Connect with us
  • b
  • a
  • x
A CARING AND GLOBAL UNIVERSITY
WITH COMMITMENT TO CHRISTIAN VALUES

Berita

UK Petra Lantik Wakil Rektor dan Pejabat Struktural Periode 2017-2021
February 08, 2018

Kali ini Universitas Kristen Petra (UK Petra) kembali menggelar agenda penting yaitu pelantikan Wakil Rektor, Dekan, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), Kepala Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), dan Kepala Departemen Mata Kuliah Umum (DMU) periode 2017-2021. Bertempat di Auditorium UK Petra, prosesi pelantikan dilaksanakan pada hari Jumat, 2 Februari 2018 mulai pukul 10.00 WIB. Pdt. Wahyu Pramudya, M.Th. yang mengawali acara pelantikan ini mengutip dari 1 Samuel 7:12. Dalam dunia ini, manusia butuh “pembatas” salah satunya adalah masa jabatan. Sebuah batas bukan selalu berbicara tentang akhir, tetapi juga berbicara tentang awal yang baru. “Kali ini bagi pejabat struktural yang lama, inilah batas anda, syukuri apa yang telah dilewati, rayakan pertolongan Tuhan sambil menengok kebelakang, mengevaluasi apa yang telah kita lakukan dan apa yang kelak akan dilakukan untuk menjadi lebih baik,” ujar hamba Tuhan dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Ngagel ini.

Acara dilanjutkan dengan pelantikan dan serah terima jabatan dari pejabat struktural lama kepada pejabat struktural yang baru. Dr. Dra. Jenny Mochtar, M.A. terpilih sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik, Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum dan Keuangan dipercayakan kembali kepada Agus Arianto Toly, S.E., Ak., M.S.A. Sedangkan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dipegang oleh R. Arja Angka A. A. A. Sadjiarto, S.E., M.Ak., Ak. Setelah pelantikan para Wakil Rektor, acara dilanjutkan kembali dengan pelantikan dekan. Berdasarkan SK no.20 /Kept/YPTK/I/2018 tanggal 29 Januari 2018, Dekan Fakultas Sastra dipercayakan kepada Dwi Setiawan, S.S., MA-ELT., Ph.D., Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan dipercayakan pada Dr. Rudy Setiawan, S.T., M.T. berdasar SK no.22 /Kept/YPTK/I/2018 tanggal 29 Januari 2018. Mengakhiri masa jabatannya sebagai Kepala LPPM, Berdasarkan SK no.24 /Kept/YPTK/I/2018 tanggal 29 Januari 2018, Dr. Juliana Anggono, S.T., M.Sc. kini dipercaya menjadi Dekan Fakultas Teknologi Industri periode 2017-2021.

Berdasarkan SK no.26 /Kept/YPTK/I/2018 tanggal 29 Januari 2018, Ricky, S.E., MRE., Ed.D. terpilih menjadi Dekan Fakultas Ekonomi, Dr. Yusita Kusumarini, S.Sn., M.Ds. dan Dr. Drs. Ido Prijana Hadi., M.Ds. kembali mengemban tugas sebagai Dekan Fakultas Seni dan Desain sesuai dengan SK no.28 /Kept/YPTK/I/2018 tanggal 29 Januari 2018 dan Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi periode 2017-2021 sesuai dengan SK no.30 /Kept/YPTK/I/2018 tanggal 29 Januari 2018. Dr. Drs. Ribut Basuki, M.A. dilantik menjadi Kepala LPPM berdasarkan SK no.32 /Kept/YPTK/I/2018 tanggal 29 Januari 2018. Kepala LPM yang baru dipegang oleh Dr. Dra. Gan Shu San, M.Sc., sesuai dengan SK no.34 /Kept/YPTK/I/2018 tanggal 29 Januari 2018. Sedangkan berdasarkan SK no.24 /Kept/UKP/II/2018 tanggal 1 Februari 2018, Ketua Departemen Mata Kuliah Umum periode 2017-2021 dipercayakan kepada Dr. Ir. Ekadewi Anggraini Handoyo, M.Sc.

Setelah pelantikan dan doa peneguhan bagi para pejabat struktural yang baru, Rektor UK Petra memberikan sambutannya. “Tak lupa saya mengucapkan terima kasih atas pelayanan para pejabat struktural yang lama. Sungguh sebuah anugerah besar bagi kampus UK Petra. Saya mewakili seluruh keluarga besar UK Petra juga mengucapkan selamat kepada pejabat baru periode 2017-2021 yang telah dilantik, saya percaya bahwa tanggung jawab yang baru yang telah didoakan dan akan dijalani selama empat tahun kedepan ini merupakan kesempatan dan kehormatan untuk menjadi rekan sekerja Allah untuk mewujudkan rencanaNya di UK Petra,” ungkap Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng.(rut/Aj)

Sampaikan Pesan Lewat Media Film Pendek
February 07, 2018
Dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen Petra (UK Petra) menorehkan prestasi dalam Kompetisi Film Pendek 2017 yang diadakan oleh Dharma Wanita Persatuan Surabaya dan Independen Film Surabaya (INFIS) bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Maria Nala Damayanti, S.Sn., M.Hum. bersama tim diumumkan meraih juara tiga pada 17 Desember 2017 di Balai Pemuda Surabaya. Kompetisi membuat film pendek ini terdiri dari beberapa kategori yaitu ibu, Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Madrasah Aliyah (MA). Kompetisi ini diawali dengan workshop film bagi murid SMP/MTs dan ibu pada tanggal 10 November 2017. Setelah itu, para peserta dirujuk untuk mengikuti kompetisi film pendek ini. Peserta diminta membuat film pendek dengan durasi maksimal lima menit dengan tema besar “Inspirasiku”. Selanjutnya peserta mengumpulkan hasil karya film pendek pada tanggal 5 Desember 2017. “Saya ingin mendorong perempuan untuk berani berekspresi karena perempuan pasti punya perspektif tersendiri dalam melihat suatu permasalahan, film adalah media yang sangat dekat dengan kita dan sebagai penyampai pesan yang punya daya jangkau luas,” ungkap Maria Nala Damayanti, S.Sn., M.Hum.
Dalam pembuatan film pendek ini, dosen yang akrab disapa Maya ini berperan sebagai sutradara, produser, dan script writer. Dosen kelahiran Kediri ini dibantu rekan dosen DKV UK Petra dan beberapa mahasiswa DKV UK Petra yang berperan sebagai director of photography ilustrator, animator, dan editor. Maya dan tim membuat film pendek berjudul “Opsi” yang mengisahkan tentang ibu tunggal yang memiliki dua anak. Sang ibu memiliki kebiasaan yaitu selalu membacakan dongeng sebelum anaknya tidur. Suatu malam, sang ibu terlalu sibuk bekerja, sehingga tidak bisa membacakan dongeng bagi anaknya. Saat melihat anaknya yang telah tidur, ia menemukan kertas bertuliskan “aku sayang ibu” di tangan anaknya. Pesan yang ingin disampaikan melalui film pendek yang proses pembuatannya kurang lebih tiga minggu ini adalah membangun kebiasaan dengan anak akan selalu membekas, itu yang memperkuat ikatan antara ibu dan anak. “Kisah dalam film pendek ini, saya justru terinspirasi dari anak bungsu saya, yang setiap hendak tidur selalu minta untuk digarukkan. Hanya dalam film ini saya ganti dengan kebiasaan mendongeng karena lebih umum bagi masyarakat,” ujar ibu dua anak tersebut.
Sebelum membuat film pendek ini, dosen yang sejak tahun 2001 mengabdi di UK Petra ini melemparkan suatu unggahan di facebook untuk mengetahui respon masyarakat tentang isu ibu. Isi dari unggahan tersebut adalah apa yang kamu ingat dari ibu? Dan hasilnya cukup banyak respon positif yang didapat. Keunikan dari film pendek ini yaitu adanya unsur animasi dan menampilkan kesenian lainnya yaitu tari balet. Balet dipilih karena merupakan tarian klasik dan merupakan salah satu budaya yang cukup tinggi. Selama proses pembuatan film pendek ini, Maya mengaku mengalami beberapa kendala, diantaranya adalah membagi waktu, mencari talent, dan keterbatasan waktu. “Membagi dan menyesuaikan waktu dengan tim dan talent cukup sulit, karena kami punya kesibukan masing-masing,” terang dosen kelahiran tahun 1971 ini. Maya dan tim berhasil mengalahkan 20 tim lainnya pada kategori ibu dan berhak mendapatkan piagam dan piala. (rut/padi)
Sabet Best Desain untuk SOHO Design Competition
January 31, 2018

Semakin minimnya lahan tanah yang ada maka tak heran saat ini para penduduk di kota mulai mengemari hunian keatas. Apartemen pun menjadi salah satu pilihan gaya hidup masyarakat perkotaan. Akan tetapi bagaimana membuat apartemen yang nyaman di tinggali sekaligus menjadi kantor? Pemikiran inilah yang mendasari tiga mahasiswi Program Studi Desain Interior (DI) Universitas Kristen Petra (UK Petra) membuat OMAHUB!, an multifunction apartment yang kemudian berhasil menyabet Best Desaign kategori mahasiswa dalam SOHO Design Competition digelar oleh Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) pada tanggal 9 Januari 2018 yang lalu di Jakarta. Mereka adalah Melissa Ardani, Evania Tjandra Khosasih dan Natasya Angelina yang merupakan mahasiswi semester 5 Prodi DI UK Petra.

