Connect with us
  • b
  • a
  • x
A CARING AND GLOBAL UNIVERSITY
WITH COMMITMENT TO CHRISTIAN VALUES

Berita

Menguasai Ilmu, Gabungkan Teori dan Praktek
June 28, 2018

Mengelola keuangan adalah ilmu dan kemampuan yang sangat diperlukan di masa kini. Program Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomi UK Petra hadir dan menyediakan pendidikan yang spesifik di bidang pengelolaan keuangan. Salah satu kajian dalam bidang ini adalah mata kuliah Institusi dan Instrumen Keuangan. Untuk meningkatkan wawasan mahasiswa di kajian tersebut dari sisi teori dan praktis di lapangan, digelar Kuliah Umum bertajuk “Monitoring the Financial Performance of the Banks” yang dilaksanakan pada tanggal 24 Mei 2018 di Ruang Audio Visual T502 Gedung T UK Petra.

Sekitar 200 mahasiswa menghadiri kuliah umum yang menghadirkan Ni Putu Sri Artarti, S.Kom., M.M., Vice President of Performance Measurement dari Strategy and Performance Management Group Bank Mandiri sebagai narasumber utama. Ada dua pokok bahasan yang diangkat dalam kuliah umum ini, yaitu kaitan antara teori dan praktek dalam pengukuran kinerja keuangan perbankan, serta metode memahami kesehatan suatu bank. Ricky, S.E., MRE., Ed.D., Dekan Fakultas Ekonomi UK Petra dalamnya memaparkan bahwa pengetahuan atas kondisi dan praktek nyata di industri perbankan adalah penting. Diilustrasikan bahwa saat ini anak-anak sejak kecil sudah dibuatkan rekening bank dan asset dua bank terbesar di Indonesia sudah mendekati 1000 triliun rupiah. Ricky menerangkan tujuan dari kuliah ini, “Kita ingin mahasiswa belajar bahwa dunia perbankan bukan hanya on paper tetapi juga practice” ujarnya.

Materi kuliah kali ini berjudul “Financial Performance Monitoring di Bank Mandiri”. Menilai performa bank bisa dilakukan dengan menganalisa data laporan keuangan suatu bank. Sri menampilkan data laporan keuangan berupa neraca dan rasio utama Bank Mandiri pada bulan Maret 2017 dan Maret 2018. Poin-poin dalam neraca ini adalah ekuitas, Loan to Deposit Ratio (LDR), Non Performing Loan (NPL), dan Capital Adequacy Ratio. Analisa dilakukan dengan membandingkan poin-poin tersebut pada bulan yang sama di dua tahun yg berbeda, contohnya: ekuitas adalah aset bank dikurangi liabilitas, ekuitas yang meningkat adalah indikator baik; LDR menunjukkan perbandingan pemberian kredit dan dana nasabah yang ditampung bank tersebut, angka LDR di bawah 100% memiliki makna bahwa dana yang ditabung di bank tersebut sudah bisa memenuhi kebutuhan kredit yang dilayaninya; NPL menunjukkan prosentase kredit tidak lancar, semakin besar angka NPL semakin tidak sehat kredit suatu bank; CAR menunjukkan kecukupan modal suatu bank dalam menghadapi resiko bisnis, semakin besar angka CAR semakin aman suatu bank, ada regulasi oleh Bank Indonesia (BI) yang menetapkan CAR minimal di angka 8%.

Setelah memberikan teori menilai performa Bank, Sri memaparkan praktek memonitor performa yang dilakukan Bank Mandiri. Proses tersebut terdiri atas tiga langkah utama dan Performance Measurement System (PMS). Tiga Langkah utama ini adalah planning, monitoring, dan evaluation. Ketiga langkah tersebut secara praktek diterjemahkan menjadi PMS dengan alat bantu yang meliputi Balanced Scorecard (BSC), Key Performance Indicator (KPI), dan Service Level Agreement (SLA). Mendekati penghujung kuliah, Sri mengatakan hal yang senada dengan Ricky tentang pentingnya teori dan praktek, “Ilmu yang dipakai di bidang performance monitoring ini adalah ilmu yang hybrid antara teori dan praktek” katanya. (noel/padi)

Creativepreneur yang Peduli Lingkungan, Sosial dan Ekonomi
June 28, 2018

Para mahasiswa Program Studi Desain Interior Universitas Kristen Petra (UK Petra) yang tergabung dalam mata kuliah Creativepreneurship menggelar pameran bertajuk Cre-mart. Pameran ini dilaksanakan pada 1-3 Juni 2018 di Kepomarket Galaxy Mall. Para mahasiswa yang merupakan gabungan dari dua kelas ini, memamerkan sekaligus menjual barang-barang hasil karya mereka selama satu semester. Sebelumnya para mahasiswa diminta bekerja sama dengan para pedagang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk mengangkat produk-produk tersebut dengan cara mengembangkan desain produknya.

Para mahasiswa terbagi atas 31 kelompok, 19 kelompok dari kelas Creativepreneurship A dan 12 kelompok  dari kelas Creativepreneurship B. Masing-masing kelompok terdiri dari lima hingga enam orang. Mata kuliah Creativepreneurship ini diampu oleh Yusita Kusumarini, S.Sn.,M.Sn. dan Mariana Wibowo, S.Sn., M.MT. Para mahasiswa harus melakukan riset terkait produk dan mengikuti bimbingan dengan dosen pembimbing. Bimbingan ini bertujuan supaya dosen dapat memberikan arahan dan membantu mengembangkan ide dari mahasiswa. Mahasiswa juga diminta membuat analisa produk berdasarkan situasi dan kondisi real UMKM. Pada saat pameran, mahasiswa UK Petra terbagi dalam empat booth yang terdiri dari berbagai macam produk di antaranya gantungan kunci, alat penerangan, tas, boneka rajut, jam dinding, dan lain-lain. Metode pendidikan Service Learning diaplikasikan dalam kuliah ini, di mana mahasiswa belajar melayani dan melayani untuk belajar. Mahasiswa membantu masyarakat secara langsung untuk memberikan solusi atas permasalahan yang ada. Dan dalam prosesnya, mahasiswa mendapatkan pembelajaran. “Dalam mata kuliah ini, mahasiswa tidak hanya belajar mendesain produk, tetapi melalui pameran ini mereka juga belajar menjadi seorang entrepreneur serta  bagaimana caranya memasarkan produk. Mereka sangat senang sekali saat barang dagangannya berhasil terjual,” ujar Mariana Wibowo, S.Sn., M.MT.

Savi, salah seorang mahasiswa peserta mata kuliah Creativepreneurship menceritakan pengalamannya. Mulanya, Savi bersama empat orang rekannya ditugaskan untuk mengidentifikasi permasalahan yang dimiliki pelaku industri kreatif. Untuk menganalisa permasalahan tersebut, mereka diarahkan untuk melihatnya dari tiga aspek, yaitu: aspek lingkungan, sosial dan ekonomi. Di suatu industri kulit sepatu di Surabaya mereka melihat dari aspek lingkungan ada permasalahan dalam bentuk banyaknya limbah sisa kulit, yang dalam sebulannya bisa mencapai 50 kilogram. Mereka lantas memformulasikan solusi dalam bentuk membuat rancangan produk dan merek baru yang memanfaatkan bahan limbah sisa kulit tersebut. Produk yang mereka rancang berupa tote bag, clutch bag, aksesoris, tempat bolpoin, dan tempat kartu. Dari aspek sosial, solusi ini membuka lapangan pekerjaan baru. Kelompok savi mencari pekerja dan memberikan pelatihan kriya sehingga pekerja ini bisa menjadi pengrajin produk sesuai dengan desain mereka. Tidak berhenti di situ, mereka juga memikirkan aspek ekonomi untuk industri yang bersangkutan dalam bentuk proses pemasaran produk ini. Mereka memasarkan produk tersebut dengan merek ‘Kulaz’ yang merupakan singkatan dari ‘Kulit Lazarus’. Menurut Savi tugas ini memberinya pengalaman yang berharga, “Ternyata ide-ide kreatif itu bisa kita kembangkan ke berbagai hal, salah satunya ke bidang entrepreneurship yang justru bisa menambah nilai jual suatu barang” katanya.(noel,rut/padi)

Konsorsium Tiga PT Membina Sociopreneurship
June 28, 2018

Fenomena globalisasi merambah segala bidang, termasuk juga pendidikan tinggi. Untuk memberikan akses pendidikan tinggi yang semakin baik, pada awal tahun 2018 ditetapkan bahwa akses telah dibuka bagi perguruan tinggi luar negeri dapat beroperasi di Indonesia. Kehadiran perguruan tinggi luar negeri di dalam negeri ini merupakan kesempatan dan tuntutan bagi perguruan tinggi dalam negeri untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanannya. Untuk mendukung perkembangan perguruan tinggi dalam negeri, khususnya dalam bidang urusan internasional, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi menyelenggarakan Program Hibah Penguatan Kelembagaan Kantor Urusan Internasional (PKKUI) 2018. UK Petra mengusung visi “A Caring and Global University with Commitment to Christian Values” menerima program ini dan turut serta mengembangkan Biro Administrasi Kerjasama dan Pengembangan (BAKP), yang melakukan fungsi Kantor Urusan Internasional di UK Petra, agar bisa berkembang menjadi International Office yang berkalitas global. Meilinda, S.S., M.A., selaku Kepala BAKP, menyampaikan urgensi dilaksanakannya program ini, menurutnya “Universitas di Indonesia perlu bergegas memperkuat dan siap melayani di level internasional”.

