Connect with us
  • b
  • a
  • x
A CARING AND GLOBAL UNIVERSITY
WITH COMMITMENT TO CHRISTIAN VALUES

Kemas Sejarah dengan Nilai Kekinian

October 26, 2018

Pengalaman merupakan pelajaran yang berharga, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bisa menjadi pelajaran bagi orang lain jika dibagikan pada orang lain. Para mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen Petra (UK Petra) yang tergabung dalam kelas Sejarah Budaya Indonesia (SBI) berkesempatan untuk mendengarkan pengalaman dari para pelaku industri kreatif yang ada di Surabaya. Kuliah tamu ini dilaksanakan pada 3 Oktober 2018 di ruang AVT 502.

Sebanyak 212 mahasiswa semester satu yang berasal dari tiga kelas mendengarkan sharing dari dua komikus dan animator terkenal di Surabaya yaitu Cak Waw dan Cak Ikin. Mata kuliah SBI adalah mata kuliah dasar, hal ini merupakan tantangan tersendiri, belajar sejarah yang tidak membosankan. Kuliah tamu ini bertujuan untuk menunjukkan pada mahasiswa bahwa inspirasi untuk berkarya itu tidak perlu jauh-jauh, sebenarnya inspirasinya dari budaya lokal kita sendiri juga bisa.  “Bagaimana mengangkat sejarah, budaya, kearifan lokal tetapi menggunakan nilai-nilai kekinian, kebetulan kali ini medianya animasi dan komik,” ujar Aniendya Christianna, S.Sn., M.Med.Kom., selaku dosen pengampu Sejarah Budaya Indonesia.

Cak Waw bernama asli Wiryadi Dharmawan memulai karirnya sebagai animator serial kartun TV Hela Heli Helo yang tayang di TPI. Cak Waw juga kerap mendapat penghargaan nasional maupun internasional. Salah satunya adalah Piala Citra Festival Film Indonesia. Saat ini ia menekuni perannya sebagai komikus 101 Hantu Nusantara. Pada komik 101 Hantu Nusantara ini, Cak Waw ingin menunjukkan keragaman dan keunikan hantu di Indonesia. Menurut Cak Waw ada beberapa langkah awal bagi seseorang yang ingin berkarya yaitu bakat, keajaiban, mendobrak kondisi, dan aktivasi.

Mohammad Sholikin atau yang dikenal dengan nama Cak Ikin merupakan Animator Culo & Boyo. Sejak kecil, Cak Ikin telah dikenalkan dengan budaya Indonesia yaitu wayang, hal ini menjadi salah satu dasar kecintaannya terhadap budaya lokal Indonesia. Dalam berkarya bermuatan konten lokal, ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan yaitu cerita rakyat, karakter ikonik, bahasa, dan beda. Dalam karyanya, Cak Ikin mengangkat konten lokal yaitu Suro dan Boyo menjadi karakter utamanya. Selain itu karyanya juga menggunakan bahasa suroboyoan yang khas, membuatnya memiliki daya tarik tersendiri. Masyarakat menyukai hal-hal yang unik dan dekat dengan mereka. Karya Cak Ikin juga telah mendapatkan berbagai penghargaan, salah satunya dalam South East Asian Games & Animaton Festival 2010. Sejak tahun 2015, Cak Ikin membuat webseries di youtube bertajuk Culo & Boyo. Jika dikemas dengan hal menarik seperti ini, mahasiswa akan lebih mudah memahami.

Pada semester-semester sebelumnya kuliah tamu SBI, mendatangkan penulis buku sejarah, dan itu kurang menarik bagi generasi sekarang. Jika dikemas dengan hal menarik seperti ini, mahasiswa akan lebih mudah memahami. “Ide itu ada dimana-mana dan dapat datang dari mana saja. Jangan terus berada di zona nyaman dan kita harus terus mencarinya,” tutup Aniendya. (rut/padi)


Berita lainnya