OMAHUB! merupakan sebuah small office home office (SOHO) yang terletak disebuah apartement di pusat kota Surabaya dengan luasan 42 m2 dan tinggi 3 meter. Ini disesuaikan dengan syarat perlombaan yang diminta mendesain hunian dan kantor dengan luasan antara 36 m2. “Kami mendesain dengan skenario untuk para professional muda yang dapat dihuni dua hingga 3 orang. Jadi apartement tersebut dapat dijadikan sebagai tempat bekerja, bertemu client, menerima tamu hingga tempat berkumpul dengan keluarga”, rinci Melissa. Omah diambil dari bahasa Jawa yang memiliki arti rumah, sedangkan Hub merupakan pusat dari aktifitas. Sehingga OMAHUB ini sebagai pusat aktivitas yang termasuk green building, dwi fungsi dan multi fungsi dengan didukung teknologi masa depan.

Aspek green building meliputi banyak hal yaitu penghawaan alami yaitu memiliki fitur yang mendapatkan penghawaan alami dan ditambah AC dengan sistem eco. Material juga dipikirkan dengan matang menggunakan sustainable dan low-emission yaitu material utamanya kayu, cork dan concert. Cork ini sebagai peredam suara sedangkan concrete mampu meningkatkan kualitas udara dalam ruangan sehingga biaya sedikit untuk perawatan. Tak lupa juga menggunakan Plumbing Fixture yaitu peralatan mandi yang mampu menghemat air lebih banyak dengan menggunakan limbah air wastafel sebagai flush toilet.

Uniknya, desain ini memiliki tiga layout yang berbeda jika dijabarkan yaitu situasi pagi hari, situasi kantor dan situasi di malam hari. Ini dikarenakan menggunakan smart partion yang mampu mengubah beragam situasi tersebut. “Cara kerjanya menggunakan rel dibawahnya yang mampu mengubah fungsi area dari tempat bekerja menjadi ruang tidur didukung dengan LED yang mampu berubah warna sesuai dengan kebutuhan”, urai Evania.

Tim ini juga mempertimbangkan pemilihan warna di setiap sisi dengan memilih warna coklat, biru, hijau dan orange yang mana memiliki artinya masing-masing. Misalnya saja, pemilihan warna biru memberikan efek untuk menstimulasi produktivitas, simbol dari jiwa muda. Sehingga membuat mood yang ceria, fresh, tenang sekaligus membuat ruangan terasa lebih luas. Desain OMAHUB! memiliki banyak keunikan sehingga tak heran mampu mengalahkan … pesaing dari … universitas yang ada di Indonesia. Kekuatan utama desain ini terletak pada lesehan yang disediakan sehingga nuansa local contentnya sangat terasa. “Jadi dalam apartemen ini nantinya para penghuninya bisa juga leyeh-leyeh seperti konsep rumah pada umumnya, sangat menyenangkan sebab biasanya itu yang tidak didapatkan pada fungsi apartemen pada umumnya”, ungkap Natasya.

Desain yang lengkap dan apik ini tak heran berhasil memboyong hadiah sebesar Rp. 20.000.000, Trophy dan sertifikat dengan gelar sebagai best design. Pengalaman yang menyenangkan ini sangat membekas bagi ketiga mahasiswi DI UK Petra tersebut. “Kami sama-sama mendapat pengalaman dan pembelajaran baru bahwa jangan takut memberikan ide, lepas dan dituangkan saja. Jangan pernah merasa jago akan tetapi hauslah akan belajar banyak hal sebab di dunia luar masih banyak hal yang lebih bagus dari yang kita punya. Jika ada kesempatan diambil saja”, urai ketiganya mantap. (Aj/padi)

DKV UK Petra Dukung Perubahan Image Dolly Lewat Fashion Show
January 30, 2018

Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen Petra (UKP) bekerjasama dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya menyelenggarakan acara bertajuk “Terima kasih Bunda Semangatmu adalah Inspirasi dan Motivasi Kami” yang diadakan dalam rangka merayakan hari Ibu. Acara ini digelar pada Kamis, 21 Desember 2017 di Dolly Saiki Point, Jalan Putat Jaya Lebar, Surabaya.

Berangkat dari tugas akhir karya salah satu alumni DKV UK Petra, Gracia  Asterina, yang berjudul Dollymorphosa, DKV UK Petra mewujudkannya dalam bentuk fashion show.

Konsep Dollymorphosa adalah upaya mempromosikan produk batik dari tiga usaha kecil dan menengah (UKM) Rumah Batik yaitu Alpujabar, Jarak Arum dan Canting Surya, yang dikemas melalui fashion fotografi. Gracia mencoba menonjolkan nilai batik-batik yang unik yaitu selain dikerjakan oleh masyarakat kampung Dolly, juga menceritakan latar belakang kehidupan dan budaya disana melalui motif-motif batiknya. Gracia menampilkan model mengenakan batik dengan latar belakang kampung Dolly yang legendaris. Dolly dan metamorphosa adalah konsep yang diusung Gracia, yang melekat di setiap detail fotonya, mulai dari pilihan busana yang dikenakan model, pemilihan lokasi bahkan simbolisasi waktu, pagi dan malam. “Saya tertarik mempromosikan tiga UKM dari Rumah Batik Dolly ini pada masyarakat luar sebab kualitasnya sangat baik akan tetapi promosinya kurang menarik. Saya memilih jalur promosi ke dalam tampilan visual fashion fotografi yang segar dan fashionable dengan menyasar kalangan anak muda”, urai Gracia.

Tujuan acara Dolly Saiki Point adalah membantu meningkatkan promosi UKM Dolly terutama batik, sepatu dan tas. Promosi dikemas ke dalam bentuk penyelenggaraan acara yang menampilkan hasil karya kolaborasi dosen, mahasiswa dan pemilik UKM. Acara Fashion show  dibawakan oleh enam model yang  mengenakan produk batik dari UKM Rumah Batik. Bersamaan dengan itu dipajang kurang lebih 15 karya fashion fotografi Gracia Asterina.

Fashion show ini diselenggarakan sekaligus menjadi penutup rangkaian acara Dolly Saiki Point. “fashion show UK Petra menampilkan enam model yang akan mengenakan 12 baju dari bahan batik dan sepatu UKM di Dolly. Enam baju diantaranya merupakan baju yang ada di karya Gracia Asterina”, ungkap Luri Renaningtyas., S.T., M.Ds, dosen DKV dan penanggung jawab acara.

Kegiatan ini sekaligus mengkampanyekan campaign zero waste, yaitu tidak membuang kain sama sekali. Rizki Ramadityo, mahasiswa DKV semester 7 yang bertugas menjadi stylish dalam acara fashion show, membuat pakaian zero waste yang dikenakan para model, yaitu kain dibentuk menjadi baju, celana, kulot, dress, dan lainnya tanpa perlu dijahit dan membuang kainnya.“Saya ingin mengangkat nilai jual dan merubah image Dolly terutama ingin membuat batiknya dikenal masyarakat luas” ujar Rizki Ramadityo. (rut/dit)

5 Pustakawan Peroleh Jay Jordan IFLA/ OCLC Early Career Development Program
January 17, 2018

Pustakawan UK Petra Chandra Pratama Setiawan berhasil memperoleh Jay Jordan IFLA/ OCLC Early Career Development Fellowship Program, yaitu program bergengsi yang disponsori oleh IFLA dan OCLC di Ohio, US, yang memberikan kesempatan pengembangan pendidikan dan profesional pustakawan untuk pustakawan dari negara berkembang. Hanya 5 pustakawan muda yang dipilih dari berbagai negara berkembang di dunia. Program berlangsung dari 17 Maret s.d. 13 April 2018. Semoga bisa menginspirasi pustakawan muda lainnya.

 

---

 

2018 Fellows are from Ethiopia, Indonesia, Jamaica, Kenya, and Romania

DUBLIN, Ohio, 15 January 2018OCLC, along with the International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA), has named five librarians selected to participate in the Jay Jordan IFLA/OCLC Early Career Development Fellowship Program for 2018. The program supports library and information science professionals from countries with developing economies.

The IFLA/OCLC Fellowship Program provides advanced continuing education and exposure to a broad range of issues in information technologies, library operations and global cooperative librarianship. With the selection of the five Fellows for the class of 2018, the program will have welcomed 90 librarians and information science professionals from 40 different countries.

