Connect with us
  • b
  • a
  • x
A CARING AND GLOBAL UNIVERSITY
WITH COMMITMENT TO CHRISTIAN VALUES

Berita

Liputan Seminar Kesetaraan Gender Feminisme dan Generasi Muda
November 01, 2017

Setengah dari penduduk Indonesia adalah perempuan. Sebagai negara dengan populasi terbesar ke-4 di dunia, adalah miris kalau kita menengok pada kenyataan bahwa setengah populasi ini mengalami ketidakadilan. Universitas Kristen Petra yang mengusung visi To be a Global and Caring University with Commitment to Christian Values berperan serta dalam mengkaji permasalahan ini melalui diadakannya Seminar Kesetaraan Gender dengan tajuk “Feminisme dan Generasi Muda”. Seminar yang dilaksanakan di Ruang AVT 503, Gedung T U.K. Petra ini diprakarsai oleh Kelompok Kerja  Kemitraan GKI, dan melibatkan beberapa universitas lain yang ada di Surabaya. Narasumber tunggal dalam seminar yang dihadiri sekitar 60 orang ini adalah Dr. Gadis Arivia Effendi, S.S.

Gadis adalah seorang dosen pengajar di Departemen Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia yang juga Direktur Yayasan Jurnal Perempuan Indonesia. Ia secara aktif bergerak meningkatkan kesetaraan gender. Sesi yang dibawakannya diberi judul “Feminisme dan Generasi Muda”. Membuka sesinya ia mengangkat kutipan dari bell hooks (penulisan nama dengan huruf kecil adalah atas permintaan ybs. untuk menggambarkan kesetaraan), seorang aktivis feminisme, yang berbunyi “Feminisme adalah sebuah pergerakan untuk mengakhiri seksisme, eksploitasi dan penindasan”. Gadis kemudian mengelaborasi bahwa feminisme adalah gerakan yang mendukung kesetaraan gender, di mana saat ini perempuan mengalami ketidakadilan di berbagai aspek kehidupan. Ilustrasi atas ketidakadilan ini bisa dilihat dari beberapa data yang disajikan Gadis. Pertama, adanya kesenjangan di angka tingkat partisipasi kerja yaitu: 84.4% untuk laki-laki dan 50.3% untuk perempuan. Selanjutnya, hanya 36,2% perempuan berstatus menikah (usia 15-49 tahun) yang memiliki tanah, dengan perbandingan 54.1% untuk laki-laki. Gadis menambahkan lagi, menurut laporan Global Gender Gap di tahun 2014  Indonesia menduduki peringkat ke-95 dari 125 negara dalam hal partisipasi wanita di ruang publik (seperti memegang jabatan publik).

Dari gambaran yang diberikan, Gadis kemudian memaparkan pandangannya tentang feminisme di Indonesia. Saat ini persepsi masyarakat atas feminisme cenderung tidak mengarah pada perlawanan terhadap ketidakadilan, akan tetapi seringkali feminisme dihubungkan dengan moralitas negatif dari perempuan. Persepsi ini dilatarbelakangi oleh kuatnya budaya patriarki di masyarakat. Saking kuatnya budaya ini, bahkan masih banyak wanita yang bersikap seksis terhadap wanita sendiri. Dan juga ditemukan salah kaprah yang mengartikan feminisme sebagai gerakan anti laki-laki. Perlu diluruskan bahwa kesetaraan bagi wanita bukanlah berarti anti laki-laki. Menurut Gadis, langkah untuk mencapai kesetaraan ini adalah melalui pengubahan mindset yang bisa dimulai dari muda. Penanaman pola pikir kritis yang mempertanyakan kembali segala dogma yang menjadi akar ketidaksetaraan. Dengan adanya kesadaran yang kritis, maka semua orang baik laki-laki maupun perempuan akan mampu menerima ide bahwa kesetaraan tidak akan merugikan laki-laki dan juga para perempuan yang masih terkungkung dalam pola pikir patriarkis akan bisa teremansipasi dari seksisme terhadap perempuan. Usaha untuk menata ulang pikianr ini menurut Gadis bukanlah hal yang instan dan merupakan proses dengan perjuangan. Mengilustrasikannya, Gadis kembali mengutip bell hooks “Feminisme tidak dilahirkan tetapi diciptakan”. (noel)

Andi F. Noya, Ajak Mahasiswa Baru UK Petra Cintai Pancasila
November 01, 2017

Welcome Grateful Generation (WGG) adalah salah satu fasilitas mahasiswa baru UK Petra mengenal lingkungan dan sivitas akademika UK Petra. WGG 2017 mengangkat tema Growing as a Fighter to be a Survivor. WGG kali ini menyambut 2.047 mahasiswa baru dan gelaran   WGG dimulai pada tanggal 31 Juli hingga 7 Agustus 2017 di kampus Universitas Kristen Petra.

 

Rangkaian WGG 2017 antara lain seminar wawasan kebangsaan, campus tour, rally games, open house pemberian materi pengenalan diri dan kegiatan kepedulian. Istimewanya, seminar wawasan kebangsaan kali ini menghadirkan salah satu Presenter TV terkenal yakni Andi F Noya.

 

Andi F. Noya mengobarkan semangat para mahasiswa baru untuk tidak hanya menjadi orang sukses, namun mampu berdampak bagi lingkungan sosial. Saat ini, banyak anak muda yang merambah dunia enterprenuer, namun jarang yang ingin memberikan dampak bagi lingkungan. “Beragam masalah sosial di Indonesia diakibatkan lemahnya sisi perekonomian, tetapi bagaimana seseorang memecahkan masalah masyarakat dengan memberdayakan apa yang dikerjakan,” urai Andi F. Noya.

Dalam seminar yang diselenggarakan di Auditorium UK Petra ini, Andi mengajak mahasiswa baru UK Petra sebagai generasi penerus bangsa harus memahami bahwa Pancasila yang mempersatukan masyarakat Indonesia. Andi mendorong mahasiswa baru untuk mengamalkan nilai Pancasila melalui tindakan sehari-hari. “Jika seseorang menjadi sociopreneur, artinya seseorang sudah mengamalkan nilai-nilai Pancasila,” tambah Andi F. Noya. Selain itu, Andi F. Noya mengobarkan semangat anak muda Indonesia sekarang untuk melakukan sustainable business yang dapat berdampak bagi lingkungan masyarakat.

Andi F. Noya menyebutkan salah satu sosok inspiratif di bidang sosial yakni Azalea Ayuningtyas. Ayu adalah lulusan program master di bidang kesehatan masyarakat dari Harvard University, Amerika. Ayu yang awalnya memiliki pekerjaan di Boston, Ayu kemudian bergabung bersama 6 orang temannya untuk membangun sociopreneur di Flores pada tahun 2014 dengan nama Du’Anyam. Ayu dan teman-temannya membantu ibu-ibu dan wanita di 15 desa di Flores untuk lebih banyak menghasilkan produk kerajinan anyaman dari daun lontar dengan tetap mempertahankan ciri khas desain tradisional. Produk Du’Anyam ini menghasilkan tas, sepatu, dan beragam jenis souvenir serta produk kerajinan berbahan daun lontar lainnya.

Andi mengungkapkan bahwa membantu orang adalah kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan uang. Hal ini merupakan perwujudan dari Pancasila, sehingga anak muda Indonesia dapat mengamalkan Pancasila (fsc).

Cintai Batik dengan Pelatihan Batik Colet Bagi Siswa SD
November 01, 2017

Batik merupakan sebuah karya budaya bangsa Indonesia yang wajib diwariskan turun temurun pada anak cucu agar tidak musnah. Setiap tanggal 2 Oktober telah ditetapkan sebagai hari batik nasional, sehingga pada tanggal tersebut beragam lapisan masyarakat Indonesia disarankan menggunakan busana batik. Akan tetapi bagaimana dengan teknik membatik? Apakah kita sudah mengerti benar mengenai teknik membatik ini. Teknik membatik ini perlu diajarkan pada generasi muda agar mereka tidak mudah melupakan asal usul batik ini. Ialah Pelatihan Batik Colet Bagi Siswa/i Sekolah Dasar (SD) di Surabaya digelar setiap hari sabtu selama bulan September 2017 sebagai salah satu upaya melestarikan teknik membatik bagi anak muda, khususnya dimulai dari sejak anak-anak. Gelaran ini merupakan bagian dari program Iptek Bagi Masyarakat (IbM) dari Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Program ini memberikan hibah senilai Rp. 40.000.000 yang dikerjakan selama satu tahun lamanya kepada tiga dosen Fakultas Seni dan Desain Universitas Kristen Petra yaitu Dr. Laksmi Kusuma Wardani, S.Sn., M.Ds., Dra. Sriti Mayang Sari., M.Sn dan Aniendya Christianna, S.Sn., M.Med.Kom.

“Hibah ini merupakan program lanjutan yang telah dilakukan saat para siswa tersebut masih duduk kelas lima SD. Kami bekerja sama dengan dua sekolah yaitu SDN Sidodadi II Surabaya dan SDN KIP 156 Simolawang. Sebenarnya yang perlu dilestarikan itu adalah teknik membatiknya sebab dengan kita tahu mengenai tekniknya maka anak-anak ini akan belajar kesabaran, urutan sebuah proses, ketekunan, ketelatenan, pengendalian diri, dan disiplin”, ungkap Dr. Laksmi Kusuma Wardani, S.Sn., M.Ds. Apa itu sebenarnya batik colet? Batik colet merupakan teknik menorehkan warna di atas kain menggunakan kuas seperti melukis, teknik ini belum banyak diketahui oleh masyarakat. “Teknik mencolet ini sesuai dengan target kegiatan yaitu siswa/i SD dan pada umumnya sesuai dengan karakteristik watak masyarakat Surabaya yang tegas, tidak sabaran dan lugas”, tambah Aniendya Christianna, S.Sn., M.Med.Kom.

Banyak proses yang anak-anak SD ini lalui. Pertama kalinya, Laksmi bersama tim dibantu beberapa mahasiswa Program Studi Desain Interior UKP mengajak mereka untuk mengenal lebih dalam pengrajin batik Jetis Sidoarjo dan aktivitas proses pembuatan batik. Belajar mengenal lebih dekat kearifan budaya yang masih dilestarikan dan mengetahui bagaimana batik bisa menjadi penghasilan tambahan sekaligus belajar berbagai macam motif yang ada. Kemudian anak-anak SD ini diajak ke Kebun Bibit untuk melihat secara langsung potensi alam yang bisa dijadikan motif untuk batik. Misalnya seperti hewan, tanaman atau pohon. Jadi mereka tidak dipaksa untuk terpaku pada motif tertentu saja. Lalu kemudian mereka mendapatkan tugas untuk membuat komposisi motif. Hasil terbaik, akan dijadikan sebagai model motif yang dipakai untuk proses selanjutnya.