Program Hibah PKKUI ini di tahun-tahun sebelumnya sudah tiga kali diterima oleh UK Petra. Akan tetapi, pada tahun 2018 ini ada sedikit perbedaan, yaitu UK Petra menerimanya sebagai bagian dari konsorsium tiga perguruan tinggi bersama dengan Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Udayana (Unud). Konsorsium lintas provinsi ini menerima hibah sebesar 150 juta rupiah dan mengadakan satu program pendidikan bersama dengan tajuk Summer in Surabaya – Bali 2018 (Sura-Bali 2018) yang diselenggarakan pada tanggal 14-29 Juli 2018 di Surabaya dan Bali. Summer program yang berdurasi dua minggu ini mengangkat tema Society Empowerment through Sociopreneurship. Yang ditawarkan program ini adalah pendidikan lengkap tentang sociopreneurship. Sociopreneurship adalah bentuk wirausaha yang mengedepankan nilai dan tanggungjawab sosial.

Peserta selama tiga hari pertama mendapatkan materi Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) dan Kewirausahaan umum di Unair. Setelah tiga hari mendapatkan materi dasar di Unair, para peserta melanjutkan belajar di UK Petra selama empat hari. Fakultas Seni dan Desain UK Petra membekali para peserta dengan materi kewirausahaan berkelanjutan (sustainable entrepreneurship) di tiga aspek, yaitu: aspek ekonomi, aspek ekologi, dan aspek sosial sebagai fokusnya. Peserta juga mendapatkan pelatihan komputer grafis untuk membantu mereka membuat Business Model Canvas (BMC) suatu alat bantu merancang model wirausaha baru. Setelah perkuliahan di Surabaya selama tujuh hari, para peserta melanjutkan di Universitas Udayana Bali selama tujuh hari. Di Bali, mereka mengaplikasikan wawasan sociopreneurship yang sudah didapatkan di Surabaya pada lima perusahaan di Bali. Mereka ditugaskan membuat menganalisa BMC kelima perusahaan tersebut, mendiskusikan, dan mengusulkan pengembangan BMC yang terkait dengan sociopreneurship. Dengan implementasi nyata hasil pendidikan ini, maka dampak positif pendidikan melalui program PKKUI ini dirasakan juga oleh masyarakat selain mahasiswa peserta program.

Program ini diikuti 60 mahasiswa asing dari 10 negara, yaitu: Korea Selatan, Malaysia, China, Singapura, Vietnam, Brunei Darusalam, Republik Ceko, Taiwan, Thailand, dan Myanmar. Para mahasiswa asing ini ditemani oleh 12 mahasiswa terpilih dari konsorsium. (noel/padi)

Bersinergi melalui formasi baru YPTK Petra
June 20, 2018

Sabtu, 09 Juni 2018 di Auditorium Gedung P1 P2 Universitas Kristen Petra (UK Petra) telah berlangsung acara Kebaktian Pengucapan Syukur peneguhan Pembina, Pengurus, Pengawas Yayasan Perguruan Tinggi Kristen (YPTK) Petra Periode 2018-2023. “Formasi pelayanan yang baru di YPTK Petra ini semoga menjadi sebuah sinergi yang baik. Mari kita saling bersinergi satu sama lain antara yayasan dan seluruh sivitas akademika UK Petra demi pengembangan yang lebih baik”, ungkap Ir. Hary S. Listijo selaku ketua Pengurus YPTK Petra periode 2018-2023.

Suasana kebaktian yang dimulai pukul 09.00 WIB itu berlangsung dengan khidmat. Dipimpin langsung oleh Pendeta Lindawati Mismanto, M.Th dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Manyar – Surabaya, seluruh tamu undangan diajak merenungkan Injil Markus 1:16-20. Dikatakan dalam perenungan tersebut bagaimana menjadi penjala manusia. Terpilih menjadi pelayan Tuhan, baik dalam formasi Pembina, Pengurus, Pengawas YPTK Petra merupakan sebuah anugerah. Panggilan menjadi hamba Tuhan, apapun itu pelayanannya baik di atas mimbar ataupun tidak, tetap melekat pada Kristus. Hanya Allah saja yang akan memampukan, menolong hingga memimpin langkah Pembina, Pengurus, Pengawas YPTK Petra.

YPTK Petra sendiri dalam hal ini mengemban tugasnya untuk mendukung dan memberi motivasi agar para dosen serta tenaga kependidikan UK Petra dapat berkarya secara maksimal dalam dunia pendidikan. Tugas UK Petra adalah mencetak insan  profesional yang dapat melihat bagaimana menghidupi atau mengikuti teladan Kristus, dan menjadikan hidup seluruh sivitas akademika menjadi lebih berharga. “Jadi jika UK Petra diberkati dengan menjadi sebuah institusi pendidikan tinggi swasta terbaik di  Indonesia oleh BAN-PT, itu menjadi bukti bahwa UK Petra berjalan lurus dan tidak menjadikan pendidikan sebagai alat bisnis semata”, urai Pendeta Lindawati.

Paduan Suara UK Petra pun turut serta menyumbangkan talentanya dengan mengumandangkan dua buah lagu pujian. Kebaktian pengucapan syukur yang berlangsung kurang lebih dua jam ini di dalamnya juga dilaksanakan peneguhan Pembina, Pengurus, Pengawas YPTK Petra terpilih dalam bentuk pernyataan keyakinan dan janji yang diucapkan. Peneguhan sekaligus pemberkatan dilayani oleh Pendeta Lindawati Mismanto, M.Th dengan diiringi lagu “Kuutus Kau”. “Rencana kami ke depan yang terdekat adalah menyusun rencana pengembangan UK Petra 25 tahun mendatang. Dibutuhkan sebuah kerjasama yang kuat dan baik mulai dari yayasan, rektorat, dosen,tenaga kependidikan, hingga mahasiswa untuk mempertahankan dan mengembangkan UK Petra lebih maju, di antaranya mempersiapkan diri untuk Akreditasi Internasional”, pesan Ir. Hary S. Listijo yang ditemui usai acara berlangsung.

Juara 2 Accounting Fair 2k18
June 12, 2018

Masa perkuliahan merupakan kesempatan bagi seorang mahasiswa akuntansi untuk memperkaya pengetahuan dan keahlian di bidangnya yang spesifik. Ikut serta dalam ajang kompetisi yang spesifik akuntansi adalah kesempatan baik untuk berlatih dan mendapatkan pengalaman tersebut. Dosen pengajar di Program Akuntansi Pajak UK Petra mendorong mahasiswa-mahasiswa yang berpotensi untuk mengikuti kegiatan kompetisi yang ada. Menurut Tonny Stephanus Eoh, SE., MA., Ak., “Potensi pada mahasiswa dapat dilihat selain dari prestasi akademik adalah dari sikap mau belajar dan terbuka pada kompetisi”. Ajang kompetisi yang terdekat adalah Olimpiade Akuntansi dalam gelaran Accounting Fair 2k18 Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPN Veteran) Jawa Timur. Aturan khusus di ajang ini adalah peserta merupakan mahasiswa jurusan akuntansi dan maksimal semester 4. Graciella Tanaya, Jessica Theresia, dan Brigita Evelyn adalah tiga mahasiswa berpotensi serta memenuhi syarat tersebut dan mewakili jurusan di kompetisi tersebut. Tonny menambahkan bahwa kompetisi yang diikuti mahasiswa di dua tahun pertama ini bisa menjadi tolok ukur untuk membina mahasiswa di kompetisi-kompetisi yang lebih lanjut.

Sebelum mengikuti kompetisi tersebut, para mahasiswa ini mempersiapkan diri dengan mempelajari materi akuntansi yang seharusnya dipelajari oleh mahasiswa tingkatan lebih tinggi. Lomba dimulai tanggal 2 Mei 2018 dan berakhir pada tanggal 4 Mei 2018 dan diikuti puluhan kelompok dari 8 Universitas di Surabaya. Di hari pertama para peserta mengerjakan soal pilihan ganda dan esai dalam waktu 90 menit. Soal-soal di babak ini dikerjakan bersama-sama dalam 1 tim. Dari babak penyisihan ini didapatkan 10 tim yang lolos ke babak semifinal esok harinya. Pada babak semifinal pengetahuan dan penguasaan materi masing-masing anggota tim diuji dengan soal estafet yang dikerjakan individual secara bergiliran. 4 Tim terbaik disaring untuk mengikuti babak final di hari terakhir kompetisi.

Babak final Olimpiade Akuntansi Accounting Fair 2k18 dilaksanakan dalam bentuk debat isu-isu akuntansi. Debat dilakukan 2 kali, pertama untuk menyisihkan 2 kelompok yang lolos ke debat grand final. Keempat tim peserta diundi untuk mengambil peran sebagai Tim Pemerintah serta Tim Oposisi. Debat keempat tim ini dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari akademisi akuntansi dengan anggota: Rika Puspita Sari, SE., MA., Dekan FE Universitas Dr. Soetomo; Prinintha Nanda Soemarsono, SE., MA., Dekan Vokasi Unair; dan Rida Perwita Sari, SE., M.Aks., Ak. CA, Dosen UPN “Veteran” Jawa Timur. Penilaian yang dipakai adalah parameter penilaian yang akrab dipakai di lomba debat, yaitu: masalah, cara, dan metode (matter, manner, and method). Tim UK Petra mencapai grand final dan keluar sebagai juara 2. Hasil yang cukup menggembirakan dengan melihat bahwa cukup lama mahasiswa UK Petra vakum dari kegiatan kompetisi ini. Tonny melihat ini sebagai permulaan dan melihat adanya potensi untuk dikembangkan, “Harapannya, gelar-gelar juara yang dulu sering diraih bisa dipertahankan di masa depan” katanya. (noel/padi)

Budaya yang Membuat Jatuh Hati
June 11, 2018

Bahasa Korea saat ini menjadi menjadi salah satu bahasa asing yang diminati kaum muda. King Sejong Institute (KSI) di Universitas Kristen Petra (UK Petra) Surabaya sebagai lembaga yang menyediakan pendidikan bahasa dan budaya Korea,  menyelenggarakan kompetisi tahunan Korean Speech Contest. Kompetisi yang diselenggarakan Sabtu 26 Mei 2018 di auditorium UK Petra ini mengangkat topik “Kebudayaan Korea yang Unik dan Membuat Hati Bergetar/Jatuh Cinta“.