The 2018 IFLA/OCLC Fellows are:

  • Alehegn Adane Kinde, University of Gondar, Ethiopia
  • Arnold Mwanzu, International Centre of Insect Physiology & Ecology (icipe), Kenya
  • Irina Livia Niţu, National Library of Romania, Romania
  • Chantelle Richardson, National Library of Jamaica, Jamaica
  • Chandra Pratama Setiawan, Petra Christian University, Indonesia

“The IFLA/OCLC Fellowship Program continues to have an impact on libraries and librarians around the world since its inception 17 years ago,” said Skip Prichard, OCLC President and CEO. “The program offers experiences, ideas, connections and inspiration to the talented professionals who are selected to participate. They take what they learn here to implement new and innovative programs in their home countries. They go on to become leaders and champions of libraries, to shape the future of libraries and librarianship in different parts of the world, ready and eager to inspire others.”

During the four-week program, from 17 March through 13 April, the Fellows participate in discussions with library and information science leaders, library visits and professional development activities. The program is based at OCLC headquarters in Dublin, Ohio, USA.

“Library cooperation, as I’ve experienced and learned about from OCLC, will go a long way in helping Nigerian libraries meet the information needs of the most populous country in Africa,” said Idowu Adegbilero-Iwari, a 2016 IFLA/OCLC Fellow from Nigeria.

“I now see things from a different point of view,” said Rhea Jade Nabuson, 2016 Fellow from Philippines. “I am a better librarian, ready to overcome challenges faced by Philippine libraries.”

“The program has equipped me to further my career,” said Patience Ngizi-Hara, 2017 Fellow from Zambia. “It has been life-changing.”

The selection committee for the 2018 Fellowship program included: Ingrid Bon, IFLA; Sarah Kaddu, National Library of Uganda; and Nancy Lensenmayer, OCLC.

Watch a brief video interview with Rashidah Bolhassan, from Malaysia, who was part of the very first IFLA/OCLC Fellows class. She is now the CEO of the Sarawak State Library in Malaysia.

Read more about the IFLA/OCLC Fellowship Program on the OCLC Next blog.

About IFLA

The International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA) is the leading international body representing the interests of library and information services and their users. It is the global voice of the library and information profession. Founded in 1927 in Edinburgh, Scotland at an international conference, we now have more than 1,400 Members in over 140 countries around the world. IFLA was registered in the Netherlands in 1971. The Royal Library, the national library of the Netherlands, in The Hague, generously provides the facilities for our headquarters.

About OCLC

OCLC is a nonprofit global library cooperative providing shared technology services, original research and community programs so that libraries can better fuel learning, research and innovation. Through OCLC, member libraries cooperatively produce and maintain WorldCat, the most comprehensive global network of data about library collections and services. Libraries gain efficiencies through OCLC’s WorldShare, a complete set of library management applications and services built on an open, cloud-based platform. It is through collaboration and sharing of the world’s collected knowledge that libraries can help people find answers they need to solve problems. Together as OCLC, member libraries, staff and partners make breakthroughs possible.

OCLC, WorldCat, WorldCat.org, and WorldShare are trademarks and/or service marks of OCLC Online Computer Library Center, Inc. Third-party product, service and business names are trademarks and/or service marks of their respective owners.

Penerimaan Mahasiswa Baru 2018 / 2019
December 07, 2017

Berikut adalah informasi untuk penerimaan mahasiswa baru periode 2018 / 2019. Info lebih lanjut dapat klik di http://pmk-online.petra.ac.id

Desain Komunikasi Visual Borong Penghargaan
November 30, 2017

Program Studi (prodi) Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen Petra (UK Petra) kembali menorehkan prestasi nasional. Dua tim DKV UK Petra berhasil meraih juara 2 dan 3 dalam kompetisi “Ideation” yang merupakan mata lomba dari kegiatan Epicentrum, Padjajaran Communication Festival 2017.

Ideation 2017 merupakan kompetisi membuat konsep kampanye digital yang terintegrasi (digital integrated campaign). Ideation kali ini bertema “A(d) Creative Solutionto Maximize Youth’s Participation on Indonesian Politics” yang diselenggarakan pada 13 – 16 November 2017 di Universitas Padjajaran Bandung. Kompetisi ini dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap penyisihan dan final. Pada tahap penyisihan, peserta mengumpulkan karya berupa deck presentation pada 31 Oktober 2017. Pada tahap penyisihan, peserta ditantang untuk membuat konsep kampanye melalui sosial media untuk mendorong pemilih muda (usia 17-22 tahun) untuk mengenal lebih jauh dan mengetahui rekam jejak kandidat-kandidat pada pemilihan kepala daerah 2018 sehingga dapat dijadikan acuan dalam memilih. Media kampanye yang digunakan adalah facebook, twitter, instagram, dan situs laman.

Selvie Lokito dan Teresa Stephanie tergabung dalam Tim Stevie merancang permainan facebook bernama “Kepo Yuk” akronim dari “Kenal Politik Yuk”. Kata “kepo” adalah istilah yang sangat dikenal di kalangan anak muda yang merupakan singkatan dari Knowing Every Particular Object atau rasa ingin tahu sekali akan segala sesuatu. Permainan ini merupakan simulator karena terdapat model representasi dari calon kepala daerah yang masing-masing memiliki keahlian dan rekam jejak yang berbeda-beda. Situasi dan kondisi daerah yang berbeda-beda menuntut pemain untuk memperhatikan rekam jejak dan teliti dalam memilih pemimpin yang cocok dan layak. “Melalui permainan ini, pemain dapat mengetahui pentingnya rekam jejak calon pemimpin agar tidak salah memilih nantinya,” ungkap Selvie Lokito.

Tim kedua bernama Ucullop beranggotakan Eunike Sara Ardyta dan Alexander Gratianus. Pada babak penyisihan, tim Ucullop membuat muatan-muatan di instagram berupa kutipan dan fakta-fakta seputar pemilihan umum dengan bahasa yang mudah dan menarik di kalangan anak muda. Ucullop juga memanfaatkan semua fitur yang terdapat di instagram untuk menyebarkan kampanyenya, seperti membuat tagar yang mudah diingat oleh anak muda yaitu #cukuptau, game tag berantai, insta story, repost, dan hashtag sticker. “Tujuan dari pembuatan kampanye ini adalah memberikan wawasan dan himbauan kepada anak muda untuk menjadi pemilih yang cerdas supaya tidak salah pilih”, terang Eunike Sara Ardyta.

Dua Tim DKV UK Petra Raih Penghargaan dalam Kompetisi SADEWA
November 27, 2017

Dua tim perwakilan dari program studi (prodi) Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen Petra (UK Petra) berhasil memperoleh penghargaan dalam kompetisi SADEWA (Sayembara Dewa Pariwara) Ajang Insan Kreatif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (Ajisaka UGM). SADEWA merupakan kompetisi iklan yang diselenggarakan pada tanggal 27 Oktober 2017 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Peserta dapat memilih membuat iklan televisi, radio, atau print ad. Juan Richard dan Reyno Putradewa Santosa mendapatkan penghargaan Best Radio, sedangkan Yonathan Christie Yusanto dan Efatha Arauna Lumadyo meraih penghargaan Best TV. Tema dalam kompetisi ini adalah “Light of the Ages”, dimana realitas virtual sejatinya bukan hanya milik generasi millenials. Generasi-generasi sebelumnya pun berhak untuk memanfaatkan media sosial sebagai salah satu wadah berinteraksi. Namun, problema muncul ketika kabar burung (hoax) berseliweran sehingga tidak mampu ditanggulangi dengan benar, mau tidak mau, generasi millenials bertanggungjawab merumuskan langkah yang tepat untuk kasus ini.

Tim Juan dan Reyno membuat iklan radio dengan judul “Naik Mobil Harus Pakai Helm”. Mereka melihat dari kasus saracen yang menggunakan sosial media untuk menyebarkan berita kebencian dan mempengaruhi orang. Selain itu, mereka terinspirasi dari cerita seorang teman yang ditilang polisi karena tidak menggunakan helm saat mengendarai mobil sport. Banyak orang yang meyakini bahwa saat mengendarai mobil, kita tidak perlu menggunakan helm, tetapi seseorang justru ditilang polisi karena tidak menggunakan helm saat mengendarai mobil. Melalui iklan ini, mereka ingin menyampaikan pesan bahwa jikalau banyak orang mengatakan hal yang sama, tetapi hal itu belum tentu benar. Judul “Naik Mobil Harus Pakai Helm” dipilih karena pengguna radio sebagian besar adalah pengendara mobil.

Lain halnya dengan tim Yonathan dan Efatha membuat iklan televisi berdurasi satu menit dengan judul “Ngopi Dulu Biar Tenang”. Mereka mengaku mendapatkan ide dari iklan rokok di televisi. Bercerita tentang seorang lelaki yang duduk di warung dan tidak sengaja membaca berita hoax, saat akan membagikan, tiba-tiba semua orang yang ada di warung menjadi kacau balau. Tetapi saat mematikan ponsel, keadaan kembali tenang. Iklan menyerupai iklan layanan masyarakat ini mengandung pesan bahwa pesan hoax bisa membuat orang-orang kacau balau. “Kesulitan yang kami hadapi dalam proses pembuatan iklan ini adalah mencari warung yang akan digunakan sebagai lokasi syuting, kami harus menunggu hingga jam 12 malam, menunggu warung sepi pengunjung,” ungkap Yonathan.

