih apapun, tidak dapat dibenarkan. “Melalui pementasan ini saya ingin menghimbau masyarakat jika melihat atau mengalami hal seperti ini, jangan hanya diam tetapi bertindaklah karena setiap manusia tidak layak diperlakukan seperti itu,” ungkap Jessie. (rut/Aj)

Kenalkan Dunia Industri Lewat Industrial Competition
December 11, 2018

Saat ini kita sedang memasuki Revolusi Industri 4.0, yang memungkinkan pekerjaan-pekerjaan manusia digantikan dengan mesin dan robot. Untuk mengenalkan hal ini kepada siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), Program Studi Teknik Industri Universitas Kristen Petra (UK Petra) menggelar Industrial Competition (IC) 2018. Industrial Competition merupakan kegiatan rutin tahunan, tahun ini merupakan tahun ke-28 penyelenggaraan IC ini. Kali ini, tema yang dipilih yaitu Industrial Revolutionary 4.0. Lomba yang dilaksanakan pada 1-3 November 2018 di Pakuwon Trade Center ini diikuti oleh 80 kelompok siswa-siswi dari berbagai SMA di Jawa Timur. “Tema ini dipilih karena seperti yang bisa kita rasakan revolusi industri 4.0 berpengaruh di seluruh bidang kehidupan era modern ini. Generasi muda memiliki peranan penting dalam penerapan Industri 4.0 karena generasi muda yang akan melanjutkan sektor-sektor industri di masa yang akan datang,” ungkap Bertinus Enrico Rahardjo, selaku ketua panitia Industrial Competition 2018.

Kegiatan IC 2018 dibagi menjadi tiga babak, yaitu babak penyisihan, semifinal, dan final. Pada babak penyisihan, peserta berkompetisi dengan cara yang menyenangkan yaitu rally games. Terdapat 24 pos yang tersebar di penjuru Pakuwon Trade Center. Setiap permainan rally games memiliki esensi dari keilmuan Teknik Industri mulai dari tingkat dasar hingga tingkat yang lebih tinggi. Salah satu contohnya adalah Calculator, permainan ini menguji logika berpikir perserta, dan menuntut peserta untuk berpikir cepat dan tepat.

21 kelompok terbaik dari babak penyisihan, melaju ke babak semifinal pada 2 November 2018. Pada babak semifinal, peserta melakukan simulasi industri menggunakan sistem web. Setiap kelompok diibaratkan sebagai perusahaan, dari 21 kelompok dibagi menjadi tiga negara yaitu Indonesia, China, dan Singapura. Dengan menggunakan virtual money dengan tiga nilai mata uang, perusahaan dapat meminjam modal awal, menabung, dan menukarkan nilai mata uang dari bank. Selain itu perusahaan dapat membeli bahan baku dari pasar beli, bahan baku dirakit menjadi bahan jadi yang dapat dijual di pasar jual.

Perusahaan akan membuat barang sesuai permintaan dari pasar yang diwakilkan oleh panitia, setelah menjualnya perusahaan mendapatkan profit dan mengembangkan industrinya. “Melalui simulasi ini, kami ingin  mengenalkan tentang aplikasi kerja di dunia industri kepada siswa SMA, serta apa saja yang dapat dipertimbangkan dalam dunia industri seperti modal awal, produktivitas kerja, permintaan pasar, sekaligus menunjukkan bahwa realita setiap perusahaan itu berbeda-beda tergantung dari berbagai faktor tersebut,” ujar Kevin Chandra Gunawan, selaku koordinator materi Industrial Competition 2018.

Di akhir, uang yang telah dikumpulkan oleh masing-masing perusahaan akan dikonversikan ke dalam satu mata uang. Lima kelompok dengan jumlah profit terbanyak terpilih menjadi pemenang dan melaju ke babak final. Pada babak final, peserta melakukan kunjungan ke PT Integra untuk permasalahan yang dihadapi dalam dunia Industri. Permasalahan yang diangkat adalah masalah penerapan Industri 4.0. Para peserta diminta mempresentasikan ide-ide kreatif untuk memecahkan masalah tersebut dan diikuti dengan sesi tanya jawab. SMAKr Petra 1 Surabaya berhasil meraih juara I dalam Industrial Competition, juara 2 diraih oleh SMAK St. Louis 1, dan juara 3 diraih oleh Charis National Academy. (rut/padi)

Optimis Menyongsong Perang Dagang
December 10, 2018

Memahami gejala dalam perekonomian dan membuat prediksi adalah hal yang penting dalam dunia usaha. Program studi International Business Accounting (IBAcc) Universitas Kristen Petra (UK Petra) mengadakan acara Accounting Talk pada 7 November 2018, dengan tema “Economic Outlook 2019” di AVT 503.