17 Murid KSI yang berusia minimal 18 tahun mengikuti kompetisi ini. Mereka menyampaikan pidato sepanjang 5 menit dalam bahasa Korea tentang hal menarik dari negara Korea. Pidato yang dibawakan dinilai berdasarkan kemampuan berbicara (pelafalan, intonasi, kelancaran dan tata bahasa), penampilan (ekspresi, kepercayaan diri), respons (gerak tubuh dan reaksi penonton), dan sikap (tabiat panggung dan ketepatan waktu). Dewan juri yang memberikan penilaian terdiri dari: Lee Gyeong Youn, Vice President of Korean Community, Lee Sang Jae, pemilik kursus bahasa Korea ‘Jalan Korea’; dan Yoon Hwa Jeong, pendidik bahasa Korea.

Lee Gyeong Youn mengapresiasi pidato para murid KSI, “Siswa KSI mampu berbahasa Korea dengan lancar, saya berharap mereka dapat mewujudkan apa yang dicita-citakan”. Katanya. Juara dari kompetisi ini berhak mengikuti acara kebudayaan selama 1 minggu di Korea Selatan dan berkompetisi dengan pemenang kontes pidato dari KSI seluruh dunia di September 2018.

Pada kompetisi tahun ini pemerintah kota Busan di Korea Selatan, menyediakan kategori penghargaan spesial berupa beasiswa studi di Universitas Dong-A, Busan selama 10 minggu. Keluar sebagai 6 peserta terbaik adalah: Devy Wulandari Wijaya sebagai peraih Special Mentioned Award, Meilisa Dewi dan Jihan Fakhrin Rizkillah sebagai peraih Excellence Award, Stella Vianita sebagai peraih Top Excellence Award (Juara 3), Gabriella Christina Listiono sebagai peraih Special Award (Juara 2), dan Emily Abigail sebagai peraih Daesang Grand Prize (Juara 1).

Stella menyabet juara ketiga dengan membawakan pidato tentang semangat Korea. Inspirasi pidato ini muncul dari warga Korea Selatan yang mampu membangun negaranya dari keterpurukan pasca peperangan. Peraih juara kedua, Gabriella, membawakan pidato tentang musik Korea. Musik Korea baginya adalah bagian dari kegiatannya sehari-hari sebagai pengajar vokal. Emily sebagai juara kompetisi ini, membawakan pidato tentang beragam festival tradisional yang ada di Korea. “Saya ingin pergi ke semua festival tradisional di Korea. Korea memiliki ragam festival tradisional yang sangat menarik untuk pendidikan dan pariwisata”.  (Noel/dit)

Picknique: Memilih Menjadi Unik
June 11, 2018

Dalam dunia desain, bekal keilmuan dan akademik perlu dilengkapi dengan pengalaman berkarya dan berkolaborasi. Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra menyediakan wadah bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman tersebut dalam bentuk gelaran Prime Time DKV yang digelar setiap tahuni. Pada tahun 2018, Prime Time DKV dilaksanakan pada tanggal 23-25 Mei 2018 dan mengangkat tema Picknique. Dalam gelaran ini, mahasiswa dipertemukan dengan komunitas-komunitas kreatif yang ada di Surabaya, selain itu mahasiswa juga berkesempatan mengikuti workshop dan diskusi yang relevan dengan ilmu dan dunia desain, dan bertemu dengan fotografer muda unggul Leovir.

Rangkaian acara Picknique dimulai dengan pembukaan oleh Obed Bima Wicandra, S.Sn., M.A., Sekretaris Program Studi DKV. Dalam pembukaannya, beliau menghimbau mahasiswa untuk mengembangkan kolaborasi yang dimulai dari acara ini ke lingkup yang lebih luas. Obed juga mengingatkan pentingnya berkolaborasi, “Berkolaborasi adalah sangat penting, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk membangun lingkungan”, katanya. Pada kesempatan yang sama Ketua Panitia Prime Time 2018, Clarence Adiputra, menerangkan makna tema yang diambil, yaitu ajakan bagi mahasiswa untuk memilih (to pick) menjadi unik (unique).

Sepanjang tiga hari acara ini, enam komunitas hadir di selasar lantai 2 Gedung P UK Petra. Keenam komunitas ini adalah: 1) Papan Dolanan Arek Suroboyo (PADAS), komunitas boardgame (permainan dalam bentuk papan); 2) Portraitmeetsub, komunitas foto portrait; 3) Komunitas Seni Clay Indonesia, (KSCI); 4) Doodleartsurabaya, komunitas doodle (suatu genre seni menggambar modern yang populer); 5) Kolcai, komunitas watercolor (cat air); dan 6) Kreasidoarjo, komunitas lettering (tulisan hias). Mahasiswa bisa berinteraksi, bertukar pendapat serta pengalaman, serta menjalin relasi dengan komunitas-komunitas ini. Lebih istimewa lagi, setiap komunitas memberikan demo keahlian masing-masing, seperti: membuat gambar doodle ukuran 3 kertas A2 langsung di tempat; membuat kerajinan dari malam; membuat tulisan dekoratif dan kaligrafi; bermain dan diskusi boardgame; melukis dengan cat air; serta berbagai macam kegiatan kreatif lainnya. Di hari pertama dan kedua, digelar workshop Tata Rupa bersama Kreavi, situs kolaborasi kreatif desainer. Untuk memberikan inspirasi dan motivasi bagi mahasiswa calon pelaku kreatif, alumni dan mahasiswa yang sudah terlebih dahulu menjalani kegiatan tersebut memberikan sesi sharing di hari kedua.

Di hari terakhir, Prime Time DKV menghadirkan fotografer kreatif muda, Leovir, yang berhasil menggagas genre fotografi baru dan karyanya sudah diakui secara nasional. Genre fotografi yang diangkat adalah penggabungan antara fotografi dan lukisan tradisional Tionghoa. Sederet selebritas Indonesia, telah meminta dibuatkan karya fotografi, contohnya: Chelsea Olivia bersama bayinya; Giselle Marthen bersama Gempi anaknya; serta Raisa dan Hamish. Leovir membagikan pengalamannya berkecimpung di dunia desain sejak kuliah. Di masa awal kuliahnya, Leovir merasa fotografi bukan passion-nya. Saat itu mata kuliah fotografi dinilainya paling gampang. Hal ini berubah ketika Leovir lebih dalam mengikuti fotografi dan mengetahui lebih banyak, “(Mengetahui itu) Akhirnya membuat ingin berstatus jadi fotografer. Dan akhirnya fotografi menjadi passion” katanya. Dengan mengerjakan sesuatu yang merupakan passion ini, Leovir mengembangkan keahlian teknis, menemukan selera khas dan mempopulerkan gaya khasnya itu. (noel/padi)

Dee Lestari Bagikan Teknik-teknik Menulis di UK Petra
June 10, 2018

Selama ini minat menulis di kalangan mahasiswa bisa dikatakan kurang, salah satu penyebabnya adalah adanya pemahaman bahwa kemampuan menulis hanya milik mereka yang berbakat di bidang tersebut saja. Lalu bagaimana dengan mahasiswa yang memiliki keinginan kuat untuk menjadi penulis tetapi belum memahami teknik-teknik penulisan dengan baik? Dee Lestari, seorang penulis sekaligus penyanyi terkenal di Indonesia hadir di Universitas Kristen Petra (UK Petra) untuk membagikan ilmu dan teknik menulis dalam kegiatan Creative Writing Weekend with Dee Lestari. Kegiatan yang diusung oleh Pusat Karir UK Petra ini dilaksanakan pada Sabtu, 26 Mei 2018 di Ruang Konferensi IV Gedung Radius Prawiro lantai 10 kampus UK Petra.

Workshop menulis ini diikuti oleh 37 peserta yang terdiri oleh mahasiswa UK Petra dan juga mahasiswa dari luar UK Petra. Melalui workshop ini, peserta diharapkan dapat memahami teknik-teknik menulis kreatif dalam bentuk cerita pendek, teknik-teknik melakukan riset untuk keperluan menulis, pemetaan ide dasar, pembuatan plot, serta membuat karakter yang kuat. Sebelumnya, peserta diminta membuat cerita pendek 400-500 kata, dengan memilih salah satu topik dari tiga topik yaitu korupsi di tempat kerja, diskriminasi di tempat kerja, dan kejahatan seksual di tempat kerja. Dengan bimbingan Dee Lestari pada saat workshop, peserta diminta mengembangkan ide konsep cerpen yang telah dikumpulkan sebelumnya dan membuat outline lanjutan untuk dikumpulkan dan dinilai saat workshop menulis ini.

Menurut Dee, jangkar cerita menjadi hal yang terpenting untuk diperhatikan oleh penulis sebelum memulai menulis. Jangkar cerita atau cerita adalah konflik, saat ada konflik, maka pasti ada sebuah cerita. Konflik yang dipilih lebih baik jika menggunakan hal-hal yang sangat kontras, misalnya kesendirian vs kebersamaan atau harapan vs kematian. Peserta mendapatkan kesempatan untuk mengikuti beberapa macam latihan. Latihan pertama, peserta disuguhkan gambar lima manusia yang sedang berjalan di pinggir perairan. Dari gambar tersebut, peserta diminta menemukan konsep cerita berkaitan dengan gambar tersebut.