Pada babak penyisihan, peserta mengumpulkan proposal dan file rekaman iklan mereka di bulan September lalu. Dari total 98 tim, terpilih 5 tim yang melaju ke babak final untuk masing-masing kategori. Pada babak final, peserta dibebaskan untuk memilih medium iklan yang akan digunakan, dengan tujuan yang tetap sama yaitu mengajak digital imigran (usia 44-54 tahun) untuk lebih bijak memilah informasi. Kedua tim UK Petra ini meraih penghargaan Best Radio dan Best TV dimana mereka berhak mendapatkan sertifikat dan uang sebesar Rp 500.000,-. Setelah mengikuti kompetisi ini, Juan mengaku mendapatkan banyak pengalaman, “Melalui lomba ini, saya bisa mengetahui gambaran dunia kerja advertising dan juga mengetahui langkah-langkah mencari ide melalui workshop yang diadakan,” terang mahasiswa semester 5 ini. (rut/dit)

Perkenalkan IPTEK dengan Menonton Film dan Eksperimen
November 16, 2017

Untuk kelima kalinya, Goethe Institut kembali menggandeng Perpustakaan Universitas Kristen Petra (UK Petra) dalam penyelenggaraan Science Film Festival (SFF) 2017. SFF 2017 merupakan kegiatan rutin yang bertujuan mengenalkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan cara yang menarik dan menyenangkan. Kegiatan yang diikuti oleh para siswa Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) disekitar UK Petra diselenggarakan pada tanggal 8-10 November 2017 di auditorium UK Petra. Kegiatan ini mengangkat tema “Anthropocene” dimana saat ini jejak manusia begitu mendalam dan luas sehingga ilmuwan dan pembuat kebijakan kini mempertimbangkan bahwa segala perubahan yang disebabkan oleh manusia memang mempengaruhi  data geologis dalam jangka panjang dan memasuki jaman geologi baru yaitu Anthropocene. Para siswa diajak untuk belajar dengan cara yang menyenangkan melalui topik-topik seperti: urbanisasi, mobilitas, alam, pangan dan interaksi manusia dengan mesin,SFF menjelajahi kehidupan manusia di masa lalu, masa kini dan masa depan. Rangkaian acara SFF 2017 meliputi pemutaran fim, demo eksperimen, talkshow oleh mahasiswa UK Petra, workshop, dan juga lomba membuat poster.

Hari pertama diikuti oleh siswa-siswa dari berbagai SMA, acara dimulai pukul 09.00 dan dibuka oleh Barbara Stoklossa, selaku Kepala Bahasa Wisma Jerman. Dalam sambutannya, beliau menyatakan bahwa Jerman adalah salah satu negara penemu-penemu dunia, oleh sebab itu Jerman sangat peduli terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. “Program ini merupakan program dari Goethe Institute, selain ingin memperkenalkan ilmu pengetahuan dengan cara yang menyenangkan, kami juga bisa memperkenalkan budaya kami,” ungkap Barbara Stoklossa.

Film pertama yang ditonton berjudul Checker Tobi – The Climate Check, film ini bercerita tentang iklim dan hal-hal yang mempengaruhi perubahan iklim, pemanasan global dan juga menanam pohon sebagai salah satu solusi mengurangi pemanasan global. Setelah menonton film, dua peserta diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen tentang kaleng aksial yang relevan dengan rotasi bumi. Film kedua berjudul Checker Can – The Transportation Check, film ini bercerita tentang jenis-jenis alat traspostasi seperti keledai, truk dan juga pesawat beluga. Segera setelah film usai, peserta melakukan eksperimen yaitu transporter kaleng. Selanjutnya, peserta mendengarkan talkshow tentang energi terbarukan oleh Vincent Prasetyo, mahasiswa Program Studi Teknik Mesin angkatan 2015. Acara dilanjutkan dengan diadakannya lomba infografis yaitu pembuatan poster tentang energi terbarukan.

Pada hari kedua, peserta yang merupakan murid-murid SD diajak menonton film berjudul Paper from Elephant Dung. Film ini menunjukkan proses pembuatan kertas dari kotoran gajah yang terbilang cukup sederhana. Eksperimen yang dilakukan masih berkaitan dengan kertas yaitu kekuatan lipatan kertas dan jembatan kertas. Melalui eksperimen ini, peserta mengetahui bahwa semakin kecil lipatan kertas maka akan kertas akan semakin kaku dan kuat. Film kedua berjudul Not Just a Touch yang menceritakan tentang bagaimana tahapan otak menerima stimulus dari suatu sentuhan. Eksperimen yang dilakukan adalah magnet menarik kertas dan hanya satu sentuhan.

Di hari ketiga, peserta terdiri dari siswa SD dan SMP menonton film berjudul Neuro what? yang menceritakan tentang sistem kerja otak manusia. Setelah itu, dilanjutkan dengan eksperimen disentuh meletus, peserta mengolesi balon dengan berbagai macam bahan seperti garam, kain dan meletus saat di oles dengan minyak kayu putih. Film kedua berjudul Full Proof – Salt, yang menceritakan tentang manfaat garam dan mengapa air asin tidak boleh dikonsumsi. Setelah melakukan eksperimen tentang konteiner cairan dwiwarna, peserta SMP diberikan presentasi tentang energi terbarukan. Kemudian dilanjutkan dengan lomba infografis pembuatan poster tentang energi terbarukan. (rut/padi)

Inovasi Beton dengan Limbah Marmer Jawara Nasional
November 15, 2017

Tiga mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Petra (UK Petra) raih juara pertama dalam Lomba Inovasi Beton Civil Week 2017. Lomba Inovasi Beton ini dilaksanakan pada tanggal 1-4 November 2017 di Fakultas Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta. Lomba yang diikuti oleh mahasiswa dari 23 Universitas di Indonesia ini menantang para pesertanya untuk membuat beton Self Compacting Concrete (SCC) yang bernilai ekonomis, ramah lingkungan, serta tidak mengabaikan aspek atau nilai sosial yang menekankan terobosan baru dalam pemilihan material untuk peningkatan kualitas SCC. Stella Patricia Angdiarto, Favian Sebastiano, dan Gho Danny Wahyudi yang tergabung dalam “Tim Selanjutnya” berhasil mengalahkan 38 kelompok lainnya, termasuk tuan rumah yaitu Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Inovasi yang dipilih oleh Stella dan kawan-kawan adalah menggantikan pasir dengan limbah marmer. Limbah marmer memiliki tekstur serbuk halus yang mirip dengan semen, sehingga limbah marmer bisa mensubstitusi pasir hingga 30%. Manfaat dari penggunaan limbah marmer ini adalah tidak mengeruk atau menggunakan Sumber Daya Alam (SDA) akan tetapi memanfaatkan limbah dari pemotongan marmer yang banyak sekali jumlahnya. Selain itu, beton yang dihasilkan semakin padat karena sifat dari limbah marmer yang halus sehingga mampu mengisi rongga-rongga. “Kami terinspirasi dari kakak kelas yang mempresentasikan tentang keuntungan dari material limbah marmer, akhirnya kami melakukan studi literatur mengenai limbah marmer kemudian mulai melakukan percobaan untuk menemukan kadar yang pas dan optimum,” ungkap Stella Patricia Angdiarto.

Untuk babak penyisihan, tiap kelompok diminta mengumpulkan proposal lomba dan video pembuatan beton pada tanggal 25 September 2017. Pada babak penyisihan, tim selanjutnya berhasil membuat beton dengan kekuatan tekan 14,74 MPa. Dari 39 kelompok tersebut, terpilih 6 kelompok yang berhasil maju ke babak final. Babak final diisi dengan demo pembuatan beton, pengujian beton selama satu hari, dan presentasi. Demo pembuatan beton dilakukan dalam waktu 75 menit, semua bahan dan alat telah disiapkan kecuali bahan inovasi seperti limbah marmer harus dibawa masing-masing kelompok. Ternyata, beton yang dihasilkan pada babak final memiliki kekuatan tekan 10 MPa, hal ini dikarenakan materi yang digunakan kurang bersih dan juga tekstur pasir yang digunakan kurang bagus. Pada hari selanjutnya, kelompok harus mempresentasikan produk yang dihasilkan selama 20 menit dan dilanjutkan dengan tanya jawab selama 40 menit. “Pada babak final, kami sempat kesulitan karena material yang kami dapatkan kotor sehingga itu sangat mempengaruhi kualitas dari beton yang kami hasilkan,” terang Favian Sebastiano.