Hadir sebagai narasumber Dr. Ricky, S.E., M.R.E., Dekan Fakultas Bisnis dan Ekonomi UK Petra serta Prof. Lee Chew Ging, Dekan Faculty of Arts and Social Sciences dari University of Nottngham Malaysia.

Ricky dalam sesinya memberikan prakiraan ekonomi Indonesia di tahun 2019 dengan memaparkan beberapa hal yang akan terjadi yaitu pemilu, pengerjaan mega proyek infrastruktur di Indonesia, dan hari raya Idul Fitri. Dipaparkan pemilu tahun depan adalah pemilu yang unik karena kali pertama pemilihan legislatif dan eksekutif di Indonesia dilaksanakan secara langsung dan bersamaan. Pemilu 2019 juga berbeda dengan pemilu 2014, dimana di pemilu 2014 tidak ada inkumben yang mengikuti pemilihan. Menurut Ricky, menjelang  pemilu para investor akan lebih banyak bersikap wait and see. Pembangunan infrastruktur yang digiatkan pemerintah sejak tahun 2014 menyisakan beberapa proyek yang sangat besar untuk dikerjakan di tahun 2019. Industri pendukung pembangunan infrastruktur bisa dipastikan memiliki peluang yang sangat besar. Mengenai Idul Fitri, Ricky mengangkat analisa bahwa penyebab demand atas barang pokok pada Lebaran 2018 cenderung lebih sedikit, dikarenakan tahun ajaran baru sekolah berdekatan dengan hari Lebaran yang menyebabkan pola konsumsi masyarakat menjadi lebih terkontrol, hal yang sama bisa terjadi di tahun 2019.

Setelah memaparkan faktor besar yang akan terjadi pada 2019 di Indonesia, Ricky memaparkan kondisi global yang mempengaruhi dunia bisnis pada umumnya, yaitu  Industrial 4.0 dan disruptive innovation. Menurutnya, trend yang terjadi dalam atmosfer era disruptif ini adalah transformasi pola konsumsi dari produk yang rumit dan mahal, ke arah produk yang lebih sederhana dan murah. Hal ini dikombinasikan dengan berkembangnya kelas menengah Indonesia (rumah tangga dengan pengeluaran bulanan 2-3 juta per bulan), bisa disimpulkan pada lebih meratanya segmen konsumen Indonesia. Ricky kemudian menyimpulkan dengan paparan tentang apa yang perlu dilakukan di 2019. Menurutnya, yang terutama dalam kondisi ini adalah membangun brand dan membawa bisnis ke dunia maya. Ricky menyampaikan satu jargon, “Mayakan yang nyata, nyatakan yang maya. Disingkat MYNYM”.

Lee sebagai pembicara kedua menitikberatkan paparan pada situasi ekonomi makro ASEAN. Analisa dilakukan dengan komparasi indikator ekonomi Indonesia dengan negara-negara ASEAN. Lee melihat bahwa Indonesia beberapa tahun terakhir mendapatkan keuntungan lebih dari foreign direct investment (FDI/investasi asing langsung). Lebih lanjut, Lee membahas bahwa kekhasan perekonomian Indonesia yang cenderung tidak terlalu terpengaruh dengan sentimen ekonomi global dan lebih banyak dipengaruhi trend regional. Hal ini ditambah dengan semakin kuatnya perdagangan dalam lingkup Asia yang memberi optimis pada ketahanan ekonomi Indonesia menyongsong 2019. Di tahun 2019, faktor besar global yang terjadi adalah adanya perang dagang Amerika Serikat versus Republik Rakyat China (RRC). Dalam perang dagang ini, AS berusaha merebut kembali porsi pasar manufaktur yang direbut RRC. Lee menampilkan data yang memperlihatkan bahwa porsi AS dalam pasar barang manufaktur menurun dari 29% di tahun 1980 menjadi 18.1% di tahun 2016. RRC di sisi lain, sudah menyalip AS dengan porsi 26% sejak tahun 2014.