Menentukan deadline juga menjadi unsur penting keberhasilan menulis. Latihan kedua yaitu lima menit menulis mengalir, peserta diminta menulis bebas selama lima menit. “Jika saya minta untuk menulis bebas selama lima menit, rata-rata akan menuliskan sekitar 150 kata, jadi jika kita menyisihkan waktu 30 menit saja untuk fokus menulis, sudah berapa kata yang bisa kita hasilkan. Jangan pernah memulai sesuatu jika belum menentukan deadline agar tepat waktu dalam penulisannya.” ujar penulis novel Supernova ini.

Riset merupakan bagian penting dalam menulis, karena riset dapat meningkatkan derajat keyakinan penulis atas tulisannya. Saat melakukan riset, selalu cari data yang bersifat panca indra dan akan lebih baik jika riset ini disampaikan kepada pembaca melalui dialog dari karakter atau tokoh. “Saya dikenal sebagai penulis yang selalu mengawali cerita dengan riset. Riset merupakan bagian penting dalam menulis, tetapi hati-hati, riset juga merupakan alasan paling seksi untuk menunda tulisan,” ungkap wanita bernama lengkap Dewi Lestari Simangunsong ini.

Peserta diminta melakukan evaluasi cerita yang sudah dibuat sebelumnya dan menambahkan detail seperti ciri karakter, nama karakter, serta identifikasi kekuatan dan kelemahan karakter. Di akhir acara, dipilih 10 peserta dengan konsep cerpen terbaik dan peserta diminta menandatangani surat pernyataan akan menyelesaikan cerita pendek tersebut dalam waktu empat minggu. (rut/Aj)

Himasitra Kembali Gelar Petra Civil Expo 2018
June 10, 2018

Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil (Himasitra) Universitas Kristen Petra (UK Petra) kembali menggelar Petra Civil Expo (PCE) 2018. Peserta PCE 2018 terdiri dari siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Surabaya dan mahasiswa Teknik Sipil di seluruh Indonesia. Berbagai rangkaian kegiatan digelar diantaranya pameran, seminar, Lomba Kuat Tekan Beton, Bridge Competition, dan Earthquake Resistant Design Competition. “Sebagai calon civil engineer, kita dituntut untuk mendesain sebuah bangunan yang kuat dengan beban yang akan dipikul, tetapi juga kita juga harus tetap memerhatikan efisiensi bangunan. Melalui PCE ini diharapkan para peserta dapat menyalurkan dan mempraktikan pengetahuan-pengetahuan yang selama ini sudah didapat,” ujar Dennis Wijaya, ketua Petra Civil Expo 2018.

Bridge Competition merupakan lomba mendesain maket sebuah jembatan yang kemudian akan dibebani. Tema yang diangkat adalah “Safe and Efficient” yang terdiri dari dua kategori yaitu kategori SMA dan universitas. Melalui Bridge Competition ini peserta diminta merancang desain struktur jembatan yang inovatif, kuat, dan efisien. Pada tanggal 23 Maret 2018, dilaksanakan tahap penyisihan di auditorium UK Petra. Tahap penyisihan, terkumpul sebanyak 90 tim SMA dan 140 tim universitas, yang masing-masing tim terdiri dari maksimal 3 orang. Para peserta membuat jembatan yang terbuat dari kayu balsa sejak seminggu sebelum tahap penyisihan, dan kemudian diberi beban batu. Jembatan terbaik adalah jembatan yang mampu menahan beban terberat, 15 tim SMA dan 20 tim universitas terbaik berhak maju ke tahap final di Grand City Surabaya.

Lomba Kuat Tekan Beton kembali diadakan dengan mengangkat tema “Smarter, Greener, Optimize your Green Concrete”. Melalui tema ini, Lomba Kuat Tekan Beton 2018 menantang seluruh mahasiswa Teknik Sipil di Indonesia dalam hal pembuatan beton ramah lingkungan yang mampu menjadi solusi bagi berbagai permasalahan lingkungan di dunia. Peserta membuat sampel silinder beton, yang langsung dibuat sendiri di tempat, kemudian beton diletakkan di bak curing selama 28 hari, dan pada 7 April 2018, beton diuji dengan alat tekan.

Lomba ketiga dalam rangkaian kegiatan Petra Civil Expo adalah Earthquake Resistant Design Competition (ERDC), lomba simulasi gempa bumi terhadap maket bangunan tinggi yang diberi beban dan digetarkan di atas meja getar. Peserta diminta membuat sebuah struktur bangunan dari kayu balsa yang tahan terhadap gempa namun juga efisien dan ekonomis. ERDC kali ini hadir dengan tema “One Step Ahead”. Pada tahap penyisihan, peserta telah membuat maket bangunan tinggi dengan bentuk berbeda-beda yang kemudian diuji pada 24 Maret 2018. “Untuk final bridge competition dan ERDC, peserta harus membuat jembatan dan struktur bangunan langsung pada saat final yaitu pada 4-6 Mei 2018,” ujar Dennis.

Juara I Bridge Competition 2018 tingkat SMA diraih oleh tim Chrosbird dari SMA Stella Maris Surabaya. Juara I Bridge Competition 2018 tingkat universitas diraih oleh tim Abryne dari Institute Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Juara I Lomba kuat tekan beton diraih oleh tim Al-Mumtaz dari Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Sedangkan Juara I Earthquake Resistant Design Competition diraih oleh tim Achiles 59 dari ITS Surabaya. (rut/Aj)

Mengasah Ketrampilan PFA
June 10, 2018

Peristiwa pengeboman tiga gereja dan kantor kepolisian beberapa waktu yang lalu membuat warga kota Surabaya cemas. Pasca kejadian luar biasa ini jika dicermati suasana jalanan Surabaya menjadi lebih lengang dari biasanya, bahkan Dinas Pendidikan Kota Surabaya meliburkan anak-anak siswa jenjang Kelompok Bermain hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ada beberapa himbauan juga untuk masyarakat Surabaya menghindari keramaian. Dengan adanya kejadian ini, tidak dipungkiri jika masyarakat dapat mengalami trauma akibat aksi terorisme itu. Maka dari itu, Ikatan Psikologi Klinis (IPK) dan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) mengundang Pusat Konseling dan Pengembangan Pribadi (PKPP) Universitas Kristen Petra (UK Petra) untuk terlibat dalam pendampingan pasca Trauma. Menyadari kebutuhan ini maka PKPP menggelar seminar dan training Psychological First Aid (PFA) pada hari Senin, 21 Mei 2018 mulai pukul 09.00 di Ruang Konferensi IV gedung Radius Prawiro lantai 10 kampus UK Petra, Surabaya, yang ditujukan kepada Psikolog/ Konselor sekolah Kristen dan atau hamba Tuhan Gereja

Kegiatan ini mendatangkan pembicara Aileen P. Mamahit,Ph.D yaitu seorang dosen konseling dari Seminari Alkitab Asia Tenggara yang memiliki pengalaman menangani trauma (PFA) di Filipina. “Kami diminta oleh IPK dan HIMPSI untuk mendukung layanan pendampingan trauma pada korban, tetapi karena jumlah kami sedikit maka dirasa perlu menggandeng teman-teman lain, untuk itu kami menggelar penyegaran kembali mengenai ketrampilan pendampingan pasca trauma. Kita akan belajar bersama pendekatan dasar secara psikologi bagaimana menangani trauma”, urai Dra. Lanny Herawati selaku Kepala PKPP UK Petra. Tercatat 81 orang yang menghadiri kegiatan yang berlangsung selama dua jam ini.

Apa itu Psycological First Aid (PFA)? PFA merupakan respon yang manusiawi dan sportif kepada sesama manusia yang sedang menderita dan membutuhkan dukungan. PFA ini dirancang untuk mengurangi distress awal yang disebabkan oleh kejadian traumatis sekaligus mengembangkan ketrampilan adaptif yang bersifat jangka panjang. “Akan tetapi tidak semua musibah akan menimbulkan trauma, jadi kita harus melihat kondisinya dulu. Pelatihan PFA ini dapat digunakan untuk kejadian di masa yang akan datang, jadi PFA ini tidak sama dengan konseling krisis”, urai Aileen.

Lalu siapa yang dapat memberikan PFA ini? Relawan, guru, rohaniawan, relawan Palang Merah, organisasi kemanusiaan hingga responden lain yang terlatih. “Jadi siapa saja dapat melakukan PFA asal mempunyai hati yang tulus untuk menolong dan siap sedia membantu. Akan tetapi perlu diingat untuk seorang yang memberikan PFA selain mempunyai kemampuan komunikasi yang baik juga harus mampu mengelola metabolisme tubuh diri sendiri. Jangan sampai si PFA malah mendapatkan trauma sekunder”, urai Aileen yang asal Filipina namun fasih berbahasa Indonesia tersebut. Menjadi PFA haruslah jeli, sebab tidak semua orang yang membutuhkan PFA mau ditolong. Kuncinya, tidak boleh memaksa individu yang tidak ingin ditolong, tetapi sediakanlah diri bagi mereka yang membutuhkan dukungan. Individu yang membutuhkan bantuan diantaranya bisa dilihat dari fisik, emosi, perilaku dan respon kognitifnya. Misalnya seperti menangis, tatapan kosong, menarik diri, selalu waspada dan lain-lain. Yang paling penting saat melakukan PFA bagi individu yang membutuhkan ini adalah mengembalikan rasa aman yang terhubung dengan orang lain, memiliki akses terhadap dukungan kelompok sosial serta mengembalikan kemampuan untuk mengontrol diri.