Pada hari ketiga, peserta diberi kesempatan untuk berkeliling kota Solo. Kemudian pada tanggal 4 November 2017, UK Petra diumumkan menjadi juara pertama dan berhak mendapatkan piala, sertifikat dan uang sebesar Rp 7.500.000,-. Juara kedua diraih oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) dan juara ketiga diraih oleh Universitas Sebelas Maret. (rut/aj)

Ajak Hargai Bangunan Bersejarah Lewat Urban Sketch Fair
November 15, 2017

Himpunan Mahasiswa Arsitektur (Himaartra) Universitas Kristen Petra (UK Petra) mengadakan Workshop Urban Sketch Fair (USF) pada 11 November 2017. Workshop bertemakan Historical Architecture ini mengajak peserta untuk mensketsa bangunan-bangunan lama yang memiliki nilai-nilai sejarah penting yang merupakan warisan dan dilindungi oleh negara. Tidak hanya sekedar menggambar sebuah bangunan tetapi peserta juga merasakan kembali nilai-nilai historis yang terkandung dalam bangunan tersebut dan menghargainya. Tujuan dari workshop ini adalah memberikan wadah bagi peserta untuk dapat meningkatkan skill mensketsa dan juga mengapresiasi minat bakat menggambar. Workshop yang diikuti oleh 57 peserta ini diadakan di gedung P710 UK Petra untuk sesi pembicara dan dilanjutkan di Perpustakaan Bank Indonesia untuk praktik mensketsa.

Wahyu Sigit Crueng yang merupakan pemilik Uniqkudesign dan juga seorang professional urban sketcher menjadi pembicara dalam workshop USF ini. Setelah enam tahun berkecimpung dalam dunia urban sketch, Wahyu membagikan pengalaman dan menyampaikan materi mengenai teknik mensketsa yang baik serta media apa saja yang dapat digunakan. Bagi pemula, menurut Wahyu ada tiga hal yang wajib dipersiapkan yaitu sketch book, drawing pen, dan juga properti water color. Wahyu menjelaskan teknik menggambar urban sketch tidak jauh berbeda dengan fotografi. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam menggambar urban sketch, yang pertama adalah sudut pandang. Sama halnya dengan fotografi, seorang urban sketcher menangkap sebuah objek yang menarik, mencari angle yang bagus kemudian mengimplementasikannya dalam bentuk gambar. Yang kedua adalah teknik pewarnaan yaitu tebal tipis warna seperti gelap terang pada fotografi. Yang ketiga adalah finishing atau penyempurnaan sketsa yang di gambar. “Tips dari saya untuk teman-teman mahasiswa dan pemula adalah harus berani mencoba, jika ragu bisa mencari inspirasi dari gambar-gambar lain, siapapun bisa memulai urban sketch,”  ungkap Wahyu Sigit Crueng.

Setelah mendengarkan materi dari pembicara, peserta berpindah ke gedung perpustakaan Bank Indonesia untuk mengaplikasikan materi yang telah didapat. Peserta dibebaskan memilih angle pengambilan gambar dan diberi waktu 60 menit untuk menggambar. Setelah menggambar, pembicara mengulas beberapa karya dari peserta. Beberapa peserta mengaku tertarik dan ingin tahu lebih lanjut mengenai urban sketching. “Saya tertarik mengikuti kegiatan ini karena saya ingin tahu tentang urban sketch dan kebetulan dalam kegiatan ini saya bisa langsung belajar dari ahlinya,” jelas Eugenie Averelia, seorang mahasiswa arsitektur dan salah satu peserta workshop USF ini. (rut/dit)

Megabuild Surabaya 2017
November 13, 2017

Event Megabuilld Surabaya adalah event eksibisi tahunan yang mempertemukan segenap pelaku industri pembangunan dan merupakan acara utama bagi arsitektur di kawasan Indonesia bagian timur, pelaku desain interior dan industri pembangunan untuk bersama berkumpul, berbagi dan mengalami tren desain terbaru, solusi, bahan, sistem, dan teknologi. Dalam rangkaian acara Megabuild Surabaya 2017 yang dilaksanakan pada tanggal 26 sampai dengan 29 Oktober 2017 di Grandcity Hall Surabaya ini, Program Studi Arsitektur UK Petra mendapatkan tempat untuk menunjukkan karya mahasiswa, proyek alumni dan ruang berbagi pemikiran unggul dosen pengajar.

Booth UK Petra di ruang expo menampilkan sejumlah karya mahasiswa dari tahun pertama perkuliahan sampai dengan tugas akhir di penghujung perkuliahan. Karya-karya ini adalah hasil dari perkuliahan Merancang 2 dimana para mahasiswa tahun pertama ditugaskan merancang bangunan tunggal dengan fungsi sederhana; perkuliahan Merancang 4 dimana tugas mahasiswa tahun kedua adalah melakukan perancangan bangunan di tanah yang berkontur; Merancang 6 bagi mahasiswa tahun ketiga menugaskan mereka merancang bangunan simbolik; dan Tugas Akhir mahasiswa adalah rancangan bebas yang berdasarkan identifikasi masalah dan solusi yang mereka dapatkan secara mandiri.

Di hari pertama event, pada tanggal 26 Oktober2017, diselenggarakan sesi Seminar “Eksplorasi Bentuk dengan Folding Architecture” yang diampu oleh Christine Wonoseputro, S.T., MASD. Dalam sesi ini, dipaparkan metode mengajar arsitektur yang memakai media kertas lipat yang digunakan dalam mata kuliah Perancangan 1 di Program Studi Arsitektur UK Petra. Seni melipat kertas yang sering dikenal dengan istilah origami bisa melengkapi teknik eksplorasi bentuk nirmana yang sudah umum dipakai. Mahasiswa saat melakukan eksplorasi bentuk dengan teknik nirmana cenderung menghasilkan bentuk-bentuk yang rigid, hal ini bisa diimbangi dengan Folding Architecture yang menghasilkan bentuk yang lebih luwes. Dalam sesi ini juga ditampilkan folding architecture karya mahasiswa pilihan yang kemudian dipilih karya-karya terbaiknya.

Pada tangal 29 Oktober 2017 di hari terakhir event, Arsitektur UK Petra kembali mendapatkan ruang berbagi. Sebagai penutup acara diadakan talkshow dan diskusi bertajuk “How to be A Good Architect”. Acara puncak ini dimulai dengan sesi talkshow Alumni Recent Project yang menampilkan proyek-proyek terkini para alumni Petra di bidang arsitektur. Para alumni ini adalah Clifford Sutedjo (angkatan 2008) pendiri Spasi Architects; Franciscus Raymond (angkatan 2009) dari Studio Anti-Architecture; dan Pandya Praditya (angkatan 2009) dari Studiopapa.id. Clifford membagikan pengalamannya merancang rumah tinggal unik yang di dalam ruang keluarganya terdapat satu pohon Kembang Jepun (Frangipani). Menurutnya, proses yang paling banyak dilakukan arsitek adalah menjadi konsultan bagi kliennya. Dengan konsultasi ini, maka dia dapat lebih memahami permasalahan dan kebutuhan klien. Katanya, “Kita lebih memilih berlama-lama untuk mencari inti permasalahan, daripada lama waktu membuat sebuah produk. Seusai talkshow, acara dilanjutkan dengan diskusi Sesi 1 “Praktik Industri Arsitektur” dengan narasumber Jimmy Priatman, M.Arch., IAI., AA. Dalam sesi ini Jimmy berbagi pengalaman mengembangkan profesi arsitek; dan mendiskusikan ilmu yang perlu diserap dalam praktik industri arsitektur, terutama pada skala nasional. Sesi selanjutnya bertajuk Edukasi Arsitektur dengan narasumber Timoticin Kwanda Ph.D., Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) UK Petra. Timoticin mempresentasikan prestasi FTSP UKP 5 tahun terakhir dan program-program 5 tahun ke depan, terutama terkait dengan pemenuhan kompetensi keahlian arsitek skala nasional sampai dengan internasional. Sesi selanjutnya bertajuk “Pengembangan Profesi Arsitek“, dengan narasumber Aloysius Erwin ST., IAI. Dalam sesi ini Aloysius memberikan sharing kegiatan-kegiatan pengembangan profesi arsitek di asosiasi atau komunitas dan sharing tips pengembangan diri calon arsitek dengan melihat peta jejaring praktik arsitek skala lokal-regional. (noel/padi)

Inovasi Beton dengan Limbah Marmer Jawara Nasional
November 12, 2017

Tiga mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Petra (UK Petra) raih juara pertama dalam Lomba Inovasi Beton Civil Week 2017. Lomba Inovasi Beton ini dilaksanakan pada tanggal 1-4 November 2017 di Fakultas Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta. Lomba yang diikuti oleh mahasiswa dari 23 Universitas di Indonesia ini menantang para pesertanya untuk membuat beton Self Compacting Concrete (SCC) yang bernilai ekonomis, ramah lingkungan, serta tidak mengabaikan aspek atau nilai sosial yang menekankan terobosan baru dalam pemilihan material untuk peningkatan kualitas SCC. Stella Patricia Angdiarto, Favian Sebastiano, dan Gho Danny Wahyudi yang tergabung dalam “Tim Selanjutnya” berhasil mengalahkan 38 kelompok lainnya, termasuk tuan rumah yaitu Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Inovasi yang dipilih oleh Stella dan kawan-kawan adalah menggantikan pasir dengan limbah marmer. Limbah marmer memiliki tekstur serbuk halus yang mirip dengan semen, sehingga limbah marmer bisa mensubstitusi pasir hingga 30%. Manfaat dari penggunaan limbah marmer ini adalah tidak mengeruk atau menggunakan Sumber Daya Alam (SDA) akan tetapi memanfaatkan limbah dari pemotongan marmer yang banyak sekali jumlahnya. Selain itu, beton yang dihasilkan semakin padat karena sifat dari limbah marmer yang halus sehingga mampu mengisi rongga-rongga. “Kami terinspirasi dari kakak kelas yang mempresentasikan tentang keuntungan dari material limbah marmer, akhirnya kami melakukan studi literatur mengenai limbah marmer kemudian mulai melakukan percobaan untuk menemukan kadar yang pas dan optimum,” ungkap Stella Patricia Angdiarto.