Bagi Indonesia, perang dagang ini perlu diantisipasi dengan pemahaman bahwa FDI dari RRC adalah cukup besar. Perang dagang perlu dipantau untuk mengantisipasi pengurangan investasi dari RRC. Lee kemudian memaparkan langkah yang bisa dilakukan di tahun 2019, yaitu menjadi penyuplai Amerika Serikat  dan RRC untuk barang yang terdampak oleh perang dagang dan membangun ekonomi yang lebih tangguh di Asia Timur yang tidak mudah dipengaruhi negara-negara dengan ekonomi raksasa. Lee mengatakan, perang dagang Amerika dan RRC berdampak minimal untuk Indonesia dikarenakan sebagian besar produk Indonesia berupa komoditas, Indonesia harus memastikan harga komoditasnya tetap stabil.  (noel/dit)

UK Petra Raih Akreditasi Institusi A dan Anugerah Kampus Unggulan
December 04, 2018

Universitas Kristen Petra (UK Petra) kembali menuai prestasi. Kemarin (28/11) berita bahagia datang dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) yang mengumumkan melalui websitenya bahwa UK Petra mendapatkan Akreditasi Perguruan Tinggi (APT) A. Bersamaan dengan itu, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah VII (LLDIKTI Wilayah VII) juga menganugrahi UK Petra sebagai Perguruan Tinggi Unggulan untuk kategori Universitas.

Legalitas akreditasi perguruan tinggi ini tertuang dalam Surat Keputusan bernomor 323/SK/BAN-PT/Akred/PT/XI/2018, menyatakan UK Petra meraih peringkat A. Sedangkan sertifikat Perguruan Tinggi Unggulan diterima langsung oleh Rektor UK Petra bersamaan dengan PT yang lain di Batu dengan nomer 145/L7/SK/KL/AKU/2018. “Puji syukur berkat penyertaan Tuhan keluarga besar UK Petra sangat bahagia mendengar kabar ini. Prestasi ini sebagai konfirmasi atas kerja keras, dedikasi dan kualitas unggul yang sudah dijaga selama ini”, ungkap Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng, selaku rektor UK Petra.

Berdasarkan data dari Pangkalan Data Pendidikan Tinggi Kemenristekdikti, saat ini di Indonesia tercatat ada 4.698 PT di Indonesia. Sedangkan sampai hari ini, yang terakreditasi baru berjumlah 1.805 dan hanya 73 Perguruan Tinggi di antaranya yang terakreditasi A. Akreditasi Perguruan Tinggi merupakan suatu proses evaluasi terhadap institusi pendidikan tinggi secara menyeluruh untuk menguji komitmen institusi tersebut terhadap penyelenggaraan akademik dan manajemennya berdasarkan standar akreditasi yang telah ditetapkan. Penilaian ini dilakukan setiap lima tahunan.

UK Petra sendiri telah melakukan persiapan cukup lama, sejak Agustus 2017. Kurang lebih selama satu tahun, tim akreditasi UK Petra telah menyiapkan borang yang dibutuhkan oleh BAN-PT. “Melaporkan apa yang sudah dikerjakan selama ini”, tambah Djwantoro.  Ada tujuh kriteria yang dinilai antara lain 1) Visi, misi, tujuan dan sasaran serta strategi pencapaian Standar, 2) Tata pamong, kepemimpinan, sistem pengelolaan dan penjaminan mutu, 3) Mahasiswa dan lulusan, 4) Sumber Daya Manusia, 5) Kurikulum, pembelajaran dan suasana akademik, 6) Pembiayaan, sarana dan prasarana serta sistem informasi, dan 7) Penelitian, Pengabdian Masyarakat serta kerjasama.   

Universitas yang berdiri sejak tahun 1961 ini terus berupaya mempertahankan prestasi bahkan telah mempersiapkan diri untuk akreditasi internasional. “Berita bahagia ini tidak berhenti sampai disini saja. Berikutnya menghadapi era disruptif kami sedang menyiapkan diri untuk memperoleh akreditasi internasional. Sebab zaman terus berubah dan kita perlu terus mengikuti perkembangan zaman, agar mahasiswa UK Petra siap menghadapi perubahan jaman ini”, urai Djwantoro saat ditemui di kantornya.