“Kami berharap dengan adanya pelatihan ini, maka semua orang yang terpanggil hatinya dapat turut serta membantu para korban trauma dengan pengetahuan dan ketrampilan yang tepat. Pelatihan ini juga dapat berguna untuk hal-hal lain dimasa yang akan datang”, tutup Dra. Lanny Herawati. (Aj/dit)

Memasuki Era Keterbukaan Informasi dengan Berwawasan
June 10, 2018

Pajak adalah salah satu penerimaan terbesar negara, maka dari itu kondisi perpajakan adalah kepentingan semua bagian dari negara kita. Beberapa tahun belakangan ini, realisasi penerimaan pajak tidak mencapai target yang ditetapkan pemerintah, tercatat pada tahun 2017 pemasukan dari pajak adalah sebesar Rp. 1.151,1 triliun atau 89,7% dari target tahun itu. Oleh karena itu, penting sekali meningkatkan kesadaran pajak bagi masyarakat Indonesia. Sebagai upaya membekali mahasiswa jurusan akuntansi dan perpajakan mengenai peraturan-peraturan perpajakan agar nantinya dapat menjadi konsultan pajak yang andal dan profesional, maka Program Akuntansi Pajak UK Petra menyelenggarakan lomba di bidang perpajakan Petra Tax Competition (PTC). PTC pada tahun 2018 bertajuk “The Real Tax Agents” pada tanggal 11-12 Mei 2018 dan mengangkat tema Automatic Exchange of Information.

Hari pertama lomba diisi dengan seminar nasional “Embracing Changes Within Automatic Exchange of Information” yang dihadiri sekitar 300 orang. Narasumber seminar ini adalah B. Bawono Kristiaji, SE., MSE., MSc. IBT., ADIT., dari Danny Darussalam Tax Center. Bawono mengawali dengan paparan data performa pajak Indonesia yang pada tahun 2017 tercatat rasio pajak Indonesia adalah 10,64 persen. Prosentase ini cukup mengkhawatirkan karena International Monetary Fund (IMF) menetapkan titik aman performa pajak suatu negara adalah pada rasio 12,5%. Rendahnya rasio pajak Indonesia, menurut Bawono disebabkan oleh 5 faktor, yaitu: 1) rendahnya kepatuhan pajak; 2) shadow economy, yaitu kegiatan perekonomian di sektor yang sukar pajak (bisnis informal); 3) penghindaran pajak; 4) struktur perpajakan tidak imbang, yaitu Pajak Penghasilan (PPh) Badan lebih kecil dari PPh Perorangan di mana idealnya adalah sebaliknya; dan 5) lemahnya kinerja petugas perpajakan. Dari kelima faktor tersebut di atas sudah terlihat langkah dan pembaruan pemerintah untuk memperbaikinya dan hasilnya sejak 2013 sudah mulai terlihat. Tax Amnesty (TA) adalah salah satu langkah tersebut, dan TA berhasil menambahkan pelaporan harta sebesar Rp4.855 triliun. Penambahan pengakuan harta bukanlah tujuan akhir dari TA, menurut Bawono “Tax amnesty adalah jembatan ke sistem pajak baru yang berkeadilan dan memiliki kepastian hukum dengan keterbukaan informasi”. Babak baru ini adalah era Automatic Exchange of Information (AEoI) dimana semua pihak yang terkait dengan pajak di dalam dan luar negeri berbagi data informasi secara otomatis. AEoI memungkinkan pemantauan keuangan yang lebih baik karena negara-negara saling berbagi informasi keuangan secara automatis dan tidak ditutup-tutupi. Bawono menyampaikan beberapa akibat yang menyusul setelah AEoI diberlakukan, yaitu: aliran dana gelap ke luar negeri seperti yang terjadi dalam kasus Paradise Papers menjadi lebih terkontrol karena adanya transparansi keuangan di dalam negeri dan antar negara; serta kemungkinan beneficial owner(orang yang menghindari pajak dengan cara mengatasnamakan harta dengan nama orang lain) dalam mengelabuhi sistem menjadi lebih kecil.

Kegiatan kompetisi dilaksanakan di hari kedua dan diikuti oleh 102 mahasiswa dalam 34 tim dari berbagai perguruan tinggi di 5 propinsi ini. Para peserta disisihkan dengan ujian tertulis dan serangkaian rally games dengan materi yang sejurus dengan seminar di hari sebelumnya. Dalam babak final, 5 tim terunggul diberi tugas untuk mempresentasikan pandangan mereka atas pro dan kontra AEoI serta memberikan solusi atas permasalahan yang ada. Muncul sebagai juara 1 kompetisi ini adalah peserta dari Politeknik Keuangan STAN, mereka pro pada AEoI dan melihatnya sebagai titik mula yang baik untuk perpajakan Indonesia. Kelompok juara ini mengidentifikasi masalah yang ada adalah kurang adanya kepercayaan wajib pajak pada badan administrasi pajak, dan solusi yang diajukan adalah mengatasi keraguan ini dengan memberikan fakta yang melawan keraguan tersebut. Juara kedua dan ketiga adalah secara berurut kelompok dari Universitas Indonesia dan Universitas Brawijaya. (noel/padi)

“Sembuhkan” Bumi Lewat Reboisasi dan Urban Farming
June 04, 2018

Seiring dengan perkembangan zaman dan semakin sedikitnya lahan karena pembangunan, jumlah tumbuhan menjadi semakin berkurang. Padahal tumbuhan sangatlah penting bagi kehidupan manusia. Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kristen Petra (UK Petra) menggelar kegiatan urban farming dan reboisasi. Sebanyak 75 mahasiswa dari berbagai program studi di UK Petra berpartisipasi dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini. Kegiatan ini merupakan agenda tahunan dari Departemen Community Service Development BEM UK Petra. Kali ini mengangkat tema “Heal the World” dan dilaksanakan pada 12 Mei 2018 di Mangrove Information Center Wonorejo Surabaya. “Tema ini sengaja dipilih agar mengingatkan mahasiswa untuk berperan aktif dalam menyembuhkan bumi yang makin lama makin kekurangan area hijaunya. Mahasiswa juga harus peduli terhadap lingkungan dan ikut membawa andil dalam membawa perubahan demi penyembuhan bumi,” ujar Velisa Yulian, selaku ketua panitia.

Tujuan dari kegiatan Urban Farming dan Reboisasi ini adalah untuk menyadarkan mahasiswa akan pentingnya penghijauan serta memperluas area hijau di Surabaya. Para mahasiswa dibagi menjadi dua kelompok, yaitu urban farming dan reboisasi. Pada kegiatan urban Farming, peserta menanam tanaman-tanaman hias dan juga sayuran dengan media botol-botol plastik bekas. Setelah menghias botol-botol tersebut dan ditanami tumbuhan, kemudian peserta menggantung tanaman tersebut secara vertikal. Konsepnya memindahkan pertanian konvensional ke pertanian perkotaan, yang berbeda terletak pada pelaku dan media tanamnya. “Kami sengaja memilih botol plastik bekas sebagai media untuk urban farming, karena sebagai wujud kepedulian kami terhadap lingkungan untuk mengurangi limbah botol yang sulit terurai dan menjadikannya sebagai sesuatu yang bermanfaat,” urai Velisa selaku mahasiswi Program Studi Arsitektur UK Petra.

Sedangkan reboisasi dilakukan pada beberapa bagian lahan hutan mangrove yang kosong dengan menanam kembali bibit mangrove. Sebelum melakukan aksi menanam bibit tanaman mangrove, peserta diberikan penyuluhan tentang tanaman mangrove, mulai dari jenis-jenis, hingga cara menanam dan merawat tanaman mangrove. Untuk kegiatan reboisasi, peserta menanam sebanyak 80 bibit tanaman mangrove. Selain untuk membina kerja sama dengan pihak pemerintah yang mengelola area hutan mangrove, kegiatan ini dilaksanakan sekaligus melanjutkan proyek reboisasi tahun lalu yang juga dilaksanakan di tempat ini.

Para mahasiswa terlihat antusias dalam melakukan kegiatan pengabdian masyarakat ini. Mereka tidak segan-segan berpanas-panasan dan masuk ke dalam lumpur untuk menanam bibit mangrove. Untuk kedepannya, BEM UK Petra rencananya akan berkunjung kembali untuk memantau perkembangan mangrove dan tanaman hias yang telah ditanam. (rut/Aj)

Perpustakaan UK Petra Kembali Gelar Surabaya Memory 2018
June 04, 2018

Perpustakaan Universitas Kristen Petra (UK Petra) kembali menggelar kegiatan Surabaya Memory 2018. Sejak tahun 2001, Surabaya Memory hadir dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Surabaya dengan bentuk pelestarian pusaka (heritage) Kota Surabaya. Kali ini, di HUT Surabaya yang ke-725 ini, Surabaya Memory mengangkat tema “Suroboyoku Beragam”. Tema ini dipilih secara khusus menanggapi fenomena meningkatnya kecenderungan tindakan intoleransi dan kewaspadaan akan disintegrasi bangsa karena kurangnya sikap menghargai keberagaman, yang sebenarnya merupakan unsur penting yang membentuk masyarakat Indonesia. “Surabaya dikenal sebagai kota yang beragam dan kaya akan budaya. Keberagaman ini tidak menjadikan Surabaya menjadi masyarakat yang terpecah-belah, tetapi justru masyarakat Surabaya dikenal dengan toleransinya yang tinggi,” ujar Dian Wulandari, S.I.I.P. selaku Kepala Perpustakaan UK Petra Surabaya.

Surabaya Memory 2018 dilaksanakan pada 2-6 Mei 2018 di Pakuwon Mall Surabaya. Rangkaian kegiatan Surabaya Memory mencangkup pameran, lomba, workshop, dan juga talkshow yang diikuti oleh masyarakat umum, mulai dari siswa Sekolah Dasar hingga dewasa. Selain memamerkan foto-foto koleksi perpustakaan UK Petra tentang Surabaya dari masa ke masa, dalam pameran ini turut dipamerkan karya-karya Handinoto, Ir., M.T., dosen Arsitektur UK Petra yang berkecimpung dalam arsitektur kolonial Belanda dan arsitektur pecinan. Selain itu, karya-karya Anton Gautama, MBA., seorang fotografer yang telah mendapatkan banyak penghargaan tingkat internasional juga turut meramaikan pameran ini. Pada hari pertama dilaksanakan lomba Alat Peraga Edukatif (APE) bagi guru Preschool, TK dan SD yang dilakukan secara berkelompok dengan tema Harmony in Diversity. Setelah itu, acara dilankjutkan dengan opening ceremony.