Rangkaian terakhir dalam kegiatan ini dilaksanakan hari Jumat, 29 September 2017 mulai pukul 07.30-12.00 WIB di SDN KIP 156 Simolawang Jalan Simolawang II Barat no 45B, Simokerto, Surabaya. Tercatat 25 siswa dan 2 guru yang mengikuti pelatihan ini. Pada tahap ini, mereka belajar teknik colet dengan kuas pada komposisi motif yang sudah dicanting dengan pewarna rhemasol, kemudian dicelupkan dalam cairan fiksasi WGC (untuk mengunci warna), dijemur hingga kering, nglorod malam menggunakan air mendidih, membilas dengan air bersih kemudian dijemur. Ini adalah teknik sederhana yang mudah dipelajari siswa. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan pembelajaran batik dapat masuk dalam kurikulum belajar siswa Sekolah Dasar, khususnya bidang seni dan budaya. (Aj)

Gesti Memarista, SE., M.SM. : Penelitian untuk Membantu Pihak Terkait
November 01, 2017

Selain memberikan penghargaan pada Dosen dengan Kinerja Penelitian Terbaik, dalam gelaran Dies Natalis Ke-56 Universitas Kristen Petra (UK Petra), universitas juga memberikan penghargaan pada pencapaian Dosen Muda dengan Kinerja Penelitian Terbaik. Kriteria penilaian Dosen Muda dengan Kinerja Penelitian Terbaik adalah sama dengan Dosen dengan Kinerja Penelitian Terbaik, akan tetapi dengan kriteria tambahan sebagai berikut: usia maksimal 35 tahun, jabatan akademik maksimal Lektor, gelar akademik maksimal S2, belum pernah mendapat penghargaan peneliti muda terbaik sampai maksimal dua kali. Peraih Dosen Muda Kinerja Penelitian Terbaik saat ini adalah Gesti Memarista, SE., M.SM.

Gesti adalah dosen pengajar di Program Manajemen Keuangan, Program studi Manajemen, Fakultas Ekonomi UK Petra. Dosen yang memegang gelar Magister Sains Manajemen ini bergabung dengan UK Petra sejak tahun 2011. Gesti kerap mengikuti konferensi internasional untuk mencari jaringan dan menjalankan penelitian. Selain itu dalam konferensi ini ia bisa mempublikasikan penelitiannya. Ia berharap dari penelitian yang ia lakukan akan ada pihak-pihak yang terbantu. Sebagai pengajar, Gesti mengajar beberapa mata kuliah, yaitu antara lain: Manajemen Keuangan, Manajemen Portofolio, Manajemen Kekayaan Bisnis Keluarga, Derivatif, Time Series, Analisa Sekuritas Berpendapatan Tetap dan Keuangan Kewirausahaan. Gesti berbagi kutipan yang memberinya motivasi sebagai peneliti, “Research is formalized curiosity with a purpose (Hurston, Z. N.). Investing in science education and curiosity-driven research is investing in the future (Zewail, H.)”. (noel/dit)

Gesti Memarista, SE., M.SM. : Penelitian untuk Membantu Pihak Terkait
October 30, 2017

Selain memberikan penghargaan pada Dosen dengan Kinerja Penelitian Terbaik, dalam gelaran Dies Natalis Ke-56 Universitas Kristen Petra (UK Petra), universitas juga memberikan penghargaan pada pencapaian Dosen Muda dengan Kinerja Penelitian Terbaik. Kriteria penilaian Dosen Muda dengan Kinerja Penelitian Terbaik adalah sama dengan Dosen dengan Kinerja Penelitian Terbaik, akan tetapi dengan kriteria tambahan sebagai berikut: usia maksimal 35 tahun, jabatan akademik maksimal Lektor, gelar akademik maksimal S2, belum pernah mendapat penghargaan peneliti muda terbaik sampai maksimal dua kali. Peraih Dosen Muda Kinerja Penelitian Terbaik saat ini adalah Gesti Memarista, SE., M.SM.

Gesti adalah dosen pengajar di Program Manajemen Keuangan, Program studi Manajemen, Fakultas Ekonomi UK Petra. Dosen yang memegang gelar Magister Sains Manajemen ini bergabung dengan UK Petra sejak tahun 2011. Gesti kerap mengikuti konferensi internasional untuk mencari jaringan dan menjalankan penelitian. Selain itu dalam konferensi ini ia bisa mempublikasikan penelitiannya. Ia berharap dari penelitian yang ia lakukan akan ada pihak-pihak yang terbantu. Sebagai pengajar, Gesti mengajar beberapa mata kuliah, yaitu antara lain: Manajemen Keuangan, Manajemen Portofolio, Manajemen Kekayaan Bisnis Keluarga, Derivatif, Time Series, Analisa Sekuritas Berpendapatan Tetap dan Keuangan Kewirausahaan. Gesti berbagi kutipan yang memberinya motivasi sebagai peneliti, “Research is formalized curiosity with a purpose (Hurston, Z. N.). Investing in science education and curiosity-driven research is investing in the future (Zewail, H.)”. (noel/dit)

Implementasi Caring Universitas Kristen Petra melalui Program Asuh Perguruan Tinggi Unggul
October 25, 2017

Pendidikan adalah kunci pengembangan kualitas manusia. Dalam dunia pendidikan di Indonesia, masih banyak ruang untuk melakukan perbaikan. Menurut data terakhir pada tahun 2016 Direktorat Jendral Pembelajaran Mahasiswa Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), ada 4.468 perguruan tinggi (PT) di Indonesia. Potensi yang terkandung dalam banyaknya PT ini belum dapat digali secara maksimal karena kualitas PT belum cukup baik. Dari jumlah seluruh  PT tersebut, hanya 26 PT yang memiliki akreditasi A, 296 PT berkareditasi B, dan 690 PT berakreditasi C.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di PT, Ditjen Belmawa Kemenristekdikti menetapkan salah satu target rencana strategisnya adalah peningkatan jumlah PT yang terakreditasi unggul dari waktu ke waktu. Langkah yang ditempuh untuk mencapai target itu adalah menunjuk beberapa PT Unggul yang berakreditasi institusi A untuk melakukan pengasuhan pada PT Asuhan yang sudah ditentukan.

Pada bulan Mei 2017 ditunjuk 26 PT Unggul dan UK Petra sebagai PT dengan peringkat akreditasi ke-4 nasional mengasuh 3 PT Swasta yaitu Universitas Yudharta, Pasuruan; Universitas Dhyana Pura, Bali; dan Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang. “Sesuai dengan Surat Dirjen Kelembagaan IPtek dan Dikti Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi No.1209/L.L5/Ks/2016 maka Perguruan tinggi swasta yang dapat menerima asuhan adalah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang berada pada kluster 3 dan 4 dengan sebagian besar program studinya terakreditasi C. Tidak semua PT berkesempatan menjadi PT unggul yang mengasuh PT di kluster 3 dan 4 ini, total ada 26 PT Unggul yang ditunjuk dan UK Petra salah satunya”, ungkap Prof. Ir. Rolly Intan M.A.Sc., Dr.Eng. selaku rektor UK Petra.

Rangkaian kegiatan Hibah Program PT Unggul dimulai dengan Studi Banding PT Asuhan ke PT Unggul dan Lokakarya Manajemen Mutu PT. Pada tanggal 13 Juni 2017 yang lalu UK Petra menjadi tuan rumah kunjungan Studi Banding ketiga PT Asuhan tersebut. Dalam pertemuan ini, Rektor UK Petra, Prof. Ir. Rolly Intan M.A.Sc., Dr.Eng., mengenalkan UK Petra kepada para peserta studi banding. Rolly dalam sambutannya mengungkapkan bahwa dalam rangkaian acara ini, UK Petra bukan bertindak sebagai guru, akan tetapi rekan belajar bersama, karena banyak hal yang juga perlu diserap UK Petra dari PT Asuhan. Seusai perkenalan dan sambutan, ia membawakan materi bertajuk “Membangun Sistem Manajemen/Administrasi”. Sesi ini dimaksudkan untuk memaparkan praktik baik yang dijalankan UK Petra dalam manajemen/administrasi PT. Menurutnya, secara umum, hal yang perlu dilakukan dalam manajemen pendidikan tinggi adalah: Penetapan Visi, Misi, dan Tujuan, Perencanaan Strategis (target), Team Building, Pembentukan Sistem Formal dan Penyelarasan Sistem Formal dan Informal.

PT Asuhan juga diberikan kesempatan untuk berbagi pengalaman bersama dengan para pimpinan fakultas dan program studi yang ada di UK Petra. Di kesempatan terpisah, Rolly menyampaikan bahwa menjadi PT Unggul adalah pengamalan dari visi UK Petra. Ia mengatakan, “Salah satu poin visi kita adalah Caring. Sebagai bagian dari komunitas pendidikan tinggi di Indonesia, UK Petra menjalankan Caring dengan melayani PT Asuhan sesuai dengan arahan Kemenristekdikti untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi”.

Kegiatan selanjutnya, Lokakarya Manajemen Mutu Perguruan Tinggi, dilaksanakan selama dua hari pada tanggal 14-15 Juni 2017. Di hari pertama lokakarya, para peserta mendapatkan rangkaian materi yang terdiri atas Manajemen Mutu, Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), Sistem Penjaminan Mutu Eksternal, SPMI di UK Petra & SIM Mutu, Merancang Proses Bisnis & SOP dan Pembuatan Rencana Tindak Lanjut (RTL). Di hari kedua, para peserta mempresentasikan RTL yang telah dibuat. RTL ini akan menjadi titik tolak untuk perbaikan selanjutnya yang akan difasilitasi dalam rangkaian Program Hibah PT Asuh ini. Setelah lokakarya di UK Petra berakhir, program ini akan dilanjutkan dengan dua sesi Lokakarya SPMI dan Pembuatan Dokumen Mutu Sesuai SNPT yang dilaksanakan di masing-masing PT Asuh. Direncanakan bahwa seluruh rangkaian program ini akan diselesaikan pada bulan Oktober 2017.