Untuk babak penyisihan, tiap kelompok diminta mengumpulkan proposal lomba dan video pembuatan beton pada tanggal 25 September 2017. Pada babak penyisihan, tim selanjutnya berhasil membuat beton dengan kekuatan tekan 14,74 MPa. Dari 39 kelompok tersebut, terpilih 6 kelompok yang berhasil maju ke babak final. Babak final diisi dengan demo pembuatan beton, pengujian beton selama satu hari, dan presentasi. Demo pembuatan beton dilakukan dalam waktu 75 menit, semua bahan dan alat telah disiapkan kecuali bahan inovasi seperti limbah marmer harus dibawa masing-masing kelompok. Ternyata, beton yang dihasilkan pada babak final memiliki kekuatan tekan 10 MPa, hal ini dikarenakan materi yang digunakan kurang bersih dan juga tekstur pasir yang digunakan kurang bagus. Pada hari selanjutnya, kelompok harus mempresentasikan produk yang dihasilkan selama 20 menit dan dilanjutkan dengan tanya jawab selama 40 menit. “Pada babak final, kami sempat kesulitan karena material yang kami dapatkan kotor sehingga itu sangat mempengaruhi kualitas dari beton yang kami hasilkan,” terang Favian Sebastiano.

Pada hari ketiga, peserta diberi kesempatan untuk berkeliling kota Solo. Kemudian pada tanggal 4 November 2017, UK Petra diumumkan menjadi juara pertama dan berhak mendapatkan piala, sertifikat dan uang sebesar Rp 7.500.000,-. Juara kedua diraih oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) dan juara ketiga diraih oleh Universitas Sebelas Maret. (rut/aj)

UK Petra Kepanjangan Tangan WIPO Wujudkan Technology and Innovation Support Centers
November 07, 2017

Universitas Kristen Petra (UK Petra) menandatangani Nota Kesepahaman dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) dan Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) tentang Pusat Dukungan Teknologi dan Inovasi Nasional atau Technology and Innovation Support Centers (TISC) pada Selasa, 31 Oktober 2017. Penandatanganan Nota Kesepahaman ini diselenggarakan pada kegiatan Pasar Inovasi dan Kreativitas di Graha Pengayoman Kementerian Hukum dan HAM, Jakarta. Technology and Innovation Support Centers (TISC) adalah program World Intellectual Property Organization (WIPO) berupa penyediaan layanan akses informasi di bidang teknologi yang memberikan kemudahan bagi para inventor dan peneliti untuk melakukan penelusuran data Paten dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam rangka penelitian di bidang teknologi dan Kekayaan Intelektual lainnya.

UK Petra merupakan salah satu dari 17 Perguruan Tinggi di Indonesia yang terpilih untuk menandatangani Nota Kesepahaman ini karena dianggap memiliki potensi. Kekayaan Intelektual meliputi hak cipta, paten, merek, desain industri, rahasia dagang, dan indikasi geografis. Kekayaan Intelektual harus mendapatkan perlindungan, dimana perguruan tinggi selaku inovator perlu meningkatkan kesadaran mengenai kekayaan intelektual dan pengetahuan tentang manfaat kekayaan intelektual secara umum, khususnya informasi paten. Pendaftaran paten dilakukan untuk mendapatkan perlindungan dari sisi hukum, mulai dari riset, pendaftaran, manajemen strategi hingga komersialisasi dan marketing.

Nota Kesepahaman yang berlaku untuk jangka waktu dua tahun ini bertujuan untuk pembentukan dan pengembangan serta memanfaatkan layanan Pusat Dukungan Teknologi dan Inovasi Nasional dalam rangka mendukung inovasi melalui akses teknologi, meningkatkan efisiensi penelitian, pengembangan, dan transfer teknologi dan komersialisasi. Dengan adanya Nota Kesepahaman ini, UK Petra mendapatkan manfaat berupa kemudahan untuk mengakses data paten Internasional, memanfaatkan resources (Sumber Daya) milik WIPO, dan juga hak untuk mengikuti pelatihan-pelatihan dari WIPO.

Sentra Kekayaan Intelektual dibawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) berperan dalam menjalankan kesepakatan ini. Tahun ini UK Petra sudah berhasil mendaftarkan 8 Paten.  “Dengan adanya Nota Kesepahaman ini, kita mendapatkan banyak previllege (hak khusus), harapan saya adalah semakin banyak ide-ide kreatif dan inovasi-inovasi yang bermunculan dari para inovator di UK Petra,” ungkap Ir. Resmana Lim, M.Eng., selaku Kepala Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Kristen Petra. (rut/dit)

Mechanical@Petra Homecoming 2017
November 06, 2017

Program Studi Teknik Mesin (PSTM) Universitas Kristen Petra (UK Petra) telah berdiri sejak tahun 1982. Secara konsisten memberikan pendidikan selama 35 tahun adalah suatu prestasi dan indikator kualitas pendidikan yang disediakan. Selain itu, inovasi dan konsistensi ini juga mengindikasikan relevansi para lulusan program studi ini dalam dunia profesional dan juga perindustrian. Untuk merayakan momen berbahagia ini, Program Studi Teknik Mesin U.K. Petra menggelar rangkaian acara Lustrum Ketujuh pada tanggal 27 s/d 29 September 2017. Perayaan ulang tahun ini adalah kali pertama diselenggarakan oleh PSTM dengan mengangkat tajuk “Mechanical@Petra Homecoming 2017”. Tajuk ini memiliki makna bahwa acara ini adalah momen dimana keluarga besar PSTM, khususnya para alumni bisa “pulang ke rumah”, yaitu kampus UK Petra tercinta. Diharapkan dengan berkumpulnya alumni, dosen, dan mahasiswa, dapat terjalin kolaborasi yang positif dalam lingkungan keluarga besar ini.

 

Rangkaian kegiatan Lustrum VII ini dimulai dengan upacara pembukaan yang diadakan di selasar lantai 1 gedung P pada tanggal 27 September. Dalam upacara pembukaan ini, rangkaian acara secara simbolis dibuka dengan pemotongan pita oleh Dr. Gan Shu San, M.Sc., selaku Dekan Fakultas Teknologi Industri UK Petra. Setelah upacara pembukaan dilanjutkan dua kegiatan yang bersamaan yaitu: soft launching Bengkel KOMETRA dan Alumni Expo 2017. Dalam kegiatan soft launching Bengkel KOMETRA, diadakan pameran produk otomotif dan test drive motor; dan juga servis murah untuk motor dan mobil. Servis murah motor dan mobil dikerjakan oleh para mahasiswa sebagai bentuk pelayanan dan juga peluang berlatih bagi mereka. Alumni EXPO adalah pameran yang memberikan kesempatan bagi alumni untuk memperkenalkan produk-produk atau bisnis yang dijalankannya.

Pemuncak rangkaian Lustrum ini adalah Reuni alumni Jurusan Teknik Mesin UK Petra semua angkatan yang dilaksanakan pada tanggal 29 September 2017 di Auditorium Gedung EH lantai 2 UK Petra. Reuni ini dihadiri oleh sekitar 200 orang alumni dari angkatan pertama (1982) sampai dengan lulusan terbaru. Dalam reuni ini, para mahasiswa dapat berkenalan langsung dengan alumnus yang sudah mencatatkan kesuksesan di dunia profesional Teknik Mesin. Tercatat ada beberapa alumnus jurusan ini yang menjadi pimpinan bidang teknik di perusahaan-perusahaan kelas dunia, sebagai contoh: Assistant Director PT. Panasonic Manufacturing Indonesia dari angkatan 1988. Selain itu, tidak sedikit juga alumnus yang berhasil dalam membangun bisnis tekniknya, seperti Antonius Hartono pendiri PT. Unitech Engineering yang bergerak di bidang pembuatan mesin manufaktur yang merupakan alumnus dari angkatan 1989. Dr. Ir. Ekadewi Anggraini Handoyo, M.Sc., sebagai Kepala Program Studi menyampaikan bahwa gelaran Lustrum VII ini diharapkan menjadi ajang silaturahmi yang hangat bagi keluarga besar Teknik Mesin UK Petra. (noel/dit)

Laksmi Kusuma Wardani Dr., S.Sn., M.Ds. : Pengabdian Berdampak melalui Aplikasi Ilmu
November 06, 2017

Tridharma Perguruan Tinggi yang terdiri dari pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat adalah tugas yang diemban oleh Universitas Kristen Petra (UK Petra) sebagai institusi pendidikan tinggi. Untuk mendukung usaha dosen dalam melaksanakan pengabdian masyarakat, universitas memberikan penghargaan pada Dosen dengan Kinerja Pengabdian pada Masyarakat Terbaik. Pada kesempatan Dies Natalis ke-56 UK Petra, penghargaan ini diberikan kepada Laksmi Kusuma Wardani Dr., S.Sn., M.Ds., dosen pengajar dan Sekretaris program studi di Program Studi Desain Interior. Ada pun kriteria penilaian penghargaan ini adalah sebagai berikut: Perolehan dana pengabdian pada masyarakat dari instansi di luar  UK Petra dan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdampak.