Pada 4 Mei 2018 diadakan lomba presentasi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan tema Membangun Harmoni dalam Keberagaman Berbangsa. Selama 10 menit, para peserta mempresentasikan pandangan hingga pengalaman tentang pentingnya harmoni dalam keberagaman. Kemudian acara dilanjutkan dengan kompetisi Public Speaking Harmoni in Diversity bagi siswa-siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Selanjutnya dilaksanakan workshop Jurnalistik dan Fotografi bagi masyarakat umum yang bekerja sama dengan Komunitas Love Suroboyo. Dalam kegiatan ini, para peserta dibekali ilmu jurnalistik untuk menulis berita dan teknik dasar fotografi.

Pada hari selanjutnya, digelar lomba menggambar dan mewarnai siswa kelas 4-5 Sekolah Dasar (SD) yang berkolaborasi dengan orang tuanya. Dilanjutkan dengan workshop merajut oleh Komunitas My Sister’s Fingers. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan kompetisi menyanyi lagu tradisional bagi siswa SD kelas 4-5. Selanjutnya ada workshop berkain yang oleh Perkumpulan Bangga Berkain Nusantara yang mengajarkan cara berkain panjang dan sarung yang simple, modern dan cepat.

Pada Hari terakhir dimeriahkan oleh siswa TK dan SD kelas 1-3 yang melakukan fashion show bertemakan refleksi dari kampung-kampung di Surabaya diantaranya Kampung Ampel, Kapasan, Tambak Bayan, Peneleh, hingga Magersari. Berikutnya digelar workshop layang-layang dari Komunitas Perlabaya. Kemudian acara dilanjutkan dengan Talkshow Penyelamatan Pusaka Surabaya dengan pembicara DR. Ing. Pratiwo, M. Arch., IAP, IAI., seorang peneliti, penulis buku, dan pemerhati cagar budaya, serta Anton Gautama, MBA. (rut/padi)

Memasuki Era Keterbukaan Informasi dengan Berwawasan
June 04, 2018

Pajak adalah salah satu penerimaan terbesar negara, maka dari itu kondisi perpajakan adalah kepentingan semua bagian dari negara kita. Beberapa tahun belakangan ini, realisasi penerimaan pajak tidak mencapai target yang ditetapkan pemerintah, tercatat pada tahun 2017 pemasukan dari pajak adalah sebesar Rp. 1.151,1 triliun atau 89,7% dari target tahun itu. Oleh karena itu, penting sekali meningkatkan kesadaran pajak bagi masyarakat Indonesia. Sebagai upaya membekali mahasiswa jurusan akuntansi dan perpajakan mengenai peraturan-peraturan perpajakan agar nantinya dapat menjadi konsultan pajak yang andal dan profesional, maka Program Akuntansi Pajak UK Petra menyelenggarakan lomba di bidang perpajakan Petra Tax Competition (PTC). PTC pada tahun 2018 bertajuk “The Real Tax Agents” pada tanggal 11-12 Mei 2018 dan mengangkat tema Automatic Exchange of Information.

Hari pertama lomba diisi dengan seminar nasional “Embracing Changes Within Automatic Exchange of Information” yang dihadiri sekitar 300 orang. Narasumber seminar ini adalah B. Bawono Kristiaji, SE., MSE., MSc. IBT., ADIT., dari Danny Darussalam Tax Center. Bawono mengawali dengan paparan data performa pajak Indonesia yang pada tahun 2017 tercatat rasio pajak Indonesia adalah 10,64 persen. Prosentase ini cukup mengkhawatirkan karena International Monetary Fund (IMF) menetapkan titik aman performa pajak suatu negara adalah pada rasio 12,5%. Rendahnya rasio pajak Indonesia, menurut Bawono disebabkan oleh 5 faktor, yaitu: 1) rendahnya kepatuhan pajak; 2) shadow economy, yaitu kegiatan perekonomian di sektor yang sukar pajak (bisnis informal); 3) penghindaran pajak; 4) struktur perpajakan tidak imbang, yaitu Pajak Penghasilan (PPh) Badan lebih kecil dari PPh Perorangan di mana idealnya adalah sebaliknya; dan 5) lemahnya kinerja petugas perpajakan. Dari kelima faktor tersebut di atas sudah terlihat langkah dan pembaruan pemerintah untuk memperbaikinya dan hasilnya sejak 2013 sudah mulai terlihat. Tax Amnesty (TA) adalah salah satu langkah tersebut, dan TA berhasil menambahkan pelaporan harta sebesar Rp4.855 triliun. Penambahan pengakuan harta bukanlah tujuan akhir dari TA, menurut Bawono “Tax amnesty adalah jembatan ke sistem pajak baru yang berkeadilan dan memiliki kepastian hukum dengan keterbukaan informasi”. Babak baru ini adalah era Automatic Exchange of Information (AEoI) dimana semua pihak yang terkait dengan pajak di dalam dan luar negeri berbagi data informasi secara otomatis. AEoI memungkinkan pemantauan keuangan yang lebih baik karena negara-negara saling berbagi informasi keuangan secara automatis dan tidak ditutup-tutupi. Bawono menyampaikan beberapa akibat yang menyusul setelah AEoI diberlakukan, yaitu: aliran dana gelap ke luar negeri seperti yang terjadi dalam kasus Paradise Papers menjadi lebih terkontrol karena adanya transparansi keuangan di dalam negeri dan antar negara; serta kemungkinan beneficial owner (orang yang menghindari pajak dengan cara mengatasnamakan harta dengan nama orang lain) dalam mengelabuhi sistem menjadi lebih kecil.

Kegiatan kompetisi dilaksanakan di hari kedua dan diikuti oleh 102 mahasiswa dalam 34 tim dari berbagai perguruan tinggi di 5 propinsi ini. Para peserta disisihkan dengan ujian tertulis dan serangkaian rally games dengan materi yang sejurus dengan seminar di hari sebelumnya. Dalam babak final, 5 tim terunggul diberi tugas untuk mempresentasikan pandangan mereka atas pro dan kontra AEoI serta memberikan solusi atas permasalahan yang ada. Muncul sebagai juara 1 kompetisi ini adalah peserta dari Politeknik Keuangan STAN, mereka pro pada AEoI dan melihatnya sebagai titik mula yang baik untuk perpajakan Indonesia. Kelompok juara ini mengidentifikasi masalah yang ada adalah kurang adanya kepercayaan wajib pajak pada badan administrasi pajak, dan solusi yang diajukan adalah mengatasi keraguan ini dengan memberikan fakta yang melawan keraguan tersebut. Juara kedua dan ketiga adalah secara berurut kelompok dari Universitas Indonesia dan Universitas Brawijaya. (noel/padi)

Menjadi Wanita Sejati
June 04, 2018

Tanggal 21 April adalah hari kelahiran Raden Adjeng Kartini, seorang pionir emansipasi wanita Indonesia, dimana di jamannya Kartini menentang budaya tradisional yang menghalangi wanita mendapatkan pendidikan, pekerjaan, dan jabatan yang lebih tinggi dari pria. Hal ini menjadi titik tolak persamaan hak dan penyetaraan gender di Indonesia serta  semangat Kartini menjadi inspirasi wanita untuk memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam tanggung jawab, baik dalam hal karir, keluarga, maupun pengabdian terhadap bangsa dan negara.

Departemen seni dan kebudayaan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kristen (UK) Petra menyelenggarakan talkshow hari Kartini bertajuk “Women Empowerment” pada tanggal 27 April 2018 di Auditorium UK Petra dengan narasumber Nadine Chandrawinata dan Aniendya Christianna, S.Sn., M.Med.Kom., dosen program studi Desain Komunikasi Visual UK Petra. Acara ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran peran wanita Indonesia tanpa menghilangkan kodratnya sebagai wanita.

Nadine yang pernah menjadi wakil Indonesia dalam ajang Miss International dan saat ini menjadi duta wisata dan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) “Sea Warrior” yang bergerak di bidang kepedulian hayati lautan berkata bahwa semua wanita dilahirkan sama dan sederajat dengan pria dan memiliki peran dan tanggung jawab yang sama besarnya untuk mengusahakan kehidupan yang lebih baik dan memberikan manfaat positif untuk sekitarnya.

Aniendya menyampaikan pandangannya atas perayaan Hari Kartini zaman sekarang, katanya “Ini adalah kesempatan bagi perempuan untuk merayakan tidak hanya dengan berkebaya, tetapi sebagai manusia yang utuh dalam segala hal”. Simbolisme dengan pemakaian baju daerah adalah baik, tetapi makna luhurnya adalah women empowerment (pemberdayaan perempuan)-wanita yang berdampak positif untuk lingkungannya.

Di sesi selanjutnya Nadine membahas tentang bagaimana menjadi seorang perempuan yang berdampak positif, menurutnya perempuan harus aktif dan mampu memberikan manfaat melalui kegiatan yang dilakukannya. Kegiatannya sebagai duta wisata dan aktivis LSM “Sea Warrior” adalah contoh dimana Nadine terjun dalam kegiatan organisasi tersebut dengan pengetahuan dan kemampuan yang terbatas akan tetapi dengan passion dan semangat, apapun bisa dilakukan olehnya.

Aniendya berpendapat bahwa saat ini perempuan sudah sadar pentingnya pendidikan akan tetapi kesadaran ini tidak selalu diimbangi dengan etika dan moralitas. Adanya etika dan moralitas yang melandasi pendidikan memampukan seorang perempuan berdaya tanpa meninggalkan kodrat luhurnya sebagai perempuan.