Menurut Dr. Jenny Mochtar sebagai Kepala Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UK Petra, rencana strategis UK Petra yang sudah ditetapkan bisa diterjemahkan sesuai dengan standar yang dikehendaki Kemenristekdikti. Hal ini dapat dilihat jelas pada Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT) yang diterapkan oleh Kemenristekdikti pada tahun 2015, dimana UK Petra sudah mengimplementasikan standar dalam SNPT sejak tahun 2012. Pimpinan tim Universitas Yudharta, Wiwin Fachrudin Yusuf, yang menjabat sebagai Kepala Lembaga Penjamin Mutu Internal Universitas Yudharta, merasa bahwa manfaat program ini sangat besar terutama dalam menumbuhkan budaya mutu. Ia mengatakan “Diharapkan kami bisa mencontoh UK Petra yang mementingkan budaya mutu internal sehingga pada akhirnya nilai di Badan Akreditasi Nasional (BAN) Perguruan Tinggi (PT) meningkat”. (noel/dit)

 

Welcome Grateful Generation 2017
October 18, 2017

Transisi dari masa sekolah masuk ke kuliah adalah masa krusial dimana seorang calon mahasiswa baru berkenalan dan beradaptasi dengan peran baru yang akan diambilnya. Untuk mempermudah adaptasi dan memberikan pengalaman awal yang baik, Universitas Kristen Petra (UK Petra) menyelenggarakan acara pembekalan sebelum tahun ajaran baru dilaksanakan yang dikenal dengan nama Welcome Grateful Generation (WGG). Ada catatan unik di sini, yaitu Grateful dalam WGG memiliki makna “penuh kasih karunia”. Dengan demikian WGG dimaksudkan sebagai acara penyambutan satu angkatan yang dipenuhi kasih karunia.

Pada tahun 2017 ini WGG mengusung tajuk “Growing as a Fighter to be a Survivor. Rangkaian WGG tahun ini didahului dengan briefing dan pembagian atribut mahasiswa seperti jas almamater, topi, muts, pin fakultas dan buku panduan WGG pada para mahasiswa baru sebanyak 2047 orang mahasiswa pada tanggal 24 Juli 2017. Pada tanggal 25-28 Juli 2017, para mahasiswa baru akan mengikuti kegiatan Pra WGG yang terdiri atas: a) Tes Kepribadian masing-masing mahasiswa, yang kemudian hasilnya akan dipakai sebagai bahan diskusi; b) Tes Potensi Karir untuk memetakan karakter kerja yang cocok; c) Pengenalan Perpustakan; dan d) Pengenalan Sistem IT Kampus.

WGG secara resmi dibuka pada 31 Juli 2017 dengan acara Opening Ceremony yang dilaksanakan di Auditorium. Dalam Acara opening ini, para mahasiswa baru diajak berkenalan dengan Rektor dan para Wakil Rektor; serta para Ketua Program Studi. Sehari setelah acara pembukaan pada tanggal 1 Agustus 2017, para mahasiswa baru mengikuti kegiatan WGG di program studi masing-masing. Pada tanggal 2 Agustus 2017, peserta WGG mengikuti sesi Wawasan Kebangsaan dengan narasumber Andy F. Noya, jurnalis senior yang mengasuh talkshow inspiratif di salah satu stasiun televisi swasta Indonesia. Sesi ini dimaksudkan untuk memberikan kesadaran atas kondisi bangsa dan negara dalam rangka menumbuhkan cinta atas bangsa dan negara sehingga para mahasiswa baru terinspirasi untuk berkontribusi dan memberi solusi atas permasalahan yang ada dalam masyarakat.

Dalam kegiatan di dua hari selanjutnya, para peserta lebih banyak melakukan aktivitas diluar ruang kelas. Pada tanggal 3 Agustus 2017, para mahasiswa baru mengikuti kegiatan Campus Tour dan Rally yang bertujuan mengenalkan mereka dengan biro dan unit kampus dan juga fungsi masing-masing. Selain itu, para peserta juga mengikuti permainan berkelompok yang bertujuan untuk menjalin relasi yang baik antara peserta dan panitia, serta mengenalkan nilai-nilai yang ada di UK Petra pada para mahasiswa baru. Pada tanggal 4 Agustus, yang merupakan hari aktivitas terakhir para peserta WGG, ada dua agenda besar, yaitu: Open House Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang digelar di Lapangan Hijau Kampus Tengah dan selasar di sekelilingnya; dan Pengabdian Masyarakat.

Open House UKM memberi kesempatan para mahasiswa baru dan UKM untuk saling mengenal. Dalam open house ini, masing-masing UKM mendapatkan kesempatan untuk unjuk kegiatan,  diantaranya UKM Abdi Negara, yaitu Resimen Mahasiswa (Menwa) dan Korps Sukarelawan (KSR), menggelar simulasi penanggulangan terorisme.

Pengabdian Masyarakat yang dilakukan para mahasiswa baru ini dilaksanakan di lingkungan sekitar kampus, yaitu di sekitar Jalan Siwalankerto TImur V, jalan di belakang lapangan olah raga UK Petra (Lapangan Anta); dan sekitar Jalan Pisang dan Jalan Nanas. Pelayanan yang mahasiswa baru  laksanakan adalah membagikan bingkisan parcel, mengecat tong sampah, dan mural.

Seluruh rangkaian acara WGG 2017 ditutup pada tanggal 7 Agustus 2017 dengan Ibadah Penutupan WGG. Kevin Merco selaku Ketua Panitia WGG 2017 menyampaikan harapannya, “Semoga WGG tahun ini bisa memberkati seluruh mahasiswa baru 2017 dan bisa membekali mereka untuk masuk dunia perkuliahan”. (noel/dit)

Petra Summer Program
October 12, 2017

Masa perkuliahan dan menjadi mahasiswa adalah masa yang sangat penting dan memberi kesempatan untuk membekali diri. Universitas Kristen Petra (UK Petra) melalui Petra Summer Program (PSP) memberikan kesempatan mahasiswa dalam kegiatan internasional yang menarik. Program yang diinisiasi oleh Biro Administrasi Kerjasama dan Pengembangan (BAKP) UK Petra ini mengajak mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman internasional bersama mahasiswa dari luar negeri dan juga mendapatkan kredit untuk mebantu memajukan studinya.

Pada tahun 2017 ini, PSP dilaksanakan pada tanggal 10 sampai dengan 28 Juli 2017. Sebanyak 83 mahasiswa mengikuti PSP 2017, diantaranya adalah 71 peserta lokal dan 12 peserta internasional. Di hari pertama, PSP dibuka dengan upacara pembukaan yang dilaksanakan di Lapangan Upacara Kampus Tengah (Lapangan Hijau). Seusai pembukaan para peserta mengikuti Rally Games Petra Race dimana diharapkan dalam rangkaian permainan ini, para peserta akan lebih mengenal lingkungan UK Petra. Usai games, para peserta mengikuti sesi dengan tajuk “Indonesian 101” yang merupakan pengantar pengenalan Indonesia oleh Meilinda, S.S., M.A. selaku kepala BAKP. Sesi ini memberikan gambaran dan pengenalan bagaimana berinteraksi di dalam kebudayaan Indonesia.

Salah satu program yang diadakan dalam acara ini adalah Indonesian Culinary Arts (ICA) dimana program ini memperkenalkan seni kuliner Indonesia pada mahasiswa asing. Hal yang paling menarik dalam seni kuliner Indonesia adalah mempelajari begitu beragamnya bahan-bahan masakan Indonesia, khususnya bumbu-bumbu tradisional dan rempah-rempah Indonesia. Selain mengenali bahan-bahan khas Indonesia, para peserta program ini akan juga mempelajari teknik-teknik memasak khas Indonesia dibawah asuhan Hanjaya Siaputra, S.E., M.A dan Agung Harianto, S.E., M.M. yang adalah dosen pengajar di Program Manajemen Perhotelan di Fakultas Ekonomi UK Petra. Program ini diikuti oleh 3 mahasiswa asing dan 18 mahasiswa lokal. Para peserta diajak memasak berbagai masakan khas Indonesia seperti Sayur Asem, Soto, Onde-onde, Klepon, dan berbagai masakan lainnya. Hasil akhir dari program ini adalah sebuah buku resep yang berisi masakan-masakan yang dipelajari para peserta dalam program ICA. Lebih istimewa lagi untuk ICA Recipe Book 2017, buku ini rencananya akan didaftarkan International Standard Book Number sehingga akan bisa berdampak lebih lanjut dan lebih luas.

Program selanjutnya adalah Indonesian Tourism Campaign (ITC). Program hasil kolaborasi antara Program Studi Ilmu Komunikasi dan Program Manajemen Kepariwisataan ini mengajak para peserta untuk merancang kampanye dan media promosi untuk daerah tujuan wisata di Indonesia. Pada tahun 2017 ini, ITC diikuti oleh 3 orang peserta internasional dan 48 peserta lokal.

Peserta mendapatkan pembekalan tentang Sustainable Tourism, Costing, dan Deskripsi Objek Wisata dari Program Manajemen Kepariwisataan. Dari Program Studi Ilmu Komunikasi, para peserta mendapatkan pengayaan keahlian pengambilan suara, pengambilan video, teori penulisan buku, dan kampanye. Daniel Budiana, S.Sos., MA, koordinator program dari Ilmu Komunikasi berkata “Kita ingin mengeksplorasi destinasi-destinasi wisata di Indonesia yang sebetulnya sangat banyak tetapi belum dikenal secara luas. Para peserta akan diperkenalkan pada tempat wisata tersebut dan akan ikut ambil bagian dalam memperkenalkan kembali lokasi tersebut”. Destinasi wisata yang ditugaskan pada para peserta adalah Desa Wisata Panglipuran di Kabupaten Bangli, Bali.

Desa dengan predikat World’s Cleanest Village ini memiliki potensi wisata alam, budaya, dan pendidikan yang besar. Peserta ITC mendapatkan kesempatan menginap 3 hari 2 malam di desa ini untuk memproduksi kampanye mereka. Hasil kunjungan para peserta kemudian dirupakan dalam bentuk buku panduan wisata dan video yang kemudian dibagikan melalui media sosial dengan tagar: #psp #panglipuran #bakp, dan berbagai tagar yang relevan lainnya.

 

Program Indonesian Language and Culture (ILC) memperkenalkan peserta pada keberagaman dan kekayaan budaya Indonesia. Program yang dibuat oleh Fakultas Sastra ini adalah program terbaru PSP. Di gelaran perdananya ini, ILC diikuti oleh 6 orang peserta internasional dan 5 orang peserta lokal. Bagi peserta lokal, program ini memberikan kesempatan untuk mempraktekkan mengajar Bahasa Indonesia pada orang asing sedangkan peserta internasional akan mempelajari teori bahasa Indonesia dan mempraktekkan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Di aspek budaya, para peserta diikutkan dalam tur kota Surabaya. Tur yang bertujuan memberikan pengenalan budaya Indonesia ini mengunjungi: Rumah Batik Jawa Timur di daerah Bulak Banteng, menonton wayang potehi, Masjid Cheng Hoo dan Gedung Cak Durasim

Di akhir program para peserta menggelar pentas teater di Petra Little Theater (PLT)  dengan membawakan dongeng Indonesia Bawang Merah Bawang Putih; dan Malin Kundang. (noel/dit)

Service Learning di Kampung Sehat Banyu Urip Jaya
October 10, 2017

Surabaya adalah metropolitan terbesar kedua di Indonesia dan memiliki ciri khas perkampungan dalam kota. Perkampungan yang sarat penduduk ini memiliki problematika dan tantangan tersendiri dimana salah satunya adalah sanitasi dan gaya hidup sehat. Permasalahan seperti ini dialami oleh masyarakat di Kelurahan Putat Jaya, khususnya di lokasi sekitar ex lokalisasi prostitusi Dolly. Sebagai solusi permasalahan ini, pemerintah mensosialisasikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang merupakan upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat. Standar dalam penerapan PHBS didokumentasikan dalam 5 pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), yaitu: 1) Stop Buang Air Besar Sembarangan; 2) Cuci Tangan Pakai Sabun; 3) Pengelolaan Makanan dan Minuman Rumah Tangga dengan Aman; 4) Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga dengan Aman; dan 5) Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dengan Aman.

