A CARING AND GLOBAL UNIVERSITY WITH COMMITMENT TO CHRISTIAN VALUES

Ajak Hargai Bangunan Bersejarah Lewat Urban Sketch Fair

November 15, 2017

Himpunan Mahasiswa Arsitektur (Himaartra) Universitas Kristen Petra (UK Petra) mengadakan Workshop Urban Sketch Fair (USF) pada 11 November 2017. Workshop bertemakan Historical Architecture ini mengajak peserta untuk mensketsa bangunan-bangunan lama yang memiliki nilai-nilai sejarah penting yang merupakan warisan dan dilindungi oleh negara. Tidak hanya sekedar menggambar sebuah bangunan tetapi peserta juga merasakan kembali nilai-nilai historis yang terkandung dalam bangunan tersebut dan menghargainya. Tujuan dari workshop ini adalah memberikan wadah bagi peserta untuk dapat meningkatkan skill mensketsa dan juga mengapresiasi minat bakat menggambar. Workshop yang diikuti oleh 57 peserta ini diadakan di gedung P710 UK Petra untuk sesi pembicara dan dilanjutkan di Perpustakaan Bank Indonesia untuk praktik mensketsa.

Wahyu Sigit Crueng yang merupakan pemilik Uniqkudesign dan juga seorang professional urban sketcher menjadi pembicara dalam workshop USF ini. Setelah enam tahun berkecimpung dalam dunia urban sketch, Wahyu membagikan pengalaman dan menyampaikan materi mengenai teknik mensketsa yang baik serta media apa saja yang dapat digunakan. Bagi pemula, menurut Wahyu ada tiga hal yang wajib dipersiapkan yaitu sketch book, drawing pen, dan juga properti water color. Wahyu menjelaskan teknik menggambar urban sketch tidak jauh berbeda dengan fotografi. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam menggambar urban sketch, yang pertama adalah sudut pandang. Sama halnya dengan fotografi, seorang urban sketcher menangkap sebuah objek yang menarik, mencari angle yang bagus kemudian mengimplementasikannya dalam bentuk gambar. Yang kedua adalah teknik pewarnaan yaitu tebal tipis warna seperti gelap terang pada fotografi. Yang ketiga adalah finishing atau penyempurnaan sketsa yang di gambar. “Tips dari saya untuk teman-teman mahasiswa dan pemula adalah harus berani mencoba, jika ragu bisa mencari inspirasi dari gambar-gambar lain, siapapun bisa memulai urban sketch,”  ungkap Wahyu Sigit Crueng.

Setelah mendengarkan materi dari pembicara, peserta berpindah ke gedung perpustakaan Bank Indonesia untuk mengaplikasikan materi yang telah didapat. Peserta dibebaskan memilih angle pengambilan gambar dan diberi waktu 60 menit untuk menggambar. Setelah menggambar, pembicara mengulas beberapa karya dari peserta. Beberapa peserta mengaku tertarik dan ingin tahu lebih lanjut mengenai urban sketching. “Saya tertarik mengikuti kegiatan ini karena saya ingin tahu tentang urban sketch dan kebetulan dalam kegiatan ini saya bisa langsung belajar dari ahlinya,” jelas Eugenie Averelia, seorang mahasiswa arsitektur dan salah satu peserta workshop USF ini. (rut/dit)


Berita lainnya