Di bagian penutup, Nadine menyampaikan pesan, “Perempuan itu hebat kalau mau belajar hal-hal yang baru, peduli dan aktif serta memberikan manfaat positif ke sekitarnya. “Menghargai pasangan, orangtua, keluarga dan kehidupan ini adalah peran penting yang dijalankan kaum perempuan”. Aniendya mengutip penggalan puisi karya Lenang Manggala sebagai pernyataan penutupnya, “Engkau adalah betina, kalau kau cuma tahu soal makan, tidur, bersolek dan kawin, banyaklah belajar, berpikirlah besar, rancanglah masa depan dan pandai-pandailah menempatkan diri, maka engkau akan disebut perempuan sejati.” (noel/dit)

Kampanye Sosial Art Therapy Bagi Anak-Anak Penderita Kanker
June 04, 2018

Kanker pada anak memiliki peluang sembuh lebih besar dibandingkan dengan kanker pada orang dewasa. Inilah yang menggugah Christopher Allen Setia Dharma, mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen Petra (UK Petra) untuk melakukan kampanye sosial bagi anak-anak penderita kanker. Kampanye KUATKU (Kisahku Lewat Tanganku) merupakan karya tugas akhir Allen berupa art therapy bagi anak-anak penderita kanker di Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) Surabaya. “Melalui kegiatan art therapy, anak penderita kanker dapat berekspresi mengisahkan kisah hidupnya serta memberi pengaruh positif untuk setiap anak kanker yang ada supaya menggunakan waktu luangnya untuk terus berkarya. Sebab kesenangan merupakan hal penting bagi kesembuhan dari setiap anak penderita kanker”, urai Allen.

Kegiatan art therapy ini bertujuan untuk membantu para anak penderita kanker dalam melatih saraf motorik sekaligus sebagai media berekspresi. Art therapy dapat dilakukan dengan berbagai media dan terbukti secara psikologis dapat mempercepat kesembuhan. Kali ini Allen memilih media keramik bagi anak-anak penderita kanker. Anak-anak penderita kanker yang menjalani pengobatan kemoterapi, membutuhkan media untuk melatih saraf motoriknya agar tidak kaku. “Dengan menggunakan tangan mereka belajar membentuk keramik maka tangan-tangan itu akan secara aktif bergerak”, ungkap Allen.

Sebelum melatih para anak kanker, Allen berlatih pembuatan keramik hingga ke Malang. Allen sudah sejak Februari 2018, secara berkala mengunjungi YKAKI untuk mengajak anak-anak melakukan art therapy. Pada 2 Mei 2018, Allen kembali mengunjungi YKAKI, kali ini sebanyak empat anak dan orang tuanya mengikuti pelatihan art therapy ini. Peserta bebas berekspresi dan bebas membuat apa saja sesuai keinginan masing-masing. Ada yang berbentuk hati, sendok, piring, kura-kura, dan lain-lain. Anak-anak terlihat antusias mengolah tanah liat bersama ibunya masing-masing. Salah satunya anak yang ikut berpartisipasi adalah Adimas Putra yang mengidap tumor mata. “Saya sangat senang dengan adanya kegiatan ini, anak-anak dapat melupakan tentang sakitnya dan dapat lebih ceria. Saya berharap kegiatan semacam ini bisa sering dilakukan”, ungkap Khomaria, ibu dari Adimas Putra.

Setelah selesai dibentuk, nantinya Allen akan karya peserta akan dibawa ke Malang untuk dibakar. Kedepannya, Allen berharap kampanye KUATKU ini dapat mendorong anak-anak dapat berkarya tidak hanya melalui media keramik, tetapi juga menggunakan media lainnya dengan tangan mereka sendiri. Total ada 20 anak yang sudah berpartisipasi melakukan art therapy sejak Februari 2018. Nantinya pada 18-19 Mei 2018, karya anak-anak penderita kanker ini akan dipamerkan di qubicle center Surabaya. Di hari pertama, dilaksanakan workshop art therapy bagi para pengunjung agar bisa mendapatkan pengalaman yang sama dengan anak-anak penderita kanker. Pada hari kedua, anak-anak penderita kanker bersama-sama bernyanyi akustik untuk saling menyemangati dan menguatkan sesama penderita kanker. (rut/padi)

Mengenal Korea di King Sejong Institute Surabaya
June 04, 2018

Semakin populernya budaya pop Korea di dunia (K-wave), tak terkecuali di Indonesia, sudah merasuk dalam berbagai aspek. Mulai dari gaya hidup, fashion, makanan, bahkan bahasa. Hal ini memicu banyak orang terutama anak muda tertarik untuk mengetahui dan belajar lebih dalam mengenai bahasa dan kebudayaan negeri gingseng tersebut. Dalam rangka mempromosikan pendidikan bahasa dan budaya Korea bagi masyarakat, Pemerintah Korea melakukan perpanjangan tangan ke berbagai negara di dunia melalui King Sejong Institute (KSI) Foundation. Saat ini KSI Foundation memiliki lebih dari 174 institusi cabang yang tersebar di lebih dari 58 negara di dunia, termasuk di Indonesia. Di Indonesia sendiri, saat ini terdapat tiga KSI yaitu di Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

KSI Surabaya didirikan pada 10 Agustus 2015 dan terletak di Universitas Kristen Petra (UK Petra). KSI Surabaya merupakan hasil kerjasama antara UK Petra dan Dongseo University di Korea. Melalui KSI Surabaya, para pelajar mendapatkan pengajaran Bahasa Korea berkualitas tinggi karena para guru yang mengajar merupakan native speaker yang berpengalaman dan memiliki sertifikat mengajar dari KSI Foundation. Bukan hanya itu, pelajar juga berkesempatan mengalami dan belajar berbagai macam aspek kebudayaan Korea melalui kelas-kelas budaya serta berbagai kegiatan yang diadakan selama masa studi, seperti kelas masakan Korea, kaligrafi, musik tradisional Korea, kerajinan kertas khas Korea (hanji), k-pop dance, dan lain-lain. “Selain memiliki para pengajar bersertifikat mengajar dari KSI Foundation, para siswa juga akan mendapatkan sertifikat di akhir semester saat telah menyelesaikan kelas. Sertifikat ini diakui di seluruh dunia,” ujar Dr. Liliek Soelistyo, MA selaku Direktur KSI Surabaya.

Pendaftaran KSI dibuka setiap semester yaitu setiap bulan Juni-Juli serta Desember-Januari. Lama studi tiap semesternya yaitu 15 minggu dengan dua kali pertemuan setiap minggu. KSI Surabaya terbuka untuk umum,  selain itu terdapat kelas siang dan malam. KSI Surabaya menyediakan kelas Sejong atau reguler yang terdiri dari level 1-8, kelas persiapan Test of Proficiency in Korean (TOPIK), dan kelas kebudayaan Korea. Setelah mendaftar, calon siswa wajib mengikuti placement test jika mendaftarkan diri di kelas persiapan TOPIK, selain itu placement test juga digunakan untuk menentukan level di kelas Sejong.

Untuk mendukung proses belajar mengajar, KSI Surabaya juga telah dilengkapi fasilitas Smart Class yang merupakan kerjasama UK Petra dengan Korea Association of Network Industries (KANI) dan SMAKr Petra 4 Sidoarjo. Peserta di UK Petra bisa melihat gerakan, mendengar perkataan dan berbicara, melihat presentasi, melihat tulisan di papan tulis dan menulis di papan tulis yang sama dengan guru secara jarak jauh. “KSI Surabaya telah dilengkapi fasilitas yang memungkinkan pengajaran jarak jauh dengan SMAKr Petra 4 Sidoarjo,” ungkap dosen Sastra Inggris UK Petra tersebut.

Para siswa KSI Surabaya juga berkesempatan mendapatkan beasiswa S1 dan S2 ke tiga universitas di Korea yaitu Hankok University for Foreign Student, Choseon University, dan Gangnam University. KSI Surabaya juga rutin mengadakan kegiatan-kegiatan seperti Korean movie day, campus tour, Korean speech contest, kompetisi olah raga, dan lain-lain. Di setiap akhir semester, KSI selalu mengadakan Semester Completion Ceremony untuk pembagian sertifikat dan menutup rangkaian pembelajaran di semester tersebut. (rut/padi)

Inovasi untuk Memasuki Industry 4.0
May 23, 2018

Saat ini, teknologi berada pada era Industry 4.0 atau masa setelah revolusi industri keempat yang ditandai dengan pemakaian jejaring, Internet of Things (IoT), serta munculnya sistem fisik siber. Wawasan yang cukup dalam bidang ini memungkinkan kita memanfaatkan berbagai keuntungan yang dibawanya, tetapi di sisi yang lain banyak tantangan dan problematika yang muncul terutama bagi yang tidak beradaptasi pada kemajuan ini. Untuk membantu mahasiswa dan kalangan umum yang terkait agar bisa lebih mengikuti perkembangan teknologi Internet of Things di era globalisasi sebagai salah satu wawasan global serta menangkap peluang melalui IoT dalam dunia kerja di era globalisasi, Program Studi Teknik Industri UK Petra menyelenggarakan seminar Innovation Talk bertajuk “Become a Key Driver to Face Globalization Era”. Seminar ini diadakan pada tanggal 4 Mei 2018 di Ruang Konferensi IV Gedung Radius Prawiro. Seminar ini mengusung dua narasumber yaitu Dr. Markus Wachter dari Technische Universität München (TUM), dan Drs. Kresnayana Yahya, M.Sc.