Lain halnya dengan anugerah kampus unggulan oleh LLDIKTI Wilayah VII, anugerah ini dilakukan setiap tahun. LLDIKTI setiap tahunnya mengevaluasi kinerja semua Perguruan Tinggi swasta di Jawa Timur. Sejak tahun 2009, UK Petra terus mendapatkan Anugerah Kampus Unggulan dari LLDIKTI Wilayah VII ini. Djwantoro menjelaskan, prestasi Akreditasi Perguruan Tinggi peringkat A dan Anugerah Kampus Unggulan ini merupakan hal yang amat penting. Selain sebagai tolak ukur kualitas PT dan tata kelola institusi tersebut. Bagi alumni, saat ini banyak perusahaan pencari kerja yang mencari lulusan yang berasal dari PT terakreditasi A. (Aj/dh)

Menjadi Pahlawan dengan Sadar Pajak
November 28, 2018

Peningkatan rasio pajak adalah solusi ideal untuk meningkatkan pendapatan negara. Indonesia adalah negara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) yang tergolong tinggi, akan tetapi  kurangnya kepatuhan atas pajak menyebabkan potensi pendapatan pajak kurang maksimal. Sebagai salah satu upaya meningkatkan kepatuhan pajak, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang berada di bawah Kementerian Keuangan menyelenggarakan ‘Pekan Inklusi Pajak’ pada tanggal 5-8 November 2018 di seluruh Indonesia.

Pekan Inklusi Pajak yang bertema“Generasi Sadar Pajak Pahlawan Masa Kini”, di kantor wilayah Jawa Timur 1 dilaksanakan dalam bentuk acara peningkatan literasi pajak untuk siswa tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, sampai dengan Perguruan Tinggi (PT). Untuk PT, rangkaian acara berupa Seminar Inklusi Kesadaran Pajak di Universitas Negeri Surabaya, Mobile Tax Unit Goes to Campus, yaitu kunjungan mobil informasi pajak ke kampus-kampus di Surabaya serta Lomba Poster Kesadaran Pajak.

UK Petra turut serta mendukung DJP dengan menyelenggarakan puncak rangkaian acara Pekan Inklusi 2018 yaitu ‘Pajak Bertutur’ di ruang AVT 502 pada 9 November 2018.

“Pajak Bertutur” dihadiri 250 mahasiswa dari 15 perguruan tinggi. Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Administrasi UK Petra, Agus Arianto Toly, SE., Ak., MSA, dalam sambutannya menyampaikan harapannya agar kerjasama yang sudah dijalin para mahasiswa dari 15 perguruan tinggi ini terus berkelanjutan sesuai dengan peran masing-masing. Turut hadir dan memberikan sambutan adalah Kepala Kantor Wilayah DJP Jawa Timur I Estu Budiarto Ak, MBA, yang menyampaikan pentingnya menjalin hubungan yang baik antara DJP, wajib pajak, dan perguruan tinggi. Estu kemudian mengatakan, “Arti inklusi adalah menanamkan kesadaran sejak dini, salah satunya dengan berkomunikasi dengan para mahasiswa, dalam upaya menumbuhkan pahlawan masa kini untuk meningkatkan kepatuhan sukarela pajak”.

Usai sambutan, Heru Budi Kusumo, Kepala Bidang Penyuluhan, Pelayanan dan Hubungan Masyarakat Kantor Wilayah Jatim 1 DJP menyampaikan paparan. Heru menjelaskan manfaat pajak, dimana negara memerlukan pendanaan untuk melakukan semua fungsinya. DJP bertugas melaksanakan pendanaan tersebut melalui pajak. Dijelaskan sumber pendanaan secara garis besar ada 3, yaitu: pinjaman luar negeri dan dalam negeri, menjual sumber daya alam (SDA) serta pajak. Meminjam dana dari luar negeri akan membebani negara dengan bunga. Menjual sumber daya alam dalam bentuk komoditas, seperti yang dilakukan Indonesia saat ini, kurang memaksimalkan hasil dari sumber daya tidak terbarukan tersebut. Kesimpulannya, dari ketiga sumber ini, pajak adalah sumber pendanaan negara yang paling ideal. Sebagai gambaran proporsi pendanan yang ada, pada tahun 1987 sumber pendanaan terbesar adalah penjualan SDA (minyak dan gas), sedangkan pada tahun 2018 pajak menyumbang 80% dari sumber pendanaan.

Setelah memberikan pemahaman tentang pajak, Heru menjelaskan kondisi kepatuhan pajak di Indonesia. Dengan populasi Indonesia saat ini sebesar 265 juta jiwa, wajib pajak orang pribadi (WP OP) yang terdaftar adalah 35,5 juta. Dari yang terdaftar tersebut, hanya 11,1 juta yang melapor pajak dan yang membayar pajak hanya 1,3 orang. Hal ini menunjukkan kecilnya kepatuhan pajak di bidang WP OP. Gambaran yang sama juga didapati di wajib pajak (WP) badan usaha. Ada 3,1 juta badan usaha terdaftar sebagai WP, hanya 0,7 juta yang melapor dan hanya 0,32 juta WP badan usaha yang membayar pajak.