Laksmi pada tahun ini berhasil mendapatkan hibah Iptek Bagi Masyarakat dari Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Hibah sebesar 40 juta ini dimanfaatkan oleh pemilik paten Motif Batik Bajang Ratu dan Sardulo Kembar ini untuk memberikan pelatihan Batik Colet pada hampir seratus orang murid dan guru di SD Sidodadi dan SD Simolawang. Dari pelatihan ini ia menumbuhkan minat dan talenta pada kerajinan batik yang merupakan budaya khas Indonesia. Untuk lebih memberikan dampak kepara peserta selain diberikan pelatihan juga mendapatkan perkakas membatik berupa kompor, canting, dan malam. Ketika ditanya kiat dalam melakukan abdimas, Laksmi menjawab “Kuncinya adalah aplikasi. Apa yang kita pelajari dan kita teliti akan berdampak apabila kita aplikasikan kepada masyarakat”. (noel/dit)

Luka Harum Bunga dalam Pameran Biennale Jatim 2017
November 06, 2017

Sebuah gelaran dua tahunan bernama Biennale bagi para seniman-seniman berbakat kembali digelar. Mengambil tema “World is a Hoax”, gelaran ini akan dipamerkan selama 13 hari berturut-turut lamanya mulai tanggal 9-22 Oktober 2017 berlokasi di Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali, Surabaya di Galeri Prabangkara. Ada 27 seniman yang diundang yang ikut serta memeriahkan pameran ini dan salah satunya adalah Obed Bima Wicandra, S.Sn., M.A. seorang dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Seni dan Desain (FSD) Universitas Kristen  Petra (UK Petra). Apa yang Obed kerjakan? Karyanya berupa mural, instalasi dan wheatpaste. Apa itu wheatpaste? Sebuah teknik dalam salah satu street art yang menggunakan media poster dalam penyampaian pesannya. “Karya ini berjudul Luka Harum Bunga yang merespon tema yang ditawarkan oleh kurator yaitu World Is A Hoax. Kami memaknai hoax ini dengan memakai kejadian pembantaian, pemenjaraan tanpa pengadilan, hingga perbudakan yang terjadi pada tahun 1965 di Indonesia. Pada titik ini, pelemahan peran kaum perempuan secara ideologis terjadi. Saya membuat karya ini bersama dengan para mahasiswa UK Petra dan komunitas Tiadaruang, sebuah komunitas seni yang beranggotakan para dosen DKV UK Petra dan persona kependidikan FSD UK Petra. Mahasiswa yang terpilih terlibat mengeksekusi karya ini adalah Ivana Kurniawati”, ungkap Obed yang juga menjabat sebagai Sekretaris Program Studi DKV UK Petra, Surabaya. Karya ini terbagi menjadi 3 bidang yang didominasi dengan warna merah, abu-abu, putih dan hitam.

Bidang pertama bernama wall of death, yang berisi mengenai pernyataan-pernyataan dari aktivitas perempuan mengenai penyiksaan yang dialami semasa di penjara tahun 1965-1970-an. Sedangkan bidang kedua bergambarkan pelemahan gerakan perempuan di bawah rezim Soeharto. Hal ini digambarkan dengan kepala perempuan berupa kaleng kerupuk. “Perempuan dimasa ini dilemahkan dan ditempatkan di wilayah domestik yaitu masak, manak dan macak saja”, urai dosen yang lahir pada bulan Januari 1977. Bidang ketiga, merupakan perempuan yang saat ini berupaya untuk tegak berdiri dan berdaya. Obed juga menambahkan pesan teks penyemangat yaitu “Perempuan Merdeka Wani Terluka”. Pameran yang digagas oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta Dewan Kesenian Jawa Timur ini mengundang para seniman dari seluruh Indonesia mulai dari Jakarta, Bandung, Surabaya dan masih banyak lagi kota lainnya. Tesalonika, salah seorang pengunjung menyampaikan apresiasinya pada karya Obed ini. “Karya ini menceritakan semangat berani membara dari seorang perempuan dari masa ke masa. Tampak sangat jelas manakala semangat perjuangannya digambarkan dengan simbol api”.

Biennale ini merupakan sebuah pameran yang berfungsi sebagai alat baca mengenai fenomena di masyarakat. “Masyarakat saat ini sangat terikat dengan sosial media, sehingga tak jarang banyak berita hoax. Maka dari itu, pameran ini ingin mengajak para seniman merespon hoax tersebut. “Kali ini panitia sengaja menetapkan karya seni media instalasi dan performance, tidak ada karya lukis dan patung”, urai Ayos seorang kurator di Biennale Jatim 2017. Menurut Ayos, seniman yang berkesempatan mengambil bagian dalam Biennale Jatim 2017 ini sebelumnya melalui tahapan seleksi terlebih dahulu. Khusus kali ini, seniman yang diundang adalah para seniman muda dengan mayoritas berusia di bawah 40 tahun, hal ini semata disesuaikan dengan tema yang ada. “Obed dipilih lagi untuk mengisi dalam pameran kali ini dikarenakan Obed dianggap sebagai salah satu seniman yang konsisten di jalur street art dan membicarakan masalah atau isu politik di masyarakat. Dan menariknya selalu melibatkan mahasiswa dalam membuat karyanya sehingga selaras dengan fungsi dosen sebagai pendidik”. ujar pria berkaca mata tersebut. (Aj/dit)

Sharing Bersama Sheffield Hallam University, Inggris
November 06, 2017

Visi Universitas Kristen Petra (UK Petra) terus digalakkan salah satunya dengan menambah kerjasama internasional. Jalinan kerjasama internasional ini bisa dilakukan dengan berbagai cara salah satunya dengan berbagi keilmuan. Hari Senin tanggal 23 Oktober 2017 yang lalu, UK Petra menyambut dengan hangat kedatangan perwakilan dari Sheffield Hallam University (SHU) di Inggris yang diwakili oleh Professor Roger S. Eccleston selaku Pro Vice-Chancellor for Research and Global Engagement, Professor Terrance Perera dan Wah Swee Hwa selaku direktur South East Asia SHU.

Perwakilan SHU ini diterima langsung oleh rektor UK Petra, Prof. Ir. Rolly Intan M.A.Sc., Dr. Eng., ditemani oleh Biro Administrasi Kerjasama dan Pengembangan (BAKP) dan pimpinan Program Studi yang ada di UK Petra. Kedatangan mereka di UK Petra selain ingin berbagi pengalaman terkait strategi untuk internasionalisasi yang telah dilakukan SHU sebagai institusi pendidikan tinggi di Inggris juga memberikan kuliah tamu khususnya pada mahasiswa Program International Business Engineering (IBE) UK Petra.

Professor Eccleston membagikan secara langsung langkah-langkah strategis terkait internasionalisasi misalnya seperti mewajibkan para mahasiswa untuk hidup bermasyarakat secara internasional agar lebih produktif sekaligus memberi gambaran bahwa belajar ke Inggris tidak menakutkan dari segi finansial. “Hal ini bisa disiasati dengan subsidi dari universitas”, ungkap Professor Eccleston. Tak hanya itu saja, ia menyarankan institusi pendidikan harus menjalin kerjasama juga dengan industri di luar negeri agar salah satu fungsi utama institusi pendidikan terlaksana dengan baik yaitu turut menjawab permasalahan nyata di masyarakat. Misalnya seperti kesempatan untuk mendapatkan newton funel atau hibah riset dibidang pangan.

Pada saat yang bersamaan Professor Terrence Perera memberikan kuliah tamu untuk mahasiswa IBE UK Petra di Ruang Konferensi I, Gedung Radius Prawiro lantai 10 kampus UK Petra. Professor Terrence Perera adalah seorang pakar, peneliti, dan pengajar Computer Simulation dalam bidang Logistic and Supply Chain Management. Pada awal studinya, Prof. Perera menekuni Mechanical Engineering, tetapi selepas sarjana dia selalu mendalami Engineering Management. Dalam kuliah tamu ini, Prof. Perera membawakan materi Manajemen Logistik dan Rantai Pasok dengan tajuk Making Things Happen!;  materi ini adalah pengantar yang mengenalkan mahasiswa pada kegiatan logistik dan pengelolaan rantai pasok.