Di hadapan audiens sebanyak sekitar 150 orang dari lingkungan UK Petra dan kalangan umum, Markus membuka sesi dengan paparan tentang Industry 4.0 di lingkup internasional. Menurutnya, Industry 4.0 membawa perubahan paradigma dari kegiatan manufaktur yang tersentralisasi dan besar menuju ke kegiatan manufaktur yang desentralisasi dan smart. Contohnya adalah rencana pabrik sepatu Adidas yang mulanya berlokasi di Cina untuk dipindahkan kembali ke Jerman. Ini dimungkinkan melalui terbukanya sumber data besar yang didapatkan melalui IoT. Dengan data dari IoT ini, Adidas mengidentifikasi permintaan sepatu dengan lebih akurat dan spesifik, sehingga produksi sepatu skala besar untuk meminimalisir biaya produksi tidak lagi diperlukan. Markus kemudian mengemukakan konsep smart city yang mulai dijajaki di beberapa kota besar di Uni Eropa. Contohnya adalah IoT dalam bentuk e-mobility memungkinkan tiap orang untuk bisa memakai transportasi publik sesuai dengan preferensi pribadinya, yang kemudian juga meringankan beban transportasi dan mengurangi kemacetan. Menurut Markus, ojek online di Indonesia sudah memulai merintis sistem yang searah, katanya “Gojek merupakan solusi untuk transportasi yang smart. Akan tetapi, Gojek belum bisa menjadi solusi untuk kemacetan”.

Bahasan terakhir dari Markus adalah situasi perburuhan di era yang dimana robot bisa menggantikan manusia ini. Menurutnya terjadinya penurunan kebutuhan atas buruh di level operator adalah benar terjadi, tetapi hal ini bukan sesuatu yang perlu ditakuti karena adanya peningkatan kebutuhan pekerja di bidang Teknologi Informasi (IT). Mengantisipasi kebutuhan ini, Markus memberikan beberapa saran bagi institusi pendidikan, yaitu: menyediakan perangkat keahlian yang lebih luas; mengejar ketinggalan dalam keahlian IT; dan menawarkan format pendidikan berkelanjutan baru yang membekali para profesional dengan keahlian yang dibutuhkan di era ini.

Narasumber kedua, Kresnayana, memaparkan situasi inovasi, perindustrian dan perekonomian Indonesia dan persiapan yang perlu dilakukan dalam menghadapi Industry 4.0. Menurutnya di Indonesia ada kecenderungan untuk menghambat inovasi, sebagai contoh adalah sistem pengajaran Lower Order Thinking Skills yang diterapkan di sekolah yang kemudian bermasalah ketika soal Ujian Nasional memakai Higher Order Thinking Skills (HOTS). Menurut Kresnayana, HOTS lebih memungkinkan siswa untuk berinovasi. Dalam berinovasi, Kresnayana memberikan tips untuk menjadi kreatif, katanya “Don’t think outside the box. There are no box”. Maknanya adalah ungkapan berpikir di luar batas mengimplikasikan bahwa ada batasan, sedangkan seorang inovator harus melihat bahwa segala sesuatu tidak ada batasannya. (noel/Aj)

Literasi Digital untuk Melawan Hoaks
May 23, 2018

Kegiatan profesional komunikasi erat hubungannya dengan perkembangan media informasi. Dalam era media sosial dan jurnalisme warga ini, arus informasi menjadi sangat cepat dan masif. Keadaan ini memunculkan problematika dimana media sosial memungkinkan siapa pun menyebarkan informasi yang berdampak luas tetapi keakuratan dan kebenarannya belum bisa dipertanggungjawabkan. Di dalam iklim ini hoaks dan berita palsu kerap muncul sebagai tantangan bagi profesional komunikasi. Dalam rangka mempersiapkan mahasiswa yang kelak menjadi pemain di dunia komunikasi, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Kristen (UK) Petra menyelenggarakan seminar PR’s Challenge: Handling Hoax and Fake News on Social Media di Gedung P ruang P.707 UK Petra pada tanggal 27 April 2018 yang lalu. Seminar ini dihadiri 100 mahasiswa UK Petra peminatan Public Relations dan menghadirkan dua orang narasumber, yaitu Eko Setiawan, M.Si, Kepala Seksi Sumber Daya Komunikasi Publik Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Rico Raspati Head of Communication Pertamina Surabaya.

Sesi pertama diisi oleh Rico yang memaparkan mengenai praktek kehumasan di Pertamina. Menurut Rico, saat ini media yang tersedia sangat banyak dalam bentuk online sehingga lambat laun media surat kabar cetak niscaya tergantikan. Menggambarkan potensi dan tantangan media-media baru ini, Riko mengatakan “dari sekian banyak varian media online, ada satu yang paling simpel tapi juga paling berbahaya, yaitu media sosial”. Demikian besarnya potensi baik dan berbahaya media sosial, Pertamina membentuk satu divisi khusus dengan jumlah petugas yang cukup banyak untuk menangani media sosial. Pertamina adalah perusahaan yang cukup sering terkena dampak berita palsu atau hoaks. Contoh yang cukup aktual adalah hoaks tentang harga BBM di Papua yang 10 kali lebih mahal dibandingkan dengan di Jawa. Dalam hoaks ini, motivasi yang terlihat adalah keinginan memberitakan pelaksanaan kebijakan harga BBM pemerintah dalam bingkai yang buruk.

Eko memberikan perspektif yang berbeda, yaitu dari sudut pandang Depkominfo yang merupakan regulator dan pelayan masyarakat terkait dengan komunikasi. Eko memaparkan perbedaan antara hoaks dan fake news. Menurutnya, hoaks adalah segala bentuk informasi yang tidak mempunyai rujukan yang benar, sedangkan fake news adalah berita yang tidak dapat dikonfirmasi kebenarannya. Eko mengatakan, “Kita harus skeptis menanggapi berita”. Menurutnya salah satu faktor penyebab mudahnya hoaks merajalela di Indonesia adalah karena minimnya literasi digital, yaitu etika dan budaya berkomunikasi di internet. Menurut Eko, perlu adanya gerakan untuk melawan hoaks yang bisa dilakukan dalam bentuk membangun budaya malu ketika membagikan hoaks.

Dalam sesi interaktif, kedua narasumber menanggapi pertanyaan mahasiswa mengenai metode untuk menanggulangi hoaks yang ada kalanya sangat viral sehingga lebih viral dibandingkan berita klarifikasi yang menyanggahnya. Rico menjawab dengan menyatakan akan melakukan upaya semaksimal mungkin upaya yang diperlukan dan di media mana pun hoax itu berkembang, “At whatever cost, on every media. Kita akan eksekusi lebih besar dari hoax itu”. Eko menjawab dengan tekad yang serupa dan memaparkan bahwa pimpinan di bidang yang terkena hoax tersebut bisa turun tangan dan memberikan konferensi pers resmi. (noel/Aj)

Pemanfaatan Barang Lama untuk Desain Baru
May 22, 2018

Pemakaian barang bekas menjadi barang yang berguna sebagai hiasan atau upcycling dapat menjadi solusi dan mengembangkan kreativitas. Untuk memberikan pemahaman dan pengalaman mendesain dengan metode upcycling untuk mahasiswa dan calon desainer, program studi Desain Interior Universitas Kristen (UK) Petra menyelenggarakan talkshow interaktif “Style It Yourself” dan lomba desain “Intuition” di dalam ajang Surabaya Young Designer Spectacles (SYDS) yang digelar di atrium mall Ciputra World Surabaya pada tanggal 25-28 April 2018.

Talkshow “Style It Yourself” menghadirkan narasumber Luthfi Hasan, desainer dan pendiri Jakarta Vintage. Luthfi memberikan pemahaman tentang desain dan konsep upcycling dalam karyanya, menurutnya, “Desain adalah menyelesaikan permasalahan dengan style”. Dipaparkan bahwa desain karyanya tentang membangkitkan dan menggunakan kembali material, objek, serta karakter lama dan membuat suatu cerita baru. Luthfi menawarkan ide dan memberi inspirasi bahwa upcycling dapat memakai bukan hanya barang lama, tetapi juga ide, pola, serta teknik lama sebagai desain baru. Contoh desain upcycling yang memasukkan karakter lukisan jaman kolonial untuk memberikan kesan vintage (antik) pada produk baru seperti ornamen dinding, baju atau kursi. Dalam sesi ini, disampaikan tips dan trik styling dengan biaya murah tapi tetap berkelas. Luthfi juga memberikan beberapa contoh barang yang dapat dijadikan menjadi barang styling dari bahan-bahan yang ada di sekitar atau dari barang-barang yg sehari-hari digunakan.

Lomba Intuition adalah lomba mendesain Pop Up Store (gerai kecil) untuk merk kopi Caturra Espresso memakai metode upcycling dengan mengangkat tema “Techno Progression”. 10 Tim yang terdiri dari 3 orang dari berbagai perguruan tinggi mengikuti kompetisi ini dan hasilnya adalah 5 peserta dari UK Petra keluar sebagai finalis. Pada tanggal 28 April 2018 kelima tim finalis ini mengikuti penilaian dengan dewan juri terdiri dari Mariana Wibowo, S.Sn., M.MT., dosen program studi Desain Interior UK Petra, Linggajaya Suryana, Drs., HDII, desainer interior, serta Kenny Soewondo  dan Kevin Soewondo, pemilik dan pemimpin dari Caturra Espresso.

Desain berbentuk seperti alat penyaring kopi bertajuk “The Finest Drip” karya Jessica Tjiptawan dan Annelis Iwasil keluar menjadi juara 1. Judul desain mereka didasari dari metode menyeduh kopi yang populer saat ini yaitu metode manual drip. Aspek upcycling desain ini terlihat dari pemakaian pipa PVC untuk membuat atap kedai yang menyerupai alat filter kopi, serta pemakaian palet kayu sebagai dinding kedai yang menyerupai gelas kopi, mereka juga memakai warna coklat, krem dan putih yang berasosiasi dengan kopi. Juri Kenny dan Kevin dari Caturra Espresso mengapresiasi desain ini, “Kami senang dengan desain yang memanfaatkan barang-barang yang mudah didapatkan, detail dan memperhatikan aspek keindahan”.  (noel/dit)