Heru mengungkapkan pentingnya meningkatkan kesadaran pajak untuk pembangunan negara, katanya “Target pajak di APBN 2018 yang berjumlah 1.408 triliun ini ditanggung oleh 2 juta WP, jika 4 juta WP membayar maka sumber pendanaan APBN akan terpenuhi dari pajak”. Diharapkan generasi muda Indonesia akan menjadi generasi sadar pajak yang merupakan pahlawan masa kini. (noel/dit)

Mahasiswa Teknik Sipil UK Petra Raih Juara 1 Kompetisi Internasional
November 27, 2018

Prestasi internasional diraih oleh tim mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Petra (UK Petra) di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta. Mengangkat tema “Sustainable Self Compacting Concrete”, tim ini berhasil meraih juara 1 dalam kategori Concrete Competition pada 9 November 2018 yang lalu. Beranggotakan tiga mahasiswa ialah Kent Setiono, Nico Christiono dan Ricky Surya yang merupakan mahasiswa angkatan 2015. “Kami tidak menyangka bisa mendapatkan juara, ini semua berkat bimbingan dari dosen kami yaitu pak Antoni”, ungkap Nico.

Terdapat dua babak dalam International Concrete Competition (ICC) dalam Civil Week 2018, babak penyisihan dan babak final. Pada babak penyisihan, tim ini diminta untuk membuat proposal, video berbahasa inggris berdurasi 10 menit dan hasil tes beton sebelumnya yang dikirimkan pada panitia. Video dan proposal ini menceritakan bagaimana pembuatan beton kuat yang dapat diproduksi massal dengan mempertimbangkan aspek ramah lingkungan, ekonomis, bahan yang mudah didapatkan, dan tidak menyangkal nilai sosialnya. Selain bersaing dengan mahasiswa dari Indonesia, tim UK Petra ini juga bersaing mahasiswa dari Filipina, Malaysia dan India.  

Dibawah bimbingan Antoni, Ph.D., Kent bersama tim membuat inovasi mengacu penelitian sebelumnya yang disempurnakan lagi oleh tim ini. Mereka sepakat mengurangi penggunaan semen dan mencari penggantinya sebagai bahan campuran dalam beton yang dapat memadat sendiri (self compacting concrete). Mereka menambahkan gragal batu bata dan kalsium karbonat yang sudah dihancurkan dalam bentuk butiran halus dalam adonan betonnya. “Pemanfaatan gragal batu bata ini akan dapat mengurangi buangan yang tak terpakai misalnya saat merenovasi rumah ataupun memanfaatkan bagian bangunan yang runtuh pada saat terjadi bencana alam gempa bumi, sedangkan kalsium karbonat membantu menambah kekuatan beton umur awal”, urai Ricky.

Persiapan yang mereka lakukan hanya sekitar 10 hari disela-sela skripsi. Nico menambahkan, dengan beton inovasi ini dapat menghemat hingga 42%. “Akan tetapi tergantung penggunaannya, jika dipergunakan untuk hal lainnya yang besar maka diperlukan penelitian kembali khususnya untuk komposisinya”, ungkapnya. Tak sia-sia usaha mereka, dari 33 proposal yang masuk hanya enam tim saja yang masuk babak final termasuk tim UK Petra.

Dalam babak final, mereka diminta mempraktekkan secara langsung proposal mereka  berjudul “Sustainable High Early Strenght Self Compacting Concrete (SCC) Using Clay Brick Waste and Limestone Powder”. Selama tiga hari, tim UK Petra ini membuat beton secara langsung, kemudian melakukan tes beton berumur 1 hari dan melakukan presentasi di depan para juri. Panitia telah mempersiapkan bahan dasar membuat beton, peserta hanya diminta membawa bahan inovasi tambahan yang akan digunakan.

Bukan tanpa proses, tim UK Petra telah mencoba inovasi ini di kampus terlebih dahulu hingga lebih dari 10 kali percobaan. Kesulitan terberat bagi tim UK Petra adalah mempertahankan kondisi beton untuk tetap encer namun bisa memenuhi syarat beton mudah mengalir yang ditentukan. Selain membawa pulang hadiah plakat, sertifikat dan hadiah uang sebesar 1000 USD, mereka juga mendapatkan pengalaman berharga. “Kami menambah teman dan membangun relasi antar universitas baik internasional maupun nasional dan menambah pengetahuan bagaimana membuat self compacting concrete”, tutup Kent. (Aj/dit)