Program Studi Teknik Sipil UK Petra turut mengambil bagian dalam mensukseskan program STBM ini melalui Mata Kuliah Ilmu Lingkungan yang diintegrasikan pada metode Service Learning dengan kegiatan “Percontohan Kampung Sehat warna-warni ber-PHBS”. Sebanyak 130 mahasiswa yang terbagi dalam 12 kelompok melakukan pelayanan kepada masyarakat di 53 rumah pemukiman di lingkungan RT 3 dan RT 4 di RW 5, Kelurahan Putat Jaya, Surabaya. Lokasi rumah-rumah yang akan dilayani berada di jalan sepanjang sekitar 200 m yang berada di tepian sungai di Jalan Banyu Urip Jaya, Kelurahan Putat Jaya. Permasalahan yang ada di lingkungan ini adalah: ada 10 rumah yang belum memiliki jamban sehat; tidak tersedianya padasan cuci tangan pakai sabun;  dan sebagian masyarakat WCnya tidak memakai septic tank dan dialirkan ke sungai. Program perbaikan yang dijalankan oleh para mahasiswa atas permasalahan ini adalah: Open Defecation Free (ODF) atau jamban sehat di setiap rumah di RT 3 dan RT4, setiap rumah memiliki dua tempat sampah, satu untuk sampah basah  dan satu untuk sampah kering dengan tutup injak, penyediaan padasan cuci tangan yang terbuat dari timba yang ada kran airnya dengan jarak penempatan setiap tiga rumah dan  pengecatan rumah-rumah dan pembuatan mural di lokasi bantaran sungai agar lebih kreatif, dan memberikan kesan yang bersih dan unik.

Dalam program ini, banyak pihak turut membantu, yaitu: Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) sebagai penggalak PHBS, yang menyelenggarakan senam sehat dan penyuluhan pentingnya STBM dan elemen masyarakat untuk meningkatkan standar kesehatan pemukiman. Kegiatan pengecatan, pembuatan padasan, dilaksanakan pada tanggal 6, 13, dan 20 Mei 2017.

Metode Service Learning, diharapkan dapat memberikan dampak pada masyarakat yang dilayani dan juga pada mahasiswa yang melayani. Alfan, ketua Rukun Tetangga 3 mengapresiasi kegiatan ini. Ia mengatakan, “Dengan kegiatan ini, warga bisa mengerti dan mampu membangun kamar mandi  seorang janda dan seorang kakek yang kurang mampu”. Salah seorang panitia kegiatan ini, Hieronimus Enrico Suryo, mahasiswa Teknik Sipil angkatan 2015 menceritakan kesannya atas kegiatan ini, “ Kegiatan ini adalah satu pengalaman baru, dimana para mahasiswa berinteraksi langsung dan melakukan pelayanan perbaikan fasilitas masyarakat”. (noel/dit)

KSI Surabaya Korean Movie Day
October 09, 2017

Bahasa dan kebudayaan adalah dua aspek yang tidak terpisahkan. Dalam mempelajari suatu bahasa, budaya akan memperkaya pemahaman atas bahasa tersebut. Bahasa itu sendiri juga adalah penggambaran suatu kebudayaan. Seperti kata psikiater budayawan Frantz Fanon, “To speak a language is to take on a world, a culture”. King Sejong Institute (KSI) sebagai penyedia pendidikan Bahasa Korea juga memperkaya pembelajaran bahasa yang diberikannya dengan meningkatkan pengenalan atas budaya Korea. Salah satu cara efektif untuk memperkenalkan suatu budaya adalah melalui menonton film. Pada tanggal 15 September 2017, KSI Surabaya mengadakan acara menonton film Korea bersama dalam gelaran Korean Movie Day.

Hadir dalam acara ini Dr. Dra. Liliek Soelistyo, MA., Direktur KSI Surabaya. Dalam sambutannya, Liliek mengangkat bahwa Korean Movie Day ini dilaksanakan dua kali setiap tahunnya. Sejak KSI Surabaya dibuka pada tahun 2015, sudah 4 kali acara ini diadakan. Ia pun mengumumkan bahwa dengan terbukanya berbagai kerjasama baru di Surabaya, gelaran Korean Movie Day selanjutnya mudah-mudahan akan dilaksanakan di CGV Cinema di Marvell City Mall Surabaya. Berita ini disambut dengan hangat oleh sekitar 180 hadirin yang memenuhi Ruangan AVT 502 Gedung T U.K. Petra tempat acara ini diselenggarakan.

Di kesempatan kali ini, film yang ditonton bersama berjudul Amsal (Judul Inggris: Assassination). Assassination dalah sebuah film tentang sejarah perjuangan Korea di saat Korea berada dibawah kekuasaan Jepang pada tahun 1933. Film bergenre drama action ini dilakoni oleh wajah-wajah yang sudah tak asing bagi penggemar film Korea. Jun Ji-hyun, pemeran utama wanita yang berperan sebagai An Ok-yun sudah akrab di mata penggemar film televisi Legend of the Blue Sea (2017), dan My Love from the Stars (2015). Oh Dal-su, pemeran pendukung pria sudah dua kali ditampilkan dalam acara Korean Movie Day KSI, film sebelumnya adalah Ode to My Father. Assassination mengisahkan sepak terjang sekelompok pejuang Korea yang dibentuk oleh Kapten Yem, seorang aktivis gerakan anti penjajahan Jepang di Korea. Kelompok beranggotakan tiga orang ini dipimpin oleh sang protagonis, seorang gadis ahli menembak runduk (sniper) bernama An Ok-yun. Ketiga pejuang ini diberi misi oleh Kapten Yem untuk membunuh Kang In-guk, seorang usahawan Korea yang mengkhianati bangsanya dan membantu Jepang menjajah Korea. Dalam proses persiapan misi, mereka berjumpa dengan Hawaii Gun, seorang pembunuh bayaran berkebangsaan Korea yang ditugasi Jepang untuk menggagalkan misi mereka. Hawaii Gun tidak melaksanakan tugasnya karena simpati pada rekan sebangsanya. Di sini muncul intrik dimana sebelum mereka melancarkan serangan pun, misi rahasia mereka sudah terendus oleh pemerintah Jepang. Lebih mengejutkan lagi ketika kelompok pejuang kita mendapati kenyataan dimana An Ok-yun adalah anak kandung dari Kang In-guk, sasaran mereka. Drama semakin memuncak ketika jalan cerita berbelok dan tokoh antagonis utama yang tidak diduga-duga dimunculkan. Intrik dan drama yang sedih dalam film ini diselingi komedi dengan porsi yang baik dan di saat yang tepat sehingga memberi kesegaran dan tidak mengganggu pesan serius yang ada di dalamnya.

Dari menonton film ini kebudayaan Korea bisa diserap melalui pengenalan atas sejarahnya. Kita akan tahu bahwa sebelum perang dunia kedua (sejak 1910), Korea berada di bawah kekuasaan Jepang. Terlihat di film ini bahwa bangsa Korea, walaupun di bawah tekanan Jepang, tetap bisa menjaga kebudayaannya terlihat dari adegan gadis-gadis memakai hanbok berdansa dengan iringan musik shuffle khas tahun 1930-an. Meskipun dibalut ironi, sentimen patriotisme Korea di bawah penjajahan nampak dalam adegan-adegan tokoh Hawaii Gun dimana ia harus menahan kegeraman dan tidak langsung bereaksi ketika melihat orang Korea diperlakukan semena-mena oleh tentara Jepang. Sentimen ini dirasakan oleh para penonton, seperti yang dikatakan oleh Jourdan, mahasiswa Manajemen Perhotelan angkatan 2016 yang hadir menonton. Mengenai menjaga loyalitas pada negara ia mengatakan, “Kita tidak boleh mengkhianati negara kita sendiri”. (noel)

Perpustakaan Ramah Disabilitas
October 09, 2017

Penyediaan akses untuk penyandang disabilitas masih belum merata. Dengan tersedianya fasilitas yang mudah diakses, penyandang disabilitas akan bisa meningkatkan prestasi dan juga kontribusinya bagi masyarakat. Perpustakaan sebagai public space merupakan fasilitas pendidikan yang sangat penting. Oleh karena itu maka aksesibilitas pada perpustakaan harus diperhatikan, baik dari sisi aksesibilitas fisik maupun aksesibilitas terhadap resources perpustakaan. UK Petra sebagai instansi penyelenggara pendidikan tinggi turut berperan serta dalam meningkatkan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas melalui kegiatan bersama dari Perpustakaan, Program Studi Desain Interior, dan Program Studi Arsitektur UK Petra yaitu Seminar Nasional bertajuk “Menuju Perpustakaan Ramah Disabilitas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016”.

Seminar nasional yang dihadiri sekitar 70 pegiat dari bidang kepustakaan, arsitektur, dan desain interior ini dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2017 di Ruang Konferensi 4 Gedung Radius Prawiro Lt. 10 Universitas Kristen Petra. Dalam seminar ini para peserta, khususnya  para pustakawan, dibekali wawasan tentang pelayanan bagi para penyandang disabilitas. Negara telah menetapkan sikap dan petunjuk terkait dengan penyandang disabilitas. Hal ini termaktub dalam UU RI Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Berdasarkan undang-undang ini, hak-hak para Penyandang Disabilitas diregulasikan. Pada pasal 5 undang-undang ini dinyatakan bahwa penyandang disabilitas memiliki hak-hak yang sama dengan non penyandang disabilitas yaitu hak untuk hidup, bebas dari stigma, privasi, pendidikan, kesejahteraan sosial, aksesibilitas, dan pelayanan publik. Pada kenyataannya selama ini, hak-hak tersebut masih belum terpenuhi. Sebagai gambaran, di Jawa Timur belum ada perpustakaan yang memberikan aksesibilitas pada penyandang disabilitas.