Dalam sesi kuliahnya, Prof. Perera mengumpamakan rangkaian dan runtutan proses memasak rendang sebagai suatu proses logistik. Mahasiswa diajak menganalisa secara seksama tiap-tiap langkah dalam pembuatan rendang untuk memudahkan mereka mengerti logistik dengan tidak membosankan. Kegiatan-kegiatan dalam rantai pasok yaitu: planning, coordination, monitoring, dan control  yang juga diuraikan dalam pembuatan rendang tersebut. Planning dalam hal ini adalah merencanakan kapan rendang akan disantap dan berapa porsi rendang yang akan dibuat. Coordination adalah menentukan siapa yang bertanggung jawab untuk setiap poin kegiatan, misalnya seperti membeli bahan-bahan rendang dilaksanakan oleh suami, memasak dilaksanakan oleh istri, menyiapkan piring dilaksanakan oleh suami dan seterusnya. Sedangkan monitoring merupakan kegiatan memantau progress kegiatan, contohnya pemberian checklist pada daftar bahan dasar yang sudah didapatkan. Control adalah kegiatan memaksimalkan hasil dari tiap pemasokan, contohnya ketika membeli bahan perlu dipertimbangkan membeli dari satu penjual saja untuk efisiensi waktu atau perlu membeli dari dua toko untuk menjaga kualitas bahan. “Kuliah tamu ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa. Sebab mahasiswa bisa mendapatkan pengalaman dari yang berpengalaman tentu saja dengan gaya tutur yang berbeda. Selain itu mahasiswa akan mendapatkan global exposure”, urai Dr. Dra. Indriati Njoto Bisono, M.Sc. (noel, Aj/padi)

Liputan Seminar Kesetaraan Gender Feminisme dan Generasi Muda
November 01, 2017

Setengah dari penduduk Indonesia adalah perempuan. Sebagai negara dengan populasi terbesar ke-4 di dunia, adalah miris kalau kita menengok pada kenyataan bahwa setengah populasi ini mengalami ketidakadilan. Universitas Kristen Petra yang mengusung visi To be a Global and Caring University with Commitment to Christian Values berperan serta dalam mengkaji permasalahan ini melalui diadakannya Seminar Kesetaraan Gender dengan tajuk “Feminisme dan Generasi Muda”. Seminar yang dilaksanakan di Ruang AVT 503, Gedung T U.K. Petra ini diprakarsai oleh Kelompok Kerja  Kemitraan GKI, dan melibatkan beberapa universitas lain yang ada di Surabaya. Narasumber tunggal dalam seminar yang dihadiri sekitar 60 orang ini adalah Dr. Gadis Arivia Effendi, S.S.

Gadis adalah seorang dosen pengajar di Departemen Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia yang juga Direktur Yayasan Jurnal Perempuan Indonesia. Ia secara aktif bergerak meningkatkan kesetaraan gender. Sesi yang dibawakannya diberi judul “Feminisme dan Generasi Muda”. Membuka sesinya ia mengangkat kutipan dari bell hooks (penulisan nama dengan huruf kecil adalah atas permintaan ybs. untuk menggambarkan kesetaraan), seorang aktivis feminisme, yang berbunyi “Feminisme adalah sebuah pergerakan untuk mengakhiri seksisme, eksploitasi dan penindasan”. Gadis kemudian mengelaborasi bahwa feminisme adalah gerakan yang mendukung kesetaraan gender, di mana saat ini perempuan mengalami ketidakadilan di berbagai aspek kehidupan. Ilustrasi atas ketidakadilan ini bisa dilihat dari beberapa data yang disajikan Gadis. Pertama, adanya kesenjangan di angka tingkat partisipasi kerja yaitu: 84.4% untuk laki-laki dan 50.3% untuk perempuan. Selanjutnya, hanya 36,2% perempuan berstatus menikah (usia 15-49 tahun) yang memiliki tanah, dengan perbandingan 54.1% untuk laki-laki. Gadis menambahkan lagi, menurut laporan Global Gender Gap di tahun 2014  Indonesia menduduki peringkat ke-95 dari 125 negara dalam hal partisipasi wanita di ruang publik (seperti memegang jabatan publik).

Dari gambaran yang diberikan, Gadis kemudian memaparkan pandangannya tentang feminisme di Indonesia. Saat ini persepsi masyarakat atas feminisme cenderung tidak mengarah pada perlawanan terhadap ketidakadilan, akan tetapi seringkali feminisme dihubungkan dengan moralitas negatif dari perempuan. Persepsi ini dilatarbelakangi oleh kuatnya budaya patriarki di masyarakat. Saking kuatnya budaya ini, bahkan masih banyak wanita yang bersikap seksis terhadap wanita sendiri. Dan juga ditemukan salah kaprah yang mengartikan feminisme sebagai gerakan anti laki-laki. Perlu diluruskan bahwa kesetaraan bagi wanita bukanlah berarti anti laki-laki. Menurut Gadis, langkah untuk mencapai kesetaraan ini adalah melalui pengubahan mindset yang bisa dimulai dari muda. Penanaman pola pikir kritis yang mempertanyakan kembali segala dogma yang menjadi akar ketidaksetaraan. Dengan adanya kesadaran yang kritis, maka semua orang baik laki-laki maupun perempuan akan mampu menerima ide bahwa kesetaraan tidak akan merugikan laki-laki dan juga para perempuan yang masih terkungkung dalam pola pikir patriarkis akan bisa teremansipasi dari seksisme terhadap perempuan. Usaha untuk menata ulang pikianr ini menurut Gadis bukanlah hal yang instan dan merupakan proses dengan perjuangan. Mengilustrasikannya, Gadis kembali mengutip bell hooks “Feminisme tidak dilahirkan tetapi diciptakan”. (noel)

Andi F. Noya, Ajak Mahasiswa Baru UK Petra Cintai Pancasila
November 01, 2017

Welcome Grateful Generation (WGG) adalah salah satu fasilitas mahasiswa baru UK Petra mengenal lingkungan dan sivitas akademika UK Petra. WGG 2017 mengangkat tema Growing as a Fighter to be a Survivor. WGG kali ini menyambut 2.047 mahasiswa baru dan gelaran   WGG dimulai pada tanggal 31 Juli hingga 7 Agustus 2017 di kampus Universitas Kristen Petra.

 

Rangkaian WGG 2017 antara lain seminar wawasan kebangsaan, campus tour, rally games, open house pemberian materi pengenalan diri dan kegiatan kepedulian. Istimewanya, seminar wawasan kebangsaan kali ini menghadirkan salah satu Presenter TV terkenal yakni Andi F Noya.

 

Andi F. Noya mengobarkan semangat para mahasiswa baru untuk tidak hanya menjadi orang sukses, namun mampu berdampak bagi lingkungan sosial. Saat ini, banyak anak muda yang merambah dunia enterprenuer, namun jarang yang ingin memberikan dampak bagi lingkungan. “Beragam masalah sosial di Indonesia diakibatkan lemahnya sisi perekonomian, tetapi bagaimana seseorang memecahkan masalah masyarakat dengan memberdayakan apa yang dikerjakan,” urai Andi F. Noya.

Dalam seminar yang diselenggarakan di Auditorium UK Petra ini, Andi mengajak mahasiswa baru UK Petra sebagai generasi penerus bangsa harus memahami bahwa Pancasila yang mempersatukan masyarakat Indonesia. Andi mendorong mahasiswa baru untuk mengamalkan nilai Pancasila melalui tindakan sehari-hari. “Jika seseorang menjadi sociopreneur, artinya seseorang sudah mengamalkan nilai-nilai Pancasila,” tambah Andi F. Noya. Selain itu, Andi F. Noya mengobarkan semangat anak muda Indonesia sekarang untuk melakukan sustainable business yang dapat berdampak bagi lingkungan masyarakat.

Andi F. Noya menyebutkan salah satu sosok inspiratif di bidang sosial yakni Azalea Ayuningtyas. Ayu adalah lulusan program master di bidang kesehatan masyarakat dari Harvard University, Amerika. Ayu yang awalnya memiliki pekerjaan di Boston, Ayu kemudian bergabung bersama 6 orang temannya untuk membangun sociopreneur di Flores pada tahun 2014 dengan nama Du’Anyam. Ayu dan teman-temannya membantu ibu-ibu dan wanita di 15 desa di Flores untuk lebih banyak menghasilkan produk kerajinan anyaman dari daun lontar dengan tetap mempertahankan ciri khas desain tradisional. Produk Du’Anyam ini menghasilkan tas, sepatu, dan beragam jenis souvenir serta produk kerajinan berbahan daun lontar lainnya.

Andi mengungkapkan bahwa membantu orang adalah kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan uang. Hal ini merupakan perwujudan dari Pancasila, sehingga anak muda Indonesia dapat mengamalkan Pancasila (fsc).