Narasumber dalam seminar ini adalah: Dr. Yusita Kusumarini, S.Sn., M.Ds., Dekan Fakultas Seni dan Desain Universitas Kristen Petra selaku Ketua Tim Research Project; Gunawan Tanuwidjaja, S.T., M.Sc., Dosen Prodi Arsitektur UK Petra selaku inisiator proyek; Dr. Arina Hayati, S.T., M.T., Dosen Prodi Arsitektur ITS Surabaya yang penyandang disabilitas selaku narasumber untuk proyek; Dra. Labibah Zain, M.LIS., Kepala Perpustakaan dan dosen Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang sudah mulai menyediakan aksesibilitas di perpustakaan. Para narasumber membagikan wawasan pentingnya aksesibilitas dalam perpustakaan melalui pemaparan program “Improving Accessibility of All Users in Petra Christian University Library” (Peningkatan Aksesibilitas Semua Pengguna di Perpustakaan Universitas Kristen Petra) yang dibiayai oleh United Board of Christian Higher Education in Asia. Dalam program ini, tim multi-disiplin yang terdiri dari Manajemen Perpustakaan, Dosen Desain Interior dan Dosen Arsitektur UK Petra memformulasikan desain partisipatif untuk perbaikan aksesibilitas di Perpustakaan UK Petra. Proses desain partisipatif program yang dilaksanakan antara Juni 2016 sampai dengan Juni 2017 ini secara aktif melibatkan para pemangku kepentingan perpustakaan, terutama para pengguna khusus termasuk penyandang disabilitas, orang lanjut usia, wanita hamil, dan juga anak-anak. Desain yang dihasilkan program ini adalah antara lain: desain guiding tile dari pintu masuk ke seluruh fasilitas yang ada di perpustakaan untuk meningkatkan kemandirian penyandang disabilitas netra; desain pencahayaan di area duduk untuk penyandang disabilitas limited vision; desain Special Assistance Corner (Sudut Layanan Pengguna Khusus); lift internal untuk pengguna khusus karena Perpustakaan UK Petra memiliki 4 lantai yang antara lantainya hanya bisa diakses melalui tangga; dan desain toilet untuk penguna khusus. Yang perlu digarisbawahi dalam menyediakan aksesibilitas adalah mengupayakan kemandirian untuk bagi pengguna khusus. Billy Setyadi Karunia, S.I.P., M.A., Ketua Panitia Seminar Nasional dan Pustakawan di Perpustakaan UK Petra mendeskripsikannya sebagai, “Perpustakaan dikunjungi siapa pun. Selama ini kita hanya fokus ke yang bukan penyandang disabilitas. Pustakawan harus memahami bahwa penyandang disabilitas adalah juga pengguna kita. Dan juga, memberikan aksesibilitas adalah memberikan kemandirian  bukan perlakuan khusus”. (noel/padi)

Upacara Peringatan 17 Agustus 2017 “Indonesia Kerja Bersama”
October 09, 2017

Republik Indonesia sebagai negara yang memperjuangkan kemerdekaan dan mencapainya patut berbangga. Pada tanggal 17 Agustus di setiap tahunnya, kita merayakan proklamasi kemerdekaan RI. Di tahun 2017, bangsa ini merayakan Hari Kemerdekaan untuk ke-72 kali dengan semangat “Indonesia Kerja Bersama”. Dalam semangat ini juga, Universitas Kristen Petra sebagai instansi pendidikan tinggi Indonesia melaksanakan Upacara Bendera Memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-72.

Upacara yang dilaksanakan di Lapangan Olahraga UK Petra (Lapangan Anta) dimulai pada pukul 07.30 WIB. Kolonel Marinir (Purn.) Boy Freddy Malonda, Kepala Unit Ketahanan Kampus UK Petra bertindak sebagai Komandan Upacara dan sekitar lebih dari 2000 orang mahasiswa mengikuti upacara ini. Rektor UK Petra, Prof. Ir. Rolly Intan M.A.Sc., Dr.Eng. bertindak sebagai Inspektur Upacara menyampaikan sambutan dari Menteri riset dan teknologi pendidikan tinggi (Menristekdikti) dengan tajuk sama dengan semangat HUT RI ke-72, “Indonesia Kerja Bersama”. Sambutan ini diawali dengan penggalan pidato legendaris Presiden Soekarno pada Juni 1945, “... Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis kuntul baris buat kepentingan bersama”. Berangkat dari kutipan ini diberikan gambaran bahwa Indonesia sudah berhasil menjadi bangsa yang besar dengan berbagai kemajuan dalam bidang ekonomi, sosial, dan politik. Di sisi lain, dipaparkan tantangan terbesar adalah kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang sebagian besar terdiri atas tenaga tidak terlatih atau berkeahlian rendah-menengah.

Menghadapi tantangan tersebut, Kemenristekdikti menetapkan tujuan strategi 2019 yaitu: meningkatnya relevansi, kuantitas dan kualitas SDM berpendidikan tinggi, serta kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dan inovasi untuk keunggulan daya saing bangsa. Kunci pencapaian tujuan strategi ini, menurut Menteri RIstekdikti adalah kerja bersama yang dimulai dari diri sendiri dan membangun budaya anti plagiat, budaya keilmuan yang menghasilkan inovasi dan karya bermanfaat, budaya kampus bersih, budaya anti korupsi, budaya anti narkoba,  bebas dari faham radikalisme, membangun kesantunan dan memperteguh jiwa Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila.

Upacara diwarnai dengan  simulasi penanganan keadaan darurat yang dilaksanaan oleh tiga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bakti Negara, yaitu: Resimen Mahasiswa (Menwa), UKM Mahasiswa Petra Pecinta Alam (Matrapala) dan Korps Suka Rela (KSR) PMI. Ketiga UKM Bakti Negara yang berada di bawah binaan Unit Ketahanan Kampus UK Petra ini memperagakan simulasi penanganan keadaan darurat terorisme dimana terjadi  Rektor diculik, penanganan ancaman bom, unjuk ketangkasan prusik (simpul tali) untuk menaiki bangunan tinggi, cara kerja triage (teknik dalam penanganan korban) dan kerjasama dengan pihak kepolisian untuk penanganan ancaman terorisme.

Beberapa pesan dan petunjuk disampaikan melalui simulasi yang juga didukung oleh Subdetasemen Gegana Satuan Brigade Mobil Polda Jawa Timur ini, yaitu: kerjasama antara masyarakat dan kepolisian sangat penting dalam ancaman terorisme, apabila ada ancaman terorisme segera menghubungi pihak yang berwajib, jangan mendekati lokasi yang berbahaya seperti obyek bom atau daerah tembak menembak dan klasifikasi penanganan korban berdasarkan urgensi lukanya.

Seusai simulasi keadaan darurat, rangkaian perayaan Hari Kemerdekaan ditutup dengan defile oleh Lembaga Kemahasiswaan – Keluarga Besar Mahasiswa UK Petra. Dalam kesempatan ini Tim Gegana Satbrimob Polda Jatim menyampaikan, “Semua berjalan dengan baik dan lancar dari persiapan upacara sampai simulasi karena kerjasama dan komunikasi  yang baik dari Petra yang solid dan bagus”. Vincent Prasetyo, pengurus bagian Hubungan Masyarakat Menwa yang bertugas sebagai Perwira Upacara menyampaikan, “Kita boleh menuntut ilmu setinggi mungkin, akan tetapi jangan lupa timbal balik kita kepada bangsa dan negara”. (noel/dit)

Empat Mahasiswa UK Petra Raih Hibah Kemenristekdikti Melalui Wall Insulation
October 08, 2017

Pemanasan Global membuat suhu udara di Indonesia semakin meningkat. Pengkondisi Udara (AC) dirasa menjadi solusi yang tepat untuk semakin meningkatnya suhu udara di Indonesia. Namun, pemasangan AC pada rumah atau gedung di Indonesia membawa akibat semakin meningkatnya konsumsi energi listrik, yang secara tidak langsung pemborosan energi dan bahan bakar fosil. Sehingga perlu ada cara untuk dapat meminimalkan penggunaan AC di tengah suhu udara yang semakin panas ini. Wall Insulation, sebuah lapisan pada dinding ruangan yang digunakan untuk memperkecil rambatan panas melalui dinding. Hal yang sederhana dan mudah dilakukan akan tetapi bisa dimanfaatkan untuk menghemat energi. Bagaimana bisa? Tentu saja bisa. Berkat penelitian empat mahasiswa Program Studi Teknik Mesin Universitas Kristen Petra (U.K. Petra) inilah akhirnya kita bisa mereduksi biaya penggunaan listrik meski menggunakan AC didalam rumah. Penelitian bertajuk “Penggunaan Wall Insulation Pada Rumah di Surabaya Untuk Mengurangi Kebutuhan Kapasitas AC” ini berhasil memperoleh hibah dari dari Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) beberapa waktu yang lalu sebesar Rp. 10.000.000,-.

Keempat mahasiswa tersebut ialah Gabriel Jeremy, Rio Grafika, Stephanie Cristie Rosalie dan Andriono Slamet yang berhasil menemukan inovasi tersebut. Jenis insulasi yang mereka manfaatkan adalah glasswool dengan density/kerapatan 16 kg/m3 menggunakan ketebalan optimum sebesar 10 centimeter. Hasilnya cukup signifikan, dengan ketebalan wall insulation 10 centimeter maka energi listrik yang dikonsumsi menurun hingga 33,33%, sedangkan penurunan biaya yang dikeluarkan sebesar 29,87%. “Di Indonesia, glasswool sebenarnya merupakan barang yang sudah biasa ditemukan di Indonesia, akan tetapi masyarakat masih tidak familiar menggunakannya. Sehingga dampak positifnya pun tidak pernah terdengar di Indonesia. Padahal seiring dengan berjalannya waktu dan semakin parahnya pemanasan global dan kebutuhan AC semakin tidak terelakkan. Maka penelitian mengenai penggunaan wall insulation di Indonesia harus mulai mendapat perhatian lebih untuk mengantisipasi kebutuhan kapasitas AC yang akan semakin besar”, ungkap Stephanie mahasiswi angkatan 2014.

Manfaat penggunaan wall insulation ini sendiri selain dapat meredam suara ternyata juga dapat meredam panas. Para mahasiswa ini telah mengujinya pada sebuah replika ruangan yang ada di kampus UK Petra dengan dimensi 1 meter x 1.2 meter x 1.7 meter dilengkapi dengan air conditioner ½ PK. Caranya wall insulation dipasang pada dinding terlebih dahulu pada rangka yang telah disiapkan dan ditutup dengan papan triplek untuk tempat memasang termokopel pada dinding yang sudah dilapisi wall insulation. Mereka melakukan percobaan sebanyak tiga kali pada ruangan yaitu tanpa glasswoll, dengan wall insulation setebal 5 centimer dan wall insulation setebal 10 centimeter. Mereka menguji coba dengan menyalakan AC pada temperatur 230C mulai pukul 11.00-15.00 WIB. Hasil pengujian sangat berbeda, jika AC dinyalakan di ruangan tanpa glasswoll maka konsumsi listriknya mencapai 0,77 kWh untuk 4 jam,  sedangkan pada ruangan dengan wall insulation setebal 5 centimer memerlukan 0,54 kWh dan paling sedikit ketika menggunakan wall insulation setebal 10 centimeter, yaitu hanya 0,5 kWh untuk pemakaian 4 jam. “Ini membuktikan bahwa wall insulation mampu menjadi alternatif jawaban untuk mengurangi jumlah energi listrik yang dikonsumsi dengan penggunaan AC pada rumah dan gedung di Indonesia. Akan tetapi kelemahan menggunakan metode ini maka luas ruangan akan berkurang sedikit”, urai Stephanie. Di lain kesempatan Kepala Program Studi Teknik Mesin UK Petra, Dr. Ir. Ekadewi Anggraini Handoyo, M.Sc menyatakan sangat gembira bahwa anak didiknya mampu membantu permasalahan yang sedang di hadapi yaitu pemanasan global. “Mereka mampu mengaplikasikan materi  yang didapatkan di kelas untuk membantu masyarakat sekitar, itulah yang akhirnya membuat mereka berhasil mendapatkan hibah dari Kemenristekdikti”, ungkap dosen berkacamata ini. (Aj)

Praktisi Keuangan yang Menguasai Teknologi
October 08, 2017

Ilmu pengetahuan dan teknologi akan terus berkembang, ini adalah dinamika waktu yang perlu diterima semua kalangan. Belakangan ini, seluruh aspek kehidupan manusia sudah terpengaruhi oleh kemajuan teknologi. Kemajuan ini membawa berbagai kemudahan dan pengembangan di berbagai lini, termasuk di dunia industri keuangan. Financial Technology (Fintech) adalah bentuk kemajuan  dan terobosan baru di industri keuangan, begitu juga Robo Advice. Kemajuan ini membawa pula peluang dan juga ancaman di sisi lain. Fakultas Ekonomi dan Program Manajemen Keuangan Universitas Kristen Petra menyelenggarakan seminar bertajuk “Peran Fintech dan Robo Advice” pada tanggal 24 Agustus 2017 untuk membahas peluang dan ancaman yang ada di industri keuangan dalam atmosfer perkembangan teknologi informasi ini.Seminar ini menampilkan praktisi dan akademisi dunia keuangan sebagai narasumber, yaitu: Tri Djoko Santoso, CFP (R) Ketua Financial Planning Standard Board (FPSB) Indonesia; dan Dra. Nanik Linawati, M.M., CFP (R) Kepala Bidang Studi Personal Finance di Program Manajemen Keuangan UK Petra. Seminar ini merupakan seminar pertama dari rangkaian acara dalam Investment Festival yang digelar pada tanggal 24-27 Agustus 2017 di Mall Grand City Surabaya untuk memperingati 10 tahun Program Manajemen Keuangan UK Petra.

Berbarengan dengan ini, kemajuan teknologi telah mengubah wajah aktivitas di industri keuangan. Peningkatan aksesibilitas internet menyebabkan perilaku belanja berubah dengan porsi pembelanjaan daring via internet semakin tinggi seiring berjalannya waktu. Transaksi perdagangan modal yang semula dilakukan dan berpusat di tempat eksklusif menjadi bisa dilaksanakan dimana saja. Metode pembayaran juga mengalami pergeseran ke arah pembayaran cashless (tanpa uang).

Kombinasi meningkatnya potensi pasar dan teknologi ini menimbulkan beberapa dampak. Kemajuan Fintech membuat peluang investasi menjadi terbuka ke lebih banyak orang yang karenanya volume investasi akan juga meningkat. Di sisi positif, akan ada lebih banyak orang yang membutuhkan keahlian seorang financial planner. Di sini Robo Advisors hadir menjembatani pemakai jasa keuangan yang semakin banyak ini. Robo advisors adalah konsultan keuangan dengan bantuan program atau aplikasi. Seorang financial planner akan bisa memanfaatkan Fintech ini untuk bisa menjangkau lebih banyak orang yang membutuhkan jasanya. Di sisi yang lain, timbul kebutuhan untuk menguasai teknologi tersebut agar tidak ketinggalan jaman dan kalah bersaing.

Tri menyampaikan bahwa praktisi keuangan perlu siap untuk menghadapi dinamika pasar. Perkembangan Fintech dan pemakaian Robo Advice akan menjadi ancaman bagi orang yang tidak siap menghadapi perkembangan, akan tetapi menjadi peluang bagi orang yang menguasainya. Maka dari itu, bagi seorang praktisi keuangan adalah suatu keharusan untuk menguasai teknologi informasi. Mengenai keharusan untuk selalu berupaya meningkatkan keahlian dan menyesuaikan dengan kondisi pasar, Tri mengatakan, “Ibaratnya orang bersepeda, agar tetap seimbang, kita harus terus mengayuh”. Sejurus dengan itu, Nanik mengatakan bahwa setiap entrepreneur perlu bisa beradaptasi dengan irama pasar yang pasti dan terus berubah. Akan tetapi, menurutnya ada beberapa hal mendasar yang memang akan selalu tetap diperlukan yang juga dibekalkan pada para mahasiswa di programnya, yaitu: penguasaan bahasa, etika, dan integritas. (noel/padi)

Ketua Program Studi dan Pengelola Keuangan Berprestasi Tingkat Kopertis VII
October 08, 2017

Peningkatan kualitas pendidikan dan pelayanan bagi mahasiswa adalah hal yang penting dalam dunia pendidikan tinggi. Untuk mendukungnya, Kementerian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) sebagai badan regulasi yang terkait memprogramkan kegiatan penghargaan bagi para tenaga pendidikan tinggi yang berprestasi. Dua wakil dari UK Petra mendapatkan penghargaan ini pada periode 2017. Berikut adalah penggalan kisah prestasi kedua wakil berprestasi UK Petra ini.

Eunike Kristi Julistiono, S.T., M.Des.Sc.

Juara II Ketua Prodi Berprestasi

Pemilihan Kaprodi Berprestasi bertujuan memberikan penghargaan pada Kaprodi yang telah berhasil berperan sebagai ujung tombak pelaksanaan pembelajaran di perguruan tinggi. Dalam pemilihan kali ini, Eunike yang adalah Ketua Program Studi Arsitektur UK Petra ini mengajukan karya inovasi dengan judul “International Joint Workshop dalam rangka Internasionalisasi". Inovasinya dilatarbelakangi kesulitan merintis program internasional untuk prodi Arsitektur yang disebabkan oleh adanya perbedaan kurikulum bersistem studio dan masa studi yang berbeda-beda dari berbagai universitas mancanegara. Solusi yang diusungnya adalah dengan merintis hubungan kemitraan internasional melalui kegiatan joint workshop. 2 Joint workshop sudah dapat dilaksanakan di tahun 2016, baik di Surabaya (dengan menerima 52 mahasiswa dari UTAR), maupun di luar negeri (dengan mengirim 10 mahasiswa mengikuti workshop 4th PAAU di Taichung, Taiwan). Karya inovasinya ini mengantarkannya meraih juara II Ketua Program Studi Berprestai 2017 tingkat Kopertis 7.

Eunike merasa senang berkesempatan bertemu dan belajar dari para Kaprodi universitas lain. Ia membagikan bahwa ketika diminta mengikuti kompetisi ini, ia sebenarnya tidak merasa berprestasi, karena merasa selama ini hanya berusaha melakukan tugas saya dengan sebaik-baiknya dalam memajukan Prodi Arsitektur dan UK Petra. Namun ia sangat bersyukur karena dengan masuk menjadi 3 besar, ia tidak mengecewakan UK Petra. Eunike mengatakan, “Saat kita dipercaya untuk suatu tugas, setia selalu dan lakukan yang terbaik, maka Tuhan yang akan menuntaskan untuk kita. Karena ketika Tuhan memberi tugas, Dia juga yang akan memperlengkapi, memberkati dan menyertai kita sampai selesai”.

Dra. Supit Bahlava Wakti

Juara III Pengelola Keuangan Berprestasi

Pemberian penghargaan Pengelola Keuangan Berprestasi dari Kemenristekdikti adalah bentuk apresiasi dan rekognisi untuk peningkatan transparansi dan akuntabilitas di bidang keuangan. Dalam pemilihan periode 2017 ini, Supit mengajukan karya inovasi unggul bidang keuangan dengan judul “Mekanisme Pengelolaan Anggaran Berbasis Outcome melalui Optimalisasi Penggunaan Software AGR”. Penyusunan, pelaporan, dan pencatatan anggaran adalah rangkaian kegiatan yang panjang yang dilakukan di seluruh bagian universitas. Dengan menggunakan software khas AGR sebagai alat bantu, Badan Administrasi Keuangan UK Petra mempermudah pengelolaan anggaran bagi semua pihak yang terkait. Karya tulisnya meraih posisi Juara III Pengelola Keuangan Berprestasi. Hal ini patut disyukuri mengingat peserta pengelola keuangan Berprestasi lainnya mempunyai latar belakang dan kompetensi sebagai akuntan profesional dan tenaga pendidikan berpengalaman.

Persona pendidikan yang sudah 26 tahun mengabdi di UK Petra ini bersyukur dapat berpartisipasi meskipun pada awalnya ia merasa kurang mampu untuk mengikuti pemilihan Pengelola Keuangan Berprestasi. Akan tetapi dukungan dan bantuan yang diberikan pimpinan dan rekannya memberikan motivasi dan semangat untuk mengikuti kompetisi ini. Diakuinya dengan jujur bahwa membuat karya tulis itu tidak mudah, sangat menantang dan butuh perjuangan. Selama ini ia selalu berfokus pada pekerjaannya dan tidak pernah terpikirkan untuk membuat karya tulis. Namun setelah mengikuti kegiatan ini dan mendapatkan apresiasi, ia bersyukur karena bisa lebih melihat dinamika kehidupan di dunia pendidikan yang lebih luas. Ia mengatakan, “Tidak ada kata terlambat, jangan menyerah dan jangan takut melangkah dan jangan takut untuk menggunakan kesempatan yang ada. Mengenai hasil, itu adalah anugerah-Nya semata”. (noel)

Hadapi Tantangan Internasional dengan Serifikasi Profesi Insinyur
October 06, 2017

Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar ke-4 di dunia. Besarnya populasi ini menyiratkan besarnya potensi dalam bentuk tenaga kerja. Di sisi lain ada tantangan yang didapati untuk bisa mengaktualisasi potensi ini. Tenaga kerja dari Indonesia dipersepsi sebagai tenaga kerja tidak berkeahlian atau berkeahlian menengah sehingga apresiasi yang sepantasnya tidak didapatkan di lingkup internasional. Untuk mengubah persepsi ini, diperlukan adanya standarisasi dan sertifikasi yang baik atas para profesional ini. Dalam UU no. 11 tahun 2014 diregulasikan ketentuan khusus terhadap bagian dari profesi yang ada di Indonesia, yaitu insinyur. Menanggapi regulasi ini, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menerbitkan Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 35 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Program Profesi insinyur.

Program Profesi Insinyur (PPI) U.K. Petra yang berada dalam Fakultas Teknologi Industri berawal dari mandat yang ditetapkan oleh Kemenristekdikti melalui SK Menristekdikti no. 201/KPT/I/2017. Dari sekitar lebih dari 4000 perguruan tinggi (PT) yang ada di Indonesia, U.K. Petra adalah satu dari 40 PT yang ditunjuk menyelenggarakan pendidikan PPI. PPI UK Petra ini sendiri diresmikan pada tanggal 8 September 2017 melalui acara Launching Program Profesi Insinyur yang mengangkat tajuk “Urgensi Sertifikasi Profesi Insinyur di Era Persaingan Global”. Seminar yang dilaksanakan di Ruang Konferensi 4, Gedung Radius Prawiro lantai 10 ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu: Drs. Kresnayana Yahya, M.Sc., dari Enciety Bussines Consult; Prof. Ir. Benjamin Lumantarna, M.Eng., Ph.D., dosen di Program Studi Teknik Sipil U.K. Petra; dan Ir. Rudyanto Handojo, IPM., Direktur Eksekutif Persatuan Insinyur Indonesia (PII).

Seminar yang dihadiri sekitar 120 orang tersebut dimoderatori oleh Dr. Daniel Rohi, S.T., M.Eng.Sc. mengawali seminar dengan pertanyaan berikut: Mengapa Sarjana Teknik masih perlu mengambil sertifikasi lagi? Benjamin merespon dengan memaparkan bahwa seorang yang profesional memiliki pola pikir positif dimana ia akan selalu melakukan lebih dari yang diminta peraturan. Sejurus dengan Benjamin, Rudyanto menambahkan bahwa tuntutan sertifikasi tambahan bagi para sarjana teknik berawal dari dorongan yang disebabkan oleh kepentingan internasional. Ia mengangkat bahwa sejak Desember 2015, terkait dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN, terbuka akses bagi insinyur dari luar negeri untuk berkarya di Indonesia. Problematika yang muncul adalah insinyur dari negara tetangga dilihat sebagai professional engineer, yang diapresiasi berbeda dengan insinyur Indonesia. Menurut Rudyanto, sertifikasi profesi insinyur adalah langkah awal untuk mencapai kesetaraan dengan insinyur luar negeri. Kresnayana mengangkat bahwa urgensi untuk sertifikasi lebih lanjut ini berakar dari semakin spesifiknya kebutuhan di industri dan adanya keragaman tingkat keahlian dari pemegang ijasah yang sama. Hal ini menimbulkan tuntutan standardisasi keahlian profesi.

Berikutnya dberikan gambaran mengenai prospek dalam dunia profesi keinsinyuran. Rudyanto mengabarkan bahwa organisasi profesinya, PII, akan bisa menjembatani para profesional Indoensia dengan kesempatan bukan hanya di lingkup ASEAN saja, melainkan dalam lingkup internasional. Selain itu, di dalam negeri sendiri ada kebutuhan besar yang sudah ada di depan mata, dalam bentuk pembangunan infrastruktur negara dimana kita dalam 5 tahun ini (sejak 2014) membangun infrastruktur sebesar 5.500 triliun rupiah. Lebih dari dua kali lipat pembangunan infrastruktur di 5 tahun sebelumnya.

Dari paparan di seminar ini, sebagai closing statement, Daniel menyimpulkan bahwa ada urgensi untuk sertifikasi profesi insinyur yang muncul dari tuntutan internasional. Selain itu ada peluang besar yang bisa diraih para profesional yang sudah tersertifikasi baik di dalam negeri mau pun di luar negeri. Tanti Octavia, S.T., M.Eng., Kepala Program PPI UK Petra mengundang segenap insinyur untuk mengatasi tantangan ini dan juga meraih kesempatan yang ada. Ia mengucapkan, “It’s your time now to become a professional engineer. So come and join PPI Petra”. (noel/Aj)

Adiwarna 2017: Karyakarsa Karya untuk Masyarakat
October 06, 2017

Kreativitas dan inovasi mahasiswa Universitas Kristen Petra (U.K. Petra) terus dikembangkan dalam hal seni dan desain. Hal ini diimplementasikan melalui pameran Adiwarna 2017 yang digelar oleh Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) U.K. Petra. Adiwarna 2017 merupakan gelaran tahunan pameran tugas akhir mahasiswa jurusan DKV Universitas Kristen Petra. Terdapat beberapa rangkaian kegiatan Adiwarna 2017 antara lain adalah pameran karya tugas akhir, talkshow peran desain dalam merespon keadaan, talkshow peluang di Industri kreatif, workshop kreatif, screening film, bedah karya peserta pameran, bazaar kreatif, bursa karir dan penutupan Adiwarna 2017 berupa acara awarding night dan acara musik.

Salah satu tujuan kegiatan Adiwarna 2017 adalah untuk memperkenalkan peran desainer dalam menciptakan solusi kreatif terhadap problematika yang terjadi di masyarakat. Oleh sebab itu, tema yang diangkat tahun ini adalah Karyakarsa. “Karyakarsa sengaja diangkat untuk membuka pengetahuan masyarakat bahwa lulusan DKV UK Petra yang berkarya ini tidak hanya untuk memikirkan estetika saja namun juga dilatih memiliki pola pikir problem-solver dari berbagai permasalahan yang dihadapi”, urai Oscar selaku ketua panitia acara Adiwarna 2017. Selain itu, gelaran Adiwarna kali ini bertujuan sebagai sarana prestasi, sarana apresiasi, dan sarana edukatif.

Pameran tugas akhir mahasiswa DKV angkatan 2013 ini diadakan selama tiga hari di Grand Atrium Pakuwon Mall yakni pada tanggal 11 Agustus hingga 13 Agustus 2017. Gelaran Adiwarna kali ini menampilkan 55 karya terbaik dari seluruh mahasiswa Program Studi DKV angkatan 2013. 55 karya terbaik ini akan dipilih oleh para dosen, tanpa dibatasi oleh penjurusan yang ada dalam program studi. Jenis karya yang dipamerkan antara lain berupa komik, campaign, branding, pengembangan packaging, produk, fotografi, video, buku interaktif, dan media promosi. Semua karya ini dibuat dengan latar belakang permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat.

Sedangkan, rangkaian acara talkshow diadakan pada tanggal 12 Agustus 2017 di Ruang Audio Visual Gedung T Lantai 5 (AVT.502) dengan mengangkat topik “Merespon keadaan dengan desain”. Talkshow Adiwarna 2017 menghadirkan dua pembicara yakni Irwan Ahmett dan Antitank.  Kedua pembicara ini mengimplementasikan sebuah seni dan desain sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap kondisi disekitar lingkungannya. Karya yang dihasilkan beragam, seperti  berupa kegiatan bersama dan menghasilkan karya serta poster untuk menunjukkan aspirasi dan opini. Selain itu, terdapat rangkaian workshop Wood Cut Art Work bersama komunitas Mata Rante pada hari Sabtu, 12 Agustus 2017.

Berbeda dari tahun sebelumnya, Adiwarna 2017 juga menampilkan job fair dan creative market. Job fair diadakan untuk mengenalkan calon fresh graduate dengan perusahaan yang sesuai dengan bidang Desain Komunikasi Visual (DKV). Tidak hanya mengenalkan mahasiswa pada perusahaan, namun juga mengenalkan perusahaan pada mahasiswa. Salah satu harapannya adalah adanya kerja sama yang terjalin antara mahasiswa dengan perusahaan karena karya desain yang dihasilkan (fsc/Aj).

Light Pipe, Solusi Pencahayaan Alami pada Pemukiman Padat Penduduk
October 05, 2017

Inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat, itulah hasil karya para mahasiswa Program Studi Arsitektur UK Petra yang mendapatkan hibah dari Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) beberapa waktu yang lalu. Light Pipe Daur Ulang: Solusi Ekonomis Pencahayaan Alami untuk Pemukiman Padat, itulah judul ide inovasi yang ditawarkan dan berhasil mendapatkan hibah sebesar Rp. 8.500.000,00. Light Pipe ini sudah diterapkan di dua rumah.

Kedua rumah yang telah dipasang alat ini adalah rumah Keluarga Aderahman dan rumah Keluarga Ibu Didi di jalan Siwalankerto Selatan. Apakah Light Pipe itu? Light Pipe merupakan alat yang berguna untuk meneruskan cahaya matahari ke dalam bangunan di lahan yang padat. Ialah Elisabeth Kathryn, Chefania, Samantha Isabela Ongkowijoyo dan Andrew Laksmana yang mengerjakan proyek ini. Mereka memanfaatkan bahan daur ulang yakni kaleng biskuit bekas untuk menyusun alat ini. Beberapa saat setelah pemasangan Light Pipe pada rumah warga, tim sempat melakukan pengukuran intensitas cahaya yang diperoleh. “Hasilnya lumayan. Kalo siang hari tidak perlu menyalakan lampu dan artinya saya bisa menghemat pengeluaran listrik. Biasanya dalam satu bulan saya mengeluarkan uang Rp. 400.000-450.000 untuk biaya listrik kini setelah menggunakan Light Pipe saya cukup mengeluarkan biaya sekitar Rp. 350.000 saja. Jadi saya bisa menghemat uang sekitar Rp. 50.000-Rp 100.000”, urai Ibu Didi sang pemilik rumah.

Kepadatan penduduklah yang kemudian menyebabkan permukiman di kota besar menjadi berhimpitan satu sama lain, terutama pada pemukiman masyarakat ekonomi lemah. Tanpa sadari, rumah tidak dapat memperoleh pencahayaan alami yang memadai karena terbatasnya jendela. “Ruangan menjadi gelap dan tidak sehat akibat minimnya pencahayaan alami sehingga harus menggunakan lampu sepanjang hari. Dengan hadirnya Light Pipe maka konsumsi energi listrik dapat dikurangi serta kenyamanan dan kesehatan penghuni dapat ditingkatkan. Cahaya yang dihasilkan dari light pipe bersifat diffused (tidak langsung) sehingga tidak menambah beban panas dan tidak menyilaukan”, urai Elisabeth selaku ketua pelaksana kegiatan.

Bahan yang digunakan untuk membuat Light Pipe ini sangat mudah didapatkan dan dikerjakan serta murah harganya. Sehingga sangat memungkinkan jika alat ini dibuat dan dipasang secara mandiri oleh warga sekitar. Bahan yang diperlukan untuk membuat sebuah light pipe daur ulang adalah kaleng bekas kemasan biskuit secukupnya (yang disusun vertikal keatas, sesuai jarak plafon dan atap), mangkuk kaca berbentuk setengah bola sebagai receiver matahari, dan kaca yang dilapis oleh stiker buram sebagai diffuser cahaya. Kaleng dipilih karena memiliki sifat metal yang kuat dan tahan lama serta memiliki permukaan dalam yang reflektif sehingga dapat memantulkan cahaya. Perekat antar kaleng menggunakan lem epoxy, sedangkan perekat mangkuk dan kaca menggunakan silicon sealant. Selain itu, alat yang dibutuhkan adalah pemotong tutup kaleng. Jika di kalkulasikan, biaya pembuatannya pun tak lebih dari Rp. 25.000,00. Sehingga penemuan ini sangatlah mudah untuk diaplikasikan pada masyarakat. “Kaleng bekas yang digunakan adalah kaleng standar berdiameter 15 cm dan jumlahnya tergantung dari jarak tinggi antara plafon dengan atapnya. Pada jarak kurang lebih 1 meter cukup menggunakan 7 kaleng bekas saja. Proses perawatannya pun cukup mudah, cukup dengan membersihkan mangkuk kaca dan diffuser cahaya setiap 1 tahun sekali dan memperhatikan kondisi perekatnya saja”, tutup Elisabeth. (Aj/padi)

Suguhkan Makanan Ala China di Restauran Hong Yuan
September 29, 2017

Inovasi dan kreativitas terus digerakkan oleh Universitas Kristen Petra, terutama agar mahasiswa tidak berhenti belajar dan dapat mengimplementasikan teori di kelas dalam hal praktek. Mahasiswa program studi Manajemen Perhotelan Universitas Kristen Petra (UK Petra) Surabaya kembali membuka hotel dan restauran untuk salah satu ajang praktek sebagai latihan di dunia kerja nanti, dimana setiap semester genap, mahasiswa semester enam akan melakukan praktek materi kuliah Manajemen Operasional Hotel (MOH) ini.

Bernuansa China, kali ini HongYuan Hotel and Restaurant menyajikan aneka pilihan menu China yang menjadi favorit banyak orang. Kata “Hong” yang berarti merah dan melambangkan keberanian dan juga kebahagiaan dan “Yuan” yang berarti taman. Tema yang dipilih adalah “Chinese Garden”, karena suasana tenang dan nyaman seperti taman di negeri China memiliki nuansa yang santai dan orang-orang dapat merasakan ketenangan yang dapat menenangkan pikiran. Suasana dari taman negeri China tersebut diterapkan ke dalam dekorasi. Seluruh “Hong Yuan” staf memiliki nama panggilan yaitu “Golden Squad” yang memiliki arti sesuatu yang berharga dan saling menghargai satu sama lain.

Restauran ini dibuka sejak tanggal 18 April 2017 hingga berakhir pada 8 Juni 2017, Hong Yuan Hotel and Restaurant dibuka setiap hari Selasa sampai Jumat dengan jam operasional mulai dari pukul 09.00 wib sampai dengan 20.30 wib. Hong Yuan Hotel and Restaurant memiliki beberapa menu special dari makanan, minuman dan makanan penutup (dessert). Menu makanan spesialnya adalah ‘Golden Cock’, terbuat dari irisan ayam yang dibalut dengan tepung dan digoreng, kemudian dimasak bersama bumbu special telur asin dan disajikan bersama nasi goreng special ala HONGYUAN. Sedangkan untuk minuman adalah Hong Suan, minuman ini special karena bahan utamanya adalah manisan kiamboi China yang di top up dengan soda. Untuk menu dessert spesial adalah Hong Tian, dessert yang berisi red velvet cake dengan cream cheese disajikan dengan mandarin sauce dan juga homemade caramel popcorn.

Mahasiswa Program Manajemen Perhotelan semester enam ini yang sedang praktek ini dibagi menjadi beberapa departemen yakni Service, Pastry, Produk, House Keeping, dan Front Office dimana setiap 5 hari,  mahasiswa diputar untuk berganti departemen. Kendati berjalan dengan sukses, namun mahasiswa manajemen perhotelan ini bukan berarti tidak menemukan kendala. “Banyak kendala yang kami lalui dalam pembukaan dan operasional HONGYUAN ini. Kendala yang kami lalui seperti adanya perbedaan pendapat antara para Golden Squad satu sama lain sehingga memerlukan waktu untuk diskusi untuk penyelesaiannya, selain itu kendala kami juga pada kualitas kontrol setiap produk yang memiliki rasa yang berbeda setiap hari dikarenakan staff yang berbeda-beda saat pergantian pergantian kerja sehingga kami harus meningkatkan kontrol kualitas kami,” urai Reynaldo Hartanto selaku General Manager Hong Yuan Hotel and Restaurant.

Harapan dari mahasiswa manajemen perhotelan yang praktek ini pun terurai melalui proyek ini. “Harapannya, setelah dari pengalaman membuka hotel dan restoran ini ketika kami berada di dunia industri, kami telah memiliki bekal pengalaman sebagai dasar untuk dapat bekerja di industri. Melalui pelajaran yang telah kami dapatkan selama mata kuliah Manajemen Operasional Hotel ini kami dapat menggunakannya sebagai standar dalam kami bekerja di industri, tutup Reynaldo Hartanto (fsc/dit).

COP Kupang 2017
September 25, 2017

Mahasiswa di Indonesia memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan Tridharma Perguruan TInggi. Salah satu pengamalannya adalah pengabdian pada masyarakat. Untuk melaksanakan tugas tersebut sebanyak 55 orang mahasiswa mengikuti Community Outreach Program (COP) dan membaktikan diri selama 2 minggu mulai tanggal 27 Juli-4 Agustus 2017 di saat liburan mereka untuk membantu membangun desa tertinggal di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Rombongan mahasiswa ini terdiri atas 3 mahasiswa dari Fu Jen Catholic University Taiwan; 2 mahasiswa Education University Hong Kong; 21 mahasiswa dari Universitas Kristen Petra; dan 29 mahasiswa dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang (Unwira). Mereka tergabung dalam program COP Kupang yang diprakarsai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UK Petra.

Rombongan COP tiba di kota Kupang pada tanggal 20 Juli 2017. Keesokan harinya pada tanggal  21 Juli 2017, para mahasiswa mendapatkan pembekalan terlebih dahulu di Unwira. Pada tanggal 22 Juli, mereka sudah tiba di lokasi pengabdian mereka di Dusun Sublele, Desa Sillu, Kecamatan Hatuleu, Kabupaten Kupang. Dusun Sublele berjarak dua  jam perjalanan mobil dari kota Kupang yang dihuni oleh 75 kepala keluarga. Selama di dusun Sublele, ke-55 mahasiswa peserta COP ini tinggal bersama warga dusun di 28 rumah yang ada.

Dusun Sublele berada di dataran tinggi dan memilki iklim yang kering. Ketika siang hari suhu sangat panas, dan ketika malam hari sangat dingin. Dusun ini membutuhkan gedung untuk sekolah Pendiidkan Anak Usia Dini (PAUD), dimana PAUD sudah ada akan tetapi diselenggarakan di rumah warga. Listrik untuk keperluan desa sudah ada akan tetapi masih sangat terbatas dan bersumber dari satu mesin generator. Permasalahan kekurangan listrik ini bisa dilihat sebagai kesempatan pengembangan diri mahasiswa, dimana mereka mau tidak mau harus bisa terlepas dari berbagai gadget yang dimilikinya karena mereka hanya diperbolehkan mengisi baterai satu kali dalam 3 hari. Potensi pengembangan yang dimiliki oleh Dusun Sublele adalah: terdapatnya satu mata air yang belum terkelola secara maksimal; dan ada lahan yang tidak terpakai.

Para peserta dibagi menjadi tiga kelompok dimana masing-masing kelompok akan mendapat tugas mengerjakan proyek fisik dan non fisik untuk membantu warga Dusun Sublele. Kelompok pertama bertugas membangun sarana fisik gedung untuk PAUD dan kemudian melaksanakan kegiatan belajar mengajar di PAUD tersebut. Kelompok membangun 2 unit rumah kompos dan 1 bak reservoir irigasi yang memanfaatkan luberan dari mata air yang ada. Dengan sistem ini, mata air yang semula tidak terkelola dengan maksimal bisa mengairi lahan kosong yang tidak terpakai. Proyek non fisik kelompok kedua adalah bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Kupang memberikan pelatihan kompos untuk memberdayakan warga memakai rumah kompos. Dengan adanya kompos dan irigasi, diharapkan budi daya pertanian di Dusun Sublele bisa berkembang dan meningkatkan taraf hidup warga. Selain itu, kelompok ini juga memberikan pengajaran di SMP Swasta Nusa Timor. Kelompok ketiga mendirikan 2 unit kolam lele terpal. Bekerjasama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kupang yang memasok bibit ikan, kelompok ini memanfaatkan ketersediaan lahan dan bibit ini untuk membangun kolam yang akan bisa meningkatkan perekonomian warga dusun. Selain itu kelompok ini juga melakukan pengajaran di Sekolah Dasar setempat.

Tanggapan positif datang dari Kepala Dusun Sublele, Osias Tob. Osias mengatakan, “Kami diberkati dengan ada pembangunan di desa kami. Kegiatan ini bisa membuat adanya percepatan pembangunan di desa kami”. Elisabeth Kurniawan, seorang mahasiswa Prodi Sastra Tionghoa UK Petra merasa senang mengikuti COP ini. Ia bisa bertemu teman baru, saling bertukar pikiran dan memperluas wawasan tentang banyak hal. Selain itu ia juga bisa melatih kemampuan berbahasa sesuai dengan jurusannya karena ada peserta dari Taiwan di kelompoknya. Mengenai pengalaman pribadinya di desa, Elisabeth mengatakan “Awalnya sulit bagi saya untuk hidup dengan apa yang ada di desa, namun setelah beberapa hari tinggal di sana saya mulai bisa beradaptasi baik dengan lingkungan maupun warga desa dan bahkan saya menikmati kehidupan saya di sana”. (noel/Aj)